EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 58 Tidak ingin


__ADS_3

"Hati-hati, Nath. Jangan ngebut." Pesan Lintang kepada Nath yang sedang memasukkan sebuah koper ke kursi penumpang mobil berwarna putih miliknya.


Setelah minggu lalu anak dan menantunya tidak pulang karena menginap di hotel, maka sabtu pagi ini keduanya akan menginap di salah satu villa milik Zoya.


Haid yang datang hanya 5 hari membuat Nath tidak mengubah jadwal untuk menginap di villa milik Zoya. Tiara hanya bisa mengangguk dan menikmati setiap rencana Nath yang memang dibuat untuk membuatnya senang.


"Iya, mama. Iya," sahut Nath sambil kembali menutup pintu mobil.


"Ma, pergi dulu ya." Tiara mencium punggung tangan mama mertuanya.


"Pa, pergi dulu." Tiara juga mencium punggung tangan Akhtar.


"Hati-hati, ya Ti. Tarik aja telinga Nath kalau dia ngebut. Kabari mama kalau sudah sampai."


"Iya ma."


Nath menyalami kedua orang tuanya. "Ingat Nath, belum boleh hamil," bisik Lintang pada putranya.


"Oke ma. Kita juga mau puas-puasin berdua dulu. Pacaran dulu deh, masih muda ini." Nath terkekeh saat Akhtar mendorong keningnya dengan jari telunjuk. "Gak jauh-jauh dari dada sama paha, Nath."


"Like father like son."


"Ck!" Akhtar berdecak saat tak tau harus membalas ucapan anaknya dengan kalimat apa.


"Pergi dulu semuanya. Dah Nair." Nath mengejek saudara kembarnya saat ia sudah duduk dibalik kursi kemudi dan Tiara sudah duduk di sampingnya.


"Cepetin ta'arufnya. Tahun depan kita honeymoon bareng. Hahaha."


Nair hanya menggeleng dan tertawa tanpa suara saat mendengar candaan Nath. Ia jelas tidak akan menikah dalam setahun. Ia harus menyelesaikan pendidikannya lebih dahulu. Begitu juga dengan Naira, gadis yang berhasil membuatnya berjalan sejauh ini, memperdalam ilmu agama.


Nath dan Tiara menempuh perjalanan beberapa jam. Selama dalam perjalanan Tiara tidak tidur walau sejenak. Ia terus memgajak Nath bercerita dan kadang ia mengingatkan Nath untuk minum atau makan permen.


"Bang, kenapa gak bawa supir aja sih?" tanya Tiara yang terlihat khawatir karena tidak ada yang menggantikan Nath untuk mengemudikan mobil.


"Kasian sopirnya, Ti. Iya kali dia nganggur nungguin kita."


"Kalau pulang juga, lebih kasihan. Karena kita cuma dua malam disana."


"Kira-kira perjalanannya berapa lama lagi, Bang?" tanya Tiara yang sedari tadi sudah bergerak ke kanan dan kiri karena tubuhnya terasa pegal.


"Ini setengah jam lagi, Ti. Kita makan siang di villa aja ya." Tiara mengangguk setuju.


"Ini villanya bang?" tanya Tiara dengan mata berbinar saat mobil mereka telah berhenti dan ia melihat hunian satu lantai dengan hamparan kebun teh di sekitarnya.


"Iya dong."


Keduany turun, dan Tiara langsung melihat ke segala arah, dan yang ia lihat hanyalah pemandangan hijau nan luas.


"Ayo masuk." Nath meraih tangan Tiara dan satu tangan lagi menggeret koper masuk ke dalam setelah ia menerima kunci dari penjaga villa yang memang sudah menunggu.


Tiara dan Nath berkeliling ruangan sejenak. "Ini kamar kita," ucap Nath senang saat membuka pintu kamar dan langsung meletakkan koper disana.


"Ini ruang tv dan satu lagi, ada dapur mini disini." Nath dan Tiara masuk ke dapur. "Ada kulkasnya juga, Ti." Nath membuka kulkas yang berisi makanan dan minuman kemasan yang memang Zoya siapkan dengan menyuruh penjaga villa.


"Kita makan siang dulu, Bang?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Boleh. Kamu siapkan piring, abang ambil bekal kita di atas koper ya."


"Bersih-bersih dulu, Bang." Nath mencuci tangan dan wajahnya di washtafel yang ada di dapur itu.


Nath meninggalkan Tiara dan masuk ke kamar. Mengambil tas bekal yang ia letakkan di atas koper tadi. Bekal yang Lintang buat untuk makan siang keduanya.


Tiara membawa peralatan makan dan dua gelas air putih. Tiara kesulitan membawanya dan Nath hanya terkekeh melihat istrinya. "Kayak pelayan restoran Padang, Ti." Nath mengambil tumpukan piring dengan segelas air putih dan sendok diatasnya dari tangan Tiara. Mungkin ia tidak menemukan nampan di lemari dapur.


"Sayangnya menu utama kita bukan rendang," sahut Tiara dengan tawa kecil.


