Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Menduga-duga


__ADS_3

Beberapa orang yang melihat kejadian saat Fatia terjatuh dari motornya, berlarian menghampiri Fatia. Salah satu dari orang-orang itu, mengangkat motor Fatia Dan salah seorang lagi, menolong Fatia dan Vino.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya salah seorang dari mereka.


"Saya tidak apa-apa Pak. Tapi, anak saya terluka."


"Ya ampun. Kasihan sekali. Ini Mbak , minum dulu! sekalian anaknya juga, kasih minum, pasti dia masih syok tadi," pinta lelaki paruh baya menyodorkan air mineral ke arah Fatia.


Fatia meraih air mineral itu.


"Makasih ya Pak."


Setelah Fatia dan Vino minum, Fatia kemudian melajukan motornya kembali sampai ke rumah Remon.


*


Remon masih menatap ke luar jendela kamarnya. Remon tersenyum saat melihat kehadiran Vino dan Fatia. Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sudah memasuki halaman depan rumah Remon. Remon kemudian buru-buru pergi dari kamarnya untuk menyambut kehadiran Fatia dan anaknya.


Remon ke luar dari rumahnya, dan menghampiri Fatia.


"Fatia, Vino. Kalian kenapa baru nyampe?" tanya Remon.


Fatia menatap Remon lekat.


"Iya Mas. Maaf ya aku sudah membuat kamu menunggu lama," ucap Fatia.


"Nggak apa-apa. Yang penting kalian sekarang udah sampai."


"Om Remon. Tadi, kami baru terjatuh dari motor. Ada mobil yang mau nabrak mama," ucap Vino menuturkan.


Remon terkejut saat mendengar ucapan Vino.


"Apa! yang benar aja kamu Vino. Ada mobil yang mau nabrak mama?" Remon menatap Fatia. " Fatia katakan sama aku. Apa benar yang sudah Vino katakan itu?" tanya Remon.


"Iya Mas. Itu memang benar. Tadi aku melihat ada sebuah mobil yang mepet-mepet motor aku. Mobil itu, seperti ingin mencelakai aku."


"Ya ampun. Siapa ya orang yang mau celakain kalian?" Remon tampak berfikir. Siapa seseorang yang mau mencelakai Fatia dan Vino.


Mending aku nggak usah bilang aja kalau mobil yang nyerempet aku mobilnya Mas Andre. Takutnya, Mas Remon akan marah sama Mas Andre. Aku nggak mau mereka ribut lagi. batin Fatia.


"Aku juga nggak tahu Mas. Tapi, biarin aja lah. Yang penting aku dan Vino kan udah selamat."


"Iya. Ayo kita masuk ke dalam!"


"Iya Mas." Fatia menatap Vino "Ayo sayang kita masuk!"


Vino menurut dan masuk ke dalam rumah Remon. Mereka kemudian duduk di ruang tamu, setelah Remon menyuruh mereka duduk.


"Fatia. Apa kamu ada yang luka?" Tanya Remon menatap khawatir Fatia.


"Nggak ada kok Mas."


"Fatia, Vino terluka. Kamu harus segera mengobatinya. Coba sana kamu ke dapur. Minta ke Bu Ning kotak obat, dan bawa ke sini. Biar aku, yang akan ngobatin Vino."


"Iya Mas." Fatia berjalan ke dapur untuk mencari Bik Ning. Sementara Remon mendekat dan duduk di sisi Vino.


"Om, akan obati luka kamu ya.".


"Iya Om."


Beberapa saat kemudian, Fatia membawa kotak obat dan mendekati Vino.


"Sini Fatia," Remon mengambil kotak obat dari tangan Fatia.


Setelah itu, Remon pun mengobati kaki Vino yang terluka.


"Aduh Om. Sakit...!"


"Sabar Vino. Sakitnya cuma sebentar kok. Nanti juga nggak akan sakit lagi."

__ADS_1


"Tapi pelan-pelan dong Om!"


"Iya. Ini juga udah pelan-pelan."


"Sini mas biar aku aja!


**


"Fatia, aku mau bicara sesuatu sama kamu," ucap Remon menatap Fatia lekat.


"Bicara apa?"


"Aku udah menunggu kamu lebih dari lima tahun. Apakah kamu sudah siap membuka hati kamu untuk aku?" tanya Remon.


"Dari dulu, aku memang belum bisa melupakan kamu Mas. Dan aku sejenak melupakan kamu, saat aku terbawa rasa pada Mas Andre. Dan sekarang, aku sadar, cinta aku ke ayahnya Vino hanya sementara saja. Sedangkan, cintaku untuk kamu, masih ada sampai saat ini. Dan aku harap, aku bisa mencintai kamu selamanya. Seperti kamu, yang sampai saat ini masih mencintai aku," ucap Fatia.


Remon terharu saat mendengar ucapan Fatia. Baru kali ini, wanita yang dicintainya mengungkapkan perasaannya lagi. Biasanya, Fatia tidak begitu menanggapi perasaan Remon.


"Lagian, Vino kan udah setuju kalau kamu nanti jadi ayahnya. Dan Mas Andre sejak menikah juga jarang sekali datang ke rumah aku. Vino juga masih butuh perhatian seorang ayah."


Remon meraih tangan Fatia dan mengecupnya.


"Makasih ya Fatia."


"Iya Mas."


Remon dan Fatia tiba-tiba saja dikejutkan oleh Vino. Vino tiba-tiba saja menghampiri Remon dan Fatia.


"Mama, ayo kita pulang!" ucap Vino tiba-tiba.


Fatia menatap ke arah anaknya.


"Ada apa Vino?" tanya Fatia.


