EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 43 Private dadakan


__ADS_3

"You're the first." Satu kalimat yang membuat Nath terbang ke angkasa dalam sekejap. Jika ia yang pertama bagi Tiara, maka malam itu, Nath melakukan sesuatu yang berkesan tapi tidak terasa. Ya, Tiara kan mabuk.


Reyga mungkin tak pernah mengajarkan hal seperti tadi kepada Tiara karena mereka masih SMA saat bersama. Nath memaklumi hal itu.


Lalu Reyfan yang katanya nyaris memperk*sanya, apakah mungkin Tiara tidak mendapatkannya?


Nath bisa merasakan debaran jantung Tiara masih tak terkendali. Wanita dalam pelukannya itu justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nath. Dan berhasil membuatnya meremang.


Nath, tangannya kini entah menjelajah kemana. Membuat Tiara semakin terbakar dan mengeratkan pelukannya. Istrinya itu jelas men*kmati setiap sentuh*an Nath.


"Reyfan, bukankah-" pertanyaan Nath terpotong


"Dia gak sempat melakukan apapun," jawab Tiara cepat. Ia langsung tahu arah pertanyaan Nath.


Oke Ti. Kamu hutang cerita soal Reyfan. Tapi yang terpenting adalah menuntaskan ini. Batin Nath.


Rupanya rasa penasarannya mengenai Reyfan kalah telak dengan belenggu hasr*t yang sudah terlanjur berkobar.


"Stop, Bang!" pinta Tiara saat tangan Nath terus menyerang squishynya.


Nath berhenti. Ia sadar, tak mungkin melanjutkan ini. Dan akan sia-sia membakar hasr*t istrinya karena alasan tamu bulanan membuat aktivitas ini tidak akan berlanjut.


Cukup lama keduanya saling diam. Tiara sudah bisa mengontrol nafasnya, tapi masih malu menatap wajah suaminya itu karena jelas ia men*kmati setiap sentuhan Nath.


"Tia...." bisik Nath pelan.


"Hemm."


"Can you help me?" tanya Nath.


Tiara perlahan menjauhkan wajahnya dari leher Nath. Keduanya saat ini saling tatap. Nath bisa melihat wajah Tiara bersemu merah. Rambutnya bahkan sudah tidak rapi lagi.


"Ya? Apa?" tanyanya lembut. Nath menyelipkan anak rambut di telinga Tiara.


"Tolong tuntaskan yang di bawah sana." Nath melihat sekilas bagian bawah tubuhnya yang Tiara duduki.


Tiara nampaknya mulai mengerti. "Tapi aku kan-"


"Touch me with this." Nath menyapu bibir Tiara dengan ibu jarinya.


Tiara membelalakkan mata karena mengerti akan permintaan Nath. "Aku... aku... belum..."


"I teach, " sahut Nath sembari menjatuhkan keningnya di bahu Tiara.


*Aku ajarin*


[Selanjutnya, You knowlah apa yang terjadi 😁]


Dua puluh menit, waktu yang lumayan lama menurut Tiara. Aneh tapi nyata ia melakukan hal paling menjijikkan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Tiara lari ke kamar mandi meninggalkan Nath yang masih terkapar mengatur nafas.

__ADS_1


"Hoek... hoek... hoek..." Tiara memuntahkan semua yang masuk ke mulutnya barusan. Ia berulang kali berkumur dan membasuh mulutnya dengan air dari wastafel.


Nath segera menyusul gadis yang muntah akibat ulahnya. Nath merapikan rambut Tiara dan menggulungnya ke atas lalu menjepitnya dengan jedai yang ada di rak dekat cermin.


Nath juga memijat tengkuk istrinya. Terlihat dua jejak merah yang entah kapan Nath buat. Mungkin saat tangannya menjelajah, tadi.


"Udah?" tanya Nath sambil memberikan dua lembar tissu yang ia ambil di rak.


Tiara menerimanya dan mengeringkan bibirnya lalu menatap sekilas pada suaminya. Tiara mencebikkan bibir dan berlalu meninggalkan Nath.


Nath senyum-senyum sendiri. Menertawakan istri yang menurutnya lucu. Nath sudah memberi tahu Tiara untuk melepaskan, namun sayangnya Tiara kalah cepat dengan pelepasannya.


Tiara mengambil tissu basah membersihkan sesuatu yang tercecer di lantai.


"Aku ambil alat pel dulu, Ti."


"Ini aja. Udah bersih kok. Tinggal buang," jawabnya masih dengan nada kesal. Tiara membuang tissu ke tong sampah dan kembali mencuci tangannya.


"Aku bikinin teh, ya...." tawar Nath karena kasihan melihatnya. Lagi pula istrinya itu masih marah, siapa tahu dengan membuatkan teh Tiara bisa memaafkan Nath.


Tiara jelas tak menyia-nyiakan tawaran yang baru saja didengarnya. Ia memang marah, tapi rasa jahil yang terpanggil begitu saja kala mendengar penawaran Nath jauh lebih besar.


Tiara mengangguk. "Boleh. Jangan terlalu manis."


"Kenapa?" tanya Nath. "Gak suka yang manis-manis?"


