EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 49 Noda lipstik


__ADS_3

Tiara sedang duduk dekat gerbang kampusnya. Seperti biasa, ia menunggu Nath menjemput karena kebetulan mereka bisa pulang bersama hari ini.


Tiara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah 10 menit dia menunggu tapi Nath belum juga muncul.


Sebuah mobil mewah berhenti di depan Tiara. Ia tidak peduli karena mobil itu bukan milik keluarga Nath.


Seorang pria yang membuatnya jengah keluar dari mobil dan mendekat kearahnya.


"Menunggu dijemput dengan motor butut, Ra?" Bicara Reyfan yang lebih terdengar seperti penghinaan itu membuat Tiara muak.


Sepertinya otak pria yang saat ini ada di depannya sudah terkontaminasi dengan statement bahwa semua wanita matre.


Padahal tidak semua wanita nyaman dengan kemewahan. Wanita justru lebih nyaman dengan kemapanan dan perhatian. Terlalu kaya buat apa? Jika tiada ada waktu luang untuk quality time.


"Oh, atau sudah ditalak?"


Nah, benarkan? Dia pasti bicara sesuatu yang tidak-tidak pada bang Nath waktu itu.


Tiara memasang wajah datar. "Bukan urusan kamu."


Reyfan semakin yakin jika terjadi sesuatu dalam rumah tangga Nath dan Tiara saat mendengar jawaban Tiara barusan.


"Sayangnya aku tidak berminat memungut janda yang dulu sempat menolakku," ucap Reyfan sombong.


Tiara tertawa dalam hatinya. Meski aku janda pun, aku tetap gak akan memilihmu.


"Ku harap kamu tidak menyesal karena pernah memilih pria miskin sepertinya."


"Dan ku harap, kamu akan mendapatkan penggantinya."


Tin!


Klakson motor matic yang Nath naiki membuat Tiara menatapnya dengan senyum mengembang.


Tiara berjalan melewati Reyfan. Tapi saat bahu mereka hampir bersentuhan, Tiara mengatakan sesuatu yang membuat Reyfan terus menatap kepergian mereka.


"Jangan temui aku lagi. Karena caranya menghukumku saat cemburu sangat membuatku kewalahan."


"Dia akan membuatku berkeringat sepanjang malam. Aku yakin kamu faham."


Tiara melangkah semakin mendekat dengan Nath. Lalu menerima helm yang Nath berikan padanya.


"Aku cemburu, Ti," Nath mengulun senyum. Ia mendengar apa yang Tiara ucapkan pada pebinor yang belum menyerah itu. Dan sekalian saja ia ikut dalam drama istrinya.


"Jangan! Aku lagi gak punya tenaga, Bang. Belum makan siang," balas Tiara dengan tawa kecil saat ia duduk diatas motor. Tiara langsung melingkarkan tangannya di perut Nath.


Mereka meninggalkan tempat itu. "Dia bilang apa?" tanya Nath pelan.

__ADS_1


"Gak ada." Tiara mencoba menutupi apa yang Reyfan katakan padanya tadi.


"Jangan bohong, Ti."


"Gak ada, Bang."


"Beneran." Sahut Tiara meyakinkan suaminya.


"Kalau bohong aku akan menghukummu dengan caraku."


"Ck! Gak bohong, gak salah apapun kamu selalu menghukum aku."


"Sampe stok pengaman habis gara-gara keseringan."


"Kita mampir di depan sana ya. Beli yang banyak buat stok." Nath tertawa menunjuk minimarket di persimpangan jalan.


Tiara mencubit perutnya. "Aduh!" keluh Nath.


"Malam nanti kita ke rumah ayah sama ibu, Ya Ti," ajak Nath membuat Tiara senang. Ia langsung mengangguk.


"Kita menginap ya, Bang," pinta Tiara karena besok weekend. Dan sejak pindah ke rumah Nath mereka belum pernah menginap di sana lagi.


"Boleh. Kita kan belum coba itu diranjang kamu. Ditemani dengan kipas angin yang setia mendinginkan ruangan itu."


Tiara menempelkan pipinya di bahu Nath. Ia memeluk tubuh proporsional itu dengan erat. Entah mengapa Tiara mulai terbiasa dengan aroma tubuh pria yang menjadi suaminya itu.


Tiara mulai terbiasa di dekap dan mendekap Nath. Ia belum tahu sedalam apa perasaan itu karena saat ini ia masih menikmati rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama suaminya.


"Ini punya siapa, Bang?" tanya Tiara menyentuh bekas lipstik di dekat kerah baju Nath.


Nath tampak bingung dan hal itu membuat Tiara memicing curiga. "Ini punya siapa, Bang?" tanyanya dengan nada geram karena Nath terus diam.


