
"Eh, Adi, Erin. Kalian di sini juga. Kalian cuma berdua aja? ke mana anak kalian?" tanya Andre basa-basi.
"Anak kami nggak ikut Pak. Dia ditinggal di rumah sama Omanya," ucap Erin.
"Oh. Jadi, kalian itu ceritanya mau kayak orang pacaran gitu? jalan-jalan nggak ngajakin anak?" ucap Andre.
Erin menatap lekat Ersa.
"Siapa dia Pak?" tanya Adi.
"Oh, ini anaknya Pak Seno Di. Namanya Ersa," jawab Andre.
"Perasaan, tadi pagi Ersa ini ke kantor ya Pak? apa aku cuma salah lihat?" tanya Adi.
"Iya. Tadi pagi dia ke kantor. Dan dia belum pulang sejak tadi pagi."
"Cepat bawa dia pulang Pak. Aku peringatin Pak. Jangan bawa anak orang pulang malam-malam. Takutnya nanti timbul fitnah, atau mungkin bapak nggak akan selamat dari istri bapak," ucap Erin.
Erin memang sahabat Fatia, yang selalu saja bicara ceplas-ceplos walau pun itu di depan orang besar seperti Andre.
Andre menatap Erin tajam.
"Kamu tenang saja. Kita juga sudah mau pulang kok," ucap Andre.
Andre kemudian membuka pintu mobil untuk Erin.
"Masuk Er."
"Iya Pak." Erin kemudian masuk ke dalam mobil Andre.
"Ya udah. Aku pulang dulu," ucap Andre.
"Iya Pak. Hati-hati di jalan ya Pak," ucap Adi.
Andre kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu Andre dan Ersa meluncur pergi meninggalkan cafe.
"Udah malam Pak. Aku mau langsung pulang aja. Mama aku juga udah nungguin aku dari tadi," ucap Ersa sembari sesekali menatap ke arah Andre.
"Iya. Aku akan antar kamu pulang sekarang," ucap Andre di sela-sela menyetirnya.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah Ersa.
Andre menghentikan mobilnya setelah sampai di depan rumah Ersa.
"Aku turun dulu ya Pak Andre," ucap Ersa.
"Iya Er. Besok, jangan lupa ya. Kamu harus berangkat pagi-pagi."
Ersa mengangguk. "Iya Pak."
Ersa kemudian turun dari mobil Andre. Dia berdiri di sisi mobil Andre.
"Mau mampir dulu Pak?" tanya Ersa.
__ADS_1
"Nggak usah Er. Aku mau langsung pulang aja. Udah malam."
"Oh. Ya udah deh. Hati-hati di jalan ya Pak."
"Iya."
Ersa kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya. Setelah Ersa masuk ke dalam rumah, Andre kemudian melajukan mobilnya kembali untuk pulang.
***
Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Namun, Andre yang ditunggu belum juga pulang. Carisa sejak tadi, masih menunggu suaminya pulang.
"Kemana sih sebenarnya Mas Andre. Di telponin dari tadi, nggak aktif. Apa yang sebenarnya dia kerjakan di kantornya," ucap Carisa.
Carisa masih mondar-mandir di kamarnya. Dia tampak khawatir dengan Andre suaminya. Karena sejak tadi, ponsel Andre mati. Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari depan rumah.
Carisa mendekat ke arah jendela dan melihat ke bawah. Tampak mobil Andre sudah terparkir di bawah.
Namun, Andre tidak langsung turun dari mobilnya. Sejak tadi, dia masih berdiam diri di dalam mobilnya.
"Duh, Mas Andre kenapa nggak turun-turun sih, lagi ngapain sih dia di dalam mobil," gerutu Carisa.
Carisa kemudian berjalan ke luar dari kamarnya. Dia menuruni anak tangga untuk ke ruang tamu.
Dara terkejut saat melihat suaminya sudah membuka pintu.
"Mas Andre, kenapa kamu baru pulang Mas? tanya Carisa
"Aku ada lembur tadi di kantor."
