
Nath dan Tiara duduk bersila di lantai kamar. Di rumah petak ini tidak ada orang lagi selain mereka berdua karena Ibunya pergi melakukan pekerjaannya sebagai buruh cuci. Ayahnya juga pergi mengantar penumpang dan Naura ke sekolah.
Kejadian Subuh tadi membuat keduanya sedikit canggung. Tapi bukan Nath dan Tiara namanya jika tidak bisa mengalihkan dan mengubah suasana hati mereka dengan perdebatan kecil.
"Dari Kak Bi/ bang Rion, Kak Zoy/bang Zra." Tiara memegang sebuah kotak dengan pembungkus terbuat dari kain dan pita kecil di atasnya serta sebuah kartu yang diikat bertuliskan nama mereka berempat.
Ya, keduanya saat ini sedang membuka kado yang diberikan oleh keluarga mereka.
"Wah, mereka patungan nih. Kita lihat, kakak-kakak sama abang-abang ipar ngasih apa," ucap Nath.
Tiara membuka perlahan dan mendapati kotak kecil di dalamnya. Tiara langsung membuka kotak itu dan "emas batangan?" Tiara membulatkan mata.
Nath mengambilnya dari tangan Tiara. "10 gram, Ti."
"Ada suratnya." Tiara membuka secarik kertasa yang dilipat kecil.
"Simpan sebagai tabungan kalian. Selalu bahagia Nath dan Tiara." Tiara menatap Nath yang tersenyum dan mengangguk.
"Mereka terbaik," ucap Nath bangga lalu ia mengambil sebuah amplop yang tak terlalu tebal.
"Ayah Satya sekeluarga." Nath membuka perlahan.
"Ck!" Decaknya saat ia menemukan sebuah voucher menginap di hotel mewah dan sebuah cek dengan 7 angka nol setelah angka 1 di deretan paling depan serta secarik kertas.
Tiara lagi-lagi membulatkan mata. "Have fun, Nath!" Tiara membaca secarik kertas yang Nath berikan.
"Keluarga ... kamu memang seperti ini, Bang?" tanya Tiara ragu karena hadiah yang mereka terima bukan hal yang murah.
Nath tertawa dan mengangkat bahu. "Mungkin karena aku belum bekerja dan gak semapan bang Zra dan Rion."
"Harusnya kan gak begini, kesannya kayak-"
"Menghina?"
Tiara mengangguk pelan. "Mereka memikirkan kita, Ti. Kehidupan setelah pernikahan dari sisi finansial."
"Emas dari kak Bi dan kak Zoy itu bisa kita pergunakan jika kita butuh biaya di waktu yang akan datang."
"Dan uang dari ayah Satya, itu juga untuk tabungan kita. Kamu jangan sungkan. Mereka hanya terlalu sayang dan khawatir pada kita."
"Lagian, uang segitu bisa ayah Satya dapatkan dalam waktu 2 jam."
Tiara mendelik. "2 jam?"
"Tambang batu bara dia banyak, Ti. Tenang aja. Dia gak akan jatuh miskin kok."
Ya Allah, mereka sekaya itu tapi tidak sombong sama sekali? Tante Bunga dan Om Satya terlihat sederhana, Shaka dan Lovely mereka orang yang tidak memilih-milih teman. Batin Tiara.
"Ethan." Nath tertawa. "Salah satu faktor terbesar penyebab pernikahan ini terjadi. Kita lihat dia ngasih apa."
Tiara diam. Dia merasa ada nada marah dalam ucapan Nath. Apakah Nath menyesal menikahinya ataukah Nath marah pada Ethan karena minuman yang pernah ia berikan pada Tiara?
Padahal tidak ada nada marah sedikitpun. Itu hanya perasaan Tiara saja.
"Sialan!" Nath kembali memasukkan sesuatu ke dalam amplopnya. Ia merasa harga dirinya diinjak injak saat melihat hadiah yang Ethan berikan.
__ADS_1
Tiara terkesiap dan langsung penasaran karena reaksi Nath yang tak biasa. Tiara ingin tahu apa yang membuat Nath tampak marah.
Tiara berusaha merebutnya dari Nath. "Bang Ethan kasih apa, Bang?"
Nath berusaha agar Tiara tidak bisa mengambil kado dari Ethan. "Jangan, Ti. Kita buka kado yang lain aja."
"Bang!" Tiara berdiri agar ia lebih tinggi dari Nath. Nath tak mau kalah, ia juga ikut berdiri dan mengangkat amplop tebal itu tinggi-tinggi.
Tiara menarik baju Nath. "Lihat bang! Tia penasaran!"
Nath merasa de javu saat Tiara menarik bajunya. Seperti saat malam itu, saat ia berusaha menjauhkan minuman dari tangan Tiara.
Nath terus mundur hingga kakinya menabrak sisi ranjang. Nath jatuh di atas ranjang dan Tiara ikut jatuh diatas tubuhnya.
Nath terpaku saat Tiara mengulurkan tangan masih berusaha merebut apa yang ia pegang. Wajah Tiara sangat dekat dengan wajahnya.
"Dapat," ucapnya senang. Tiara turun dari atas tubuh Nath. Ia duduk disamping perut Nath dan mengeluarkan isi amplop pemberian Ethan.
Tiara mengambil satu sashet berisi serbuk. "Jamu kuat pri-" Tiara menatap Nath yang juga menatapnya. Ia tak lagi melanjutkan untuk membaca bungkusan jamu yang ia pegang.
