EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap-Nair (12)


__ADS_3

Sore ini, sepulang dari rumah sakit tempatnya magang, Nair langsung berangkat ke Bandara. Ia melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.


Nair berpacu dengan waktu, karena pesawat yang tiketnya telah ia pesan malam tadi akan berangkat jam 5 sore ini. Itu artinya satu jam lagi.


Nair segera berlari masuk ke dalam gedung bandara. Nair langsung check-in dengan menunjukkan e-ticket dan KTPnya kepada petugas bandara.


Setelah mendapatkan selembar boarding pass, Nair langsung menuju gerbang keberangkatan.


Pasawat yang Nair tumpangi sudah lepas landas. Perjalanan selama 1 jam 11 menit akan membawanya ke Semarang. Tempat dimana keluarga Naira tinggal.


Malam tadi, saat Papanya mengatakan perlu papa antar? Nair merasa mendapatkan semangat baru.


Ia mencoba mengingat alamat rumah Naira di Semarang. Ia pernah melihatnya di beberapa berkas data diri Naira.


Siangnya, Nair juga meminta pada Rion alamat rumah membatik milik Abi Rahardi. Ya, karena beliau adalah pemasok batik untuk seragam guru di SMA Cahaya Bangsa.


Tujuannya meminta alamat itu adalah sebagai tempat kedua yang akan ia datangi jika tidak menemukan Abi dan Umi di rumah.


Nair tiba di bandara di kota Semarang saat waktu sholat magrib tiba. Nair menyempatkan diri untuk Sholat terlebih dahulu. Ia tak lupa memanjatkan doa meminta pertolongan dari Sang Pencipta.


Nair menumpang taxi untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Rahardi, yang jaraknya tak terlalu jauh.


Waktu tempuh 40 menit Nair gunakan untuk mengirim pesan pada kedua orang tuanya bahwa ia tengah berada di kota ini. Nair meminta doa kedua orang tuanya berharap semua perjuangannya ini tidak sia-sia.


^^^*Doakan Nair berhasil Ma, Pa.^^^


^^^Nair sedang dalam perjalanan dari bandara menuju rumah keluarga Naira*.^^^


Sebuah pesan balasan ia terima setelah beberapa menit.


Ya Allah, Nair! Kamu berangkat sendiri?


Harusnya papa antar, Nair!


Tapi ya sudah! Berjuang ya Nak.


Papa mama pasti doakan kamu berhasil.


Nair menyimpan ponselnya di kantong celananya. Sebuah tas ransel di pangkuannya. Ransel yang berisi pakaian kotor karena ia sempatkan mandi di toilet rumah sakit tadi.


Nair tiba di sebuah rumah yang sesuai dengan alamat yang ia cari. Nair turun dari taxi dan membayar ongkosnya.


"Terima kasih, Pak."


Nair langsung mendekat ke sebuah rumah berpagar setinggi dua meter itu. Ia melihat pagarnya tidak di kunci.


"Assalamualaikum," ucap Nair sedikit berteriak.


Jarak dari gerbang ke bagunan rumah hanya beberapa meter saja.


"Assalamualaikum." Nair mengulang salamnya.


"Waalaikumsalam." Suara bariton dari arah belakangnya.


Nair berbalik dan menemukan Abi serta seorang pria berpenampilan sangat rapi dengan kurta berwarna putih sepanjang betisnya.


"Abi..." Nair langsung mencium punggung tangan Rahardi. "Apa kabar, Abi?"


"Alhamdullilah, Abi baik."


"Kamu, bisa disini, Nair? Ada tugas di sini atau sedang liburan?"


Nair bingung harus menjawab apa. Tapi suara wanita dari dalam pagar menyelamatkannya.


"Ada tamu, Abi? Kok gak di suruh masuk."


Nair berbalik dan berdiri di samping Rahardi.


"Nair?" Umi mengerutkan keningnya merasa tak percaya Nair ada di hadapannya. Setelah pernikahan Rion dan Bintang, mereka pernah bertemu di masjid saat Umi dan Abi mengunjungi Naira di rumah pakde Rahman.


"Ayo masuk! Abi ayo masuk, Bi." Ajak Umi sambil membukakan gerbang.


"Ayo masuk Nair." Abi menepuk bahu Nair.


Nair mengikuti di belakang Rahardi. Dan seorang pria di sampingnya mengulurkan tangan.


