
Malam ini, diluar bulan bersinar terang. Bintang berkelipan dan langit terlihat bersih tanpa awan mendung sedikitpun.
Malam yang terasa tenang, jauh dari hingar bingar kendaraan yang menyebabkan polusi udara. Sangat jauh berbeda dengan ibu kota.
Deburan ombak terdengar jelas di kamar yang Nath dan Tiara tempati saat ini. Namun, keduanya bukan menikmati suara itu. Mereka justru menciptakan suara lain yang mengalun merdu memenuhi isi kamar.
"Panggil namaku, sayang," bisik Nath yang tengah mengerahkan seluruh tenaganya demi memproses bayi yang ia harapkan kehadirannya.
"Naaathhh."
Nath mengecup kening istrinya. "Love you, Titi tersayang."
Tiara sudah tidak sanggup merespon kalimat cinta yang terucap dari bibir suaminya.
Dengan penuh harap, Nath mengucap doa dalam hatinya saat benih darinya membasahi rahim Tiara.
Semoga benih ini bisa menjadi bayi secepatnya. Baby, segeralah hadir diantara mama papa, Sayang.
Tiara menyeka peluh yang menetes di kening suaminya. Nath masih menatapnya, ia tidak menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Tiara.
"Kerja keras banget, Bang?" Tiara tertawa pelan melihat Nath yang memang terlihat berbeda malam ini.
Nath tersenyum lebar. "Tiap malam aku kerja keras sayang."
"Tapi kali ini kayaknya kerja rodi, deh." Nath mengerling. Ia mengeluarkan cacingnya dari sarang dan langsung membawa tubuh istrinya ke kamar mandi.
"Habis ini, bobok cantik," ucap Nath saat ia tengah membersihkan tubuh istrinya yang tengah duduk di atas closet.
"Banyakin istirahat. Kamu sudah melakukan yang terbaik, malam ini."
Tiara merasa istimewa saat diperlakukan seperti ini oleh suaminya. Ia seperti bayi besar berdada besar pula, karena Nath sangat telaten merawatnya.
"Kenapa, gitu? Gak lanjut lagi?" tanya Tiara heran karena biasanya Nath meminta mengulang adegan itu setelah beberapa menit selesai.
"Biar yang tadi, kerja keras dulu sampai di sel telur." Nath membilas bagian bawah tubuhnya.
"Kalau banyak yang masuk, kasian pada rebutan," lanjutnya sambil tertawa kecil. "Persaingan bakalan ketat banget."
Tiara mengulum senyum. "Bukannya makin banyak persaingan makin bangus. Pemanangnya jelas juara yang hebat karena mampu mengalahkan jutaan saingan lainnya."
Ia kembali memeluk leher suaminya karena saat ini Nath akan memindahkannya kembali ke atas ranjang.
"Tidur!" Perintah Nath. "Jangan pikirin mereka yang bersaing."
"Kenapa?" tanya Tiara heran karena tumben Nath tidak ingin memperpanjang obrolan unfaedah mereka.
Nath memakaikan piyama tidur istrinya. Dan Tiara menurut saja. "Aku anak IPS sayang. Mana ngerti!"
Tiara tertawa. "Akibat sekolah cuma tebar pesona, gini nih akhirnya."
"Di SMP juga udah dipelajari, Bang."
"Lupa!" Nath menarik selimut menutup tubuh keduanya.
__ADS_1
Tiara mencebikkan bibir mengejek suaminya. Nath mengecupnya singkat. "Tapi pas praktek langsung berhasil kan?" tanya Nath sambil tertawa pelan.
"Jadi, jangan ragukan kemampuan suami kamu ini, Sayang."
****
Liburan 3 hari- 3 malam itu tak terasa sudah Nath dan Tiara lewati. Tiara bersyukur, karena Nath tidak mengurungnya selama liburan hanya untuk memproses baby. Tapi Nath justru mengajaknya berkeliling tempat yang indah itu. Membuatnya benar-benar menikmati liburan, bukan sekedar berbulan madu.
Berbagai tempat mereka eksplore bahkan hingga air terjun di pedalaman, dan pantai berkilo-kilo meter mereka jejaki. Nath membuat liburan kali ini sangat luar biasa berkesan.
Nath dan Tiara sedang berada di dalam taxi menuju rumahnya. Tiara bersandar di bahu Nath yang tengah duduk bersandar di kursi mobil.
"Capek banget?" tanya Nath karena Tiara sangat manja sore ini.
"Enggak, happy malah," ucapnya.
"Lendotan begini, gak malu sama abang supir taxinya?" tanya Nath.
Tiara menarik diri menatap suaminya yang juga kini tengah menatapnya.
"Kita suami istri kan, Bang?" pertanyaan Tiara membuat Nath heran. Tapi tak urung ia mengangguk juga. "Iyalah," jawab Nath.
"Jadi, gak ada yang ngelarang, dong! Halal ini." Ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Nath. "Pasangan selingkuh aja gak peduli umbar kemesraan."
