EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 28 Lamaran dadakan 1


__ADS_3

"Ra, bisa ngobrol disana?" tunjuk Nath pada kursi yang masih seruangan dengan ruang tv. Tiada ada sekat pembatas antara ruang tamu dan tempat menonton tv.


Tiara mengangguk. Mereka langsung berjalan kearah kursi yang mulai usang itu.


"Atau mau di teras aja," tawar Tiara.


Nath menggeleng dan segera duduk di kursi. Tiara duduk di kursi lain di sebelahnya.


"Ada apa, Bang?"


Nath menggeleng. "Gak ada."


Tiara mengerutkan kening. Ia heran, untuk apa Nath mengajaknya kesini jika tidak ada hal penting yang akan dibicarakan. "Terus?"


Hening.


Nath sesekali menatap Tiara yang juga sesekali menatapnya. Kecanggungan jelas terasa. Padahal selama ini mereka tidak pernah seperti ini. Mereka justru lebih sering adu mulut dari pada saling mendiamkan.


"Ra, kata papa pernikahan kita akan dilaksanakan bulan depan," ucap Nath memecah keheningan. "Mungkin setelah masa nifas kamu habis."


Tiara menatap Nath. Ia menghela nafas berat. "Terus kenapa, Bang?" Dia sudah tau hal itu mungkin terjadi, karena keluarga menginginkan pernikahan secepatnya.


Nath menatap Tiara. "Ya gak apa-apa, cuma mau ngasih tau aja," jawab Nath datar.


"Ck! Kirain ada apa."


"Perasaan kamu gimana?" tanya Nath.


"Perasaan?" ulang Tiara.


Nath mengangguk. "Iya, perasaan kamu gimana mau nikah sama aku?"


Tiara tampak berfikir sebentar. "Kayak mimpi," jawabnya datar.


Nath tercengang. "Biasa banget reaksi kamu, Ra. Kamu gak sedih, takut atau deg-degan deh minimal."


Tiara menatap Nath. "Kalau soal pernikahan, biasa aja. Tapi kehidupan setelah pernikahan yang aku pikirkan, Bang."


"Kamu pasrah banget nikah sama aku, Ra."


"Kalau aku nolak, siapa yang mau merima aku, Bang, setelah kejadian kemarin-kemarin?"


Eh, iya juga.


"Maaf ya, Ra." Nath menatap mata Tiara. Ia memperhatikan wajah gadis di depannya yang polos tanpa make up sedikitpun.


Cantik.


Tiara mengangguk. "Maaf juga karena aku, hidup kamu jadi begini."


Hening.


Kenapa obrolan ini jadi acara maaf-maafan? Batin Nath.


"Soal cincin pernikahan, kita beli minggu depan ya, Ra. Kamu udah bisa beraktifitas seperti biasa kan?"

__ADS_1


Tiara mengangguk. "Kalau gak ada uang-"


"Ada Ra, ada," potong Nath cepat.


"Sesuaikan sama keuangan kamu, Bang. Jangan repotkan orang tua."


Nath mengangguk dan melemparkan senyum.


***


Malam berikutnya, Nath sedang termenung di depan jendela kamarnya. Ia sesekali menatap ponsel yang menunjukan saldo di tabungannya yang kurang dari delapan juta.


Tabungan dari uang jajannya, dari transferan Zoya dan Bintang, kadang dari om Langit dan ayah Satya atau dari tante Sora.


Nath kuliah di jurusan arsitektur, ia mulai bisa mendesain beberapa jenis bangunan dan berhasil menjualnya. Seperti beberapa bulan lalu, Langit membeli desainnya. Sebuah rancangan rumah kontrakan dua lantai.


Nath mulai memikirkan apa lagi yang harus ia lakukan untuk menghasilkan uang. Mungkin ia bisa menjual desainnya di perusahaan tempat Langit bekerja. Atau ia akan bekerja magang disana. Atau sementara ini, ia harus cuti kuliah?


Bahu Nath ditepuk oleh Nair. Ia langsung menatap kembarannya itu yang sudah rapi dengan kemeja batik berlengan panjang.


"Ck! Mau isi ceramah dimana, Tadz?"


"Mau melamar anak gadis orang, dong!" gurau Nair sambil menyisir rambutnya. "Iya kali ceramah pakai batik."


Nath menatap tajam kembarannya. "Mau ta'aruf Nair?"


"Enggak, lamar langsung nikah."