Tiara melemparkannya asal. Ia cemberut dan kesal. Lalu kembali mengambil sesuatu dalam amplop.
"Jangan Ti!" larang Nath.
"Sekalian! Biar tau seberapa ngaconya temen kamu!" ucap Tiara kesal.
Tiara mengeluarkan beberapa bungkusan kecil yang isinya 1 benda bulat seperti karet gelang berwarna di setiap kemasannya.
"Ini apa, Bang?" Tiara menunjukkan pada Nath. "Permen? Apa ini buat ngilangin rasa pahitnya jamu?"
Nath mengulum senyum saat mendengar Tiara mengatakan permen untuk benda yang lebih akrab disebut k*nd*m itu. "Kamu gak tau itu apa?"
"Kenapa?" Tanyanya penasaran.
Nath duduk menghadap Tiara. "Itu k*nd*m," bisiknya pelan. Tiara membulatkan matanya menatap Nath yang menggigit bibir menahan tawa.
Tiara langsung menjatuhkan bungkusan-bungkusan kecil itu dari tangannya. "Ih! Jijik." Tiara mendekatkan telapak tangannya ke hidung lalu mengendusnya untuk merasakan bau yang tertinggal.
"Iihh baunya aneh." Tiara mengelapkan kedua telapak tangannya di baju Nath yang tengah tergelak.
"Kamu kok gak bilang sih! Untung aja belum ku makan, Bang." Tiara masih terus menggosokkan telapak tangannya di baju Nath.
Nath masih tergelak. "Iiih! Udah dong ketawanya!" Tiara memukul dada Nath pelan. Ia malu.
Tiara memilih tidur tengkurap menenggelamkan wajahnya di bantal. Nath berbaring di sebelahnya.
"Aduh, sakit banget perutku, Ti. Lagian kamu! Kamu mengerti soal buku kamasutr* itu buku tentang apa, tapi bentuknya k*nd*m kamu gak tau. Hahahah."
(Soal buku itu, bisa kalian baca di Novel Bukti Cinta untuk Bintang bab 65 dan 66)
Tiara tidur miring menghadap Nath. "Buku itu kan ada tulisan sama gambarnya. Kalau yang tadi kan cuma plastik transparan doang, bang!"
"Kalau ada kemasan kotaknya, mungkin aku tau!"
"Kamu pernah lihat kotaknya?" Nath menatap Tiara penasaran. "Dimana?" tanyanya saat Tiara mengangguk.
__ADS_1
"Di minimarket depan," jawab Tiara cepat.
Nath kembali mengulum senyum. Kamu sepolos ini, Ti?
Hening...
Keduanya diam sambil menatap satu sama lain. Tiara, entah apa yang dicari di mata Nath tapi ia tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Nath, ia malah fokus pada bibir Tiara, sesekali ia menatap mata indah itu yang terus menatap wajahnya.
"Bang!"
"Ya." sahut Nath dengan suara lembut.
"Aku belum cinta sama kamu," ucap Tiara pelan.
Nath tersenyum dan mengulurkan tangannya menyentuh pucuk kepala Tiara. "Reyga terlalu indah untuk terganti?" tanya Nath.
Tiara menggeleng. Ia memejamkan mata, mengingat kapan terakhir kali ia mengharapkan Reyga masih bersamanya.
"Dia pernah terganti." Tiara membuka matanya. Nath menantapnya tanpa berkedip, seolah meminta penjelasan siap orang yang telah menggantikan posisi Reyga.
Tiara menunduk dan mengusap perut ratanya. "Dua makhluk yang pernah hidup disini."
Nath ikut menatap perutnya. Saat ini keduanya tidur miring dengan menekuk kaki agar tak menjuntai kebawah dan saling berhadapan. Jarak mereka dangat dekat sampai lutut keduanya saling bersentuhan.
"Mereka pernah mengantikan posisi Reyga. Membuatku membayangkan perut ini membesar dan kelak aku akan menimangnya."
Air mata Tiara menetes. "Aku bahkan baru tau ada dua malaikat setelah mereka tiada."
Nath menghapus air mata Tiara. "Mereka sudah tiada. Jangan bersedih."
"Aku sakit saat mengetahui aku hamil. Tapi aku hancur saat mengetahui mereka tiada."
Nath beringsut dan memeluk Tiara. Ia mendekap Tiara didadanya. "Selama ini kamu menahannya, Ti?"
Tiara mengangguk. "Aku takut ibu sedih, saat melihatku seperti ini."
"Aku takut ibu marah karena menangisi janin diluar nikah, walaupun aku tahu ibu tidak akan melakukan itu."
"Kamu menyayangi mereka, Ti?"
"Sangat." Tiara kembali terisak.
Nath tidak lagi menyahut dan ia malah semakin mengeratkan pelukannya.
Tiara memang menyesali kebodohannya. Tapi biar bagaimanapun nalurinya sebagi seorang ibu muncul begitu saja. Ia menyayangi sebuah keajaiban yang tumbuh dirahimnya.
Nath, ia juga menyayangi janin itu terlebih saat tau Tiara juga menyayangi dan menginginkan kelahirannya.
Namun, semua sudah berlalu. Terus menangisi dan menyesali justru akan membuat keduanya terpuruk dan sulit untuk bangkit lagi.
Semoga Allah mengganti semua tangismu ini dengan kebahagiaan, Ti. Batin Nath.
Semoga Allah mengganti apa yang pernah hilang dariku. Batin Tiara.
__ADS_1
****
Aku kasih yang manis-manis dulu ya 😘