Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Ke rumah sakit


__ADS_3

Sore ini, Fatia masih menemani ibu mertuanya yang sedang sakit di kamar. Tiba-tiba, ponsel Fatia berdering.


Ring ring ring...


"Fatia, ponsel kamu bunyi. Barang kali, itu telpon dari Remon," ucap Bu Rima.


"Iya Ma. Aku angkat telpon dulu ya."


Fatia bangkit berdiri. Dia kemudian berjalan untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


"Halo..."


"Halo, apa benar ini dengan Bu Fatia?"


"Oh, iya benar. Ini siapa ya?"


"Saya dari rumah sakit. Ingin memberi tahukan, kalau anak ibu yang bernama Vino, kecelakaan."


"Apa! Vino kecelakaan?"


"Iya Bu Fatia. Dan sekarang, dia ada di rumah sakit."


"Baiklah. Saya akan segera ke sana."


Bu Rima terkejut saat mendengar kalau Vino kecelakaan.


"Fatia. Kamu harus telpon Remon sekarang. Dia harus tahu, kalau Vino kecelakaan."


"Iya Ma. Mama nggak apa-apa kalau Fatia tinggal dengan Bik Ning di rumah. Fatia mau ke rumah sakit sekarang."


"Iya Nak. Nggak apa-apa. Tapi kamu harus kabari suami kamu. Biar dia segera ke rumah sakit."


"Iya Ma. Aku pergi dulu ya."


Fatia kemudian pergi meninggalkan rumahnya untuk ke rumah sakit.


Fatia pergi ke rumah sakit naik taksi.


"Kita mau ke mana Mbak?"


"Ke rumah sakit Pak."


"Baik Mbak."


Fatia tidak tinggal diam. Dia kemudian mencoba menghubungi Remon.


"Halo Mas. Halo Mas. Gawat Mas."


"Ada apa Fatia?"


"Vino anak aku kecelakaan Mas."


"Apa! kapan Vino kecelakaan?"


"Tadi pihak rumah sakit menghubungiku. Katanya anak aku kecelakaan. Dan sekarang, aku mau ke rumah sakit Mas."


"Ya udah. Kalau begitu, aku juga akan ke sana sekarang Fatia."


"Tapi, bagaimana pekerjaan kamu Mas?"

__ADS_1


"Sudahlah, masalah kerjaan itu, urusan belakangan. Yang penting sekarang masalah Vino dulu."


"Ya udah. Aku tunggu ya Mas."


"Iya sayang."


Fatia memutuskan saluran telponnya. Fatia tampak masih resah saat mendengar kabar kecelakaan anaknya.


Sejak tadi, dia masih menangis. Takut Vino kenapa-kenapa.


"Kenapa sih, Vino bisa kecelakaan. Padahal dia kan ada di rumah Mas Andre. Apa Mas Andre juga udah tahu, kalau anaknya kecelakaan. Benar-benar ya Mas Andre itu. Dia selalu saja membuat Vino susah."


Beberapa saat kemudian, Fatia sampai di depan rumah sakit. Fatia turun dari taksi setelah membayar ongkos taksi. Dia kemudian masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui Vino.


"Mbak, pasien atas nama Vino, di rawat di mana ya?" tanya Fatia kepada suster penjaga.


"Oh, dia ada di ruang Dahlia nomer 5 Mbak."


"Oh. Makasih banyak ya Mbak."


Fatia kemudian berjalan menuju ke ruangan di mana Vino di rawat.


Fatia tersenyum saat masuk ke dalam ruangan Vino. Vino tampak terlelap dengan perban yang menempel di kepala dan tangannya.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan Vino.


"Oh, ibunya Vino ya?" tanya wanita itu.


Fatia tersenyum dan mengangguk.


"Iya Bu. Ibu siapa ya?"


"Oh, Bu Umi. Makasih banyak ya Bu, udah mau menolong anak saya."


"Iya. Sama-sama."


"Sebenarnya, anak saya kenapa sih Bu? dan sekarang bagaimana kondisinya?"


"Saya menemukan Vino sudah berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang ada di jalan raya. Vino sudah pingsan. Dan katanya, ada motor yang menyerempet dia. Tapi, motor itu nggak mau tanggung jawab."


