EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 40 Suami gak jelas


__ADS_3

"Tia ... Bangun!" Bu Nurul mengguncang tubuh Tiara pelan.


Bu Nurul terpaksa bangun saat Naura membangunkannya dan mengatakan Tiara tidur di kamarnya. Tempat tidur yang sempit untuk berdua membuat Naura sulit tidur. Hingga ia meminta Ibunya untuk membangunkan kakaknya.


Tiara menerjapkan matanya. "Bu ... Tia masih ngantuk."


Tiara malah semakin erat memeluk guling adiknya. Ranjang untuk satu orang itu sudah dikuasainya sendiri. Naura yang sudah mengantuk berat terus saja merengek.


"Ti ... suami kamu, kamu tinggal sendirian. Dosa Nak."


Tiara langsung terduduk dan matanya terbuka lebar. Bagaimana bisa dalam sekejap ia lupa bahwa ia telah menikah?


Tiara menatap ibunya. "Kembali ke kamar, Ti!"


Tiara bingung. Apa yang akan terjadi jika dia hanya berdua dengan Nath. Pasti akan sangat canggung.


"Gak boleh tidur disini, Bu."


Ibunya tersenyum dan menggeleng. "Kembali ke kamar, Ti. Dia suamimu, bukan orang lain."


"Kamu belum siap? Bicara baik-baik, tapi setidaknya temani dia."


Perlahan Tiara turun dari ranjang. Dengan langkah gontai ia meninggalkan kamar Naura dan pindah ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar adiknya.


Lampu ruang tamu dan dapur sudah padam. Itu artinya semua orang sudah tidur. Tiara memegang handle pintu kamarnya dengan sedikit ragu dan jantung berdebar hebat, perlahan ia masuk ke dalam.


***


Nath menggeliat dan meregangkan tubuhnya. Ia melihat sekeliling dan tak menemukan Tiara di kamar ini. Ia melihat jam dinding sudah jam 10.50. Mungkin Tiara tidur dengan Naura.


Nath bangun dan mengganti celana jeans selututnya dengan boxer yang ia ambil di lemari. Kamar ini lumayan panas. Hingga Nath membuka bajunya dan bertelanjang dada.


Ia menutup tubuh bagian bawahnya dengan selimut dan kembali memejamkan mata. Ia bisa mendengar seseoang tengah berbicara tapi tidak jelas apa yang dibicarakan.


Mungkin Tiara dan Naura belum tidur. Batinnya.


Tak lama Nath mendengar suara handle pintu yang terbuka. Nath tetap memejamkan matanya. Ia khawatir jika Tiara masuk dan malah terjadi kecanggungan yang ia sendiri masih belum tau bagaimana cara mengatasinya.


Tiara melihat Nath terlelap tanpa memakai baju. Huuft bagaimana aku biaa tidur jika dia tidur tanpa pakaian begitu? Jangan-jangan dibalik selimut itu dia tidak memakai apa-apa?


Tiara bergidik ngeri. Apa jangan-jangan dia menginginkan itu?


Huuft! Tiara menghembuskan nafas berat. Ia perlahan mendekati Nath dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Tapi dalam sekejap, Nath memiringkan tubuh dan menurunkan selimutnya. Kamar ini memang terasa panas membuat Nath tak tahan jika tubuhnya ditutup selimut walau hanya sebentar.


"Bang!" Tiara mengguncang bahu Nath.


Nath masih enggan membuka matanya. "Bang!" Tiara kembali mengguncang tubuh Nath.


"Ehm ..." Nath pelahan membuka matanya dan melihat Tiara berdiri di sampingnya. "Ada apa, Ti?"


"Pake baju, Bang. Aku gak bisa tidur kalau kamu begini."


"Panas, Ti."


"Pakai kipas angin, ya?"


Nath mengangguk pelan. "Ada?" tanya Nath.


"Itu." tunjuk Tiara pada kipas angin di sudut kamar. Selama tinggal di rumah Zoya kipas angin itu memang jarang digunakan.


Nath bangun dan turun dari tempat tidur dan mengambil kipas angin tersebut dan menghubungkan dengan stopkontak di dinding sebelah ranjang.


Nath heran melihat Tiara yang menutup wajahnya. Ia sudah menyalakan kipas angin dan duduk di atas ranjang menghadap Tiara.


