
"Cari mat*!" bisik Nath dengan seriangainya pada Rion. Ia jelas mengenal siapa kedua pria yang sedang bertamu ke kandang singa yang tengah agresif siap menyerang ini.
"Biarin aja!" Rion sudah tak peduli dengan nasip kedua pria beda profesi itu. "Palingan kena sembur naga goa!" Rion terkekeh sambil tangannya terus memotong kecil buah pir.
"Coba periksa bang! Takutnya gak cuma kaki yang cidera! Tapi senjata laras panjangnya juga!" Kedua Pria itu belum selesai juga ternyata. Masih terus melanjutkan obrolan ngawur yang bisa saja memancing emosi Akhtar.
"Hahahah... Aku gak ambil spesialis dibagian itu!"
"Tapi kalau memang juga cidera, bisa ku rekomendasikan dokter terbaik." lanjut Pria berkemeja rapih. Dan mereka berdua kembali terbahak.
"Assalamualaikum, om, tante..." Shaka dan Caraka menyapa lalu mencium punggung tangan Lintang dan Akhtar.
"Waalaikumsalam..." Lintang dan Akhtar kompak menjawab.
"Tadi pada ngobrolin apa?" tanya Akhtar dengan wajah datar.
Shaka dan Caraka saling tatap melihat pria setengah tua itu menatap keduanya tanpa ekspresi.
"Heheh... Nair, om!" jawab Shaka.
"Kenapa, Nair?" tanya Akhtar dengan nada datar.
Keduanya saling tatap lalu meminta penjelasan dari Rion dan Nath yang terlihat jelas sedang mengulu*m senyum.
"Ada yang salah, Bang!" bisik Shaka pada Caraka.
"Heem!" gumamnya pelan. Caraka menyikut lengan Shaka dan memberi kode padanya untuk duduk di sofa.
Keduanya perlahan duduk pura-pura tak terjadi apa-apa.
"Nair kenapa?" tanya Akhtar lagi.
"Ehm.. anu... Kita dapet kabar kalau Nair kena musibah saat honeymoon, Om!" jawab Shaka gugup.
"Terus! Kalian becandaain?"
"Heheh... biasanya juga gitu, Om. Biar gak terlalu tegang!" Jawab Caraka.
"Kalian tahu?" Akhtar menunjuk Nath dan Rion. "Mereka berdua, om hukum karena bercanda disaat yang gak tepat."
"Di dapur ada Kak Bi dan kak Zoy!"
"Di belakang ada Bang Zra."
"Kalian berdua! Bantu Ezra buat bara api!" Perintahnya menunjuk halaman belakang.
Shaka dan Caraka saling tatap. "Jangan bingung!" keduanya kembali menatap Akhtar dengan ekspresi kebingungan.
"Om gak suka kalian jadikan anak om yang sedang kena musibah sebagai bahan candaan!"
"Dateng tuh tanya kabar baik-baik! Bukan terbahak-bahak mengejek orang yang sedang kesusahan!"
"Ceramah dimulai!" Rion berbisik pada Nath.
"Diam Yon! kalau gak mau kena peluru nyasar!" bisik Nath.
"Sekarang kebelakang!"
Perlahan Shaka dan Caraka berjalan ke belakang. Mereka mengangguk hormat pada Naira.
"Sehat kakak ipar?" tanya Caraka.
"Alhamdulillah, sehat."
"Maafkan papa," lanjutnya.
"It's okey!" Caraka mengacungkan jempolnya. "Tensi diatas normal kayaknya." Lalu ia berlalu melewati Naira.
__ADS_1
Naira langsung masuk ke kamar dimana ada Prince dan Baby Nara di dalamnya.
"Kak..." Shaka menyapa Bi dan Zoya. "Kenapa?" Ia menunjuk Akhtar dengan dagunya.
Keduanya kompak mengangkat bahu. "Tauu!"
"Dih, kompak amat!" Shaka dan Caraka meninggalkan dapur.
Keduanya memeluk Nair yang duduk di gazebo. "Apa kabar, bro!" tanya Caraka. "Aman semua?"
"Alhamdulillah, agak mendingan!"
"Aman, kok!" lanjutnya.
"Om Akhtar kenapa? Stok obat abis kah?" tanya Shaka.
Nair tertawa tanpa suara. "Lagi jutek karena anak-anaknya bikin masalah."
"Kalian malah datang nambah masalah."
"Ck! Sedekali cek tekanan darahnya, Nair." ucap Caraka menasehati.
"Normal, Cak."
"Coba ajak healing! Tipis-tipis aja! Gak perlu jauh yang penting..."
"Shaka. Caraka! Bantu Ezra! Bukan om suruh ghibah!" Suara Akhtar dari dalam rumah mengagetkan mereka. Kalimat Caraka bahkan belum ia selesaikan.
"Allahuakbar!" Shaka menggeleng pelan. "Cctv otomatis nyambung ke tv apa gimana sih! Tau aja orang belok sedikit!" Tak urung Shaka tertawa kecil.
"Ayo bang! Jangan nambah masalah disini!" Ajaknya pada Caraka.
"Ge we es bro!" Shaka menepuk bahu Nair.
"Thanks, Ka."
"Telpon aja Nair, kalau butuh recomendasi dokter terbaik!"
****
Seluruh keluarga berkumpul di rumah besar Akhtar. Ia meminta kedua putrinya memasak banyak makanan karena ia tahu, besannya akan datang.