"Assalamualaikum, perkenalkan saya Faqih."


Nair tersenyum dan menjabat tangan pria itu. Tangan lembut nan putih sangat pas dengan wajahnya yang juga tampak bersih.


"Saya Nair."


Keduanya melepas jabatan tangan dan masuk kedalam rumah.


"Dari Jakarta?"


Nair langsung menatap pria itu dengan wajah datar. Dia tahu aku dari Jakarta?


Nair mengangguk lemah.


"Teman Naira?"


"I... iya."

__ADS_1


"Ayo, silahkan duduk, Nair." Umi mempersilahkan ia duduk.


"Umi, Abi..."


"Ya..."


"Bolehkah menumpang Sholat dulu?" tanya Nair sedikit ragu. "Saya belum sholat Isya."


Nair memang belum Sholat Isya. Saat di perjalanan tadi ia sempat mencari masjid yang dekat dengan alamat rumah Abi Rahardi, tapi sayang tidak ia temukan. Jika ada, tadi ia berniat Sholat terlebih dahulu lalu berjalan menuju rumah ini.


"Boleh, silahkan! Ayo Umi antar."


"Permisi dulu Abi, Mas Faqih."


Nair mengikuti Umi kearah belakang. Sebuah ruang sholat yang lumayan luas terletak tak jauh dari dapur.


"Nair, kamu bisa ambil wudhu di sana." Tunjuk Umi pada kran disamping ruang sholat.


"Umi mau bikin minum dulu." Umi langsung berjalan kearah dapur.


Selesai Sholat, Nair ikit bergabung dengan Abi. Ia duduk dengan perasaan canggung.


"Apa tidak sebaiknya menunggu Naira selesai internship, Abi?" pertanyaan Faqih membuat Nair seolah mengerti arah pembicaraan mereka.


*internship : magang.


"Abi juga sempat berfikir demikian, Qih."


"Abi juga belum membicarakan ini pada Naira."


Pria bernama Faqih itu mengangguk pelan. "Sebaiknya jangan dulu, Abi."


"Karena sebaiknya akad segera dilaksankan setelah proses ta'aruf."


Jadi dia pesaingku? Ya Allah, kenapa jauh sekali. Kami terlihat tidak sebanding.


Nair menghela nafas berat. Ia seperti berada di tempat dan waktu yang salah.


Tujuannya kesini jelas untuk melamar Naira dari Abinya sekaligus berupaya membatalkan perjodohan ini. Tapi apa yang di dengarnya barusan rasanya sangat tidak mungkin ia melamar Naira saat ini juga.


Nair melirik Umi yang sepertinya dari tadi terus menatapnya. Nair merasa, Umi tahu tujuannya datang kesini.


*Apa Naira mengatakan pada Umi tentang perasaan kami?


Apa Naira mengatakan pada Umi tentang rencana kami*?


Belum sempat Nair diajak bicara, pria bernama Faqih itu malah berpamitan pulang.


"Pak, tolong bukakan pintu gerbangnya." pinta Abi pada seorang pria yang mungkin pekerja di rumah ini.


Dan Abi kembali masuk saat mobil Faqih meninggalkan rumah ini.


"Nair, Abi tahu kamu datang bukan tanpa tujuan," Ucap Rahardi saat ia duduk di sofa tepat di depan Nair.


Aku harus berani. Benar kata papa, Seorang Alvarendra harus gantle.


Nair mengangguk mantap. "Abi benar."


"Jika kedatanganmu untuk putriku, maka kamu sudah mendengar jawabannya tadi."


Deg!


Nair belum melempar bola, tapi sebuah pukulan sudah dilepaskan.


Nair tersenyum kecil berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya.


"Bukan hanya untuk Naira, Abi. Tapi juga untuk saya. Untuk meminta putri Abi menjadi pendamping saya."


"Tidak masalah jika sekarang belum waktunya."


"Saya akan tetap menunggu sampai saatnya tiba. Sampai restu, Abi dan Umi berikan untuk kami."


"Kamu mencintai Naira?" pertanyaan Abi membuat Umi memegang lengannya sebagai tanda bahwa istrinya itu tidak setuju dengan pertanyaan Abi yang terlalu to the point.


"Sangat, Abi."


"Hampir lima tahun lalu, saya pernah mengatakan bahwa saya mencintai putri Abi."


