
Malam ini Nath duduk termenung didekat kolam renang. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi matanya enggan terpejam.
Besok adalah hari penuh sejarah dalam hidupnya. Setelah seminggu ia dan Tiara tidak bertemu, mereka akan bertemu kembali esok pagi di depan penghulu.
Entah apa yang ia rasakan. Bahagia tidak, sedih juga tidak. Tapi ada rasa lega karena akhirnya ia bisa menebus kesalahannya pada Tiara.
Ia menatap beningnya air kolam yang memantulkan cahaya lampu. Otaknya memikirkan banyak pertanyaan.
Kami tidak saling mencintai, berapa lama rumah tangga ini akan bertahan?
Bisakah aku mempertahankan pernikahan yang sama sekali tidak ada cinta didalamnya?
Tiara baik, dia cantik tapi mengapa mencintainya masih belum bisa?
Seminggu tidak berjumpa, memang terasa ada yang hilang, tapi aku tidak pernah merasa rindu ingin bertemu.
Nath menatap langit yang bertabur bintang menyaksikan kegundahannya. Manusia yang malam ini merupakan malam terakhirnya menyandang status lajang.
Ya Allah, Engkau maha membolak-balikan hati manusia. Jadikanlah hal yang tidak mungkin menurutku menjadi mungkin. Jadikanlah pernikahan ini sebagai sumber kebahagiaan kami dan keluarga. Jadikanlah restu orang tua kami sebagai doa paling mustajab untuk panjangnya rumah tangga kami kelak.
"Nath ...." Nath menoleh saat suara lembut Lintang terdengar di telinganya. Dan tangan lembut Lintang mengusap bahunya.
Lintang duduk disebelah putra tercintanya. Dialah bungsu di rumah ini karena Nair adalah abangnya Nath meski mereka kembar.
"Ma ..." Nath tersenyum kecil dan kembali menatap ke depan, ke arah kolam.
"Bimbang?" tanya Lintang kembali mengusap bahunya.
Nath menatap mamanya. Ia tersenyum dan menggeleng pelan. "Enggak Ma?"
"Masih belum nyangka ada di titik ini?" tanya Lintang lagi.
Nath mengangguk. "Iya, Ma. Gak pernah terbayangkan sama Nath. Dua bulan lalu uring-uringan. Sejenak tenang dan sebulan ini kayak ngitung waktu mundur. Tik tok tik tok." Nath tertawa pelan.
Lintang menatap lurus ke depan. "Keraguan saat menjelang pernikahan itu bisa saja muslihat setan yang menggoyahkan hati manusia untuk beribadah kepada Allah."
"Sebenarnya setiap ujian pernikahan itu bisa membuat rumah tangga kita kian harmonis dan kuat di terpa badai jika saat ini kita bisa melewatinya, Nath."
"Kamu mengenal Tiara selama hampir setahun, mama dan papa cuma 3 bulan, Nath. Dan saat itu hanya om Langit yang mengenal papa."
Nath menatap mamanya. Lintang tersenyum mengusap rambutnya. "Kamu, Bintang, Zoya, beruntung Nak. Menikah dengan orang yang kami kenal dengan baik. Rion, kamu tahu sendiri dia siapa. Bang Ezra, dia sahabat kak Bi dan sudah bekerja dengan papa selama setahun sebagai supir kak Zoya." Nath mengangguk.
"Tiara? Dia bukan orang lain, Nak. Dia adik bang Ezra. Orang tuanya sudah menjadi besan mama sejak Kak Zoy menikah dengan bang Ezra."
Nath mengangguk faham. "Kesalahan dahulu, jangan jadikan patokan kalian saling menghindar dan membenci."
__ADS_1
"Jangan jadikan pernikahan hanya sebagai penebus rasa bersalah kamu. Pernikahan itu sakral, Nath. Ijab kabul yang diucap itu adalah janji kamu di hadapan Allah, disaksikan malaikat dan manusia."
"Setelah kata sah terucap dari bibir para saksi. Sejak itulah tanggung jawab atas Tiara berpindah padamu."
"Bahu ini, memikul tanggung jawab besar, Nath." Lintang memegang kedua bahu Nath. Saat ini keduanya tengah duduk berhadapan.
"Bahu ini harus kuat, tidak boleh luruh." Lintang menyeka air matanya. Sebenarnya ia belum siap melepas anak yang rasanya baru kemarin masih ia timang penuh kasih sayang.
"Kamu anak papa. Hati ini seperti papa." Lintang menyentuh dada Nath.
