
Tok tok tok...
Suara ketukan keras sudah terdengar dari luar rumah Alena. Alena yang sejak tadi masih bersama Tata di kamar, mengintip dari balik jendela.
Alena terkejut saat melihat Carisa.
'Ya ampun, itu kan Kak Carisa. Dari mana dia tahu alamat rumah aku. Aku harus gimana nih. Aku harus sembunyikan Tata di mana. Aku nggak mau, sampai Kak Carisa membawa Tata. Tata harus ikut tinggal bersama aku,'
"Siapa Tante?" tanya Tata.
Alena menoleh ke arah Tata.
"Tunggu ya sayang. Ada orang di luar. Tante buka pintu dulu."
Tata mengangguk.
Sebelum pergi dari kamarnya, Alena menatap Tata lekat.
"Tata, dengar Tante ya. Tante mau ke luar dulu sebentar. Tata di sini aja ya. Tata nggak boleh ke mana-mana. Tunggu Tante sampai Tante kembali ke sini."
"Iya Tante."
Alena kemudian keluar dari kamarnya. Dia tidak lupa mengunci pintu kamar Tata agar Tata tidak berlari ke luar.
Alena berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu depan.
"Kak Carisa. Ada apa? kenapa kakak bisa tahu alamat aku?" tanya Alena tampak gugup saat melihat Carisa.
"Kamu nggak perlu tahu, aku tahu dari mana alamat rumah kamu. Aku ke sini, cuma mau jemput anak aku," ucap Carisa menatap tajam ke arah adiknya.
"Apa maksud kamu Kak? Tata nggak di sini kok,"
"Jangan bohong kamu Alena. Kamu tahu kan siapa aku? aku nggak akan pernah bisa kamu bohongin. Aku tahu, kalau anak aku ada di sini. Mana Tata?"
"Dia nggak ada Kak."
"Jangan bohong. Aku tahu, kamu pasti menyembunyikan Tata di dalam kan."
Tanpa izin dari Alena, Carisa menyerobot masuk ke dalam rumah Alena. Dia teriak-teriak memanggil Tata. "Tata...! Tata...! kamu ada di dalam kan Tata...! Tata...ini mama Tata...!"
Tata yang mendengar suara mamanya, segera berjalan mendekati pintu.
"Duh, kenapa pintunya terkunci," ucap Tata saat dia tidak bisa membuka pintu karena dikunci dari luar.
"Mama...! Mama...! aku ada di sini Mama...!" seru Tata dari dalam kamarnya.
'Duh, Tata. Kacau semua rencana aku. Kenapa Kak Carisa harus datang ke sini segala sih,'
Carisa menatap ke arah kamar di mana suara anaknya berasal.
"Aku yakin, pasti kamu sembunyikan anak aku di kamar itu kan!" Carisa menunjuk ke salah satu kamar Alena.
Carisa kemudian mendekat ke arah kamar itu.
__ADS_1
"Mama...! aku di sini mama...!"
Carisa menatap tajam Alena.
"Tolong Kak, jangan bawa Tata. Aku nggak punya siapa-siapa sekarang Kak. Aku hanya punya Tata. Aku rindu anak aku. Aku ingin hidup bersama Tata Kak. Aku ingin menebus semua kesalahan aku sama Tata."
"Hentikan tangisan buaya kamu itu. Sekarang, mana kuncinya? tega banget kamu jadi ibu. Kamu sudah membuang Tata, sekarang kamu ngunci dia di kamar."
Karena Alena yang tidak sanggup mendengar teriakan Tata, akhirnya Alena menyerahkan kuncinya pada kakaknya.
"Ini kak."
Carisa kemudian membuka pintu kamar Alena. Dia terkejut saat melihat penampilan Tata yang sangat kusut.
"Mama..." Tata memeluk Carisa erat.
"Tata. Sekarang kita pulang yuk Nak?" ajak Carisa.
Tata menatap Alena. Nampaknya, Tata tidak tega harus meninggalkan Alena. Entah kenapa, walau Tata baru kenal dengan Alena, tapi dia sudah merasa dekat dengan Alena.
Alena hanya diam. Sejak tadi dia tidak berhenti menangis. Sementara Carisa sudah memaksa Tata ikut pulang dengannya.
Carisa memasukan Tata ke dalam mobil. Setelah itu, dia meluncur pergi meninggalkan rumah Alena.
