
"Ti..."
"Abang..." Tiara menatap suaminya dengan ekspresi tak tertebak.
"Ini mimpi, Ti?" Nath kembali menatap empat benda pipih bergaris dua yang membuat waktu terasa terhenti.
Tiara terisak masuk dalam pelukan hangat suaminya. Nath berkali-kali mengecup kepala istrinya. Air matanya tanpa terasa menetes begitu saja.
Ya Allah, terima kasih telah mempercayakan pada kami sesuatu yang dulu pernah hilang. Batin Nath.
Ya Allah, terima kasih memberikan kepercayaan ini lebih cepat dari yang ku duga. Aku akan menjaga titipan-Mu ini sebisaku. Batin Tiara.
Nath mengangkat tubuh Tiara dan kembali membawanya ke sofa. Nath berjongkok di lantai. Ia mengusap rambut istrinya.
"Terima kasih kado terindahnya."
"Terima kasih kejutan luar biasanya."
"Hadiah anniversarry terindah, meski sedikit terlambat." Nath tertawa kecil.
"Kita ke dokter hari ini."
Tiara mengangguk. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk calon anaknya. Ia juga sudah tidak sabar menunggu tumbuh kembang janin dalam rahimnya.
Sebuah harapan dan angan yang dulu sempat pupus. Sebuah harapan yang dulu pernah ada dan hilang dalam sekejap. Sekarang ia percaya, Allah pasti akan mengganti semuanya yang dulu pernah hilang.
****
"Bagaimana dok?" tanya Nath saat seorang perawat masih mengoleskan gel ke perut istrinya.
Tiara tertawa pelan. Ia merasa lucu melihat Nath yang terlalu bersemangat. Alat USG belum di tempelkan di perutnya dan Nath sudah bertanya bagaimana. Apanya yang bagaimana?
"Sabar, Pak. Pemeriksaan belum dimulai. Suaminya semangat sekali, ya Bu." ucap Dokter itu pada Tiara.
"Harap maklum ya, dok," jawab Tiara malu-malu. "Belum pernah melihat istrinya USG sih."
Dokter mulai menggerakkan sebuah alat di perut Tiara. Nath dan Tiara di arahkan untuk melihat layar di dekat mereka.
"Semuanya bagus." Nath dan Tiara menghembuskan nafas lega.
"Ini, kantung janinnya." Tunjuk dokter pada lingkaran berukuran kecil di layar.
"Dan yang ini janinnya."
"Itu dok?" tanya Nath seolah tak percaya. "Yang titik itu?"
Dokter tertawa. "Iya, Pak. Ini babynya. Masih sebesar biji kacang polong."
"Usianya 6 minggu, 2 hari."
Nath terpaku melihat janin yang masih sangat kecil itu. Sungguh sebuah keajaiban. Hatinya menghangat dan air matanya tak terbendung lagi saat dokter mendengarkan pada mereka suara detak jantung janin kecil itu.
Nath tak lupa menanyakan tentang keluhan yang dialami Tiara. Apakah termasuk hal wajar atau tidak.
"Semua itu wajar dirasakan ibu hamil, Pak. Mual, muntah, pusing dan sakit kepala hal yang biasa dirasakan di trisemester awal."
"Perut kembung, mood berubar-ubah juga bisa saja terjadi karena perubahan hormon."
__ADS_1
"Peran suami dan keluarga sangat penting disini. Perbanyak istirahat agar kondisi ibu selalu fit."
"Hindarkan pekerjaan yang terlalu berat dan jangan lupa relaksasi seperti dengan mendengarkan musik dan menonton televisi."
Semua pesan dokter Nath catat dalam fikirannya. Ia harus benar benar menkaga amanah yang sangat ia inginkan kehadirannya ini.
Diperjalanan pulang, Nath mempir ke salah satu minimarket untuk membeli susu ibu hamil yang sebelumnya juga sudah ia tanyakan pada dokter.
Nath juga mengisi keranjang belanjaannya dengan roti dan beberapa makanan sehat lain seperti yougurt dan buah-buahan.
Nath kembali ke mobil dan mendapati istrinya tengah memejamkan mata. Nath tersenyum melihat wajah yang terlihat pucat itu.
Nath kembali melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan Tiara terus menutup matanya. Ia semakin merasa pusing saat melihat lalu lalang kendaraan di depan mobil mereka.
Tiara memegangi perutnya. Ia merasa lapar karena sejak pagi ia tidak makan nasi. Dan tiba-tiba ia ingin makan sesuatu.
"Bang, boleh mampir beli bubur ayam gak?" tanya Tiara tanpa membuka matanya.
Ia kembali mengingat saat kehamilannya empat tahun lalu. Dia mengingat saat dirinya memakan bubur ayam di rumah lama Zoya dan saat di rumah sakit ia juga makan bubur ayam yang dibawa oleh bunda Una. Dan ia membayangkan betapa enaknya rasa bubur ayam yang ia makan saat itu.
Nath menatap istrinya sambil tersenyum. "Cie, bumil mulai ngidam nih kayaknya."
"Oke. Siap laksanakan!" ucapnya kemudian. "Kita muter-muter ya cari bubur ayam diwaktu menjelang siang ini. Semoga masih ada yang buka."
Nath mencoba mengingat dimana ada penjual bubur ayam yang buka sampai siang. Dan setelah berkeliling sekita setengah jam, ia menemukan tempat makan yang masih buka.
