
Sore ini, Fatia masih duduk bersama Erin di ruang tamu. Setelah lama mereka tidak berjumpa, akhirnya Erin mau main juga ke rumah Fatia. Ya, tepatnya rumah Bu Rima mertua Fatia. Fatia dan Erin, tampak asyik mengobrol.
"Suami kamu belum pulang Fat?" tanya Erin menatap sekeliling rumah Fatia yang tampak sepi.
"Iya. Mas Remon pulangnya kadang malam. Kadang jam segini dia juga udah di rumah. Ngga mesti."
"Sekarang Remon itu sudah jadi orang sukses ya. Dia itu memang lelaki yang giat dan ulet. Makanya dengan sekejap, dia sudah bisa membangun bisnis yang besar."
"Iya alhamdulillah. Semuanya juga udah rezeki. Oh iya, kamu ke sini nggak ngajak anak kamu?"
"Nggak. Aku tinggal anak aku sama ibu aku. Biarin lah, biar anak aku mandiri dan nggak bergantung terus sama mamanya. Lagian aku juga ingin cari kerja lagi,"ucap Erin.
"Oh. Kamu mau kerja lagi? kenapa? kan Adi udah kerja. Dan anak kamu kasihan masih kecil. Dia juga kan belum sekolah."
"Iya. Tapi kamu tahu kan, kalau gajinya Mas Adi, mana cukup untuk kita bangun rumah. Paling juga cuma untuk makan-makan aja. Sementara aku, sudah pengin punya rumah sendiri."
"Oh, begitu. Jadi ceritanya kamu mau bantuin suami kamu gitu ngumpulin uang yang banyak untuk buat rumah."
"Yah begitulah. Kalau kamu mah enak Fatia. Punya suami dua duanya dari orang kaya semua. Dulu pak Andre, sekarang Remon. Jadi, kamu nggak pernah ngerasain hidup susah seperti aku."
"Kata siapa? semua orang pasti di uji. Semua orang pasti akan merasakan susah. Tapi ujian setiap rumah tangga orang kan beda-beda. Ada yang di uji kemiskinan, ada yang di uji dengan kekayaan, ada yang di uji dengan mertua dan juga bisa saja di uji ada orang ke tiga."
"Iya sih. Sebenarnya aku lagi bingung nih."
"Bingung kenapa?"
" Aku lagi bingung, sekarang aku mau kerja apa dan di mana ya?"
"Kenapa nggak coba daftar ke kantornya Pak Andre aja. Tempat kamu dulu kerja."
"Nggak ah, bosen aku."
"Bosen kenapa? kan biar bisa dekat dengan suami."
"Iya sih. Tapi aku malas. Kalau ada, boleh dong aku kerja di tempat suami kamu. Barang kali ada lowongan di sana."
"Em, iya. Nanti aku coba tanya sama Mas Remon. Ada lowongan nggak di kantornya. Kalau kamu sih, udah punya pengalaman pasti cepat keterima."
"Iya. Makasih ya Fatia."
Fatia mengangguk.
"Em, Fatia. Kamu tahu nggak," ucap Erin yang membuat Fatia mengernyitkan alisnya.
"Tahu apa?"
"Aku udah sering banget lho, melihat Pak Andre jalan bareng sama cewek," ucap Erin.
"Cewek siapa? Carisa?"
"Bukan. Yang ini beda. Dia lebih muda dari Carisa."
Fatia diam. Dia masih belum mengerti apa yang di ucapkan sahabatnya itu.
"Kamu serius? mungkin saja dia teman atau saudaranya."
"Bukan. Dia bukan teman ataupun saudaranya Pak Andre."
__ADS_1
"Kalau bukan teman, terus siapa? selingkuhan maksud kamu?"
"Yah, bisa jadi. Itu dia yang membuat aku penasaran sampai sekarang. Dan kamu tahu siapa cewek itu?"
"Emang siapa dia?"
"Anaknya almarhum Pak Seno."
Fatia terkejut saat mendengar ucapan Erin.
"Kamu tahu dari mana kalau wanita yang dekat dengan Mas Andre anaknya Pak Seno?
"Ya tahulah, Pak andre sendiri yang pernah ngenalin dia ke aku dan Mas Adi. Dan sekarang, wanita itu kerja juga sekantor dengan Mas Adi."
"Oh iya. Kerja di posisi apa?"
"Sekretaris."
Fatia terkejut daat mendengar ucapan Erin. Benarkah dengan apa yang dikatakan Erin kalau Andre sedang dekat dengan wanita.
Fatia tampak berfikir
'Mas Andre, lelaki yang terkenal dengan kesetiaannya, kenapa bisa dekat dengan wanita lain ya. Benarkah kalau Mas Andre udah selingkuh. Atau, ini cuma gosip aja,' batin Fatia. Fatia tidak menyangka saja dengan ucapan Erin.
"Oh iya Fat. Gimana, kamu udah ada tanda-tanda nggak?" tanya Erin mengalihkan pembicaraan.