Tiara menggeleng. "Karena yang minum udah manis." Ia tergelak saat Nath keluar dari kamar sambil menatapnya jengah.


Tiara menggeleng pelan, menghalau fikiran kotor yang tidak juga hilang. Ia menatap wajahnya di cermin. Lalu memegang pipinya yang masih terasa panas.


"Ini gila," gumamnya pelan. "Aku bisa sejauh ini?"


"Ck! Suami seperti apa yang aku nikahi? Dari mana dia belajar hal seperti tadi?"


"Dari video-"


"Ck! Jelas iya. Temannya-Si Ethan aja bisa kasih kado seaneh itu."


"Atau jangan-jangan vidoenya masih nyangkut di hp bang Nath?"


Tiara terus bermonolog. Ia melihat sekeliling untuk mencari ponsel Nath. "Ah, itu dia."


Tiara mengambil ponsel Nath di nakas. Ia melihat tampilan layar dengan foto mereka berdua, tepatnya saat Nath mencium keningnya setelah akad nikah.


Hati Tiara menghangat. Ia merasa keberadaannya diakui. Ia merasa Nath benar-benar memaknai dan menghargai pernikahan ini.


Tiara menatap layar yang dikunci dengan kode pin. Tiara kembali meletakkan ponsel Nath.


"Aku gak boleh melanggar privasinya. Meskipun dia suamiku, tapi aku melakukannya tanpa izin. Dan ini salah."


Tiara duduk di atas ranjang. Matanya langsung tertuju pada pintu kamar yang dibuka. Ia bisa melihat Nath membawa nampan .

__ADS_1


"Makan di sini, yuk," ajak Nath yang sudah duduk lebih dulu di karpet. Kamar ini tidak terlalu luas. Jadi isinya hanya ranjang, lemari pakaian 4 pintu, meja rias minimalis dan sebuah meja belajar.


Tidak ada sofa disini, tv juga belum ada. Lintang sengaja tidak memasukkan sofa ke dalam kamar ini agar anak dan menantunya tidak tidur terpisah.


Ia khawatir Nath atau Tiara akan tidur di sofa karena keduanya belum siap tidur bersama. Tapi sepertinya itu hanya ketakutan Lintang saja. Buktinya, beberapa menit lalu keduanya melakukan hal yang ... ya, bisa dibilang kemajuan lah.


"Kamu minum teh juga, Bang?" tanya Tiara yang ikut duduk di depan Nath saat melihat dua cangkir teh yang Nath bawa.


"Iya." Nath mencelupkan sekeping biskuit kelapa ke cangkirnya.


Tiara ikut mencelupkan biskuit ke cangkir Nath. Lalu melahapnya. "Enak."


Nath tertawa pelan. "Namanya juga makanan, Ti."


Tiara kembali mencelupkan sekeping biskuit ke cangkir Nath. "Punya kamu kan ada, Ti," protes Nath.


"Hehehe... kalau aku celupin kesini, entar teh aku kotor karena sisa biskuit yang masuk ke dalamnya." Tiara tertawa tanpa dosa. Senang sekali ia melihat wajah jengkel Nath.


"Kalau gitu, aku juga minum teh kamu. Teh ku khusus untuk mencelupkan biskuit." Nath mencoba bernegosiasi.


Sebenarnya hanya masalah sepele, tapi keduanya malah mempermasalahkan hal yang tidak terlalu penting itu.


"Gak boleh." Tiara memegang cangkir teh mendekat ke tubuhnya. "Suami harusnya ngalah dong sama istri. Berkorban secangkir teh doang, Bang. Perhitungan banget." Tiara pura-pura merajuk.


Emang enak aku kerjain?


Nath menghembuskan nafas berat. Ia mengalah kali ini. Ada benarnya juga. Ini hanya secangkir teh.


Hampir tengah malam keduanya baru naik ke atas ranjang. Keduanya tidur agak berjauhan.


"Sinian dikit, Ti." Nath membuang guling yang Tiara letakkan di tengah. Nath mulai berani karena Tiara tidak trauma dan menerima sentuh*nnya tadi.


"Enggak Mau." Tiara memunggungi Nath.


"Dosa, Ti nolak suami."


"Ck!" decak Tiara. Perlahan ia beringsut mendekati Nath.


"Udah ya, jangan marah lagi. Entar gantian deh kalau kamu udah selesai." Tiara faham maksud Nath, yaitu gantian menyent*hnya seperti yang ia lakukan tadi.


Tiara mendelik menatap Nath. Dan yang ditatap malah tertawa pelan. "Iya... iya... gak usah bilang makasih, aku ikhlas kok nanti ngelakuinnya."


Tiara langsung duduk dan "Bugh!" ia melempar bantal ke wajah Nath. "Otak mes*m!" Tiara kembali berbaring dan masuk ke dalam selimut. Tak peduli dengan Nath yang terus tertawa.


****


Yang udah pengalaman, faham lah mereka ngapain.😄


Semoga bahasanya gak vulg*r ya 😂 dan bisa dimengerti sama readers semua.


Kalau terlalu "jorok" ,komen dong.

__ADS_1


Aku revisi entar ☺


__ADS_2