"Tata. Kenapa kamu pergi nggak Izin dulu sama mama?" tanya Carisa di sela-sela menyetirnya.
"Maaf Ma," ucap Tata sembari menundukkan kepalanya.
Hiks...hiks...hiks...
Tata tiba-tiba saja menangis. Tata memang sering sekali menangis saat Carisa memarahinya. Karena Carisa itu sebenarnya memang galak sama anaknya.
"Tata. Jangan nangis terus dong. Bisa diam nggak sih?" Carisa udah benar-benar habis kesabaran.
Carisa tiba-tiba saja, ngerem mendadak. Yang membuat Tata semakin takut.
"Tata...! kamu dengar kan mama bilang apa? kamu jangan pernah mau ikut dengan orang asing apalagi seperti Tante tadi...!" bentak Carisa.
"Dia bukan orang asing Ma. Tapi dia Tante aku. Adiknya mama," ucap Tata.
Carisa terkejut saat mendengar ucapan Tata.
'Dari mana Tata tahu, kalau Alena adik aku. Apa yang sudah Alena katakan sama Tata. Duh, gawat. Aku harus lebih ekstra nih menjaga Tata. Jangan sampai aku kecolongan lagi seperti hari ini,'
Chiiiitttttt
Tiba-tiba saja, Carisa menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Kenapa berhenti Ma?" tanya Tata.
"Tata, apa saja yang Tante itu katakan sama kamu?" Carisa menatap tajam ke arah anaknya.
Tata diam. Memang sudah ada banyak hal yang diceritakan Alena ke Tata. Alena juga sudah mengatakan kalau dia adalah ibu kandung Tata. Tapi nampaknya, Tata belum percaya kalau dia tidak menanyakan langsung sama Papa dan mamanya.
__ADS_1
'Apa benar, kalau aku anaknya Tante Alena. Apa benar kalau mama dan papa bukan orang tua kandung aku. Tapi, aku masih nggak percaya. Kan dari bayi, aku sudah sama mama dan papa'
"Tata. Kenapa kamu diam aja? apa yang sedang kamu fikirkan? Tante tadi, bilang apa aja sama kamu?" tanya Carisa penasaran.
"Dia nggak bilang apa-apa kok Ma. Dia cuma bilang, kalau dia adiknya mama. Apa itu benar Ma?"
"Nggak sayang. Itu semua nggak benar. Mama aja nggak kenal sama Tante tadi."
"Benarkah Ma? kok mama tahu alamatnya? dan kenapa Tante tadi kenal sama mama? apa mama bohong ya?"
"Mama nggak bohong kok sayang. Mama memang nggak kenal sama Tante itu."
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Tata.
"Mama capek sayang. Kita ke cafe dulu yuk! mama lapar, ingin makan."
"Iya deh Ma. Terserah mama aja."
"Ya udah. Jangan nangis lagi dong Tata. Maafin Mama ya udah kasar sama kamu."
****
Pagi-pagi, Carisa sudah tampak rapi. Dia tampaknya sudah siap mau pergi. Pagi-pagi sekali, Carisa sudah sampai di ruang tengah.
"Carisa. Tumben banget pagi-pagi banget kamu udah siap?" tanya Andre yang saat ini, sudah duduk di ruang tengah menunggu Bik Ijah dan ibunya memasak.
"Aku mau pergi ke luar Mas. Ada urusan sebentar di luar," jawab Carisa sembari menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat Andre.
"Mau ke mana?" tanya Andre.
"Ya, cuma ada janji doang kok sama teman."
"Terus Tata?"
"Kalau kamu nggak sibuk, tolong dong Mas antarkan Tata ke sekolah. Kali ini aja Mas. Aku lagi ada urusan penting banget soalnya."
"Kamu mau berangkat sekarang?"
"Iya Mas. Aku mau berangkat sekarang."
"Ya udah. Tata udah siap kan?"
"Tata ada di kamar Mas sama Bik Ijah. Dia udah rapi kok. Udah mandi, dan udah ganti baju. Tinggal berangkat aja."
"Oh, begitu? ya udah. Sana Kalau kamu pergi. Nanti biar aku yang antar anak kamu."
Carisa tersenyum.
"Makasih ya Mas." Carisa kemudian mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan suaminya.
Setelah berpamitan pada suaminya, Carisa kemudian keluar dari rumahnya.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku harus tahu, hasil tes kesuburan itu."
__ADS_1