EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap- Nair (6)


__ADS_3

Saat tahu keluarga Naira ada di Jakarta, Nair mulai mencari tahu mereka tinggal dimana selama di kota ini. Apakah di hotel atau di rumah Pakde Rahman.


Selama ini, Naira tinggal di rumah Pakde Rahman, saudara kandung Abinya. Selama ini pula, Nair tidak pernah ke rumah mereka. Bukan tidak ingin, hanya saja belum ada kesempatan dan alasan untuk kesana.


Saat lebaran tiba, mereka pulang ke Jawa dan saat kembali, Nair bertemu mereka di masjid.


Siang ini, Nair datang ke masjid yang sama. Setelah sholat Zuhur, akan ada ceramah yang disampaikan oleh salah satu Ustadz ternama.


Nair tentu tidak ingin absen. Ia bahkan ikut berpartisipasi mempersiapkan acara disana.


Nair duduk dibarisan paling depan, bersebelahan dengan seseorang yang ia kenal. Seorang pria berpenampilan sederhana, celana sarung dan baju koko serta kopiah putih di kepalanya.


Wajahnya masih tampak muda dan bersih. Nair kembali memperhatikan orang orang di sekitarnya, semua rata-rata memakai baju koko atau kurta putih, ada juga yang berwarna lain tapi lebih didominasi warna putih.


Nair menyentuh dadanya dengan satu telapak tangannya. Ada debaran aneh di sana. Ada rasa bangga karena ia ada diantara orang-orang beriman, Insyaallah.


Ya Allah, terima kasih telah membuat pintu hati ini terbuka begitu mudah...


Maaf telah datang hanya karena ingin memiliki seorang gadis, yang merupakan makhluk ciptaan-Mu.


Saat ini aku berpasrah, jika Engkau takdirkan, maka kami akan bersama. Dan jika tidak, maka aku percaya rencana-Mu jauh lebih indah.


Sebenarnya, malam tadi, Nair telah berbicara pada Abinya Naira di rumah Pakde Rahman. Nair memberanikan diri berkenalan dengan orang tua gadis itu. Dan Nair langsung menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Om, saya datang kesini bukan untuk menemui Naira." Ucap Nair tanpa ragu. Naira kebetulan sedang tidak ada di rumah.


Sehabis magrib tadi, gadis itu pergi ke salah satu toko alat tulis kantor untuk membeli kebutuhan tugas kuliahnya.


Pria bernama Rahardi itu menatap Nair dari atas ke bawah, saat ini keduanya sedang duduk di kursi teras rumah dengan meja menjadi pemisah keduanya.


Nair menatap pria yang baru pertama kali ia temui setelah bertahun-tahun lamanya.


Rahardi masih mengingat Nair sebagai teman Naira saat TK dulu. Pria seusia Akhtar itu menatap pemuda yang berani datang langsung menemuinya.


"Saya ingin menemui om sebagai orang tua Naira."


Rahardi mengerutkan keningnya.


"Jujur, saya tertarik pada putri om." Kalimat yang Nair ucapkan dengan nada bergetar tanda ia merasa gugup.


Rahardi masih memberi kesempatan pada Nair untuk bicara. Pria hampir lima puluh tahun itu tidak memotong ucapan Nair sama sekali.


"Saya ingin bertanya? Apakah Naira sudah ada yang memiliki atau belum, Om?"


"Saya tahu ini terlalu mendadak, dan terkesan terburu-buru. Saya hanya tidak ingin berjuang untuk gadis yang sudah dimiliki orang lain, om."


"Ini pertama kalinya saya jatuh cinta." Nair menunduk dalam.


"Dan itu pada putri om." Nair kembali menatap Rahardi. Nair ingin orang tua dari gadis yang ia cintai itu melihat kejujuran dimatanya.


"Jika om merestui, saya ingin meminangnya untuk menjadi pendamping saya."


Rahardi diam sejenak, lalu ia tersenyum menatap Nair yang kembali menunduk.

__ADS_1


"Kenapa kamu menunduk saat meminta putriku?" pertanyaan yang tidak Nair sangka akan terlontar dari orang tua Naira.


"Karena ada rasa takut, Om."


"Takut?" Nair mengangguk.


"Takut akan apa?"


Nair diam, dia pun tidak tahu apa yang ia takutkan. Apakah takut tidak di restui atau takut diusir secara tidak hormat karena berani mencintai putri kebanggaan mereka.


Tapi sepertinya kemungkinan kedua tidak akan terjadi.


