
Andre sejak tadi masih ngobrol dengan anaknya. Sementara Fatia masih berada di kamarnya. Sejak tadi, Fatia masih bertelponan dengan Remon.
"Sekarang Vino lagi sama ayahnya ya?"
"Iya Mas."
"Fatia. Aku pengin bebas, ngobrol sama kamu, tanpa di ganggu anak kamu. Kalau setiap kita berduaan ada Vino, bagaimana caranya kita untuk mesra-mesraan sayang."
"Hehe... Mas, sudahlah. Kenapa kamu selalu memikirkan itu. Itu resikonya kalau kamu pacaran sama janda anak satu. Coba kamu pacarannya sama gadis. Pasti kamu bisa bebas mesra-mesraannya."
"Sayang. Aku udah pengin banget nikah sama kamu. Kamu maunya aku harus menunggu berapa lama lagi?"
"Kalau kamu pengin nikah, ya udah kita nikah. Aku udah siap kok nikah sama kamu."
"Kamu yakin sayang?"
"Yakinlah Mas. Kalau kamu memang mau menganggap Vino seperti anak kandung kamu sendiri, ya aku juga mau nerima kamu jadi suami aku. Lagian, aku juga udah minta izin sama Vino. Dan Vino udah membolehkan aku menikah lagi."
"Syukurlah kalau begitu. Jadi aku lega dengarnya. Papa aku juga udah menginginkan aku menikah."
"Iya Mas. Sekarang, aku sih terserah kamu aja."
"Ya udah. Aku akan fikirkan untuk rencana pernikahan kita. Tapi, aku mau fokus dulu di kantor Papa aku. Aku harus bisa mengolah perusahaan Papa. Karena perusahaan Papa, sudah Papa serahkan ke aku. Walau perusahaan Papa hanya perusahaan kecil."
"Aku nggak pernah menyuruh kamu menunggu aku kok. Aku kan udah pernah bilang sama kamu. Jangan nunggu aku. Cari wanita lain saja."
"Tapi aku nggak bisa sama wanita lain Fatia. Karena aku cintanya sama kamu."
"Mama... Mama ..." seruan Vino mengejutkan Fatia.
"Mas, udah dulu ya telponnya. Itu Vino udah manggil-manggil."
"Iya Fatia. Andre masih di sana."
"Iya. Kamu tenang aja. Aku sekarang lagi di kamar kok. Nggak menemui Mas Andre. Aku mau jaga perasaan kamu Mas."
"Ya udah kalau begitu. Makasih ya Fatia."
"Iya Mas. Aku tutup dulu ya telponnya. Oh iya, jangan lupa minum obat Mas. Kalau kamu masih sakit."
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Setelah memutuskan telponnya, Fatia kemudian buru-buru pergi ke luar untuk menemui anaknya yang masih ada di ruang tamu.
"Vino. Ada apa?" tanya Fatia.
Fatia kemudian duduk berbaur bersama Vino, Andre dan Bu Dewi.
"Ma, aku mau main ke rumah Papa ya. Bolehkan Ma?" tanya Vino.
"Mau main ke rumah Papa?"
__ADS_1
"Iya Ma. Papa mau ngajak aku main ke rumah Tante Dinda."
"Tapi Vino, besok kan kamu harus sekolah. Terus, besok Mama juga kan harus kerja."
"Fatia. Aku kangen sama Vino. Biarkan Vino ikut denganku, untuk beberapa hari. Kalau masalah sekolah, Vino kan bisa bawa baju seragam sekolahnya. Nanti, aku yang akan antar jemput Vino ke sekolahnya."
"Ma, boleh ya Ma. Aku main ke rumah Papa," Rengek Vino.
Vino sejak tadi masih merengek untuk ikut bersama Andre. Namun, Fatia tampak sulit untuk melepas Vino ikut bersama ayahnya. Apalagi, dia itu masih teringat mobil yang hampir menabraknya waktu di jalan.
Aku nggak tega, sama Vino. Bagaimana nanti kalau Carisa celakain anak aku. batin Fatia.
Fatia menatap Andre.
"Kalau kamu ngajak Vino ke rumah kamu, bagaimana dengan Carisa Mas? apa dia membolehkan Vino main ke rumah kamu?
"Masalah Carisa, biar aku yang ngurus. Kamu tenang aja. Carisa nggak akan macam-macam sama anak kita."
Sejenak Fatia tampak berfikir. Akhirnya, Fatia membolehkan juga Vino untuk ikut ayahnya.
"Ya udah. Vino boleh kok, ikut sama Papa. Tapi, jangan lama-lama ya di sana. Dan nanti, Vino juga jangan nakal ya."
Vino tersenyum dan langsung memeluk mamanya.
"Makasih ya Ma," ucap Vino di pelukan Fatia.
"Iya sayang."
"Makasih ya Fatia," ucap Andre.
"Iya Mas."
**
Andre menggandeng anaknya sampai masuk ke dalam rumahnya
"Mama... Dinda...!" seru Andre.
Bu Alya dan Dinda yang dipanggil belum ada yang menyahut. Mungkin mereka sudah tidur. Karena waktu saat ini, sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
Dari atas, tampak Carisa menuruni anak tangga. Dia menatap suaminya tajam.
"Ngapain kamu bawa anak liar itu ke sini?" tanya Carisa ketus.