"Dan sekarang pun masih sama," jawab Nair yakin.


"Perasaanmu tidak berubah?"


"Tidak Abi." Nair menggeleng.


"Kamu yakin Naira menerimamu?"


Pertanyaan jebakan kah ini?


Nair diam sejenak.


"Kamu tidak yakin?" tanya Abi menunggu jawaban Nair.


"InsyaAllah, yakin Abi."

__ADS_1


"Kami saling mengenal dan hubungan kami baik?"


"Kalian berpacaran?" tanya Abi penuh selidik.


Nair menggeleng. "Tidak, Abi."


"Kalau begitu, kalian sering berduaan atau pergi berdua?"


Nair diam lagi. "Pernah."


"Hanya di taman dan restoran. Kami tidak benar-benar berdua, Abi. Ada orang lain disana."


"Kamu pernah datang ke rumah Pakde Rahman untuk sengaja menemui putriku?"


"Tidak pernah Abi."


"Pertama dan terakhir, saat saya meminta Naira dari Abi hampir lima tahun lalu."


Umi menjadi saksi pembicaraan dua arah itu. Pembicaraan antara pria yang berusaha meminta putri dari seorang ayah dan seorang ayah yang berusaha mempertahankan putrinya.


Umi dengan sangat jelas melihat Nair yang terlihat yakin dan tenang. Ia bisa merasakan ketulusan yang Nair berikan untuk putrinya.


"Mulai sekarang, menjauhlah dari putriku."


Deg!


Nair tidak menduga kalimat itu yang ia dengar. Umi juga sampai menatap dalam suaminya.


"Tapi... Abi."


"Seharusnya dari dulu."


"Sejak Abi tahu kamu mencintai dia."


"Abi..." Umi mengelus lengan Abi.


"Abi hanya takut, kamu dan Naira melangkah terlalu jauh."


"Godaan setan itu berat, Nair."


"Abi tidak tahu, sampai kapan kamu bisa menahan syahw*at saat bersama putri Abi."


"InsyaAllah, kami bisa menjaga itu, Abi." Nair berusaha meyakinkan Abi.


"Berjanjilah Nair, untuk tidak kembali menemui putri Abi."


Nair diam dan menunduk dalam. Ini adalah hal sulit yang harus ia lakukan.


"Menghindarlah dari putri Abi."


"Buktikan rasa cintamu dengan menjauhkan diri kalian dari dosa Zina."


Nair menatap lurus kearah Abi.


"Saat kalian saling memandang, terjadilah zina mata. Dan saat kalian berpegangan tangan..."


Tidak pernah Abi.


"terjadilah zina tangan."


"Kemudian syahw*ta kalian akan bergejolak. Dan sebagai seorang pria kamu tentu akan membayangkan sesuatu yang kotor dalam hati dan fikiran kamu, Nair."


"Jadi, Abi..."


"Menjauhlah dari putriku."


"Dia akan tetap menjadi jodohmu, jika Allah sudah berkehendak."


Nair mengangguk lemas. Apa yang bisa ia lakukan jika si pemilik tidak mengizinkannya.


Nair berpamitan saat waktu menunjukkan pukul 11 malam.


"Tidak menginap, Nair?"


"Tidak Umi. Besok pagi Nair harus ke rumah sakit. Tiket juga sudah saya beli."


Nair berpamitan setelah sebuah taxi online ia pesan dari ponselnya. Ia lebih memilih menunggu lama di bandara dari pada harus menganggu waktu istirahat orang tua Naira.


Sepanjang perjalanan ia memejamkan mata. Apakah perjuanganku kali ini sia-sia? Atau bahkan malah memperburuk hubunganku dengan Naira.


Jika sebelum ini aku masih bisa bertemu dengannya, maka setelah ini tidak akan bisa lagi.


Ya Allah, apa selama lebih dari 6 tahun ini aku melakukan zina mata dengan memandang wajahnya. Padahal aku berusaha agar tidak timbul syahw*atku dengan kembali menundukkan pandanganku.


Ya Allah, ampuni segala dosa-dosaku dan mudahkan langkahku.


****


Tuduhan Abi salah ya guys. Nair gak pernah atuh punya fikiran kotorπŸ˜‚


Kalau Rion, Nath sama Ethan mungkin iya πŸ˜…


Mereka kan tiga setan serangkai πŸ˜†

__ADS_1


__ADS_2