
Setelah seminggu benar-benar hanya mendekam di rumah, hari ini Tiara meminta izin Nath untuk keluar dari rumah. Ia igi mengunjungi BL shop dan beberapa toko lainnya.
"Boleh, asal diantar supir," ucap Nath saat Tiara mengeluh bosan dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ia juga mengatakan rasa mualnya akan hilang saat menjelang siang.
Sebenarnya bukan hilang, hanya saja ia merasa lebih baik. Mungkin karena buah dan jus yang masuk ke perutnya saat sarapan membuat rasa mual sedikit berkurang.
"Makasih daddy," ucap Tiara seperti anak kecil.
"Kamu tetap panggil abang!" Nath menyentuh hidung Tiara dengan telunjuknya.
"Kenapa?" tanya Tiara heran.
"Karena aku gak mau dikira sugar daddynya kamu."
Tiara terbahak. Bagaimana bisa mereka disebut sebagai sugar daddy dan sugar baby sementara umur dan wajah mereka jelas terlihat sebaya.
***
Sore ini, Tiara kembali ke restoran tempat dimana ia dan Nath pernah janjian makan siang. Restoran yang sama, tempat dimana Nath membeli makanan saat selesai meeting minggu lalu.
Tiara menunggu di dalam, dan ia kembali mengingat pernah bertemu Cloudy di tempat ini.
Ia mencoba mengingat wajah El seperti siapa. Dan saat ia melihat seirang pria menarik kursi di depannya, semua yang ia fikirkan buyar seketika.
Seorang Reyfan yang datang seperti jelangkung membuat Tiara terkesiap. Alarm dalam dirinya tiba-tiba seolah memberi peringatan tanda bahaya.
Tiara tetap duduk tapi lebih waspada. Ia melihat sekeliling. Tamu di restoran ini tidak terlalu ramai, karena bukan waktunya makan siang atau makan malam.
"Jangan takut, Ti." Reyfan mencoba membuat Tiara tenang. Ia memang tidak punya niat jahat sedikitpun. Ia hanya kebetulan ada di sini dan melihat Tiara sedang duduk sendirian.
"Aku... aku ingin minta maaf soal empat tahun lalu." Reyfan mengulurkan tangannya meminta maaf.
Tiara masih mengingat dengan jelas setiap slide kejadian empat tahun lalu. Bayangan kejadian itu kembali berputar di otaknya.
Tangannya bergetar. Tiara mencari ponsel untuk meminta supir menjemputnya kedalam.
"Tiara... tenanglah, Ti."
"Aku hanya ingin minta maaf." Reyfan memegang tangan Tiara.
Ia langsung menepisnya dan menekuk tangannya di dadanya. "Pergi! Pergi kak!" jeritnya.
"Tolong!" Teriaknya membuat Reyfan panik. Niatnya untuk minta maaf bisa saja disalah artikan oleh orang lain jika Tiara terus saja menjerit.
"Ti... tenang... Ti." Reyfan kebingungan.
Pelayan mendatangi mereka, beberapa orang pengunjung restoran juga menatap mereka berdua.
Cloudy yang baru saja keluar dari dapur setelah briefing singkat dengan para cheff langsung berjalan ke meja Tiara dan Reyfan.
"Ada apa ini?" Cloudy berdiri di samping Tiara. Matanya membulat sempurna saat melihat Reyfan dengan wajah khawatir ada di depannya.
Tiara melihat siapa yang datang dan saat ia tahu itu adalah Cloudy, ia langsung memeluk pinggangnya.
"Kak Cloudy, tolong kak!" mohonnya dengan tangan yang masih bergetar.
Kakak? Tiara kenal Cloudy? Dan mungkinkah Tiara juga tau tentang El, putranya Cloudy? Batin Reyfan terkejut.
Cloudy lebih terkejut saat melihat wanita yang memeluk pinggangnya adalah Tiara, korban yang dulu pernah Reyfan culik.
