
Malam panjang sudah selesai. Nath dan Tiara serta seluruh keluarga pulang ke rumah setelah pesta selesai sekitar jam 11 malam.
Selesai sholat subuh, Tiara dan Nath kembali bergelung dalam selimut, benar-benar menikmati hari liburnya.
"Bangun, sayang." Nath mengusap pipi Tiara dengan ibu jarinya sementara kakinya melintang diatas tubuh mungil istrinya itu.
"Masih ngantuk, Bang," jawabnya malas. Ia malah menggeliat mencari posisi yang nyaman.
Nath terkekeh. "Aku pergi dulu, ya. Aku ngantor hari ini, Ti."
Tiara langsung membuka matanya. Ia heran, suaminya yang lupa kalau ini hari libur atau dia yang salah mengira kalau ini hari libur.
"Abang serius?" Tiara duduk dan menyibak selimut. Suaminya masih memakai kaos pas badan dan boxer seperti biasa saat tidur.
"Isssh..." Tiara mendorong dada Nath yang tengah tertawa keras. Ia cemberut dan kembali membaringkan tubuhnya.
"Ayo, sayang. Kita harus ke airport loh," bisik Nath lagi.
"Ngapain, bang?" Tiara memunggungi Nath yang tengah memeluk guling.
Nath mengambil ponselnya dan menunjukkan foto sebuah resort mewah di daerah Sumbawa, salah satu pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Siang ini kita kesana," bisik Nath lagi.
Tiara langsung membalikkan badan. Ia bisa melihat resort yang menyajikan pemandangan luar biasa indah itu begitu menggoda dimatanya.
Ia sedikit tahu tentang pulau Sumbawa yang menyuguhkan pemandangan pantai dengan laut biru yang membentang luas.
"Jangan becanda!" Tiara memukul dada Nath. Ia kesal karena pagi-pagi begini Nath sudah mengerjainya.
"Serius, Ti. Kita honeymoon kesana, ya."
"Semua tiket sampai tempat udah aku pesan sejak 4 bulan lalu."
Karena memang harus begitu, memesan dari jauh hari untuk bisa menginap di resort bertaraf Internasional itu.
"Abang beneran?" tanyanya pada Nath.
"Iya sayang."
***
Setelah menempuh perjalanan jalur udara hampir 2 jam mereka tiba di Bandara Internasional di Bali, dan kembali melanjutkan perjalanan dengan 1 jam pernerbangan menuju Sumbawa.
Disana, mereka kembali melanjutkan 2-3 jam perjalanan darat dengan mobil yang sudah Nath sewa.
Tiara duduk tegak menatap ke arah luar jendela mobil. Sedikitpun tidak ada wajah badmood atau lelah. Ia terus menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
"Kita berapa hari disana, Bang?" tanya Tiara.
"Tiga hari sayang."
Tiara menatap Nath lalu memeluknya. "Terima kasih honey, bunny, sweety."
"Terima kasih untuk hal indah ini."
Nath sampai terkekeh melihat Tiara yang begitu antusias. "Happy?"
__ADS_1
"Banget," sahutnya cepat.
Mereka tiba di sebuah resort mewah yang terkenal hingga ke mancanegara. Keduanya langsung check in.
Tiara dan Nath sampai di kamar mereka. Tiara langsung menatap pintu yang terbuka lebar dengan kolam renang pribadi dan dari jarak beberapa meter, bibir pantai dengan air berwana biru memanjakan matanya.
"Subhanallah. Ini sih keren bangeet, bang?" Tiara merentangkan tangan menghirup udara segar. Hijab pasminanya bergerak perlahan diterpa hembusan angin.
"Sayang banget mama sama yang lain gak ikut."
Nath memeluk perut Tiara dari belakang. "Kita bulan madu sayang."
"Bukan mau liburan keluarga."
"Kita udah sering pergi dengan semuanya. Dan sekarang, aku cuma mau menghabiskan waktu berdua sama kamu."
Nath membalikkan tubuh Tiara. Keduanya kini saling berhadapan. " Kamu tahu, Ti. Ini adalah bulan madu yang sejak dulu menjadi niatku untukmu."
"Perlahan aku akan menghadirkan apa yang tidak ada dalam pernikahan kita, sayang." Nath menatap manik mata Tiara.
Ia menemukan banyak cinta dalam binar mata itu. Tiara mengangguk pelan. "Kemarin resepsi, dan hari ini bulan madu," bisik Tiara.
"Insyaallah, bulan depan baby," sambung Nath dengan senyum kecil.
Tapi perlahan senyum Tiara memudar. Ia gelisah dan takut jika tidak bisa memberikan anak pada Nath dalam waktu dekat sedangkan Nath terlihat negitu menginginkan sosok malaikat kecil itu.