Nath tertawa pelan. "Maaf ya Bang, maklumi aja. Pengantin baru gak mau jauh-jauhan," ucap Nath pada supir taxi yang menanggapinya dengan acungan jempol.
"Santai aja, Mas. Saya biasa hadapai yang begini. Yang lebih parah juga pernah."
****
Mereka tiba di rumah dua lantai yang sudah mereka tempati lebih dari 2 bulan ini. Nath menekan bel agar asisten rumah tangga membukakan pintu pagar setinggi dua meter itu.
Nath terheran, karena Nair yang membukakan pintu pagar.
"Kamu disini?" tanya Nath heran sambil menggeret 1 koper besar serta sebuah ransel yang tak kalah besar yang di letakkan diatasnya.
"Heem." Sahutnya dengan gumaman sambil mengambil ransel besar itu. Ia memang berniat membantu saudara kembarnya yang baru pulang berlibur.
Nath dan Tiara melangkahkan kaki ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Nath dan Tiara kompak. Kebiasaan mereka saat masuk rumah meskipun tidak ada siapa-siapa yang menyahut, mereka tetap mengucapkan kalimat salam itu.
Nath dan Tiara seketika terkejut luar biasa. Sore ini, ruang tv rumahnya seperti kapal pecah.
Zidane dan Queen tengah bermain kuda-kudaan dengan Rion sebagai kudanya Queen dan Ezra sebagai kudanya Zidane.
Papa Akhtar sedang menertawakan Zi dan Queen yang terbahak karena tubuh mereka berguncang akibat ayah-ayah mereka yang melaju dengan terlalu cepat.
Nair terlihat langsung duduk di meja makan setelah meletakkan ransel besar itu di dekat anak tangga.
"Astagfirullah!" Teriak Nath membuat semua orang menatapnya.
"Daddy...." Zidane langsung melompat dari atas tubuh Ezra dan berlari memeluk kaki Nath.
__ADS_1
"Mommy Titi...." Tiara berjongkok menyambut Queen yang telah merentangkan tangannya saat berlari, tanda ia minta dipeluk.
Nath langsung menggendong Zidane dengan sebelah tangannya dan satu tangan lagi menggeret koper mendekat kearah Akhtar, papanya.
"Pa, sehat?" tanya Nath basa-basi.
"Sehat. Baru juga tiga hari gak ketemu," sahut Akhtar.
"Oleh-oleh kita mana!" Teriakan suara yang Nath kenal dari arah dapur membuatnya terkekeh.
Ia masih memangku Zidane yang sepertinya akan segera turun untuk bermain lego bersama Queen dan Tiara yang sudah lebih dulu duduk di karpet.
Bintang dan Zoya duduk di dekat Nath. "Inget kita yang gak ikut liburan, kan Nath?"
"Hahahah..." Nath tertawa tapi tetap menyalami kakak-kakaknya. "Hampir lupa."
"Issshh!" Zoya mendorong bahu Nath.
Nath terkekeh dan berjalan mengambil ransel besar yang Nair bawakan tadi.
Nath duduk di lantai dan membuka ransel itu. Ia mengeluarkan madu, susu dan beberapa bungkus panganan ringan khas Sumbawa. Ia juga membelikan terasi untuk mamanya.
Bintang dan Zoya ikut duduk di bawah dan memilih oleh-oleh yang mereka ingin bawa.
"Kak, di bagian paling bawah ada kain tenun tuh." ucap Tiara pada kakak iparnya.
"Oh, ya? Adikku pengertian banget sih."
"Bongkar, Nath," lanjutnya. Zoya meminta Nath membongkar seluruh isi tas.
"Ya Allah, ransel kamu kayak kantong doraemon, Nath!" ucap Akhtar takjub. "Perasaan gak gede-gede banget, tapi isinya banyak."
"Tiara jago banget susunnya, Pa."
"Assalamualaikum!" Langit dan istrinya masuk ke dalam rumah Nath.
Mereka semua menjawab salam Langit.
"Oleh-oleh om mana, Nath!" todong Langit bahkan saat ia belum duduk. Rara sampai mencubit perutnya.
Nath menatap Langit sinis. Ia melihat omnya yang saat ini baru mendaratkan bok*ngnya di sofa bersama Akhtar.
"Nih." Nath menyodorkan sebotol madu asli. Langit menerimanya lalu membaca kemasannya.
"Tiga juta tujuh ratus lima puluh delapan ribu rupiah," lanjut Nath.
"Haaa!" Langit tercengang. "Mahal amat!" ucapnya kemudian.
Nath menyeringai. "Berserta ongkos pesawat dan taxi dan itu sudah didiskon 20%."
"Astagfirullah, gak mau rugi banget kamu!" cibir Langit dan berhasil membuat yang lain tertawa.
"Lumayan, om. Buat balikin modal honeymoon," jawabnya santai tanpa peduli ekspresi Langit yng sudah sangat ingin menjitak kepalanya.
__ADS_1