"Iya, tapi ranjang." Nath nyengir saat mengucapkan kata ranjang.


Tiara mendelik karena tau yang Nath maksud. "Itu makan tengah malam."


"Siang-siang juga gak apa-apa, Ti."


"Makan tuh ranjang sendirian." Cibir Tiara dengan mengerucutkan bibirnya.


"Jangan menggoda," ucap Nath sambil mengeluarkan satu persatu kotak bapperware yang Lintang bawakan.


Tiara menatapnya jengah. Siapa juga yang menggoda?


"Aku mau foto di kebun teh, jangan ajak enggak-enggak."


"Aku ngajak iya-iya."


"Payah ngomong sama suami omes."


Tiara mengisi piring Nath dengan nasi. Lalu ayam kecap dan sayur dia atasnya. Ia juga mengisi piringnya.


Tiara mengambil piring Nath. "Baca doa dulu, Bang."


Tiara menyuapkan makanan ke mulut suaminya. Lalu bergantian ke mulutnya.


"Sendok yang sama, Ti?" tanya Nath heran karena Tiara makan dengan sendok bekas mulutnya.


"Kenapa?"


"Gak jijik, kamu?" tanya Nath.


Tiara menggeleng sambil tersenyum. "Kamu nanya jijik, sementara ada yang lebih menjijikan dan itu udah berhasil masuk ke mulutku," ucap Tiara agak kesal karena Nath menanyakan hal yang menurutnya tidak penting.


Menganggap sendok bekasnya menjijikkan sementara hampir tiap malam bertukar saliva. Batin Tiara.


****


Sesuai keinginan Tiara, keduanya keluar Villa sekitar sore hari dan mencari spot foto dengan background warna hijau dan biru. Perpaduan sempurna antara perkebunan teh dan langit biru.


"Bang, pinjem handphon." Tiara membuka telapak tangannya meminta ponsel Nath.


Tanpa ragu Nath memberikannya pada Tiara. "Hp kamu kenapa, Ti?"


Tiara nyengir, "kemera hp abang lebih jernih."


"Kita foto dulu, dong. Iya kali bulan madu gak di post. Hahaha." Tiara mengarahkan kamera depan ponsel Nath ke arah mereka berdua.

__ADS_1


Nath mengangkat tinggi Tiara dan menyatukan kening mereka. Tiara mengambil gambar dari arah samping dan hal itu membuat hidung mancung Nath dan hidungnya saling menyentuh.


"Cekrek."


"Cekrek."


"Cekrek."


Entah berapa foto yang Tiara abadikan. Keduanya terus mengambil gambar berdua.


Camera yang menggantung di bahu Nath sudah tidak mereka gunakan lagi karena Tiara lebih senang menggunakan ponsel Nath.


Keduanya duduk di batu besar. Nath memberikan sebotol air mineral dari ransel kecil di punggungnya. "Makasih." ucap Tiara saat menerima botol air mineral dari suaminya.


Tiara masih memilih foto yang akan ia post di akun media sosial Nath. Pilihannya jatuh pada foto saat mereka menyatukan kening karena wajah Tiara yang terlihat dari arah samping hingga tidak semua orang akan mengenalinya.


"Karena pada waktunya, tanpa kamu rencanakan pun, jodoh tidak pernah tertukar," ucap Tiara sambil mengetikkan caption di akun Nath.


Nath tersenyum mendengar kalimat sederhana penuh makna. "Pinter banget ngerangkai caption." Puji Nath pada istrinya. Ia tidak marah akunnya dibajak Tiara.


"Nyari di googl*." Tiara nyengir. Dan Nath tertawa.


"Kirain kamu yang mikir."


"Aku juga mikir, loh?"


"Katanya lihat di-"


"Aku kan mikir, pilih caption yang mana ya... yang ini atau yang ini." Tiara tertawa menutup mulutnya.


"Eh, tapi ada sebaris tambahan dariku, bang," lanjut Tiara.


"Apa?"


"Ehm.. gini."


"So Cloudy, jangan berharap untuk menukar jodohku dengan dirimu."


Nath merebut ponselnya untuk memastikan apa yang Nath dengar benar tertulis atau tidak.


Nath menghela nafas lega, sementara Tiara terus tertawa. "Takut banget, pengagumnya tersakiti."


"Buka takut dia tersakiti. Aku hanya takut, orang selain Cloudy masih berharap bertukar posisi denganmu."


Tiara diam. Ia sadar, posisinya saat ini menjadi keinginan dan harapan banyak gadis. Jika suatu saat gadis lain menggeser posisinya, apa yang bisa ia lakukan.


Tiara menatap Nath yang mulai sadar, ia salah bicara. "Ti ..." Nath memegang kedua bahu Tiara.


"Dalam mimpi pun aku tidak ingin," gumam Tiara dengan mata berkaca.


Nath menarik Tiara dalam pelukan. "Dan itu tidak akan terjadi meski hanya dalam mimpi."


****


Kasih yang manis terussss! Jangan diabet ya guys 😂

__ADS_1


__ADS_2