
Akhtar yang sedang duduk bersantai di belakang mendadak terkejut karena kabar dari putranya. Akhtar langsung berlari mencari Lintang di dapur.
"Lin ... Lintang ..." Akhtar sampai di dapur dengan jantung yang berdebar hebat.
"Ada apa sih, Mas?" Lintang yang masih memegang sutil mendatangi suaminya yang berpegangan pada sisi pantry.
"Tiara, Lin."
"Iya, Tiara kenapa? Dia kan sama Nath?" ucapannya langsung di potong Lintang.
"Tiara di culik, dan Nath kebingungan. Kita ke Bandung sekarang!"
"Astaghfirullah, Mas." Lintang langsung meletakkan sutil dan membuka celemeknya.
"Bersiap, Lin. Bawakan dompetku. Aku harus hubungi Satya, dan Ezra. Orang tua Tiara juga harus tau hal ini."
Lintang segera masuk ke kamar. Ia menyiapkan dompet, jaket dan jeans panjang untuk suaminya karena saat ini Akhtar hanya memakai celana pendek. Lintang membawa tas kecil milik suaminya dan juga tas miliknya.
Sementara itu di belakang rumah, ponsel Akhtar terus menempel di telinganya.
"Sat, Tiara dan Nath ada di Villa Zoya. Dan Tiara diculik."
"Apa? Kok bisa Tar?"
"Aku gak tau detailnya, Nath cuma ngabarin itu. Tolong, kerahin anak buah kamu kesana, Sat. Aku langsung on the way ke sana."
"Oke... oke... Aku sama Shaka akan nyusul."
Akhtar mendial nomor Ezra. Ia juga mengatakan hal yang sama dan Ezra jauh lebih terkejut.
"Ini gak becanda kan, Pa?"
"Gak ada waktu, Zra. Kamu bawa orang tua Tiara ke sana apapun yang terjadi. Mereka berhak tau."
"Oke, Pa."
Akhtar juga menghubungi Rion dan memintanya untuk ikut dalam mobil Satya.
"Ayo, Mas."
"Nair ikut, Pa." Nair tiba-tiba menuruni anak tangga dengan pakaian lengkap.
"Nair?"
"Aku gak sengaja dengar omongan kalian. Ayo, Pa. Nair yang bawa mobil."
Akhtar dan Lintang bergegas menyusul Nair yang sudah berjalan lebih dulu. Mobil hitam itu melesat meninggalkan halaman rumah.
"Kamu gak perlu ikut, harusnya Lin."
"Nath ketakutan, Mas."
"Dia bukan anak kecil lagi, Lin. Nath pasti bisa mengendalikan emosinya."
"Stop, Pa. Jangan bahas yang gak penting. Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan semuanya."
"Tetap hati-hati, Nair. Jangan ngebut." Waktu masih terlalu pagi dan syukurnya jalanan belum terlalu ramai. Lagi pula hari ini adalah hari minggu.
****
Disisi lain, Satya dan Shaka sedang dalam mobil dengan supir pribadi yang mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Satya terus menghubungi orang-orangnya.
"Baik. Lanjutkan pencarian sampai ketemu!"
"Gimana, Ayah?" tanya Shaka yang ada di sampingnya.
"Orang-orang ayah sudah di lokasi, sebagian sudah menyebar dan semoga jejaknya masih terlihat."
"Semoga Tiara segera di temukan, Yah."
"Kita jemput Rion, Yah?"
"Enggak perlu, Om Ray sama Rion sudah duluan. Sepertinya mereka juga mengerahkan orang-orang suruhan untuk mencari Tiara."
"Apa gak membahayakan nyawa Tiara, Pa, kalau kita bergerak rame-rame begini."
"Mereka punya cara, Ka. Mereka menyamar. Semoga kita belum terlambat."
Disisi lain, Ezra tergesa bersiap untuk pergi.
"Zra ..." Zoya memeluk suaminya. "Selamatkan Tiara, Zra. Bawa kembali kebahagiaan Nath." Zoya terisak.
Biar bagaimana pun, seminggu lalu ia bisa melihat kebahagiaan dalam hubungan rumah tangga kedua adiknya itu. Ia bisa melihat Nath mulai menyayangi istrinya.
"Pasti sayang." Ezra mencium kening Zoya.
"Kamu diantar supir ke rumah bunda Una atau rumah Bi."
"Disana lebih aman. Dan jangan fikirkan hal buruk."
Ezra melesat menuju rumah orang tua Tiara. Ia sudah meminta orang tua angkatnya itu untuk bersiap.