"Mama, di rumah ada papa. Kita harus pulang ke rumah sekarang," ucap Vino.


"Maksud kamu, sekarang Papa ada di rumahnya Oma Dewi?"


"Terus, kamu bilang apa sama papa kamu?" tanya Fatia.


"Aku bilang, aku dan mama ada d rumah Om Remon."


Fatia menatap Remon. Raut wajahnya seakan ingin meminta persetujuan Remon.


"Mas, Vino minta aku pulang. Apa aku boleh pulang dulu dengan Vino."


"Kamu mau ketemu Andre ya?" Remon tampak cemburu.


"Mas, kamu jangan cemburu dong. Mas Andre juga kan sudah menikah dengan Carisa."


"Hah, tapi aku nggak percaya kalau dia sudah melupakan kamu dan aku juga nggak percaya kalau dia itu tidak akan menggoda kamu."


"Mas, jangan gitu dong. Walau bagaimanapun juga, dia itu ayah kandung Vino. Dan sudah lama Mas Andre nggak ketemu Vino."


"Ya udahlah. Terserah kamu Fatia. Aku percaya kok sama kamu."


"Ya udah. Nanti aku ke sini lagi ya. Kalau ada waktu."


"Iya."


Setelah berpamitan dengan Remon, Fatia kemudian memutuskan untuk pulang dengan mengajak anaknya.


Fatia dan Vino menuju ke depan untuk mengambil motornya. Dan Remon, hanya mengantar Fatia dan Vino sampai depan rumah.


"Hati-hati ya sayang," ucap Remon . Tersenyum menatap Fatia dan Vino.


"Om Remon. Aku pulang dulu ya."


"Iya Vino."

__ADS_1


Vino melambaikan tangannya ke arah Remon. Setelah itu, mereka meluncur pergi meninggalkan rumah Remon.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya Fatia dan Vino sampai juga di depan rumah mereka.


Fatia menghentikan motornya. Setelah itu dia menatap mobil Andre yang sudah terparkir di depan rumahnya.


Mas Andre mobilnya kok ganti. Apa jangan-jangan, memang benar yang bawa mobil Mas Andre tadi pagi itu Carisa. Kalau begitu, aku harus hati-hati sama Carisa. Dia memang tidak pernah berubah. Dari dulu, dia selalu ingin mencelakai aku dan Vino. Padahal, dia sudah memiliki Mas Andre. Entah kenapa, dia masih dendam sama aku. batin Fatia.


Fatia dan Vino turun dari motornya. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucap Fatia.


"Wa'alakiumsalam." jawab Bu Dewi dan Andre bersamaan.


"Vino..." Andre tersenyum lebar saat melihat anaknya. Sementara Vino lekas berhamburan mendekati ayahnya.


"Papa..." Vino langsung memeluk Andre erat. Setelah itu, Andre melepaskan pelukannya dan menciumi wajah Vino.


"Apa kabar sayang?" tanya Andre sembari menangkup wajah anaknya.


"Baik Papa. Papa ke mana aja. Kenapa papa nggak pernah datang ke sini dan temui aku?" tanya Vino.


"Maaf ya sayang. Papa nggak bisa soalnya, papa lagi sibuk banget di kantor. Kamu dari mana sayang?"


"Dari rumah Om Remon Papa."


"Oh. Sudah dari tadi ya?"


"Dari tadi pagi."


Andre menatap Fatia tanpa berkedip.


"Fatia. Kenapa kamu berdiri saja. Ayo duduk!" pinta Andre.


"Iya. Tapi maaf Mas. Aku harus ke kamar dulu. Aku mau ganti baju dulu," ucap Fatia.


"Oh. Iya. Silahkan."


Fatia kemudian melanjutkan langkahnya untuk ke kamarnya.


Bu Dewi menatap Vino yang saat ini sudah ada di pangkuan Andre.


"Vino. Lutut kamu kenapa?" tanya Bu Dewi.


"Oh, ini ya Oma."


Andre terkejut saat melihat luka di bagian lutut Vino.


"Lho, kamu kok terluka. Kenapa kamu bisa terluka sayang?" tanya Andre.


"Tadi, aku dan mama habis jatuh dari motor. Tadi ada mobil yang mau nyerempet motor aku dan mama."


Andre dan Bu Dewi terkejut saat mendengar penjelasan dari Vino.


"Apa! ada mobil yang mau nyerempet kamu dan mama? mobil siapa sayang?" tanya Andre.


"Aku juga nggak tahu mobil siapa."


"Terus gimana keadaan lutut kamu sekarang?"


"Udah baikan kok Pa. Kan waktu di rumah Om Remon, kaki aku udah di obati Om Remon."


Hah, lagi-lagi Remon, lagi-lagi Remon. Aku benci banget kalau Remon dekat dengan Vino. Apalagi kalau dia cari perhatian sama Fatia. Aku muak banget melihatnya.


Andre mengepalkan tangannya geram. Entah kenapa, walau dia sudah punya istri, tapi hati Andre masih panas, jika dia tahu kalau Fatia dekat dengan Remon.


Fatia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya setelah dia sampai di dalam kamarnya.


Fatia tampak berfikir.

__ADS_1


Ada mobil yang sengaja mau nyerempet aku dan Vino waktu kami di jalan. Dan mobil itu, aku yakin, kalau mobil itu mobilnya Mas Andre. Tapi yang membuat aku bingung, kenapa mobil itu mau nyerempet aku. Tidak mungkin Mas Andre atau Dinda yang mau nyerempet aku dan Vino. Aku yakin, kalau yang ada di dalam mobil itu Carisa.


__ADS_2