EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 16 Suatu Saat


__ADS_3

Pagi ini Nath bangun dengan tekad kuat untuk memberitahu mama dan papanya. Ia ikut sholat subuh berjamaah di lantai bawah. Ini adalah hal rutin yang mereka lakukan setiap hari.


Selesai sholat, Nath melihat mama mengelus perut besar ke dua kakaknya yang tengah hamil 7 bulan. Mereka berbincang dengan tawa kebahagian.


Aku tidak mungkin mengatakannya sekarang. Mama sangat bahagia pagi ini, karena kak Bi dan kak Zoy ada disini. Batin Nath.


Bintang dan Zoya memang tidak terlalu sering menginap, keduanya ikut ke rumah suami mereka setelah menikah.


Dan saat sarapan, Zoya mengeluh perutnya sakit. Ia sampai meringis memegangi perutnya.


"Zoy...!" Bintang segera bangkit saat melihat Zoya menahan sakit hingga tubuhnya sedikit membungkuk.


"Bi, jangan panik. Hati-hati sayang," ucap Rion yang khawatir melihat istrinya panik.


Nath masih diam membisu karena ia belum faham apa yang telah terjadi saat ini.


Erza berjongkok di samping tubuh Zoya, mengelus perutnya dan berbisik pada bayinya. "Jangan nakal anak papa."


"Maaa... darah." Ezra langsung mengangkat tubuh Zoya saat menyadari daster panjang Zoya terdapat noda darah.


"Astagfirullah," pekik mama Lintang.


Seketika suasana panik, Nath dan Nair memilih tetap duduk karena tidak tau harus melakukan apa.


"Sakit, Zra."


"Sakit ma." Rintih Zoya.


"Apa Zoya mau melahirkan, Ma?" tanya Ezra.


"Mungkin aja Zra," sahut mama mendekat pada Zoya.


"Siapkan mobil, Nair, Nath! Ini kenapa pada diem aja sih." Bentak Bintang panik.


Nath dan Nair langsung berlari menuju garasi meninggalkan kepanikan di meja makan. Akhirnya keduanya memutuskan Nath yang akan mengantar mereka ke rumah sakit. Nath menyalakan mobil papanya dan membawanya kedepan teras.


Ezra menggendong tubuh Zoya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Papa Akhtar duduk di sebelah Nath dan mama Lintang ikut di belakang bersama Ezra dan Zoya.


Sepanjang perjalanan hanya ada kalimat Istighfar yang Zoya ucapkan dan bentakan Ezra pada Nath.


"Nath! Cepat Nath!" Teriak Ezra tak sabar karena darah yang keluar semakin banyak dan wajah Zoya semakin memucat.


Setiba di rumah sakit Zoya langsung di tangani. Ezra mengurus semua administrasi.


Ezra terus mondar mandir seperti setrikaan. Nath duduk di kursi tunggu bersama papa dan mamanya.

__ADS_1


Suatu saat, masa seperti ini akan datang padaku. Batin Nath.


Ia kembali mengingat Tiara yang tengah mengandung anaknya. Melihat perjuangan Ezra dan Zoya membuatnya mengerti satu hal. Bayi dalam kandungan Zoya terlalu berharga.


Dan Nath juga merasakan hal yang sama. Entah mengapa ia sudah jatuh sayang, jatuh cinta pada janin dalam rahim Tiara.


Ia memang kecewa karena perbuatannya, tapi hadirnya janin itu membuatnya ingin terus berjuang.


Janin yang langsung hadir dalam sekali proses. Nath menganggapnya adalah sebuah rejeki yang tidak mungkin Allah hadirkan tanpa maksud dan tujuan.


Dan Nath malah berfikir, mungkin ini benar jalan untuk Tiara menjauh dari Reyfan.


"Duduk, Zra!" perintah papa membuat Nath tersadar dari pikirannya yang berkecamuk.


Dokter keluar dari ruangan itu dan meminta mereka ikut ke ruangan dokter.


Semua berlalu begitu cepat hingga dokter mengambil tindakan untuk melakukan operasi caesar terhadap Zoya. Suara tangis bayi membuat mereka berempat merasa lega.


"Selamat bang," ucap Nath memeluk Ezra.


"Terima kasih Nath. Rasanya luar biasa. Kelak kamu akan merasakannya." Nath melepas pelukannya dan ada senyum tipis di wajahnya.


Aku akan segera merasakannya bang. Balas Nath dalam hatinya.