"Sebenarnya ada apa, Zra?" tanya Zainal penasaran karena Ezra meminta mereka cepat bersiap.
"Intinya, Tiara diculik, Yah, Bu."
"Astaghfirullah, Zra! Kok bisa?" Kedua orang tua Tiara panik. Naura bahkan sudah menangis mendengar kakaknya diculik.
"Kita kesana segera, Yah. Untuk lebih jelas informasinya."
"Naura, kamu tunggu di rumah ya. Jangan kemana-mana. Nanti, kak Zoya sama adik Zi akan jemput kamu."
Naura mengangguk. "Kakak..."
"Kakak akan baik-baik aja. Abang janji! Semua orang sedang berusaha mencarinya."
Mereka bergegas menuju mobil. Melesat cepat membelah jalan raya menuju tempat Nath berada.
Ibu Tiara terus berzikir meski dengan air mata yang terus menetes.
"Tia kemarin pamit mau liburan ke Villa kak Zoya, katanya Zra."
"Iya, Bu. Mereka cuma berdua dan aku gak bisa bayangin bagaimana paniknya Nath."
"Papa sama Nair dan mama sudah kesana lebih dulu, Bu."
"Ayah Satya sudah kerahin orang-orangnya."
"Semoga Tiara bisa diselamatkan dalam keadaan baik-baik aja."
"Apa motif pelaku, Zra?" Tanya Zainal yang belum faham mengapa putrinya dibawa pergi.
__ADS_1
"Ezra gak tau, Yah. Semua belum jelas karena Nath juga sedang sibuk disana. Dia harus mengurus ini dengan petugas kepolisian dan tim dari ayah Satya."
"Entah ini perampokan atau murni penculikan."
****
Rumah Danadyaksa.
"Mi..." Bintang memeluk Sania, mami mertuanya. Ia tak berhenti menangis mendengar kabar buruk yang Rion terima dari papanya.
"Tenang, Bi.Semua orang sedang berusaha."
"Kenapa ada aja kejadian yang gak masuk akal begini, Mi."
"Tiara bukan anak kecil, loh. Kenapa bisa di culik bagini." Bintang tersisak. Untung saja baby Queen sedang tidur.
"Kita banyak-banyak berdoa, Bi. Semoga semua akan baik-baik aja."
Di mobil Ray dan Rion.
"Pi, gimana?" tanya Rion tak sabaran saat Ray baru saja menutup panggilan dengan orang suruhannya.
"Nyaris gak berjejak, Yon. Karena setelah perkebunan teh, ada jalan raya yang bisa membawa mereka kemana pun."
Rion menghelan nafas. Ia memijat keningnya. Tiara memang bukan kerabatnya tapi Nath adalah sahabat sekaligus adik iparnya. Ia tidak mungkin berpangku tangan saat Nath kesusahan.
"Ethan di Bandung, Pi." Rion tiba-tiba ingat bahwa Ethan ada disana. Dia hanya ingin Ethan menemani Nath karena hanya dia yang lokasinya berdekatan dengan Nath.
Ia segera menghubungi Ethan.
"Aku udah di sini, Yon!" Sahut Ethan di seberang sana.
"Nath kayak orang gila. Lari kesana kesini di kebun teh."
"Aku gak bisa ke manapun selain nungguin dia yang mengamuk gak karuan."
"Aaaarrrghhhh... Aku harus cari kamu kemana, Ti?"
"Nath!" Teriak Ethan memanggil nama Nath.
Panggilan terputus. "Nath kacau, Pi."
****
Di Villa...
"Nath!" Teriak Ethan saat melihat Nath bersujud di tanah dengan tangan yang meremas tanah sekuat ia bisa.
Ethan berjongkok disamping Nath. "Ayo, Nath. Jangan gini. Kamu harus tetap tegakkan kepala, Nath!"
"Orang itu bawa Tiara, Than!" Nath menatap tajam sahabatnya itu. Mata dan hidungnya memerah, rambutnya basah acak-acakan, bajunya basah dan kotor karena ia beberapa kali terjatuh di perkebunan karena jalan yang terjal dan juga menanjak.
"Dan aku gak bisa berbuat apa-apa." Teriak Nath lagi. "Aku gak berguna, Than."
"Dia dibawa orang orang itu." Nath menumpahkan tangisnya dalam pelukan Ethan.
"Dia harus baik-baik aja, Than. Dia harus baik-baik aja." Nath lemas, dan Ethan menuntunnya untuk kembali ke villa.
****
Siapa yang culik, Tiara guys?
__ADS_1