
Remon, Andre dan Bu Alya masih ngobrol di ruang tamu. Sementara Fatia masih berkutat di dapur. Setelah menyeduh empat cangkir teh manis hangat, Fatia kemudian membawa empat cangkir itu ke ruang tamu.
"Duh Fatia, harusnya nggak usah repot-repot begini," ucap Bu Alya.
"Iya Fatia. Kami ke sini juga cuma sebentar kok."
Fatia tersenyum.
"Nggak apa-apa Tante, Mas Andre. Kalian itu kan habis dari makam, siapa tahu kalian haus. Makanya aku buatkan minum," ucap Fatia sembari meletakan empat cangkir itu di atas meja.
"Makasih ya Fatia," ucap Andre.
Fatia mengangguk. Setelah itu, dia duduk kembali di dekat suaminya.
Setelah lama berbincang-bincang, Bu Alya dan Andre memutuskan untuk pulang.
"Udah sore Fatia. Aku pulang dulu ya," ucap Andre.
"Vino mau ikut Oma lagi nggak pulang ke rumah Papa?" tanya Bu Alya menatap Vino lekat.
Vino langsung menggeleng. Sepertinya dia masih trauma dengan sikap Carisa kemarin.
"Aku mau tinggal sama ayah Remon aja yang orangnya baik," ucap Vino.
Andre melirik tajam ke arah Remon. Sebenarnya, Andre tidak rela kalau Vino harus ikut dengan ayah tirinya. Karena jika Vino tinggal dengan Remon, hubungan Andre dan Vino akan semakin jauh. Dan Andre tidak mau kehilangan Vino. Karena cuma Vino anak kandung Andre yang Andre punya.
"Menurut Papa sih, kamu nggak usah ikut ayah Remon. Kamu di sini aja sama Opa Fendi dan Oma Dewi. Dan di sini, juga kan ada Tante Nessa dan Aya. Kalau kamu tinggal di rumah ayah Remon, kamu pasti akan kesepian. Dan Papa, belum tentu bisa nengokin kamu di rumahnya ayah Remon. Kalau kamu tinggal di sini kan, Papa bisa setiap hari mampir ke sini," ucap Andre memberi usul.
"Tapi Pa, aku cuma pengin dekat aja dengan mama Fatia. Kalau mama Fatia ikut ayah Remon, aku juga harus ikut ayah Remon," ucap Vino.
Kalau sudah menjadi keputusan Vino, Andre sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
"Ya terserah Vino aja deh mau tinggal di mana. Yang penting rumah Papa, akan selalu terbuka untuk Vino."
Vino tersenyum dan menatap Andre lekat." Makasih ya Pa."
__ADS_1
Andre mengangguk.
Setelah berpamitan dengan Remon, Fatia, juga Vino, Bu Alya dan Andre bangkit dari duduknya. Mereka kemudian berjalan ke luar dari rumah Fatia. Sementara Fatia dan Remon masih setia mengikuti mereka sampai ke teras depan.
Sebelum pergi, Andre menciumi wajah Vino.
"Papa pergi dulu ya, Vino jaga diri baik-baik di sini," ucap Andre.
"Iya Pa."
Vino mencium punggung tangan Andre. Setelah itu dia juga mencium punggung tangan Bu Alya.
Vino melambaikan tangannya setelah Oma dan Papanya masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Andre dan Bu Alya pun meluncur pergi meninggalkan rumah Vino..
***
Pagi ini, semua anak-anak TK sudah memasuki kelasnya. Begitu juga dengan Tata anak Carisa. Dia juga sudah masuk ke dalam kelas.
"Sayang, Mama tunggu di luar ya," ucap Carisa setelah mengantar anaknya masuk ke dalam kelas.
Carisa kemudian keluar dari kelas Tata. Seperti biasa, dia duduk di ruang tunggu bersama ibu-ibu yang lain.
"Apa kabar Kak?" Seorang wanita tiba-tiba saja duduk di dekat Carisa.
Carisa menoleh ke samping. Dan dia terkejut saat melihat Alena.
"Alena. Kamu kok, bisa ada di sini?" tanya Carisa gugup.
Alena tersenyum.