"Tanda-tanda apa?"
"Tanda-tanda kalau kamu hamil."
"Oh, aku fikir udah. Kan usia pernikahan kamu juga sudah sebulan."
"Iya. Tapi, memang belum kok."
"Kamu dari pengantin baru, nggak ke mana-mana?"
"Nggak. Rencananya sih, ingin bulan madu. Tapi, entahlah kapan. Mas Remon juga lagi sibuk di kantor. Mama mertua aku juga baru sembuh dari sakitnya. Dan Vino juga ada di sini. Jadi bingung mau berangkat bulan madu."
"Vino sekarang ikut kamu di sini?"
"Iya."
"Apa dia nggak ganggu waktu kamu sama Remon?"
"Nggaklah. Kan dia udah ada kamar sendiri. Paling kalau dia bangun malam, dan nggak bisa tidur, dia ketuk-ketuk kamar aku dan tidur deh bareng aku dan ayahnya."
"Hehe...begitu ya, kalau masih punya anak kecil. Kita jadi nggak bebas ngapa-ngapain dengan suami. Aku juga gitu.
Fatia ikut tersenyum saat mendengar ucapan sahabatnya.
****
Malam ini, Andre masih berada di ruang tengah. Sejak tadi dia masih menatap layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Namun Andre sejak tadi belum tidur juga. Sementara anak dan istrinya sudah terlelap di kamarnya. Sepertinya Andre saat ini, sedang berbalas-balasan chat dengan seseorang.
"Carisa udah tidur belum ya," ucap Andre. "Sepertinya dia udah tidur. Nggak ada suara dia lagi."
Andre kemudian menekan nomer Ersa untuk menelpon Ersa.
__ADS_1
"Halo..." suara Ersa dari balik telpon.
"Halo Er. Kamu lagi ngapain?"
"Kenapa harus telpon sih Pak malam-malam begini?"
"Emang kenapa? nggak apa-apa dong. Kamu juga kan belum tidur. Aku temani yah."
"Aku jadi nggak enak nih sama istrinya bapak. Gimana kalau dia dengar bapak malam-malam nelpon aku."
"Udahlah, dia nggak akan dengar kok. Dia kan tidurnya nyenyak banget."
"Tapi, tetap aja nggak enak Pak. Kalau mau bicara, mendingan besok aja di kantor. Atau lewat chat aja."
"Er, sudah deh. Nggak akan ada apa-apa kok. Kata kamu, kita kan cuma sebatas atasan dan bawahan, dan sebatas teman ngobrol. Jadi, untuk apa kita mesti takut. Lagian, kamu juga nggak mau kan jadi pacar lelaki yang sudah beristri. Kamu juga udah nolak aku terus."
"Ya nggaklah Pak. Aku ini masih waras. Aku nggak mau di cap pelakor oleh orang-orang."
"Iya aku ngerti. Kamu itu anak baik-baik. Dan aku semakin kagum aja sama kamu."
"Iya Pak."
"Oh iya Er. Besok, akan ada meeting. Jadi besok kamu harus berangkat lebih pagi lagi ya."
"Iya Pak. Aku usahakan ya."
"Besok, gimana kalau aku jemput kamu ke rumah kamu."
"Bapak mau jemput aku?"
"Iya. Kita kan searah. Jadi nggak apa-apa dong, kalau aku antar jemput kamu."
"Ya nggak apa-apa sih Pak. Tapi, aku kan nggak enak Pak, sama orang-orang kantor. Pasti mereka akan berfikiran macam-macam tentang aku."
"Yah, kenapa harus perdulikan ucapan orang Er. Biarkan sajalah mereka mau berucap apa."
"Tapi, aku tetap aja nggak enak. Dan aku nggak mau kita punya hubungan lebih. Kecuali kalau bapak udah duda."
"Benar? kalau aku duda, kamu mau terima aku jadi kekasih kamu?"
"Yah, aku sih sebenarnya nyaman sama bapak. Tapi sayang sekali, bapak itu masih punya istri."
"Baiklah, aku akan ceraikan istri aku, biar aku bisa menjalin hubungan dengan kamu."
"Jangan dong Pak. Aku nggak mau merusak hubungan rumah tangga bapak."
"Tapi, aku nggak bahagia dengan rumah tangga aku Er. Karena sampai sekarang, istriku nggak bisa hamil. Dan hidup seorang lelaki akan lebih sempurna, jika punya istri cantik yang bisa memberikan dia banyak anak."
"Sabar aja Pak. Siapa tahu nanti juga hamil."
"Kalau nggak hamil- hamil juga, aku akan cari istri lagi Er."
"Duh, jangan dong Pak. Kasihan kan Bu Carisa. Dia pasti akan sedih. Mending, bapak adopsi anak aja."
"Untuk apa adopsi anak. Aku juga udah punya anak dua. Tapi, yang satu bukan anak kandungku."
"Ya sabar kalau begitu Pak. Tunggu aja. Barang kali, nanti Bu Carisa bisa hamil."
__ADS_1