
"Bukan begitu Fatia. Maksud aku, kalau kamu mau, aku bisa nikahin kamu dan ceraikan istri aku. Dan kita bisa kembali bersama demi Vino. Aku yakin, Vino pasti akan bahagia jika kita bersatu."
"Terus, kamu fikir, aku akan mau gitu, menerima ide konyol kamu? kamu fikir, aku mau jadi orang ke tiga dalam kehidupan rumah tangga kamu. Sorry ya Mas. Aku bukan wanita gampangan seperti apa yang ada di dalam fikiran kamu. Kamu fikir, pernikahan itu hanya sebuah mainan. Bukan Mas."
Andre diam. Dia hanya bisa mendengar dengan seksama ucapan demi ucapan yang Fatia lontarkan padanya.
"Mas, aku itu sangat mencintai Mas Remon. Aku nggak pernah memandang harta kekayaan seorang lelaki. Bagi aku, jika dia mau setia sama aku, dia lah orang yang aku pilih menjadi suamiku. Bukan lelaki yang model plin plan kayak kamu. Dulu, katanya kamu mau nunggu aku. Tapi, kamu malah nikah sama Carisa."
Fatia melepaskan genggaman tangan Andre.
"Aku mau pulang sekarang. Aku nggak mau membuang waktuku sia-sia seperti ini. Aku fikir, kamu mau bicara apa. Ternyata cuma pembicaraan yang nggak berguna seperti ini."
"Baiklah Fatia. Aku akan antar kamu pulang. Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, aku pun nggak akan melarang kamu untuk menikah dengan Remon, tapi aku harap, kamu mau menyerahkan Vino untuk aku."
Fatia terkejut saat mendengar ucapan Andre.
"Apa! menyerahkan Vino ke kamu bagaimana maksudnya?"
"Kalau kamu, mau nikah sama Remon, kamu harus membolehkan Vino untuk ikut denganku. Aku yang akan merawat dan mengurus Vino sampai dia dewasa. Aku nggak mau Vino tinggal sama ayah tirinya."
"Apa! mudah banget kamu bicara seperti itu. Apa kamu nggak ingat dengan perlakuan kamu dulu ke anak kamu. Waktu dia masih dalam perut aku, kamu menyuruh aku untuk menggugurkannya. Dan sekarang, kamu semudah itu ingin membawa Vino? aku nggak akan pernah membiarkannya Mas."
"Fatia. Tolong jangan egois. Vino itu juga darah daging aku. Izinkanlah Vino untuk ikut bersama ku. Aku juga ingin dekat dengan Vino. "
"Tapi aku juga nggak mau Mas, Vino tinggal dengan ibu tirinya. Karena Carisa itu tidak sayang sama Vino. Kemarin aja, Vino sampai hilang. Karena kamu dan Carisa itu ceroboh dan teledor."
"Maafkan aku untuk soal kemarin. Aku nggak akan pernah melakukannya lagi. Tolong Fatia. Izinkanlah Vino untuk tinggal bersama aku dan Carisa lebih lama. Aku ingin punya banyak waktu untuk Vino."
"Yah, kita lihat saja nanti Mas. Kalau kamu ingin Vino untuk sementara tinggal bersama kamu, kita bisa atur waktunya. Lagian kita sudah janji kan, kalau kita akan bersama-sama merawat Vino dan membesarkan dia. Aku nggak akan egois. Tapi, kita harus tanyakan dulu ke Vino. Dia lebih nyaman tinggal dengan siapa. Kita tidak boleh memaksanya."
Andre tersenyum. Walupun hatinya sakit, tapi setidaknya sekarang Fatia akan membebaskan Andre untuk bertemu dengan Vino.
****
Hari yang di tunggu-tunggu Fatia dan Remon, akhirnya datang juga. Pernikahan Fatia di gelar sederhana di rumah Remon sang mempelai lelaki. Karena rumah orang tua Remon lebih luas dari rumah orang tua Fatia. Makanya, Remon dan Fatia, lebih memilih untuk akad nikahnya di rumah Remon saja.
Fatia tidak ingin memberatkan Remon. Dia hanya ingin pernikahan yang sederhana saja, tanpa menyewa gedung atau segala macam. Cukup di rumah saja, mereka mengesahkan pernikahannya.
__ADS_1
Semua tamu yang di undang Fatia dan Remon, sudah tampak hadir di dalam pernikahan itu. Begitu juga dengan Andre yang membawa istri dan Tata anaknya juga ke acara pernikahan itu.
