EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 51 Pulang


__ADS_3

Nair mencari nomor Nath di ponselnya dan segera menghubunginya. Nair menempelkan ponselnya di telinganya.


"Jangan ditelpon, Bang!" Nair menatap Tiara yang terlihat kesal.


"Gak apa-apa, biar dijelasin disini."


Tiara berdiri. "Gak perlu Bang, nanti kesenangannya terganggu."


"Dia pasti akan menjelaskan apa yang kamu lihat, Ti." Nair ikut berdiri dan meletakkan uang 50 ribu di meja.


"Aku lagi gak pengen dengar penjelasan apapun, Bang. Moodku berantakan banget."


Tiara menyetop taxi yang kebetulan baru menurunkan penumpang. "Tia duluan, Bang."


"Jangan katakan apapun, please. Biar kami sendiri yang menyelesaikan masalah ini." Tiara segera masuk ke dalam taxi sebelum Nath melihatnya.


Nair pasrah, memang siapapun akan salah faham melihat Nath yang membonceng gadis berpakaian seperti itu.


Nair yang tidak ingin ikut campur urusan Nath dan Tiara memilih meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah.


Sementara di seberang jalan yang lain. "Kamu ikut ke kampus istriku, ya Bel. Dia salah faham soal noda lipstik itu."


"Tau ah Nath. Terserah lo aja. Ribet banget bini lo."


"Ck!" Decak Nath. "Makanya punya pacar, biar tau rasanya cemburu."


"Bagas nolak gue!" Bela cemberut. Nath terbahak melihat wajah perempuan bernama Bela itu.


"Siapa yang berani deket sama cewek sabuk hitam kayak kamu. Yang ada tuh cowok cuma nyerahin diri buat jadi tumbal."


"Sialan! Lo pikir ilmu hitam."


"Hahahah." Nath terbahak.


"Btw, kamu kenapa, Bel? Kemarin pake lipstik, sekarang kamu pakai baju begini.


"Kerjaan mama gue, Nath."


"Gue udah kayak barbie mainannya."


"Pasrah deh, dari pada dikeluarin dari KK."


"Wkwkwk. Mama kamu pinter dandanin kamu. Jadi kayak cewek sekarang."


"Tok!" gadis bernama Bela itu memukul helm Nath. "Selama ini gue cewek Nath. Cuma males ribet aja."


"Hahahah... Tapi ini agak mendingan sih. Gak terlalu berlebihan. Gak kayak manekin butik yang ono." Keduanya terbahak saat membandingkan Bela dengan gadis bernama Cloudy.


Bela adalah teman Nath sekelas Nath. Keduanya lumayan akrab. Dan Nath tahu, Bela tidak menyukainya karena gadis itu punya cinta pertama bernama Bagas.


Keduany tiba di kampus Tiara. "Bini lo kuliah disini Nath?"


Nath mengangguk. "Iya, baru semester 1."


"Gila! Daun muda. Ati-ati banyak ulat yang ngincar. Pucuk-pucuk-pucuk." Bela mengikutinya salah satu iklan di TV.


Nath tak peduli. Ia mencari keberadaan Tira. Biasanya gadis itu akan menunggu di tempat biasa. Namun saat ini belum terlihat batang hidungnya.


"Mana orangnya?" tanya Bela.


"Sabar. Biar ku telpon dulu."


Nath mengambil ponsel yang ia simpan di tasnya. "Mamp*s!" gumamnya membuat Bela menoleh cepat.


"Ada apa?"


"Istriku di kampus kita!"


"Apa! Gimana bisa?" bentak Bela.


Nath kembali membaca pesan Tiara.

__ADS_1


📨 Tiara


Bang.


Tia diantar bang Rion ke kampus abang.


Dan sekarang Tia nunggu di warung bakso depan kampus ditemani bang Nair.


Nath mijat keningnya saat melihat panggilan tak terjawab dari Nath beberapa menit lalu.


"Telpon bini lu kampr*t!"


"Eh... iya." Nath segera menghubungi Tiara.


"Makin deh gue dicap pelakor. Padahal nafs* juga enggak lihat lo." Bela terus mengomel.


"Lagian, punya bini cemburuan banget. Tapi iya juga deh kalo bentukan lakinya kayak begini. Sana sini senyum kayak orang stres."


"Senyum itu ibadah, Bel." Nath sempat-sempatnya menyahut padahal panggilannya belum juga dijawab oleh Tiara.


"Tapi gak sama semua cewek, Nath. Itu namanya ngebaperin."


Nath tidak menanggapi kalimat Bela. "Gak diangkat, Bel. Nair juga gak angkat telpon."


"Kita balik ke kampus aja lagi." Nath sudah menstarter motornya.


"Kayak setrikaan lo buat Nath!"


"Ayo Bel, keburu genderang perang dunia ke tiga bunyi."


"Sukurin. Nganggur sebulan dah lo. Hahahah."


