
"Kak...." Naura mengguncang lengan Tiara yang masih melamun. Gadis kecil itu sudah memanggilnya berulang kali namun Tiara tidak merespon.
"Eh...." Tiara kaget dan menatap Naura. "Ada apa, Ra."
"Ayo!" Ajak Naura.
"Bang Nath masih di dalam," ucap Tiara sambil mengarah pandangannya kearah tempat Nath berdiri tadi.
"Tuh, udah selesai dari tadi," balas Naura menunjuk sisi kiri Tiara.
Tiara menatap ke kiri dan melihat Nath tersenyum menatapnya. "Ngelamun lagi, uh?"
Tiara langsung membuang muka. Ia malu kedapatan melamun lagi. Entah kenapa belakangan ini ia sering melamun. Apa karena pernikahan yang semakin dekat atau karena calon suaminya yang sama sekali tak pernah terbesit sedikitpun untuk dia nikahi.
Tiara berdiri dan menggandeng tangan adiknya. "Setelah ini kemana, Bang?" tanya Tiara.
Nath berjalan disamping Tiara. "Kita makan dulu, yuk. Naura mau makan apa?" tawar Nath pada calon adik iparnya yang sedari tadi tak memudarkan senyum dan tawa.
Naura menatap Nath dan diam sejenak. "Makan apa ya?"
"Kak... nyobain sushi boleh gak?" tanya Naura pada Tiara. Nath mengerutkan kening.
Tiara berhenti sebentar dan menatap adiknya itu. "Kakak gak yakin kamu doyan sushi, Ra."
"Ya, kan belum di coba."
Tiara menatap Nath, meminta pendapatnya. Nath mengangguk. "Ayo. Kita makan sushi sepuasnya!" Nath meraih tangan Naura. Menggandengnya ditengah.
Setelah makan siang, mereka segera pulang. Tiara duduk disebelahnya, sementara Naura mulai tertidur dikursi belakang.
Nath tertawa. "Penyakit emang, perut kenyang pasti bawaannya ngantuk." Nath melihat Naura dari spion tengah.
Tiara juga tertawa. "Biarin bang, dari pada berisik." Tiara menatap Nath yang tengah mengemudi.
"Kamu gak capek banget kan, Ti?" tanya Nath.
"Enggak."
"Kita ke butik tante Rara sekalian, ya. Mumpung lagi keluar. Besok-besok aku juga mulai sibuk sama tugas kampus. Takut keburu waktunya mepet."
"Tapi Naura tidur, Bang."
"Gak apa-apa. Nanti ku gendong."
Setengah jam kemudian, mereka tiba di butik milik Rara. Tiara turun dan Nath segera membuka menggendong Naura.
"Dia berat, Bang. Bangunin aja deh."
"Ssst! Biarin, Ti." Nath menggendong Naura. Tiara membantu membuka pintu kaca untuk masuk kedalam butik.
"Selamat datang di Auzora Boutique," sapa seorang karyawan butik pada mereka berdua.
"Tante Raranya ada?"
"Ada diatas Mas ...."
"Nath," sambung Nath karena karyawan butik tidak bisa membedakan antara Nath dan Nair.
__ADS_1
Nath langsung naik ke lantai dua dimana ruangan Rara berada. Tiara ikut dibelakngnya, tapi matamya melihat sekeliling mengagumi desain butik yang menurutnya cantik dan elegan.
"Lihat jalan, Ti," tegur Nath saat Tiara lebih fokus pada interior butik dibanding anak tangga yang ia pijak.
"Bagus, Bang," jawab Tiara spontan.
"Om Langit punya kerja," sahut Nath cepat.
"Ti, pintu." Nath meminta Tiara membukakan pintu karena ia kesulitan membuka sendiri.
"Nath." Sapa Rara saat Nath masuk ke ruangannya.
"Hai, Ra." Rara juga menyapa Tiara.
"Hai, Tante."
Nath menidurkan Naura di sofa. Tiara dan Nath duduk di depan meja kerja Rara.
"Langsung aja?" tanya Rara pada calon pengantin yang tidak saling mencintai tapi setuju untuk menikah itu.
Nath mengangguk. Rara melipat tangannya di meja. Wanita dengan gamis syar'i itu menatap Nath dan Tiara yang terlihat serasi. Cantik dan tampan, keduanya maaih muda, sama-sama berkulit putih, baju kompak. Rara tersenyum.
The next most romantic couple setelah mama-papanya. Batin Rara.
"Udah punya konsep, Nath?" tanya Rara pada Nath.
"Konsep apa, Tan?" tanya Nath yang tidak mengerti maksud pertanyaan Rara. Ia juga menatap Tiara yang diam saja, tandanya gadis itu juga tidak faham.
"Konsep pernikahan kalian nanti."