Sepertinya Carisa memang tidak suka Andre membawa Vino ke rumahnya.
"Carisa. Jaga mulut kamu. Dia anak aku. Bukan anak liar!" ucap Andre dengan nada tinggi.
"Hah, aku nggak suka kalau kamu bawa Vino ke sini. Kamu ingat kan, terakhir kamu bawa dia ke sini. Guci kesayangan mama kamu pecah gara-gara ini anak. Dia itu anak nakal, anak bandel. Gimana nanti kalau dia di sini. Pasti rumah ini akan berantakan lagi. Kasihan Bik Ijahnya. Capek kalau ada dia di sini."
Vino yang merasa bersalah hanya bisa menundukan kepalanya. Vino tahu, waktu terakhir dia main ke rumah Andre, Vino pernah memecahkan Gucci kesayangannya Bu Alya.
"Sudahlah Carisa. Kamu ini maunya apa sih. Vino ini masih kecil. Dia belum tahu apa-apa. Jangan dimarahin terus. Kasihan dia. Bagaimana pun juga, Vino ini anak kandung aku. Kamu juga harus bisa menerima anaknya Fatia Carisa."
Hah, malas banget aku harus menganggap Vino anak kandung aku sendiri. Dia itu kan anak nakal, anak bandel dan sangat menyebalkan. Beda dari Tata. Siapa juga yang mau sayang sama Vino. Aku aja ogah, kalau Mas Andre suruh aku untuk merawat Vino juga, batin Carisa.
__ADS_1
"Aku memang dari dulu sudah menerima anak kamu Mas. Tapi dia itu bandel dan nakal. Kalau dia dibawa tinggal di sini, aku nggak akan bisa tenang Mas."
"Ya udahlah Carisa. Vino juga di sini cuma sementara aja kok. Nggak akan lama. Dia cuma mau main aja. Lagian, udah lama aku juga baru ketemu dia. Aku kangen sama Vino," ucap Andre.
" Ya udahlah Mas. Itu sih terserah kamu. Kamu itu memang susah untuk dibilangin."
Carisa kemudian pergi meninggalkan Andre. Sementara Andre mengajak Vino duduk di ruang tengah.
"Vino, kamu nanti tidur sama Papa ya, di kamar tamu. Dan kamu tunggu dulu di sini. Nanti papa akan bawa barang-barang kita masuk."
Vino mengangguk.
"Iya Pa."
Andre ke luar untuk mengambil barang-barang belanjaannya. Setelah itu, dia masuk ke dalam dan mengajak Vino untuk ke kamar tamu.
"Nah, mulai sekarang, kamu akan tidur di kamar ini sama papa," ucap Andre.
Vino menatap sekeliling. Kamar tamu rumah Andre memang sangat mewah. Beda dari kamar yang ada di rumah Fatia. Makanya Vino sangat betah tinggal di rumah ayahnya. Tapi, yang Vino benci, hanya Carisa. Karena Carisa sering sekali memarahi Vino saat Vino tidak mau diam.
Vino membuka-buka kantong yang berisi barang-barang yang sudah ayahnya belikan. Andre sudah membelikan baju-baju baru untuk Vino. Andre juga sudah membelikan Vino banyak mainan. Vino tersenyum dan tampak bahagia.
"Papa, makasih banyak ya Papa. Papa udah mau memberikan semua ini untuk aku."
Andre mengangguk dan tersenyum.
"Papa akan selalu memberikan kamu apa yang kamu inginkan. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa minta ke Papa ya."
"Iya Pa. Makasih ya Pa," ucap Vino.
Ring ring ring...
Tiba-tiba suara telpon Andre berdering. Andre segera mengangkat telponnya.
"Halo Fatia."
"Mas, gimana Vino? dia udah tidur?"
"Belum Fatia." Andre masih menatap Vino yang masih tampak bermain mobil-mobilan.
"Kamu yakin mau ajak Vino nginep di rumah kamu? bagaimana nanti kalau kamu kerja. Siapa nanti yang akan jagain dia? aku khawatir Mas, sama dia"
"Kamu tenang aja. Di sini ada mama sama Carisa. Mereka akan jagain Vino. Dan Vino juga bisa main sama Tata."
"Duh, kamu bawa Vino pulang aja deh besok. Aku nggak tega Mas."
"Fatia. Aku ini ayah kandung Vino. Aku juga berhak atas Vino. Kalau Vino mau, aku akan ajak dia untuk tinggal di sini bersama aku dan mama. Bila perlu, akan aku ajak dia tinggal di sini bersama aku selamanya."
"Apa!" Fatia terkejut saat mendengar ucapan Andre.
"Apa maksud kamu? kamu mau bawa Vino tinggal di rumah kamu. Aku nggak akan pernah ngebolehin Vino untuk tinggal di rumah kamu, selama ada ibu tirinya di sana. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Vino."
"Fatia. Carisa itu juga mamanya Vino. Aku yakin, kalau Carisa juga sudah mau menerima Vino. Dia udah janji sama aku, kalau dia akan sayang sama Vino. Dia sudah janji, kalau dia tidak akan pernah membeda-bedakan Tata dengan anak kita."
"Yah, aku tahu. Tapi, aku masih ragu aja sama kebaikan istri kamu itu."
__ADS_1
****