Fatia masih berada di dalam kamarnya. Dia masih tampak di rias oleh seorang perias.
"Sudah selesai Mbak. Ayo kita keluar."
Fatia mengangguk.
Pernikahan ini, memang bukan yang pertama kalinya untuk Fatia. Namun, pernikahan ini adalah pernikahan pertama Fatia yang akan di resmikan secara hukum negara dan agama. Karena waktu menikah dengan Andre dulu, dia hanya menikah secara siri.
Fatia menuruni anak tangga dan berjalan ke arah di mana Remon sudah duduk di depan penghulu.
Semua tamu undangan menatap Fatia yang saat ini, terlihat sangat cantik. Walau dia sudah tidak muda lagi, dan sudah punya anak satu, namun dia masih terlihat sangat mempesona.
Vino tersenyum saat melihat ibunya. Dia kemudian duduk di belakang Remon untuk menyaksikan akad nikah ibunya dengan Remon.
Andre sejak tadi, masih menatap Fatia tanpa berkedip. Entah apa yang dia rasakan sekarang. Mungkin saja dia kecewa karena dia tidak bisa mendapatkan hati Fatia lagi sejak dia melukainya beberapa tahun yang lalu.
Andre sudah berkali-kali merujuk Fatia, dan ingin menikahinya secara resmi, tapi Fatia tidak pernah mau.
Erin sahabat yang dulu selalu membela Fatia pun turut hadir di pesta sederhana itu. Erin sekarang sudah punya anak dari Adi lelaki yang dulu pernah sekantor dengan Fatia. Namun, Erin sekarang sudah tidak bekerja di kantor Andre lagi. Namun, dia hanya mengurus anaknya saja di rumah.
Ijab kabul itu pun akhirnya dilakukan.
"Saya terima, nikahnya Fatia binti Efendi dengan mas kawin tersebut di bayar tunai...!"
"Bagaimana saksi sah? sah?"
"Sah..."
"Alhamdulillah..."
Setelah pernikahan itu di sahkan, penghulu pun membacakan doa untuk ke dua pengantin itu.
Remon menatap Fatia. Dia tersenyum, dan tanpa rasa canggung lagi, Remon langsung mencium kening Fatia.
Remon juga menyematkan cincin ke jari manis Fatia. Fatia meraih tangan Remon dan mencium punggung tangan Remon.
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan melihat kebahagiaan ke dua pengantin itu. Namun tidak dengan Andre. Dia malah membuang mukanya dan memutuskan untuk pergi ke luar dari rumah Remon..
"Akh...dadaku...!" pekik Pak Wibowo yang membuat semua orang menatapnya.
Tiba-tiba saja, Pak Wibowo memegang dadanya dan pingsan di atas kursi rodanya.
Remon bangkit dari duduknya dan menghampiri ayahnya yang sudah pingsan di atas kursi rodanya.
Daren yang sejak tadi masih ngobrol dengan adiknya Fatia, buru-buru menghampiri Pak Wibowo dan membantu Remon.
"Pak Daren, tolong bantu saya untuk mengangkat ayah saya. Saya harus membawanya ke rumah sakit sekarang!" pinta Remon..
Pak Fendi tidak tinggal diam. Saat Remon dan Daren menggotong tubuh Pak Wibowo ke luar rumah, Pak Fendi mengikuti dibelakangnya.
Pak Fendi buru-buru membuka pintu mobil Remon. Dia ikut membantu Remon memasukan Pak Wibowo ke dalam mobil.
Andre masih menatap dari kejauhan.
"Ayahnya Remon kenapa?" gumam Andre.
Beberapa saat kemudian, Fatia yang masih memakai kebaya pengantin keluar dan berlari menuju ke mobil Remon.
"Mas aku ikut!"
"Nggak usah Fatia. Kamu tunggu di sini saja. Biar aku sama mama yang ke rumah sakit. Kamu harus temani tamu-tamu kita."
"Baiklah Mas."
Remon dan Bu Rima kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah.
Fatia hanya bisa menangis melihat kepergian suami dan mertuanya.
"Hiks...hiks... kapan cobaan ini akan berlalu ya Allah," ucap Fatia.
Nessa buru-buru menghampiri kakaknya.
"Ayo kita masuk Kak. Tamu-tamu, sudah menunggu kita di dalam. Kita harus temui tamu-tamu kita."
__ADS_1
Nessa merangkul kakaknya dan membawa Fatia masuk ke dalam rumahnya.