"Kenapa wajah kamu ditutup begitu, Ti?"


"Itu, pakai celana dulu." bisiknya pelan.


Nath menunduk dan melihat bagian bawah tubuhnya. Boxernya masih terpasang. Lalu mengapa istrinya itu malah menyuruhnya memakai celana.

__ADS_1


Nath tersenyum licik. Sudah lama ia tidak mengerjai Tiara semenjak dipingit selama seminggu.


"Males," jawabnya pelan.


"Tutup pakai selimut!" perintahnya.


"Gak mau!"


Tiara berdecak. "Cepat, Bang! Aku udah ngantuk, nih."


Nath membaringkan tubuhnya dan tidur miring memeluk guling. "Udah."


Tiara menurunkan tangannya dan matanya membulat sempurna saat melihat Nath masih memakai boxer.


Tiara mencubit pinggang Nath geram. "Bukannya bilang, kalau masih pakai boxer. Ngerjain terus kerjanya!"


"Aduh! Aduh, Ti," teriak Nath agak kuat. Tiara refleks menutup mulut Nath agar suaranya tidak di dengar oleh ayah dan ibu apalagi tetangga.


"Bisa diem gak!" bisik Tiara pelan. Posisinya saat ini sedikit menunduk.


Nath mengangguk pelan. Tiara melepaskan tanganya dan berjalan setengah memutari ranjang, naik dan tidur di sebelah Nath.


Karena kamar ini sempit, salah satu sisi ranjang menempel dengan dinding. Dan Tiara terjepit antara dinding dan Nath. Ia memilih memeluk guling dan menghadap ke dinding.


Malam pertama dianggurin. Dan sampai kapan ini akan berlangsung, Nath? Batin Nath


Nath tidur telentang. Ia menatap langit-langit kamar Tiara. "Ku fikir kamu mau tidur sama Naura, Ti."


"Ehm... tapi dimarahin Ibu."


Nath menatap ke samping. Ia melihat rambut hitam agak panjang itu terurai di atas bantal. Sepertinya tubuh mungil itu enggan berbalik kearahnya.


"Aku gak apa-apa. Kamu kalau gak nyaman, pindah lagi aja kesana. Atau aku tidur di luar tamu."


Tiara diam tak menyahut. Ia belum tidur, matanya bahkan masih terbuka. Saat ini gadis itu hanya bisa menggigit bibirnya merasakan gugup, canggung dan sedikit rasa bersalah karena tidak membuat Nath merasakan malam pertama seperti kebanyakan pengantin.


Setelah statusnya berubah, ia merasa lebih takut dengan dosa karena tidak melayani suaminya dengan baik dibanding rasa egonya untuk tidak ingin disentuh tanpa rasa cinta.


Ayah bilang cinta saja tidak cukup. Harus ada komitmen dan rasa tanggung jawab. Jika aku saat ini menjalankan kewajibanku meski tak ada cinta, apa tidak apa-apa*?


Tiara bingung. Batinnya bergejolak dan ia terkesiap saat merasakan Nath bergerak dari posisinya. Ia membalikkan tubuh dan benar saja, Nath sudah menurunkan kakinya.


Tiara menahan tangan Nath. "Tidur disini aja, Bang."


Nath mematung dan menatap tangan Tiara yang menahan tangannya. Ia teringat, kejadian malam itu terjadi karena Tiara menahan tangannya dan menyebut nama Reyga.


Jangan terulang lagi, Nath. Batinnya.


"Jangan diluar. Besok pagi kita bisa diamuk ibu sama ayah," gumam Tiara pelan.


Nath kembali menaikan kakinya keatas rajang. Ia seperti seekor kucing yang menuruti majikannya.


Nath dan Tiara berbaring. Jarak mereka sangat dekat. Bahu mereka bahkan hampir bersentuhan.


"Tidurlah, Ti." Tiara langsung menatap Nath. Hidung mancung dan bibirnya yang agak tebal tak luput dari pandangannya.


"Jangan menatapku lebih dari 5 detik."


"Ck!" Tiara berdecak. Ia ketahuan telah mengagumi ciptaan Tuhan di sampingnya ini.


Entah siapa yang terlelap duluan, tapi yang pasti keduanya tertidur pulas sampai suara qiroah dari pengeras suara masjid terdengar.