"Dan untuk apa kamu di sini? atau jangan-jangan, kamu memang sudah tahu kalau anak kamu sekolah di sini?" Carisa tampak ketakutan saat melihat Alena. Bukannya kangen dengan adiknya, justru dia benci melihat kehadiran Alena. Karena Carisa takut, kalau Alena akan membawa Tata pergi.
"Kenapa Kak? wajah Kakak kok, tampak pucat lihat aku. Apa kakak takut sama aku?" tanya Alena dengan santai.
"Alena. Aku mau bicara. Tapi, jangan di sini," ucap Carisa.
__ADS_1
Carisa kemudian membawa Alena pergi dari keramaian. Carisa membawa Alena ke tempat yang sepi.
"Alena. Katakan yang sebenarnya. Apa tujuan kamu menemui aku? jangan bilang kalau kamu mau membawa anak kamu."
"Kalau aku mau bawa Tata, emang kenapa Kak ? Tata itu kan anak kandung aku. Dan kakak nggak bisa melarangnya."
"Aku nggak akan membiarkan kamu membawa Tata."
"Kenapa Kak? Tata itu kan anak kandung aku."
"Alena. Tata itu tahunya aku dan Andre, orang tua kandungnya. Sekarang dia sudah bahagia hidup bersama aku dan suamiku. Jadi tolong Alena. Aku mohon, jangan rusak kebahagiaan kami."
"Kak, aku itu datang ke sini mau membawa Tata. Bukan mau merusak hubungan rumah tangga Kakak dengan Kak Andre. Tata itu putri kandung aku. Dan aku menyesal karena sudah meninggalkan dia." Cairan bening sudah berkumpul di pelupuk mata Alena.
Alena sebenarnya sangat kangen dengan Tata. Dia ingin mencium dan memeluk Tata. Tapi, sampai saat ini keinginannya itu belum terwujud. Bagaimana mungkin dia bisa memeluk Tata dan menciumnya. Sementara Carisa sangat ketat menjaga Tata.
Sejak Tata menceritakan tentang wanita misterius itu, Carisa sudah tahu kalau wanita itu adalah adiknya.
"Aku nggak akan pernah memberikan Tata ke kamu Alena. Karena aku sudah terlanjur sayang sama Tata. Aku nggak mau kamu merebut Tata dari aku. Karena Tata adalah kebahagiaan aku."
Alena meneteskan air matanya tanpa berucap sepatah katapun. Dia masih menatap dari kejauhan kelas Tata.
"Aku yang sudah merawat Tata dan membesarkan dia sampai enam tahun. Dan sekarang, kamu enak banget bilang kalau kamu mau bawa Tata. Aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi Alena."
Alena menangis. Rasanya memang susah untuk mendapatkan Tata kembali. Apalagi, dia melihat kakaknya itu sudah sangat sayang sama Tata.
Dan Tata juga sudah memanggil Carisa dengan sebutan Mama. Yang pasti saat ini, Tata itu masih menganggap kalau Andre sama Carisa adalah orang tua kandungnya.
Alena menatap Carisa.
"Kak, Kakak itu sudah punya segalanya. Suami tampan, suami kaya raya, sementara aku. Aku nggak punya siapa-siapa kak sekarang. Setelah tahu aku hamil, mama dan papa nggak pernah mau menganggap aku anak lagi. Apa kakak fikir, aku selama ini bahagia hidup jauh dari Tata. Nggak Kak. Aku ingin, membawa Tata bersamaku."
"Itu salah kamu sendiri. Siapa yang suruh kamu hamil di luar nikah? siapa yang suruh kamu meninggalkan anak kamu. Apa kamu fikir, waktu kamu meninggalkan Tata, itu mudah untuk aku? nggak Alena. Aku pun waktu itu dalam keadaan bingung dan serba sulit," ucap Carisa.
"Kamu nggak pernah tahu, bagaimana rasanya aku waktu itu. Aku kehabisan uang, untuk membeli susu dan popok untuk Tata. Aku titipkan Tata, ke orang lain dan aku kerja, untuk membiayai kehidupan Tata. Apa kamu fikir, aku mau begitu aja melepaskan Tata? nggak semudah itu Alena...!" lanjut Carisa.
__ADS_1