"Carisa. Sudahlah, aku capek. Nggak usah kamu bertanya macam-macam."
"Mas, kenapa ponsel kamu nggak aktif sih. Aku sudah chat kamu berkali-kali, tapi kamu nggak mau balas. Dan aku telpon juga nggak pernah di angkat."
"Carisa. Aku kan sudah bilang, nggak usah telpon-telpon aku Carisa. Kalau kamu ngantuk, tinggal tidur aja. Mulai sekarang, kamu itu ngak usah manja Carisa," ucap Andre sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Carisa hanya bisa mengikuti suaminya di belakangnya.
"Mas, kenapa kamu selalu bilang aku manja sih. Aku itu seorang istri. Kalau suaminya pulang sampai malam, wajar dong kalau aku tanya kenapa kamu pulang sampai malam."
Andre sudah naik ke lantai atas. Dia kemudian masuk ke dalam kamar. Andre meletakan tas kerjanya di tempat biasa.
Andre kemudian melepas sepatu, jas dan yang terakhir adalah dasinya.
"Kamu mau ke kamar mandi Mas? biar aku siapkan handuk ya," ucap Carisa.
"Nggak usah. Aku nggak mau ke kamar mandi."
"Kamu pasti belum makan malam kan Mas? aku siap kan kamu makan ya?"
Andre menggeleng.
"Nggak usah. Aku udah kenyang."
__ADS_1
"Udah kenyang? emang kamu udah makan?"
"Aku udah makan tadi di kantor."
Carisa tampak berfikir. Tidak biasanya Andre pulang dalam keadaan kenyang. Biasanya juga setiap pulang kerja, Andre selalu makan malam dulu di rumah.
'Apa malam-malam begini ada orang jualan makanan di kantor? Kantin aja bukanya kalau siang. Jam segini udah makan? makan di mana Mas Andre?' batin Carisa.
"Ya udahlah. Aku udah ngantuk sebenarnya Mas. Tapi aku nungguin kamu nggak pulang-pulang."
Andre menatap Carisa tajam.
"Siapa yang suruh nunggu aku," ucap Andre dengan ketus.
Andre kemudian naik ke atas tempat tidurnya.
"Mas, ponsel kamu kenapa nggak aktif?" tanya Carisa. "Kamu sengaja ya non aktifkan ponsel kamu?"
"Nggak. Emang baterainya udah habis. Dan belum aku cas."
"Oh..."
Carisa naik ke atas tempat tidur dan menemani suaminya di atas ranjang.
Andre sejak tadi, masih diam.
"Kenapa diam aja Mas? apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Carisa.
Andre melirik Carisa.
"Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok," jawab Andre.
"Tapi, kamu kelihatan banget kayak orang sedih. Kamu lagi ada masalah?"
"Kamu mau tahu aku kenapa begini?" tanya Andre.
Carisa mengangguk.
"Iya. Kamu lagi ada masalah? kalau lagi ada masalah, cerita sama aku. Siapa tahu, aku bisa bantu kamu Mas."
"Kamu yakin bisa bantu aku?"
"Iya."
"Aku ingin punya anak."
"Punya anak?"
"Iya."
"Tapi, kamu kan udah punya anak Mas. Tata dan Vino. Untuk apa punya anak lagi? mereka kan masih kecil."
"Carisa. Sudah berapa kali aku bilang. Aku ingin punya anak dari rahim kamu. Kalau Tata itu, bukan anak kandung kita. Dia anaknya Alena. Dan bisa saja, suatu hari Alena datang dan membawa Tata," ucap Andre.
__ADS_1
"Kalau Vino, dia lebih milih tinggal dengan ibunya dari pada sama aku. Dan semua itu gara-gara kamu Carisa. Gara-gara kamu, Vino jadi nggak betah tinggal sama aku. Karena kamu itu ibu tiri yang kejam."
Carisa terkejut saat mendengar ucapan Andre. Carisa tampak tidak terima kalau Andre mengatakan kalau dia itu ibu tiri yang kejam.