"Lapang dada menerima kak Bi dan kak Zoy sebagai putrinya."
"Dan El Nath Alvarendra, pasti bisa dengan lapang dada menerima Tiara sebagai pendampingnya." Nath mengangguk faham. Perlahan bulir bening menetes tanpa ia minta.
"Cinta datang kapan saja, Nak. Bahkan bisa juga pada pandangan pertama."
"Tiara menerima pernikahan ini, itu artinya dia siap menjadi istri kamu. Dia mungkin merasakan hal yang sama Nath, dia belum siap. Tapi dia berusaha menerima kamu."
"Dia bahkan tanpa protes bersedia tinggal disini. Kamu bisa lihat dia menurut saat mama minta memindahkan pakaiannya di kamar kalian."
Nath menghela nafas, mamanya benar. "Ma, soal itu." Nath ragu mengatakannya.
"Itu?" Lintang mengerutkan keningnya.
"Hubungan ..."
Nath mengangguk ragu.
"Kenapa, Nath?"
"Nath takut dia trauma."
Lintang tersenyum. "Kalau dia trauma, dia gak mungkin mau ketemu kamu, Nath. Dia gak mungkin mau berdua dengan kamu di kamar. Dia juga gak mau kamu peluk."
Nath menatap wajah mamanya. "Ma, soal pelukan kemarin, Tiara yang peluk, Ma."
Lintang mengerutkan kening.
"Tia minta izin untuk kuliah setelah menikah, Ma. Dia ingin mewujudkan keinginan ayahnya, melihat dia duduk dibangku kuliah."
"Bagus dong." Lintang tersenyum.
"Mama setuju?" Senyum kecil terbit di bibir Nath. Awalnya ia menduga Lintang akan menolak keinginan Tiara itu.
"Nath, perempuan juga perlu bekal. Kita gak tau ada kejadian apa di depan nanti. Tapi setidaknya kita sudah mempersiapkan diri."
__ADS_1
"Biar dia kuliah, asal tidak membuat kalian seperti orang asing. Asal kalian tidak semakin menjauh. Asal ia bisa membagi waktu antara kamu dan pendidikannya."
Nath memeluk mamanya. "Terima kasih, Ma."
"Bagi segala kesedihan dan bahagia kamu pada Tiara, Nath. Ajak dia dan saling berandeng tangan menuju jalan kebaikan."
"Mama hanya bisa mendoakan anak mama bahagia sampai ke surga."
"Amin."
"Seorang Alvarendra tidak boleh lemah." Dekapan hangat Akhtar membuat Nath dan Lintang mendongak menatap wajah pahlawan dalam keluarga ini.
"Kamu tidak boleh mundur apa lagi sampai kalah."
"Nath mau menikah, Pa. Bukan perang."
Akhtar tertawa. "Kamu sedang berperang melawan egomu, Nath. Jangan sampai bisikan setan dan sisi buruk dirimu membuat rumah tangga kalian terasa seperti neraka."
"Bahagia itu diciptakan. Bukan datang dengan sendirinya saat kamu tidak melakukan apa-apa. Jadi, berusahalah Nath."
"Papa tau kalian orang baik, anak baik."
"Terima kasih, Pa. Nath sayang Mama-Papa." Pelukan hangat semakin erat Nath rasakan. Keluarga penuh cinta yang tidak pernah saling meninggalkan meski salah satunya melakukan kesalahan.
Karena hukuman bukan hanya tentang menjauhi dan mendiamkan. Tapi tentang bagaimana caranya menyadarkan.
Kadang seorang anak ingin dirangkul, ingin didekap saat ia berada dalam rasa bersalah. Membagi kisah terkadang tidak bisa dilakukan kepada sembarang orang.
Jika keluarga sendiri sudah menghindar, kepada siapa kisah itu akan dibagi?
Saat jalan buntu sudah didepan mata, saat tembok besar nan kokoh yang ia lihat dan tak bisa ia lewati. Bukan tidak mungkin seorang anak justru menabrakkan diri (mengakhiri hidup). Padahal ada satu jalan, yaitu berbalik dan mencari jalan lain.
***
😂 Part terakhir othor ngomong apa?
Hahah gak udah di pikirin, emang belibet 😅😅😅
Yang belum mampir ke kisah papa mama Nath. Bisa langsung kesana kak. Gretong! Alias gratis!
❤ AKU DAN BINTANG
Kisah Bi dan Rion di ❤ BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
Cuma mau promo dan minta jempolnya 👍👍👍
__ADS_1
Komen deh, biar ada kerjaan Othor buat bales-bales 😄😄😄