
Naira kesulitan untuk menghubungi Nair sejak pulang dari rumah sakit tempatnya magang sore tadi. Entah mengapa Naira merasa gelisah berlebihan meskipun ia telah sholat bahkan terus berdzikir setiap kali ada kesempatan.
Dan hingga malam tiba, semua pesannya masih centang dua dan tidak Nair baca. Padahal ia hanya menanyakan pada Nair apakah pria itu sudah mengirimkan CV ta'aruf pada Abinya.
Naira tidak bisa tidur, ia memikirkan Nair yang seperti menghindarinya. Apa kamu mundur, Nair?
Naira menghembuskan nafas berat saat baru selesai sholat malam, ia melihat pesan dari Umi yang dikirim jam 11 malam tadi. Sebuah pesan yang menjadi jawaban atas kegelisahannya.
📩 Umi
Assalamualaikum, Nai.
Sehabis Isya tadi Nair datang ke rumah, Nak. Ia kembali meminta restu dari Abi.
Tapi sepertinya Abi belum memberikannya untuk Nair.Jangan marah padanya jika ia tidak lagi menemuimu.
Nair hanya berusaha menuruti keinginan Abimu. Umi selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak. Umi tau, kamu mencintainya.
Naira megang dadanya yang terasa sesak. Perlahan tapi pasti, air matanya keluar begitu saja tanpa ia minta. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 2 malam. Ia menangis dalam diam.
Nair, aku tidak menyangka kamu akan senekat ini. Aku tidak menyangka kamu akan berjuang sejauh ini. Maafkan Abi yang mungkin menyakitimu.
Naira duduk di lantai dengan menyandarkan tubuhnya disisi ranjang. Ia menekuk lututnya dan membiarkan air matanya menetes deras.
Nair, aku percaya Allah pasti menyatukan aku dan kamu disaat yang tepat. Aku yakin kamu selalu menyebut namaku dalam doamu seperti aku yang selalu menyebut namamu dalam doaku.
Nair, aku selalu menunggumu selama Abi belum menyandingkan seorang pria untuk jadi suamiku dihadapan penghulu.
Nair, terima kasih untuk perjuanganmu. Aku akan mengatakan pada Abi bahwa aku mencintaimu. Aku akan ikut berjuang denganmu. Aku tidak akan membuatmu melakukan ini sendiri.
Ya Allah, aku mencintainya sungguh. Aku mencintainya karena-Mu. Karena dia pria yang ku yakin bisa membimbingku, bisa menasehatiku dan insyaAllah aku ingin meraih surga-Mu bersamanya.
Ponsel Naira kembali bergetar. Pesan dari Nair masuk ke ponselnya.
Nair? Alhamdulillah. Batinnya lega.
Naira langsung membuka isi pesan itu dengan tangan bergetar.
📩Nair
Assalamualaikum, Nai.
Pasti sudah tidur, ya? Atau sedang sholat malam?
Nai, mulai besok dan seterusnya, aku tidak bisa menemuimu lagi. Aku ingin menjagamu dari syahw*tku. Aku ingin melindungi diri kita dari dosa zina.
Nai...
Percayalah, perjuangan kita tidak akan sia-sia. Tunggu aku, Nai.
Naira menangis segugukan. Ia meyakini apa yang Uminya beritahu memang benar. Nair menuruti keinginan Abinya. Nair benar-benar tidak akan menemuinya lagi.
Naira segera membalas pesan dari Nair.
^^^Nair...^^^
^^^Aku selalu menunggumu...^^^
Sudah lima menit pesan di baca, dan Nair sama sekali tidak lagi membalasnya. Naira menggigit bibir bawahnya demi meredam suara tangis yang siap keluar dari mulutnya.
***
Nair menyandarkan kepalanya di sandaran mobil. Ia sedang di perjalanan dari Bandara menuju rumah. Sebuah balasan pesan dari Naira baru saja ia terima.
Terima kasih, Nai. Tunggu aku. Suatu hari nanti aku akan datang lagi pada Abimu.
__ADS_1
Puk!
Tepukan di bahu kanan Nair membuatnya menatap kesamping. "Mungkin ini yang terbaik, Nair," ucap Akhtar yang duduk di samping putranya.
Tengah malam tadi, saat akan pergi tidur, ia mendapatkan pesan masuk dari Nair.
Nair gak berhasil, Ma, Pa. Malam ini juga Nair pulang.
Akhtar langsung menghubungi putranya yang akan berangkat dua puluh menit lagi dari bandara Semarang.
Akhtar dan supir pergi menjemput Nair. Ia tidak mungkin membiarkan putranya yang dalam keadaan tidak baik-baik saja itu pulang sendirian dini hari seperti ini.
"Nair jadi nyesel pa, udah datang malam ini," jawaban Nair membuat Akhtar mengerutkan kening.
Nair belum cerita apapun tentang apa yang terjadi padanya selama di Semarang. Akhtar hanya tahu putranya itu di tolak.
"Nair menyesal, Pa." Nair menyeka air matanya.
