
Nair sedang duduk di depan seorang gadis yang ia cintai sejak usianya 18 tahun itu.
Nair selalu terhipnotis pada gadis yang tampak anggun dengan pembawaan tenang yang selalu menampilkan senyum tipis diwajahnya.
Kini, usia Nair sudah 24 tahun. Begitu juga Naira. Sertifikat pendidikan program profesi dokter sudah ada di genggaman mereka. Setelah lulus sarjana kedokteran, mereka melanjutkan dengan pendidikan profesi atau yang biasa di sebut dokter koas selama satu setengah tahun disalah satu rumah sakit di kota ini.
"Setelah ini, apa Nai?" Tanya Nair yang tak kalah tenang dengan gadis dihadapannya.
Naira tampak berfikir sejenak. "Internship baru beberapa bulan, Nair."
Internship adalah pemahiran dan pemandirian dokter baru lulus pendidikan untuk penyelarasan hasil pendidikan dengan kondisi lapangan. Untuk kepentingan para dokter agar sudah siap dan mahir kelak ketika praktik mandiri.
"Setelahnya lanjut ambil pendidikan specialis, mungkin," lanjut Naira.
"Mungkin?" Tanya Nair dengan kening berkerut. "Tumben ragu."
Naira menghela nafas berat. Selama ini ia memang tahu Nair memiliki perasaan istimewa padanya. Ia juga tahu, Nair pernah meminangnya dari Abinya meski dari bibir Budenya.
Abinya tidak pernah mengatakan apapun perihal Nair dan siapapun pemuda yang mengirimkan CV lamaran pada Abinya.
Bukan tidak amanah, Rahardian hanya tidak ingin Naira merasa terbebani masalah jodoh dan pernikahan. Rahardian hanya ingin Naira fokus meraih impiannya untuk menjadi seorang dokter.
Karena setelah menikah, tanggung jawab atas putrinya itu bukan lagi ada padanya. Bagaimana jika kelak siapapun yang menjadi menantunya tidak mengizinkan Naira untuk terus melanjutkan pendidikannya sebagai seorang dokter anak?
Rahardian hanyalah manusia biasa. Ia seperti seorang ayah pada umumnya yang selalu memikirkan kebahagiaan putrinya.
"Bukan ragu sih, tapi kayak masih mau menikmati masa-masa tenang. Gak mau pusing-pusingan dulu soal pendidikan."
Nair tertawa pelan. "Capek ya, selama ini kayak kejar-kejaran gitu?"
Naira mengangguk. "Buka kejar-kejaran sih Nair. Tapi kayak terpaku banget sama target. Pokoknya tahun ini harus ini, tahun depan harus begini."
"Ya Allah, kadang bertanya-tanya, terlalu ambisius gak sih?" Ucap Naira pada Nair.
Nair mengangguk dengan tawa kecil. "Bener banget. Kadang kok kayak gak bersyukur apa-apa mau ditargetin."
"Tapi kadang mikir juga sih Nai, selagi masih ada kesempatan dan jalannya benar, why not?"
Nair dan Naira, waktu bertahun hanya membuat mereka menjalin hubungan hanya di batas pertemanan. Tidak ada ungkapan sayang yang Nair katakan padanya karena tak ingin Naira merasa risih saat bersamanya.
Dan hari ini, Nair mengungkapkan semuanya untuk pertama kali.
Nair melihat kondisi cafe yang tak terlalu ramai, tempat keduanya duduk sambil menikmati makan siang.
"Nai..."
"Ya..."
"Ehm..." Nair tampak ragu.
"Kenapa?" Tanya Naira pada pria dihadapannya.
__ADS_1
"Aku..." Nair diam.
"Ada apa sih Nair?" Tanya Naira karena Nair tampak ragu dan seperti tidak ingin melanjutkan kata-katanya.
Nair menarik nafas dalam lalu menggembuskannya pelan.
Semoga sekarang saat yang tepat untuk memulainya lagi.
"Aku mencintaimu, Nai."
Satu kalimat singkat yang berhasil membuat dadanya bergemuruh hebat. Jantungnya berdebar tak terkendali. Berulang kali Naira beristighfar dalam hatinya.
Ya Allah, kenapa hatiku bereaksi berlebihan. Mengapa ada perasaan bahagia dalam hatiku. Aku tau, dulu Nair pernah memintaku dari Abi dan harusnya tahu bahwa dia memiliki perasaan padaku.
Yang membuatku tidak menyangka adalah Nair mengakui secara gamblang bahkan disaat-saat seperti ini. Saat kami sedang dalam situasi santai.
"Aku tahu ini mendadak bagimu, Nai. Tapi entah mengapa hatiku mengatakan aku harus mengatakan ini."