Dan sepasang pengantin baru itu masih terlelap. Tapi Nath perlahan mulai membuka mata saat merasakan hembusan nafas menyapu wajahnya.


Nath terkejut saat melihat wajahnya dan Tiara sangat dekat. Bahkan bibir keduanya sudah menempel. Nath tidak bergerak sedikitpun karena squishy itu jelas terasa menekan lengannya dan kaki Tiara saat ini tengah berada di area terlarang miliknya.


Sesuatu yang terbangun di bawah sana membuat otak Nath tiba-tiba memikirkan sesuatu yang lain.


Cobaan di hari pertama. Huuft!


*Bukankah h*ubungan kami halal dan aku berhak? Hatinya berkata demikian karena hasratnya sudah diubun-ubun.

__ADS_1


Nath perlahan menyatukan bibir mereka dan mengulang rasa manis yang pernah ia rasakan. Masih sama.


Tiara perlahan menggeliat dan Nath kembali menutup matanya.


Tiara membuka mata dan melihat wajah Nath sangat dekat dengannya. Hampir saja ia berteriak, tapi untung saja otaknya cepat bekerja.


Tiara menatap wajah Nath yang masih tertidur pulas. "Kalau merem begini kan lumayan, gak ngeselin," gumamnya pelan bahkan lebih seperti orang yang berbisik.


Nath, hatinya tergelitik saat mendengar suara Tiara. Gadis itu bahkan tidak menyadari kakinya sedang berada dimana.


"Ehhm... Selamat pagi suami gak jelas," bisiknya pelan.


Selamat pagi juga istri gak jelas. Batin Nath geli.


Tiara menggerakkan kakinya dan tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang ia tahu adalah....


"Mati!" gumamnya pelan. Tiara langsung bangun dan duduk di ranjang.


Ia mengguncang tubuh Nath dan memanggilnya. "Bang, udah subuh."


"Bang. Isssh, kebo!" Padahal Nath hanya pura-pura tertidur pulas.


Tiara mencubit put*ng Nath sangking kesalnya. "Aduh!" Nath langsung membuka matanya dan melihat Tiara duduk disebelahnya.


"Sakit, Ti."


"Biarin!" Tiara menjulurkan lidahnya dan akan turun dari ranjang. Tapi Nath menahannya. "Ti."


"Kenapa?" tanya Tiara.


Nath melepaskan Tiara. "Gak jadi."


"Apa?" Tiara mengejar Nath yang sudah lebih dulu mengambil handuk yang digantung di belakang pintu.


"Gak apa-apa," jawab Nath.


Tiara kesal. Ia sebenarnya hanya takut Nath menertawakan saat ia tidur malam tadi. Apakah ia mendengkur, atau ngiler?


Tiara berdiri dibelakang pintu dan menahannya, tak membiarkan Nath keluar sebelum menjawab pertanyannya.


"Awas, Ti."


"Jawab dulu kenapa?"


"Yakin mau dengar?" Tiara mengangguk mantap. Ia menatap dada putih dan lebar yang berada tepat di depan matanya itu.


"Kamu tadi nyubit apa?"


"Itu." Tunjuk Tiara pada put*ing Nath dengan memonyongkan bibirnya.


"Kalau aku gak terima dan bales kamu, gimana?"


Tiara membulatkan matanya. Ia mematung ditempat.


"Awas, Ti. Mau aku bales dan kita berakhir disana?" Nath menunjuk ranjang. "Atau biarkan aku keluar dan pergi ke masjid?"


Tiara segera menyingkir dari pintu. Nath membuka pintu dan berbisik padanya. "Baru diancam begitu udah nyerah. Lemah!"


Tiara geram. Ia meraih handuknya dan mendorong tubuh Nath untuk berjalan ke dapur dan masuk ke kamar mandi.


"Mandi sana! Keburu ditinggal ayah!"


Nath tertawa pelan. "Mandiin dong!" candanya.


Tiara mencubit perutnya. "Ada Ibu, ngomong itu yang bener!" Nath terbahak dan Tiara tersipu malu saat Ibunya senyum-senyum menatapnya.


***


Ini bonus sampai 1400 kata ☺


Lanjut besok lagi 😄

__ADS_1


Jejak kalian dong untuk pasangan manis ini 😂


__ADS_2