Jika ia tidak datang, setidaknya ia dan Naira masih bisa bertemu. Sebenaranya setelah ini pun masih bisa. Tapi apa mungkin ia menolak dan tidak menuruti permintaan Abinya.
"Nair..."
"Semuanya sudah diatur, Nak."
"Kamu sudah berjuang dan melakukan yang terbaik. Selebihnya serahkan sama Allah."
Nair diam dan memejamkan matanya. Ia mencoba untuk tidur karena pagi nanti ia harus bertugas.
"Perjalanan hidup papa jauh lebih menyakitkan dari kamu, Nair."
"Papa dan mama harus berkali-kali berusan dengan polisi dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama."
Nair membuka mata dan menatap papanya. Akhtar tertawa pelan. "Udah, sambil tidur aja. Anggap papa sedang baca dongeng."
Akhtar terkekeh pelan.
"Beberapa hari sebelum menikah, mama kamu kecelakaan Nair. Dia dicelakai oleh seorang pria yang merupakan saingan papa untuk mendapatkan mama."
Dengan mata terpejam, Nair mengangguk. "Mama banyak yang rebutin, Pa?"
Akhtar mengangguk. "Banyak Nair."
"Terus kenapa mama pilih papa."
"Ya... ya karena papa paling ganteng."
Nair mencebikkan bibir. "Nath banget!" cibirnya pada papa yang punya rasa percaya diri tinggi seperti Nath.
"Memang papa paling ganteng, Nair."
"Oke. Papa lanjut."
"Belum selesai masalah itu, Kakung sama om Langit malah dapat pesan berupa foto mama yang diedit. Di foto itu mama di buat nyaris tanpa busana."
"Astagfirullah, separah itu, Pa?" Nair kembali menatap papanya. Ia tidak pernah mendengar cerita itu.
Akhtar mengangguk. "Berkat om Ray dan Om Josep, pelaku penyebar dan pengedit foto itu ketemu dan langsung di proses hukum tanpa ampun."
"Dan ternyata orangnya sama dengan yang mecelakai mama."
"Setelah menikah, Ibunya pria itu datang dan marah-marah. Meminta putranya di bebaskan dari hukuman. Ibunya juga melemparkan uang dengan jumlah yang banyak di hadapan mama."
"Ia juga membongkar masalah foto yang berusaha kami semua sembunyikan dari mama."
"Mama sampai pingsan, Nair."
__ADS_1
Nair menatap Akhtar saat papanya itu kembali menepuk bahunya.
"Kisah cinta mama dan papa juga sama sulitnya, Nair."
"Bedanya adalah dari sisi mana cinta kita diuji."
"Kalau Nath sama Tiara, perjalanan mereka juga berat."
"Bi dan Rion."
"Zoy dan Ezra."
"Semua punya takarannya masing-masing. Mungkin karena Allah sayang sama kalian berdua, Allah uji dengan kesulitan yang kamu fikir tidak akan bisa kamu lewati."
"Padahal kamu pasti bisa melewati semua ini."
"Yang kamu harapkan belum tentu yang terbaik."
"Tapi yang Allah berikan, pasti yang terbaik." Nair mengangguk pelan.
Sampai di rumah, Nair langsung mendapatkan pelukan hangat dari mamanya.
Lintang tidak bisa tidur menantikan kepulangan Nair yang katanya gagal dalam misi.
Lintang tiduran di ruang tv sambil menunggu anak dan suaminya tiba di rumah.
Dan saat pintu utama di buka, Lintang langsung menghambur ke pelukan putra tercintanya.
"Anak mama hebat." Lintang mengelus punggung putranya.
"Mama tahu Nair istimewa, sayang."
*Seistimewa apa Nair, Ma? Sampai-sampai Nair yang berusaha menjalankan hubungan dengan cara baik-baik masih saja ditolak.
Nair berusah menjauhi larangan Allah, tapi Allah masih menguji Nair dengan cara belum bisa bersama Naira dalam ikatan yang halal*.
Lintang melepaskan pelukannya. "Kamu istirahat, ya sayang."
"Kalau belum mau cerita, gak apa-apa."
"Mama akan menunggu sampai kamu siap."
Nair mengangguk. "Terima kasih, Ma." Nair berjalan menuju kamarnya.
"Mas..." Akhtar menarik Lintang dalam pelukannya.
"Semua putra-putri kita pernah merasakan kegelisahan seperti ini, Lin."
"Bi bahkan sampai pergi membawa lukanya." Akhtar menuntun Lintang menuju kamar mereka.
"Nath, ia sampai rela bersimpuh di kaki orang tuanya Tiara."
Lintang memukul dada suaminya pelan. "Itu kan karena Nath yang salah, Mas."
Akhtar terkekeh. "Tapi aku gak menyangka, Nath sama Tiara bisa juga menjalankan hidup berumah tangga."
"Padahal dulu mereka masih belum dewasa."
Lintang duduk di tepi ranjang. Ia membiarkan suaminya itu berganti pakaian.
"Tapi kan waktu bisa mengubah siapa saja, Mas."
"Nah itu dia. Aku berharap waktu bisa mengubah hati Abinya Naira."
"Amin."
__ADS_1