Ia juga mengundang kedua orang tuanya, mertua, adik dan adik ipar bahkan besannya untuk makan malam di rumah itu sebagai rasa syukur karena Naira dan Nair masih diberi kesempatan untuk berkumpul kembali dengan mereka semua.
Acara makan malam selesai. Sebagian orang berkumpul di halaman belakang dan para orang tua berkumpul, berbincang di ruang keluarga.
Di halaman belakang.
"Maafkan Papa."
"It's okey Nair!" Bintang menepuk bahu adiknya. "Kita yang juga udah kelewatan."
Mereka bercerita kepada Shaka dan Caraka mengapa mereka dihukum oleh Akhtar. Disana juga ada Chiara, Lovely dan Shakilla.
"Kalian keterlaluan sih!" Chiara ikut kesal. "Harusnya kalian tuh dihukum lebih dari ini." Chiara menunjukkan wajah sinisnya kepada Rion-Abangnya.
"Udah deh! Gak usah sok kayak psikopat gitu!" Rion mengusap wajah Chiara yang sepertinya terlalu terbawa suasana.
"Heem! Kamu terlalu imut untuk jadi psikopat!" Celetuk Caraka tanpa sadar.
"Astagfirullah!" Syakila mencubit masnya. "Sempetnya nge-gombal!"
Chiara menatap Caraka sekilas lalu menaikkan satu sudut bibirnya. "Bener banget Sya!"
"Akun juga masih sering di tag sama mantan! Eh malah sok ngegombal." lanjut Chiara.
"Jangan mau sama mas caraka, Chi. Stok cewek sama stok obat sama banyaknya." timpal Syakilla.
__ADS_1
"Astagfirullah dek! Berdosa fitnah Abang sendiri." Caraka tak terima dengan tuduhan adiknya.
"Hemm!" Lovely yang tengah tiduran di atas rumput yang di lapisi karpet itu berdehem. "Tolong kalian hargai abangku yang setahun belakangan susah move on!" Shaka langsung menatap adiknya.
"Pertemuan singkat, tapi cintanya melekat."
"Tuh cewek udah move on di Jepang! Dia masih nunggu terus!"
"Apaan sih, Lov!" Shaka tak terima.
"Kelihatan, Lov! Sampe lebih betah di Kalimantan dibanding di Jakarta itu karena apa?" Nath menyambung. "Karena kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan."
Mereka semua kompak tertawa. Siapa yang tidak tahu kisah Shaka dan gadis bernama Syafa itu.
"Kalian berlebihan." Shaka memasang ekspresi datar dan langsung menatap ponselnya. Ia sedang membenarkan dalam hatinya tentang semua perkataan saudara-saudaranya bahwa Syafa adalah kenangan manis yang menggoreskan luka.
"Hemm!" Suara Akhtar membuat mereka semua terkesiap. Semua orang membenarkan posisi duduk. Bahkan yang tadinya tiduran, langsung bangun dan duduk bersila.
Akhtar duduk di samping Nair yang memang sedang duduk di kursi.
"Gak usah tegang! Om bukan satpol PP yang mau merazia kalian."
"Om cuma mau bilang."
"Berubahlah! Selipkan sedikit keseriusan dan kedewasaan dari hubungan kalian."
"Om sadar. Kegil*an kalian itu menurun dari hubungan Om, dan papa-papa kalian."
"Bagaimana om dan Ray-papanya Rion. Bagaimana Om dan tante Sora, bagaimana Om dan Ayah Satya. Om sadar itu."
"Itulah kami. Bahkan sampai dewasa belum bisa menempatkan diri dimana saatnya bercanda dan saatnya serius."
"Untuk itu, berubahlah demi putra-putri kalian kelak."
"Boleh bercanda. Tapi coba lihat situasi."
"Jangan sampai anak-anak belajar dari cara kalian yang salah."
"Bi sudah punya 2 anak. Zoy sudah punya Zidane. Nath, kamu sudah jadi Ayah." Nath mengangguk pelan.
"Kelak kalian akan menyusul." tunjuk Akhtar pada yang lain.
"Bersimpatilah bila memang itu saatnya untuk bersimpati."
"Khawatirlah jika memang kalian khawatir."
"Bercandalah jika memang sedang dalam suasana yang tepat."
"Om gak marah. Papa gak marah sama kalian."
"Tapi Papa mau kalian sedikit saja tunjukkan kedewasaan kalian."
"Jangan jadikan teman dan saudara kalain yang baru saja terkena musibah sebagai bahan candaan."
"Hibur dengan cara yang baik."
"Papa harap anak-anak papa faham. Om harap kalian juga faham."
"Terima kasih, karena kalian terus kompak dan menjaga silahturahmi antar saudara dan sahabat." Akhtar menghembuskan nafas lega karena ia akhirnya bisa menjelaskan mengapa ia marah.
"Papa kedalam dulu, Nair!" pamitnya
"Semuanya. Om pamit." Akhtar meninggalkan mereka dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Huuuhhh!!!" Mereka menghembuskan nafas lega saat tubuh Akhtar menghilang di balik pintu belakang.
"Ingat! Belajar bersikap dewasa!" Ucap Ezra sambil terkekeh.
__ADS_1
"Nah kan! Yang tua aja gak bisa serius!" Rion menunjuk Ezra sambil tertawa. Usia Ezra memang yang paling tua diantara mereka semua meski tak jauh berbeda dari Bintang dan Zoya.
Seketika suasana ramai dipenuhi gelak tawa mereka semua.