"Bukan dari kemarin atau setahun lalu, tapi sejak bertahun lamanya, sejak awal kita kembali di pertemukan."
"Aku jatuh cinta pada suara merdu gadis yang membaca Al-Qur'an di masjid kampus."
Naira membelakakan matanya, kaget. Nair mendengarku membaca Al-Qur'an di masjid kampus?
"Aku jatuh cinta pada wanita bernama Al Naira Rahardian, yang salinan namanya terselip rapi di antara lembaran Al-Qur'an yang kutemukan."
Kamu melihat nama itu, Nair? Apa karena itu kamu bisa dengan mudah menemukanku di kampus?
"Dan aku semakin yakin atas perasaanku saat ku temukan nama yang sama di album foto saat TK dulu. Sebuah foto yang terletak diatas nama Al Naira Rahardian."
"Naira, ku mohon...."
"Jika perasaanku terbalas, dan suatu saat kamu siap berumah tangga, segeralah katakan padaku."
"Karena saat itu juga aku akan datang pada Abimu."
"Nair..." Nair menunggu Naira berbicara.
Balas perasaanku Nai. Selama ini kita berteman tanpa pernah bertengkar. Selama ini kita saling berbagi cerita tentang banyak hal. Selama ini kita saling membantu saat salah satu kesusahan. Apa tidak ada sedikitpun perasaan untukku, Nai?
"Nair..."
Naira menunduk dalam. "Aku..."
"Aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu."
Nair langsung mengusapkan tangannya di wajah. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah..." gumamnya senang.
Naira yang mendengar itu langsung menatap Nair yang terlihat mengembangkan senyumnya.
"Tapi..." lanjut Naira.
__ADS_1
Tapi? Ya Allah, belum deal nih?
"Aku belum bisa berumah tangga dalam waktu dekat, Nair."
"Aku masih ingin meraih cita-citaku."
"Aku takut, jika berumah tangga dalam waktu dekat, aku akan mengabaikan tugasku sebagai istri." Naira meremas ujung jilbabnya. Entahlah, ia tak pernah segugup ini saat bersama Nair.
"Aku masih harus melanjutkan pendidikan empat sampai lima tahun ke depan."
"Aku harap kamu mengerti, Nair?"
Nair mengangguk. Ia faham atas apa yang Naira rasakan. Biar bagaimanapun ia pasti tau bahwa ada tanggung jawab besar dibalik status istri.
Akan ada banyak hal yang berubah jika ia sudah menikah. Nair tahu, gadis itu tidak mungkin memutuskan semuanya tanpa berfikir panjang. Ada orang tua yang mungkin akan ia ajak untuk berdiskusi tentang masalah ini.
Ini yang Nair suka dari gadis di depannya. Gadis yang selalu bersikap tenang, dan tidak grasah-grusuh.
Tapi setidaknya Nair senang. Perasaannya terbalas. Mencintai dalam diam yang selama ini ia lakukan, nyatanya tidak sia-sia. Naira juga mencintainya.
"Jadi, bagaimana Nai?"
Naira diam sejenak. "Apanya yang bagaimana Nair?"
Nair salah tingkah. "Status dan hubungan kita?" Nair sendiri bingung, setelah ini apa status yang mereka sandang. Apakah berteman atau pacaran seperti pasangan muda-mudi lainnya?
"Status dan hubungan kita tidak ada yang berubah Nair."
"Tetap sama."
"Yang bisa mengubah kita hanya proses ta'aruf, khitbah (lamaran) dan akad." Naira tersenyum tipis.
"Sebenarnya, mulai hari ini, kita yang hanya berdua seperti ini juga harus dihindari, Nair."
"Demi menjaga diri dari perbuatan zina."
Nair mengangguk. Sebenarnya ini salah, tapi mereka tidak benar-benar berdua, ada banyak orang disini. Nair juga selalu berusaha menjaga pandangannya dan syah*watnya.
"Terima kasih sudah membalas perasaanku, Nai."
"Semoga Allah memudahkan jalanku, jalanmu dan jalan kita untuk bersama."
"InsyaAllah..."
***
ðŸ˜ðŸ˜ Kisah Nair sama Naira ini berat bgt bagi othor 😂
Emak yang cuma momong anak harus bicara soal pendidikan dokter, dan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu agama.
Ya Allah... emak harus searching sana sini. Tapi gapapa, sekalian emak belajar ilmu agama dan banyak baca.
__ADS_1
tolong di koment ya kak kalau ada yang gak sesuai. Othor jg baru belajar 😊
Typo dan segala kesalahan mohon diluruskan. Entar emak revisi 😊