"Saya takut, jika sekiranya nanti saya di tolak, saya dan Naira tidak bisa berkomunikasi seperti sebelumnya."


"Memang ada apa dengan kamu dan Naira saat ini?"


Nair menggeleng. "Hanya hubungan sebatas teman, om."


"Kamu siap memikul tanggung jawab, Nair?"


"Saya siap, om."


"Kamu masih semester..."


"Tiga, om."


"Nair, perjalananmu masih panjang. Begitu juga dengan Naira."


"Sudah berapa juz hafalan kamu?"


"Sudah seberapa dalam ilmu agamamu?"


"Sudah seberapa mapan kehidupanmu?"


"Apakah sudah cukup bekalmu untuk membimbing putri Abi?"


"Menasehatinya kalau ia salah. Mencintainya sedalam Abi dan Umi."


"Semua itu perlu Nair. Abi ingin putri Abi memiliki pendamping yang tepat dan disaat yang tepat."


"Abi percaya Naira tidak akan mengecewakan Abi."


"Dia ingin jadi dokter, Nair."


"Itu impiannya."


"Jangan membuat Abi dalam posisi sulit, Nair."


"Abi tau kamu pria baik. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga baik-baik."


"Abi tau niat kamu juga baik."


"Tapi saat ini, Abi lebih ingin Naira mewujudkan impiannya."

__ADS_1


"Dia suka anak-anak. Cita-citanya mulia Nair. Ia ingin mengobati setiap anak yang sakit. Setiap anak yang membutuhkan pertolongannya."


"Banyak CV ta'aruf yang datang pada Abi untuk Naira. Tapi Abi belum bisa memberikan semua itu padanya."


Berarti CVnya Alif belum sampai pada Naira hingga saat ini.


"Sama seperti yang lain, Nair. Malam ini, Abi tidak bisa memberi jawaban pasti."


"Abi bukan menolak, Nair. Tapi ini memang belum saatnya." Rahardi mencoba membuat Nair mengerti.


Ini bukan tentang dinikahkan saja dari pada timbul fitnah. Tapi ini tentang masa depan dan impian seorang gadis yang bisa saja hancur jika orang tuanya egois dan menikahkan putri mereka disaat yang tidak tepat.


Nair faham maksud Rahardi. Dia saja yang datang terlalu cepat. Tapi ia senang karena orang tua gadis yang mengisi hatinya itu ternyata juga melakukan hal yang sama pada pria lain.


"Lalu, kapan saya bisa datang lagi, Om?" tanya Nair sedikit ragu.


"Kapan kira-kira saat yang tepat itu, Om?"


Rahardi tertawa pelan. "Kenapa kamu terkesan tidak sabar dan takut keduluan orang lain, Nair?"


"Astaghfirullahal 'adzim..." gumam Nair beristighfar. Dia merasa apa yang Pria di depannya katakan benar adanya. Nair cenderung takut ada yang mendahuluinya melamar Naira.


Rahardi tersenyum. "Abi belum tau Nair. Bukankah manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan."


"Perbanyak belajar, selesaikan kuliah kamu, tetap istiqomah berada di jalan Allah. Menanam kebaikan dan terus berbuat baik."


"Insya Allah, jodoh kamu kelak juga wanita baik-baik."


"Jangan terlalu berharap banyak pada manusia, Nair."


"Berserah diri pada Allah dan percayalah, Allah sudah atur semuanya."


***


"Sejak kapan kamu ikut dalam acara seperti ini, Nair." tanya pria di sebelah Nair.


"Sudah lebih dari setahun, Abi," jawab Nair sambil menatap Rahardian.


Semenjak berbicara dengan Abinya Naira kemarin malam, Nair merasa ada kelegaan dihatinya. Ia tak lagi berambisi untuk memiliki gadis itu. Ia tak lagi seperti sedang berlomba meminang gadis pujaan hatinya itu.


Kini Nair percaya, jika merea berjodoh, kelak jalan itu pasti berbuka lebar.


"Masjid ini tidakkah terlalu jauh dari rumah kamu?"


Nair menggeleng pelan. "Tidak terlalu, Abi."


Sebenarnya Nair tidak setiap hari ada disini. Ia kadang ke masjid di kompleknya. Baginya di masjid manapun sama saja. Hanya saja di masjid ini kegiatannya lebih banyak.


****


Next kita akan percepat ke masa dimana akhirnya Nair curhat sama Nath. Masih ingat kan?


tunggu kelanjutannya ya...

__ADS_1


__ADS_2