"Kenapa murung?" tanya Nath mengusap pipi istrinya itu.
"Soal.... baby. Bagaimana kalau..."
"Sssttt!" Nath meletakkan telunjuknya di bibir Tiara. "Kenapa takut pada hal yang Allah sudah atur, Sayang?"
"Aku, kamu, kita sudah bahagia selama 4 tahun ini meski hanya berdua."
"Hadirnya bayi memang menyempurnakan kebahagiaan kita, sayang."
"Tidak bulan depan, masih ada tahun depan. Jangan khawatir. Bersama kamu adalah bahagiaku."
"Tetap tersenyum di depanku, dan peluk aku sepanjang malamku maka itu sudah sangat cukup bagiku."
"Aku mencintaimu, Ti." Nath memeluk Tiara dengan penuh kehangatan. Tangannya mengusap punggung istrinya. "Aku menerimamu apa adanya."
"Maaf dulu pernah menyakitimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, bang. Tetap disisku apapun yang terjadi."
"Bertahun aku egois ingin memilikimu sendiri, begitu pun seterusnya."
"Jangan biarkan ada siapapun masuk dalam hubungan kita."
"Aku ingin kita menua bersama seperti kakung dan uti, seperti oma dan opa, seperti kakek dan nenek. Aku ingin kita menjadi pasangan romantis seperti mama dan papa, seperti Bunda Una dan ayah Satya."
"Kita akan lebih dari mereka, Ti. Pasangan paling luar biasa diantara semuanya."
Nath melepaskan pelukannya. Ia membawa Tiara ke atas ranjang, menggendongnya ala bridal style.
"Istirahat yang cukup. Sore ini kita berenang dan malam kita...." Nath mengerling memberi kode apa yang akan mereka lakukan malam nanti.
__ADS_1
Tiara tertawa. "Selalu ya, gak mau absen." Ia sudah sangat faham arah bicara suaminya. Ia tahu, Nath tidak mungkin menyianyiakan kesempatan ini. Terlebih mereka akan 3 hari hanya berdua tanpa rutinitas padat seperti biasa.
"Aku dari kecil diajari mama gak boleh mubazir, Ti." Ucapnya bersandar pada headboard dan Tiara tidur di pahanya.
"Oh, ya?" tanya Tiara.
"Heem." Nath mengangguk.
"Ranjang ini." Nath menepuk ranjang empuk itu. "Harus di coba." Tiara sudah tertawa.
"Sofa itu, boleh juga." Nath menunjuk sofa.
"Kolam renang, mantap tuh!" Matanya menatap kolam renang didepannya.
Tiara menatap jengah suaminya.
"Karpet dibawah lembut, kayaknya, Ti." Nath terkekeh pelan menunjuk karpet bulu dibawah.
Tiara ikut tertawa. "Itu bukannya keset kaki, Bang?"
"Ah, masa sih, Ti."
"Kayaknya iya, Bang?"
"Hebat banget, ya orang kaya itu, Ti. Kesetnya aja kayak karpet di rumah kita."
Tiara tak tahan untuk tidak tertawa. "Ya Allah, norak baget kita ya bang! Hahahaha."
Ia menenggelamkan wajahnya di paha Nath.
Ia menertawakan mengapa mereka sampai membahas hal yang sangat tidak penting itu. Mungkin ini jugalah yang membuat rumah tangga mereka bertahan hingga kini.
Mereka selalu membagi tawa untuk hal sederhana. Mereka bahkan tidak pernah menganggap satu sama lain adalah beban. Keduanya malah merasa seperti sahabat yang saling berbagi suka dan duka.
"Apa lagi gordennya, Ti. Ya Allah, ini kalau kak Bi tau, dia pasti minta foto di depannya."
Tiara makin terbahak. Ia mencubit perut Nath. "Kak Bi gak norak kayak kita, bang!"
"Kita gak norak, sayang!"
"Dih, siapa bilang! Dulu yang foto di gorden kamar di villa kak Zoy, siapa?"
"Kain putih gitu doang aja jadi background foto." Tiara mencibir suaminya.
Ia ingat saat mereka menginap di villa Zoya, saat ia di culik dulu. Karena hujan, mereka batal keluar dan akhirnya berakhir dengan berfotoria dengan menggunakan kamera yang Nath bawa.
"Ya ampun, kita pernah begitu, Ti?" tanya Nath pura-pura kaget.
"Iyalah. Ide kamu pula!"
***
Hai semuanya😊
Emak upnya masih acak-acakan nih. 😥
Terus dukung Nath sama Titi yaaak...
__ADS_1
Like, koment nya emak tunggu.
soal Gift, yang berkenan juga boleh kasih kok 😚