"Are you kidding me, Nair?" Nath berdiri sangking tak percayanya.


Cklek!


Pintu kamar dibuka dari luar.


"Astaghfirullah, Nath. Kamu belum siap-siap?" tanya Lintang yang sudah rapi dengan gamis syar'i senada dengan salah satu corak warna dibatik Nair.


Nath tampak kebingungan. "Pada mau kemana sih, Ma?"


"Ya Allah, sore tadi papa kan udah bilang, kita akan pergi sehabis makan malam, Nath."


"Kapan? Nath gak denger." Sore tadi mereka memang tengah berkumpul di gazebo dekat kolam renang, tapi Nath sama sekali tak mendengar Akhtar mengatakan akan ada acara malam ini.


"Kebanyakan ngelamun, sih!" ejek Nair bersiap keluar dari kamar setelah menyambar ponselnya diatas nakas.


"Udah. Cepat ganti baju kamu!" perintah Lintang.


"Nath gak ikut, Ma." Nath malah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


"Astagfirullah, Nath! Kalau kamu gak ikut, mama lamarin Tiara buat siapa?"


Nath langsung duduk di ranjang. "Maksudnya gimana? Kita mau ngelamar Tiara?"


"Lima menit gak turun, mama tinggal."


Brak.

__ADS_1


Lintang membanting pintu.


Nath segera mencari pakaiannya di lemari. Tapi matanya tertuju pada kemeja batik dengan corak berbeda dari Nair sudah tergeletak di salah satu sisi ranjang.


"Mama sudah siapkan ini?" gumamnya.


Nath langsung memakai kemeja batik itu dan celana bahan berwarna hitam. Menyisir rambut dalam hitungan detik dan menyemprotkan parfum terbaik yang ia punya.


Nath menyambar ponselnya dan bergegas turun. Di luar sudah ada Langit dan keluarganya.


"Sudah siap, perjaka udah buka segel?" sambut Langit saat melihat Nath keluar dari pintu depan. Ia meninju lengan Nath pelan.


"Ck!" decaknya kesal. "Gak ada yang lebih bagus julukannya, Om?" tanya Nath.


"Itu udah paling pas dari pada pemuda gak perjaka." Langit tertawa puas.


Nath menatap omnya jengah, "Terserah, om aja lah."


Nath masuk ke dalam mobil bersama papa Akhtar, mama Lintang, Nair, Bintang dan Rion.


Tidak ada yang ikut selain mereka, sesuai permintaan keluarga Tiara yang tidak ingin ada acara lamaran mewah.


"Pa, kenapa gak bilang-bilang mau ada acara begini, sih?" tanya Nath pada Akhtar yang duduk di kursi depan di sebelah Rion yang tengah mengemudi. Nath dan Nair duduk di kursi paling belakang.


"Buat apa? Yang penting pihak kita sudah mengabari keluarga Tiara."


"Tapi kan aku gak punya persiapan apapun."


"Mana aku udah bilang ke Tiara mau beli cincin minggu depan," ucap Nath kesal.


Mereka menatap Nath, "kamu punya uang?" tanya Lintang.


"Ada sedikit. Sesuai budget ajalah. Tiara juga gak keberatan."


"Tiara gak keberatan?" tanya Bintang heran. Tiara gak keberatan, itu artinya mereka sudah bicara banyak soal pernikahan.


"Iya. Tapi kalian malah mendadak atur acara sendiri."


"Tiara gak keberatan kok, Nath."


"Kamu tau dari mana, Yon?"


"Pagi tadi aku sama om Langit kesana, kasih kabar kalau kita mau datang."


Kenapa Tiara gak kabarin aku?


Kepala Nath terasa berdenyut. Ia pusing memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti.


Ia kesal karena keluarganya sama sekali tidak memberi tahunya hingga ia tak menyiapkan kata-kata apapun.


Nath menutup matanya. "Jangan dipikirkan, Nath. Tugas kamu disana hanya memakaikan cincin pada Tiara. Just it." Kata-kata Bintang membuatnya kembali membuka mata.


"Terus, disana nanti aku gak ngomong apa-apa?"


"Ngomong kayak biasa aja, Nath. Gak perlu terlalu resmi. Kita cuma silahturahmi sekaligus memperjelas status kalian."

__ADS_1


Tapi Nath tetap saja gelisah dan berdebar. Menyatakan cinta pada seorang gadis saja dia tidak pernah, ini malah harus melamar.


__ADS_2