"Cuma akad doang kok, Tan," jawab Nath.
"Waalaikumsalam, Ra. Ada apa?" Suara Lintang terdengar dari loudspeaker ponsel Rara.
"Nath sama Tiara disini nih. Mau fitting baju."
"Ya... "
"Pake konsep kayak apa, mbak?"
"Terserah mereka, Ra. Biar mereka pilih. Dekorasinya putih sama silver, kok. Jadi aman-aman aja."
"Oke. Thanks ya kak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Panggilan diakhiri.
"Dengar sendiri? Kata mama, terserah kalian."
"Sekarang tante tanya, kalian mau pakai apa? Kebaya atau gaun modern?" tanya Rara pada keponakannya.
"Kebaya."
"Kebaya, Tan." Tiara dan Nath menjawab kompak.
Rara tertawa saat keduanya saling tatap. "Udah janjian, rupanya."
"Oke, kita fix kebaya, ya. Soal warna?"
__ADS_1
"Putih."
"Putih."
Rara tertawa. "Kompak lagi! Sama -sama suka warna putih, Ya?"
Keduanya mengangguk. "Kelihatan dari baju kalian." Tiara dan Nath melihat baju mereka dan keduanya baru menyadari bahwa warna baju mereka sama.
"Dan Nath mau pakai beskap, jas atau batik?" tanya Rara pada Nath.
"Beskap itu yang kaya jas tapi warna putih, ya tan?" tanya Nath.
"Ya, hampir seperti jas. Tapi bukan."
"Gimana, Ra?" Nath bertanya pada Tiara. "Aku gak ngerti soalnya."
"Tante ada contoh gambar atau desainnya gak?" tanya Tiara.
Rara mengarahkan laptopnya kearah Nath dan Tiara. "Ada fotonya. Kalian bisa lihat-lihat dulu."
Tiara dan Nath melihat desain mana yang kira-kira pas. Nath menscroll kursor hingga kebawah dan Tiara menunjuk satu foto.
"Itu, Bang!" Nath memperbesar foto dan Tiara memperhatikan detailnya.
"Ini aja, Ya. Kayaknya gak terlalu mewah tapi tetap bagus." Nath mengangguk.
Rara memperhatikan keduanya. Ia tersenyum melihat bagaimana mereka mengambil keputusan berdasarkan hasil diskusi.
"Yang ini, tan." Nath menunjukkan pilihan mereka pada Rara.
Rara memberikan 3 kertas bergambar desain kebaya yang ia rancang. "Kamu pilih yang mana, Ra?"
Tiara melihat setiap desain Rara. Nath ikut melihat. "Yang ini aja." Tunjuk Nath pada salah satu desain.
Tiara menatap Nath, ia tidak tau jika Nath justru ikut memilihkan untuknya. Tiara langsung setuju. Sebenarnya semua desainnya bagus. Jadi, yang mana pun yang ia pilih, tidak masalah.
"Yang ini, tan." Tiara memberikan gambar pilihannya dan Nath.
Rara tersenyum. "Tante boleh menasehati kalian?" Ia melipat tangannya di atas meja.
Tiara dan Nath kompak mengangguk. "Nath, Ra. Tante bisa melihat kalian masih belum siap dengan semua kejadian yang rasanya terlalu cepat ini."
Nath dan Tiara mengangguk pelan. "Tapi tante senang, tante yakin kelak kalian akan bahagia dalam ikatan pernikahan."
"Pertahankan cara kalian mengambil keputusan. Yaitu dengan diskusi. Apapun yang membuat kalian ragu, ceritakan pada pasangan. Ambil keputusan berdasarkan keputusan bersama."
"Jangan mau menang sendiri, Nath. Ingat! Kamu akan jadi suami. Tugas kamu melindungi, mengayomi, bukan mendominasi." Nath tersenyum dan mengangguk.
"Kepala keluarga harus tegas, tapi jangan egois. Dan kamu Tiara, belajar memahami Nath. Kalian masih muda, perdebatan akan sering datang. Kalian tampan dan cantik, please jangan beri sela untuk orang ketiga masuk."
Rara menasehati keduanya. Ia belajar dari rumah tangganya. Punya suami tampan dan memiliki posisi bagus dikantor membuat Rara harus siaga satu mempertahankan rumah tangganya.
Untung saja Langit tipe pria setia. Perjuangannya menunggu Rara hingga menggapai cita-citanya menjadi pedoman baginya betapa sulit untuk mendapatkan istrinya itu.
"Percayalah, cinta bisa datang kapan saja. Kalian cuma butuh waktu dan menghabiskan waktu bersama."
"Kalian sudah memilih. Maka jalani."
__ADS_1
"Tante dan keluarga selalu mendoakan kebahagiaan kalian."
"Amin. Terima kasih tante."