Bagaimana pun, Tiara pasti merasa takut dan trauma saat melihat Reyfan. Cloudy tahu pertemuan mereka ini hanya kebetulan. Karena Reyfan hampir setiap hari datang ke restoran demi bisa menemuinya. Dan Cloudy harus mati-matian untuk bermain kucing-kucingan dengan Reyfan.
Sekarang, Cloudy tidak pernah lagi membawa El ke restoran, karena ia tidak ingin putranya itu kembali bertemu Reyfan.
__ADS_1
"Silahkan anda pergi dari sini, Mas!" Pinta Cloudy menunjuk pintu keluar dengan sopan.
"Atau cari meja lain!" Cloudy kembali menunjuk meja yang masih kosong dengan telapak tangannya yang terbuka. Sementara tangannya yang satu lagi merangkul bahu Tiara yang mulai tenang.
"Jangan membuat kenyamanan pengunjung disini terganggu gara-gara anda!" Cloudy berucap tegas. Saat ini ia sedang menunjukkan sikap pimpinan yang tegas di depan karyawannya.
Ia memang dikenal sebagai pemimpin yang tegas, namun punya rasa empati yang tinggi. Dan itu terus ia pertahankan hingga kini.
"Maaf!" Reyfan perlahan mundur dan keluar dari restoran ini setelah memberi selembar uang seratus ribu kepada salah satu pelayan.
"Ini untuk yang di mejaku." Reyfan menunjuk meja dibelakang Tiara yang terdapat secangkir kopi diatasnya.
Benarkan? Ini hanya kebetulan. Reyfan kesini untukku dan El, buka untuk sengaja mengganggu Tiara. Batin Cloudy.
Seketika semua bubar saat Cloudy memberi perintah. Tiara perlahan melepaskan pelukannya. Ia menyeka air matanya dan menatap Cloudy yang juga sedang menatapnya.
"Terima kasih kak. Aku takut padanya." Tiara berusaha membuat Cloudy faham tentang kondisinya yang trauma saat melihat Reyfan.
"Sama-sama." Potong Cloudy cepat. "Aku akan melakukan hal yang sama pada setiap pelangganku."
"Ti..." Suara bariton yang Tiara dan Cloudy kenali mencuri perhatian keduanya.
***
Di tempat lain. Nath baru saja keluar dari parkiran kantor dan ponselnya bergetar.
Satu panggilan masuk dari istrinya. Nath tersenyum. "Merasa rindu, nyonya El Nath?" gumamnya senang.
Nath menggeser icon hijau. "Hallo..."
"Tiara... tenanglah, Ti." Suara pria di seberang telpon membuat Nath sedikit panik. Apa yang terjadi pada istrinya?
"Hallo Ti... Tiara!" teriak Nath mulai panik.
"Aku hanya ingin minta maaf."
"Restoran itu?" Nath melihat restoran yang terlihat dari posisinya saat ini. Ia hanya perlu menempuh jarak kurang lebih 100 meter lagi.
"Pergi! Pergi kak!" Jeritan Tiara membuat Nath semakin panik.
"Tolong!"
"****!" makinya. "Apa gak ada orang di restoran itu!"
"Ti... tenang... Ti."
"Ada apa ini?"
"Kak Cloudy, tolong kak!"
Suara di seberang telpon membuat Nath sedikit tenang karena sepertinya Cloudy membantu istrinya.
Nath segera masuk ke dalam setelah tiba di restoran milik kliennya itu.
Di depan, ia bertemu Reyfan yang menatapnya lekat-lekat tapi terus melanjutkan langkahnya.
"Jika kembali terjadi sesuatu pada istri dan calon anakku, aku akan mengejarmu meski hingga ke sarang buaya!" Sebuah ultimatum yang Nath ucapkan saat ia dan Reyfan berselisihan.
Reyfan tidak jauh lebih penting dibanding istrinya saat ini. Nath mencari dimana Tiara dan ia melihat Tiara baru saja melepas pelukannya di tubuh Cloudy.
"Ti..." panggilnya dengan bernafas lega karena Tiara baik-baik saja.
"Abaaang!" Tiara langsung bangun dari kursinya.