Bayi kecil itu dibawa keluar untuk dipindahkan ke ruang NICU yaitu ruangan rawat intensif untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan termasuk juga bayi prematur.


Nath tersenyum, keajaiban yang sama akan ku lihat 8 bulan lagi.


Nath ikut pulang ke rumah bersama mama Lintang dan papa Akhtar.


"Kamu kenapa Nath?" tanya papa Akhtar di kursi kemudi saat melihat Nath dari spion tengah, sedang menatap jalan raya sambil tersenyum. Nath memang terlihat seperti orang yang sedang melamun.


Ia sebenarnya sedang membayangkan memiliki bayi, darah dagingnya sendiri. Ia terlalu jauh membayangkan kebahagiaan, sementara benteng tertinggi belum ia lewati, yaitu dua orang yang ada di depannya, mama papanya.


"Ehm... enggak, Pa," sahutnya gugup.


"Kamu kalau ada masalah, cerita sama mama papa," balas papa Akhtar.


Kalau ku katakan sekarang, papa bisa saja menabrakan mobil ini ke truk yang melintas. Gak sekarang, momennya gak tepat. Batin Nath.


***


Hari terus berlalu, hingga Zoya pulang dari rumah sakit, Nath belum mengatakan pada kedua orang tuanya.


Nath belum bisa memecah konsentrasi orang tuanya. Mamanya sibuk mengurus Zoya dan baby Zi.

__ADS_1


Zoya bisa pulang ke rumah, sementara baby Zi masih harus di rawat. Dan mama Lintang masih harus mondar-mandir dari rumah ke rumah Zoya dan rumah sakit untuk mengantar ASI dan memantau kesehatan baby Zi. Hal yang membuat fisiknya sudah pasti kelelahan.


Nath tidak tega harus menambah beban orang tuanya untuk saat ini.


Sore ini Nath sengaja mampir ke rumah baca. Bukan hanya untuk berkunjung, tapi ia ingin menemui Tiara yang terus menanyakan kelanjutan masalah mereka.


Keduanya sadar tidak bisa membahas hal sepenting itu di rumah baca, hingga tak ada pembahasan apapun sampai jam tutup tiba.


"Aku antar pulang, Ra," tawar Nath pada Tiara.


Hari ini Tiara harus berkemas, karena Zoya akan pindah ke rumah baru, agar saat baby Zi sehat nanti, bayi itu langsung dibawa ke rumah baru yang sudah lama selesai dibangun.


"Aku naik ojek aja bang," tolaknya halus. Ia sedikit marah pada Nath yang terus mengulur waktu sementara ia sudah kesulitan menyembunyikan kehamilannya dari Zoya dan Ezra.


Mual muntah yang sulit ia tahan terkadang membuat Ezra dan Zoya bertanya padanya. Untung saja penyakit asam lambungnya bisa dijadikan alasan.


Meski begitu, Tiara juga berusaha memahami keadaan Nath dimana orang tuanya tengah fokus pada Zoya dan baby Zi.


Tiara sudah berdiri di pinggir jalan, menunggu tukang ojek yang sudah ia pesan lewat aplikasi.


"Tiara, aku janji Ra, secepatnya akan ku katakan pada orang tuaku, " ucap Nath pelan.


Nath melihat sekitar yang masih ramai. Rizal dan teman-temanya masih duduk di kursi luar rumah baca sambil menikmati makanan yang mereka beli di minimarket.


Tiara menyadari bahwa perdebatan mereka pasti akan memancing perhatian Rizal dan teman-temannya.


"Kita bahas lain kali, Bang. Gak bisa disini," desis Tiara pelan.


Belum sempat menjawab, suara klakson mobil mengagetkan mereka.


Sebuah mobil mewah yang Tiara kenali berhasil membuat tubuh gadis itu menegang. Mobil itu berhenti di pinggir jalan, sangat dekat dengan mereka.


Tiara mundur dan berdiri di samping Nath, membuat pria itu kebingungan.


Seorang pria muda dengan jas rapi keluar dari dalam mobil.


Dugaan Tiara benar. "Kak Reyfan," gumam Tiara dengan tangan bergetar memegang lengan Nath.


***


Hai semuanya 😀😀


Terima kasih yang masih setia sampai di sini. Kita akan masuk babak baru antara Nath, Tiara dan Reyfan. 😊


Masalah satu belum kelar dan satu masalah udah datang 😂

__ADS_1


Nasipmu Nath 😥


__ADS_2