"Saya mau bubur ayam, Bu. Dua porsi, dibungkus aja." Pinta Nath pada penjual bubur.
Nath segera membayar saat dua bungkus bubur ayam dalam box styrofoam berpindah ke tangannya.
Sampai di rumah, Tiara langsung duduk di meja makan dengan wajah pucatnya. Nath mengambil segelas air putih hangat untuk istrinya. Nath duduk disamping Tiara dan menyuapinya dengan telaten.
Tiara menggeleng pelan sambil mengunyah makananya. Mualnya memang tidak separah pagi tadi. Dan saat ini ia bisa makan sedikit demi sedikit.
"Udah bang!" Ucapnya menahan mual saat ia sudah menghabiskan setengah porsi.
Nath berhenti dan memberikan air putih hangat padanya. Tiara meminumnya sedikit.
"Mual lagi?" tanya Nath.
Tiara mengangguk pelan. Nath memberikan sepotong buah pir yang sudah dikupas dari dalam kulkas. Ia meminta Tiara memakan buah demi mengurangi rasa mual.
Nath merasa kasihan melihat Tiara yang tidak berdaya. Biasanya ia akan terlihat ceria dan bersemangat. Tapi saat ini ia hanya melihat wajah pucat istrinya.
Nath menyentuh perut Tiara dari luar tunik yang ia pakai. "Sehat-sehat sayangnya daddy."
"Jangan nakal ya sayang, kasihan mommy."
"Baby karpet bulu kesayangan daddy harus jadi anak yang pintar." Kalimat Nath kali ini berhasil membuat senyum Tiara terbit.
"Karpet bulu apa keset bulu, abang?" tanya Tiara pelan.
"Hahahah.... versi kita itu karpet sayang." Nath tertawa, ia mengusap kepala istrinya.
"Kasian banget anakku nyetaknya di keset bulu."
"Tapi kan lihat kesetnya terletak dimana sayang. Di sebuah resort Muahaaaalll," balas Nath sedikit berlebihan.
__ADS_1
Tiara tertawa pelan. "Kita ke kamar, yuk Bang! Tia gerah, nih. Pengen ganti baju."
Nath berdiri dari kursinya. "Mau jalan sendiri atau digendong?" tanyanya pelan.
"Jalan sendiri aja, Bang!" Tiara berjalan perlahan ke kamarnya. Nath memegangi tangannya saat menaiki anak tangga.
Tiara langsung masuk ke kamar mandi. Ia mencuci wajah dan kakinya. Lalu mengganti pakaiannya dengan setelan lengan pendek.
Nath kembali membantunya duduk di sofa dan menghidupkan televisi. "Bumil cantik hari ini duduk cantik sambil selonjoran aja, ya." Nath meletakkan bantal sofa di punggung istrinya sebagai sandaran.
"Pasti bosan, Bang." Tiara menatap suaminya yang berlutut di lantai.
"Ini cuma sementara sayang. Semoga besok lebih baik ya. Dokter juga sudah resepkan vitamin dan obat."
"Demi dia." Nath mengelus perutnya. "Kita jalani ini sama-sama ya."
Tiara mengangguk.
"Ti..."
"Ya..." Tiara menyentuh pipi suaminya.
"Kamu pas hamil pertama dulu begini juga, Ti?" tanya Nath sungguh-sungguh karena ia semakin merasa bersalah dulu tidak ada di samping Tiara saat ia melewati masa-masa seperti ini.
Tiara coba mengingat. "Dulu, mualnya gak separah ini, Bang."
"Awal ngerasa mual justru pas lagi di Jogja."
"Oh, ya?" tanya Nath kaget.
Tiara mengangguk. "Tapi dulu tanda-tanda kehamilan bisa Tia rasakan, kayak dada terasa keras terus agak sakit, Bang."
"Sekarang dada kamu sakit gak, Ti?" Nath khawatir dan menyentuh dada istrinya.
Tiara menepuk tangan Nath pelan. "Kesempatan dalam kesempitan, yaaa."
Nath tertawa. "Tau aja, kamu!" Ia berdiri dan mengecup singkat bibir istrinya. "Abang mau lihat e-mail dulu."
"Jangan kangen." Nath mengerling.
"Abang duduk di situ kok." Tunjuk Nath di meja kerjanya yang hanya berjarak dua meter.
Tiara memutar bola matanya. "Selalu Pede ya, Bang!"
"Harus dong!"
"Istirahat ya! Malam nanti kita undang keluarga untuk makan malam di rumah."
"Kita kasih tahu, ada oleh-oleh lagi Sumbawa."
"Kita pesan makanan dari Arumi resto."
"Jangan pikirin urusan dapur." Ucap Nath sebelum Tiara bertanya tentang siapa yang akan membantu Bibik di dapur.
"Kak Bi..."
"Gak apa-apa, Kak Bi pasti ngerti, kok. Kalu seminggu lagi kita kasih tahu, juga percuma sayang. Dia juga tetap gak bisa hadir."
__ADS_1
"Ayah, Ibu sama Naura nanti biar ku minta supir untuk jemput."
Tiara mengangguk. Ia menurut saja dengan keputusan suaminya yang ia anggap tidak salah. Kabar baik ini memang harus mereka sampaikan karena keluarga juga pasti ikut bahagia.