Nath melajukan motornya dan berhenti di depan warung bakso langganannya dan Nair. Nath turun dan mencari keberadaan Tiara dan kembarannya itu.


"Loh, Mas.... Nath ya," sapa abang tukang bakso itu.


"Iya bang. Tumben gak salah manggil."


"Nah, saya nyari mereka, Bang. Sekarang pada kemana ya?"


"Oh, udah pulang," jawab penjual bakso itu.


"Naik motor bang?"


Abang tukang bakso berfikir sejenak. "Yang cewek naik taxi. Kalau Nair naik motor kayak biasa."


"Makasih, Bang." Nath kembali ke motornya. Kepalanya semakin pening karena saat ini ia tidak tau keberadaan istrinya.


"Kamu pulang sendiri deh, Bel."


"Tiara udah pulang kayaknya. Lain kali aja kalian ketemuannya."


Gadis bernama Bela itu mengangguk. "Ya udah. Gue pulang dulu."


"Thanks ya Bel."


"Sorry ngerepotin."


"It's okey Nath. Langgeng sama bini."


"Harus!"


Awalnya Bela tidak menyangka Nath menikah diam-diam dan mendadak. Tapi gadis itu tak sekepo gadis lain. Dia juga tidak peduli pada hal yang bukan urusannya. Dan Nath bersyukur akan hal itu karena ia tak perlu menjelaskan apapun pada Bela perihal pernikahannya.


Nath kembali melajukan sepeda motornya dan kembali ke rumah. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung mencari Tiara ke kamar tapi tidak ia temukan.


Nath naik ke kamar Nair untuk bertanya. Ia masuk ke dalam dan menemukan Nair baru saja keluar dari kamar mandi.


"Nair, Tia kemana?"


"Ha? Dia belum sampai?" tanya Nair.

__ADS_1


"Belum."


Nair diam dan menggeleng. "Aku gak tau."


Nath kembali ke bawah dan bertanya pada asisten rumah tangga. Namun semua mengatakan bahwa Tiara belum pulang.


"Kamu kemana, Ti?" gumam Nath bingung.


Nath duduk di teras menunggu Tiara pulang. Ia terus menghubungi ponsel Tiara tapi tidak dijawab.


Nath mencoba menghubungi orang tua Tiara.


"Assalamualaikum, Ayah."


"Ada apa Nath?"


"Ayah sedang di rumah atau di luar, Yah?"


"Ayah di rumah Nath."


"Tiara sudah sampai disana, Yah?" Nath terpaksa mengatakan hal itu. Supaya orang tua Tiara tidak kepikiran.


"Loh, Tia mau kesini? Belum sampai Nath."


Nath menghela nafas berat. Jantungnya berdetak kencang. Kamu kemana Ti?


"Oh... mungkin memang belum, Yah. Tia tadi sama mama, Yah. Mungkin mampir entah kemana dulu."


Nath menghembuskan nafas berat berkali kali. Ia sudah bohong pada ayah mertuanya. Dan saat ini ia tidak tahu keberadaan istrinya.


"Belum ada kabar?" Nair tiba-tiba muncul.


Nath menggeleng. "Belum," ucapnya tanpa menatap Nair yang duduk di sampingnya.


"Tadi dia lihat kamu boncengin cewek."


Duaaarr!


Nath langsung menatap Nair. "Saat di kampus?"


Nair mengangguk. Dan Nath langsung mengacak rambutnya. "Pasti salah faham lagi."


"Kebiasaan kamu tuh dikurang-kurangi Nath!"


"Jaga jarak sama cewek-cewek kampus. Sekarang itu udah ada hati yang harus kamu jaga."


"Tapi ini cuma salah faham, Nair."


"Aku dekat sama cewek cuma satu dua. Itu cuma masalah tugas kampus," lanjut Nath masih membela diri.


"Tapi muka kamu tuh jangan kebanyakan senyum sana sini. Cewek-cewek tuh anggepnya lain."


"Emang aku, kamu! Es balok!" Nath kesal dan meninggalkan Nair. Ia sedang pusing dan bingung, Nair malah menasehati tapi seolah memojokkannya.


Nair menggeleng pelan. "Seenggaknya gak jadi boomerang sama hubungan percintaanku."


"Dih! Ngomongin cinta. Bawa Naira kehadapan mama papa. Baru bicara cinta." Nath masih sempat membalas Nair meskipun ia sudah masuk kedalam.


Tak lama, Nath keluar dengan memakai denim jaketnya melewati Nair begitu saja.


"Mau kemana?" tanya Nair yang melihat Nath jalan dengan terburu-buru.


"Cari Tiara!" Nath langsung naik keatas motornya.


"Cari kemana?" tanya Nair lagi.


"Kemana aja. Asal gak diam diri kayak orang bod*h." Nath segera melajukan motornya keluar dari halaman rumahnya.


****


Tiara kemana ya? Ada yang tau? 😅

__ADS_1


Biar babang Nath bingung-bingungan dulu. 😅😅


__ADS_2