"Maksudnya, anak aku jadi korban tabrak lari?"


"Iya Mbak. Tapi Vino nggak apa-apa kok. Dia cuma luka-luka ringan aja. Dan sudah ditangani dokter. Dan dia juga tadi usah siuman dan udah bisa ditanyain. Untungnya dia hafal nomernya Mbak."


Fatia tersenyum. Merasa lega karena anaknya tidak apa-apa. Padahal, tadi dia sudah sangat panik dan cemas. Takut Vino kenapa-kenapa.


***


"Aku harus ke rumah sakit sekarang. Pasti Fatia sekarang sudah menunggu aku di sana. Aku harus membereskan semua berkas-berkas ini." Remon masih tampak sibuk membereskan semua berkas-berkasnya.


Setelah semua beres, Remon memakai jasnya dan membawa tasnya ke luar dari ruangannya.


Remon ke arah parkiran kantor untuk mengambil mobilnya. Setelah itu, Remon mengendarai mobilnya sampai ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Remon menghentikan laju mobilnya dan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Setelah itu, Remon menelpon istrinya.


"Sayang, kamu ada di mana?" tanya Remon.


"Aku ada di kamar Dahlia nomer 5. Vino lagi di rawat di sini Mas."

__ADS_1


"Baiklah. Aku mau masuk sekarang."


"Kamu udah sampai?"


"Iya."


Setelah menelpon istrinya, Remon kemudian masuk ke dalam rumah sakit. Dia berjalan menuju ke ruangan di mana Vino di rawat.


"Fatia. Bagaimana kondisi Vino?" tanya Remon yang sudah sampai di ruangan Vino.


"Vino nggak apa-apa Mas. Tadi dia habis keserempet motor. Untunglah ada orang baik yang mau menolongnya dan membawanya ke sini."


"Siapa?"


"Namanya Bu Umi."


"Terus, ke mana dia?"


"Dia udah pulang Mas."


"Ya udahlah. Yang penting anak kamu baik-baik aja. Oh iya. Ke mana Andre? apa dia udah tahu anaknya kecelakaan."


"Sudahlah Mas. Biarin aja. Dia itu memang lelaki yang tidak bisa diandalkan. Nggak usah hubungi dia lagi. Dia sudah dua kali, teledor seperti ini."


***


Carisa masih mencari Vino. Sejak tadi dia masih berada di jalan raya untuk mencari Vino.


"Ke mana sih anak itu. Nyusahin aja deh. Pakai acara kabur-kaburan segala," geram Carisa.


"Dia itu, anak yang suka buat masalah. Setiap Mas Andre bawa dia ke rumah, pasti ada masalah. Dan sekarang, siapa yang repot. Aku juga kan."


Ring ring ring...


Deringan ponsel Carisa mengejutkan Carisa. Carisa mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Andre.


"Halo Carisa. Apa kamu sudah temukan Vino?"


"Maaf Mas. Aku belum bisa menemukan Vino."


"Apa! sampai malam begini, kamu nggak bisa menemukan anak aku. Bagaimana kalau dia hilang lagi. Pasti Fatia tidak akan mengizinkan aku untuk membawanya lagi."


"Mas, maaf ya. Aku belum bisa bawa Vino pulang. Tapi, mungkin dia sudah sama Fatia Mas."


"Sama Fatia? bagaimana bisa dia sampai di rumah Remon. Anak sekecil itu saja nggak tahu alamat rumahnya sendiri. Kemarin aja dia nggak tahu jalan pulang. Bagaimana mungkin dia sekarang bersama Fatia. Aku yakin , kalau Vino itu tersesat lagi."


"Ya kamu coba telpon dulu Fatia. Siapa tahu, Vino sudah ada di sana."


"Iya. Nanti aku telpon Fatia."


"Ya udah. Aku mau pulang Mas. Capek dari tadi muter-muter nyari Vino, tapi nggak ketemu-ketemu juga."


"Aku nggak akan pernah maafin kamu kalau sampai Vino kenapa-kenapa Carisa."


"Iya Mas. Kalau ada apa-apa, aku janji. Aku akan tanggung jawab. Besok, aku mau nyari Vino lagi sampai ketemu."


Tut Tut Tut...


Andre menutup saluran telponnya.

__ADS_1


__ADS_2