Nath diam karena ia masih belum tahu, noda lipstik itu milik siapa. Nath mencoba mengingat dengan siapa ia bertemu hari ini.


Tiara duduk di tepi ranjang. Ia masih mengatur nafas, mencoba untuk berfikir positif pada suaminya.


Ia tak menduga cobaan datang secepat ini. Setelah Reyfan sudah tidak menimbulkan pengaruh apapun meski ia terus menggonggong menyampaikan keburukan. Kini timbul masalah baru.


Bagaimana bisa noda lipstik ada di kemeja suaminya. Dan letaknya di dekat kerah. Otak Tiara mulai memikirkan yang tidak-tidak.


Apa mungkin ia lama menjemput karena ini? Apa mungkin ia bercumb* lebih dulu dengan wanita itu? Apa selama ini dia punya pacar dan belum putus sampai sekarang? Atau mereka sudah putus tapi wanita itu tidak ingin dan rela menjadi yang kedua.


"Mungkin itu milik temanku yang tidak sengaja bertabrakan saat kami berjalan tadi, Ti."


Tiara mengerutkan keningnya. "Mungkin?" ulangnya. Mendengar jawaban Nath yang sepertinya ragu, Tiara semakin pusing dan bimbang.


Tiara berjalan ke dalam kamar mandi setelah mengambil pakaian gantinya di lemari. Tanpa menghiraukan Nath sama sekali.

__ADS_1


Nath mengacak rambutnya. Ia mengingat apa yang terjadi sepanjang hari ini.


Sejak pagi, ia memang bertemu dengan beberapa orang wanita. Hanya untuk masalah tugas kampus dan tadi....


"Astaga! Bela," ucap Nath agak keras. Ia langsung menutup mulutnya dan berharap Tiara tidak mendengarnya menyebut nama Bela.


Bela adalah gadia yang tanpa sengaja menabraknya. Tali sepatunya yang terlepas membuat Bela menabrak Nath di depan kelas tadi.


Bella memang memiliki tubuh tinggi. Hingga sangat wajar jika bekas lipstik itu menempel dekat kerah kemeja Nath.


"Pasti Tiara mikir aneh-aneh," gumam Nath. "Jangan-jangan dia mikir aku bercumb* dengan wanita lain."


Huuuuft! Nath menghembuskan nafas lewat mulutnya. Nath mulai bosan menunggu Tiara yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Nath berniat untuk segera mengatakan pada istrinya bahwa semua ini hanya salah faham.


Cklek!


Pintu kamar mandi di buka dan Tiara hanya keluar dengan tanktop dan celana panjang.


Perasaan tadi dia bawa baju. Batin Nath.


Tiara mengambil bajunya dari lemari. Ia memilih kaos lengan panjang berwarna putih.


Nath memeluk pinggangnya membuat Tiara mematung. "Maaf," bisik Nath.


Tiara melihat rambut Nath yang melewati bahunya karena saat ini Nath sedang menempelkan bibirnya di ceruk leher Tiara.


Nath suka aroma sabun yang menempel pada tubuh Tiara. Tapi dia lebih suka pada leher putih itu.


"Tidak ada apapun, Ti."


"Itu bekas lipstik temanku yang tadi hampir terjatuh karena tali sepatunya terinjak dan dia menabrakku."


Sialan. Nafasnya buat merinding. Batin Tiara.


Merinding bukan karena setan, tapi karena dorongan untuk melakukan ibadah, melayani suami tampannya. Ck!


"Kamu percaya kan, sayang?" bisik Nath lagi.


Tiara membelalakan mata. Terkejut dengan panggilan sayang yang terucap untuk pertama kalinya. Namun kekesalannya semakin bertambah. Dasar buaya! Manggil sayang cuma karena merayu minta dimaafkan!


"Aku perlu bukti," ucap Tiara tegas.


Nath menjauhakn wajahnya dari ceruk leher Tiara lalu keduanya saling tatap. "Aku perlu bukti," ulang Tiara dengan tegas.


"Caranya?" tanya Nath gugup karena jelas terlihat kemarahan Tiara.


"Pertemukan kami."

__ADS_1


Nath mengangguk pelan. Dia sedikit ragu. Apa yang akan terjadi jika Tiara dan Bela bertemu? Apakah Tiara akan menjambak dan bertindak garang seperti seorang istri yang menyiksa pelakor?


Nath waspada, ia harus meredam emosi Tiara nanti saat keduanya bertemu. Nath hanya takut Tiara justru hanya akan mempermalukan dirinya sendiri karena memang tidak ada hubungan apapun dengan Bela.


__ADS_2