__ADS_1
Nath segera berjalan cepat dan memeluk tubuh mungil itu. "Kamu baik-baik saja, Ti."
Cloudy membuang muka melihat adegan yang jika dilihat empat tahun lalu pasti membuatnya tidak baik-baik saja. Tapi sekarang, Cloudy sudah sangat baik-baik saja. Adegan itu sama sekali tidak berpengaruh pada hatinya.
Cinta dan seluruh hidupnya sudah ia berikan pada El Nathnya. Balita berusia tiga tahun yang menjadi miliknya seutuhnya.
"Terima kasih, Clou..." Ucap Nath tulus.
Cloudy menatap uluran tangan Nath dan ia tersenyum kecil dan mengangguk. "Sudah bagian dari tanggung jawabku, Nath."
"Aku permisi dulu!" Cloudy pergi meninggalkan keduanya.
Tiara menatap Nath, "abang tahu Tia disini?" tanya Tiara.
Nath menunjukkan layar ponselnya, dimana masih berlangsung panggilan telpon dari nomor Tiara.
Tiara membulatkan mata dan melihat layar ponsel di genggaman tangannya. "Kok bisa?" tanya Tiara heran.
"Tadi aku mau menghubungi supir supaya menjemputku ke dalam, Bang?"
"Mungkin nomorku yang tersentuh di layar." balas Nath.
"Mungkin, Bang." Tiara mematikan panggilan.
"Ayo pulang!" ajak Nath. "Lagian lamu ngapain kesini, sayang?" tanya Nath pada istrinya.
"Aku beli makanan untuk makan malam, Bang."
Mereka segera pulang saat pesanan Tiara sudah selesai. Tiara ikut dalam mobil Nath.
"Bang, kapan kak Reyfan keluar dari penjara?" tanya Tiara pada suaminya.
"Belum lama, Ti. Sekitar 2 mingguan." Minggu lalu, Nath langsung meminta pengacara yang menangani kasus itu mencari tahu ke kantor polisi.
"Abang gak bilang?" Tiara menatap tajam suaminya.
Nath merasa Reyfan bukan lagi ancaman baginya karena Reyfan punya masalah yang sepertinya lebih penting dari pada kembali mengganggu kehidupan mereka.
"Reyfan punya masalah lebih besar, Ti!"
Tiara membulatkan matanya. "Maksud abang, apa?"
Nath menjelaskan apa yang ia lihat minggu lalu, saat Reyfan berbicara dengan Cloudy di parkiran.
"Mungkin aja, Reyfan sudah berubah, Ti."
"Ya Allah..." Pekik Tiara membuat Nath terkejut. Saat Nath bercerita, Tiara asyik dengan fikirannya sendiri tapi masih mendengarkan suaminya.
"Kenapa, Ti."
"Ya Allah, Bang! Selama ini, Tia mikir anaknya kak Cloudy kayak mirip siapa gitu."
"Dan memang iya, El Nath kecil mirip kak Reyfan!" Tiara ternganga tak percaya. Sebuah kenyataan yang membingungkan.
"Kamu... kamu tahu tentang El Nath, Ti?"
Tiara mengangguk. "Beberapa minggu lalu, pas kita janjian ketemu makan siang disana aku gak sengaja ketemu kak Cloudy sama anaknya."
Tiara menceritakan semuanya, termasuk saat ia menemui Cloudy yang tengah mengantar El ke sekolah untuk menanyakan mengapa nama anaknya juga El Nath.
Nath membulatkan matanya. "Kamu sampai sejauh itu, Ti. Dan gak bilang sama aku?"
Tiara bingung harus menjawab apa. Ia bersikap tertutup dari suaminya. Tapi seketika rasa egois menguasai dirinya.
__ADS_1
"Abang juga gak cerita kalau minggu lalu ketemu mereka!" sungut Tiara kesal dan menatap lurus kedepan.
Nah kan? Salah lagi. Baru mau marah, malah dia ngambek duluan! Nath menggaruk tengkuknya.