Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Maaf


__ADS_3

Remon berjalan cepat menuju ke mobilnya. Sementara Fatia tidak tahu dengan apa yang terjadi pada suaminya. Dia hanya bisa mengikuti Remon dibelakangnya.


Remon membuka pintu mobil untuk istrinya.


"Masuk," ucap Remon.


Fatia hanya menuruti saja perintah Remon. Fatia kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan kantor Andre.


"Mas, kamu kenapa sih, dari tadi diam aja?" tanya Fatia yang melihat suaminya tampak murung.


Remon yang ditanya hanya diam. Sejak tadi Remon memang lebih banyak diam dari pada bicara. Mungkin dia masih kesal dengan Fatia.


"Mas... aku lagi nanya sama kamu. Kenapa kamu diam aja? kamu marah sama aku?" tanya Fatia.


Remon menatap Fatia sekilas sebelum pandangannya kembali ke depan.


"Fatia. Aku nggak suka kamu dekat-dekat dengan Andre. Dan dari dulu aku memang tidak suka dengan Andre."


"Mas, kamu udah sering sekali bicara seperti ini. Dan aku tahu itu Mas. Tapi kan kamu seharusnya ngerti. Dari dulu aku dan Mas Andre dekat hanya karena Vino."


"Fatia. Lelaki mana yang tidak akan cemburu, saat istrinya dekat-dekat dengan mantan suaminya. Di mana-mana orang, kalau sudah jadi mantan ya sudah. Nggak ada yang namanya mantan jadi sahabat."


Fatia menghela nafasnya dalam.


"Fatia, dulu kamu belum jadi istri aku. Jadi aku nggak pernah ngelarang kamu untuk bertemu Andre. Tapi sekarang kamu istriku. Apakah kamu tidak bisa menghargai aku sedikit pun sebagai suamimu? tolong jauhi Andre Fatia. Kamu jangan sering-sering ketemu sama dia. Karena perasaan aku nggak nyaman Fatia, kalau kamu masih dekat-dekat dengan Andre."


"Iya Mas. Maafkan aku ya. Sudah membuat kamu marah. Tapi aku ketemu sama Papanya Vino itu kan sudah dapat izin kamu."


"Iya Fatia. Tapi aku tetap nggak rela aja, istriku dekat-dekat dengan lelaki lain. Apalagi lelaki itu pernah menjadi suami kamu."


Fatia tahu kalau Remon memang sedang cemburu pada Andre saat ini. Dan Fatia tidak mau terlalu banyak bicara sekarang.


"Maafkan aku ya Mas. Aku janji, aku nggak akan mengulangi kesalahan aku lagi."


Remon menghentikan laju mobilnya dan dia sampai di depan kantornya.


"Kok kita ke kantor kamu Mas?" tanya Fatia.


Remon tersenyum.


"Dari pada kamu menemani Andre di ruangannya, mending kamu temani aku di ruangan aku. Kata Vino, kamu mual-mual terus dan muntah-muntah ya. Nanti sore aku mau ajak kamu ke dokter kandungan. Kita mau langsung USG aja Fatia. Kayaknya memang benar kalau kamu itu hamil."


"Terserah kamu Mas. Iya, kayaknya memang gitu. Soalnya bulan ini, aku juga belum datang bulan."


"Turun sayang."


Fatia mengangguk. Remon dan Fatia kemudian turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam kantor.


Semua karyawan Remon saling menatap saat mereka melihat kedatangan Fatia. Sejak memimpin di perusahaan ayahnya, Remon memang belum pernah mengajak istrinya ke kantor.


"Itu istrinya Pak Remon ya," ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Iya kayaknya. Lihat saja, mereka juga mesra banget gitu jalannya," ucap seseorang yang ada di sampingnya.


"Namanya pengantin baru, ya pasti mesra. Tumben banget ya, Pak Remon ngajak istrinya ke kantor."


"Yah, namanya bos. Bisa mengajak siapapun ke kantor. Namanya kantor ini kantornya."


Remon dan Fatia sudah sampai di depan ruangan Remon. Remon mengajak Fatia masuk ke dalam ruangannya.


Fatia terkejut saat melihat ruangan Remon.


"Mas, ini ruangan kamu?"


"Iya Fatia."


"Ruangan kamu besar Mas."


"Iya. Tadinya sih nggak sebesar ini. Baru kemarin-kemarin ini aku renovasi."


Fatia tersenyum. Dia kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Remon. Sementara Remon duduk di tempat kerjanya.


"Mas," ucap Fatia.


Remon menatap Fatia lekat.


"Ada apa?"


"Kamu udah nggak marah sama aku Mas?"


Remon menggeleng.


"Boleh aku bilang sesuatu?"


"Boleh. Kamu mau bilang apa?"


"Kamu kenal sahabat aku yang namanya Erin kan?"


"Ya kenal banget lah. Ada apa emang dengan dia."


"Dia lagi nyari kerja Mas. Katanya aku suruh bilang ke kamu. Dia pengin kerja di sini. Barang kali di kantor ini ada lowongan."


"Lowongan sih memang lagi banyak. Tapi nyari yang berpengalaman. Kalau Erin punya banyak pengalaman, bisa untuk dipertimbangkan."


"Ya dia kan pernah sekantor dengan aku. Pengalaman ya adalah."


"Kalau dia benar-benar butuh pekerjaan, suruh aja dia besok datang ke kantor ini. Bisa langsung bawa berkas-berkas lamarannya."


"Iya Mas. Nanti aku hubungi dia lagi."


*****


Tata masih berada di dalam kamarnya. Sejak kemarin dia mengurung diri di dalam kamar. Sejak tahu cerita dari Andre kalau dia bukan anak kandung Andre dan Carisa, mendadak Tata berubah. Dia menjadi pemurung dan lebih banyak diam. Padahal biasanya dia anak yang sangat ceria.

__ADS_1


Siang ini, Tata masih menatap ke luar jendela kamarnya.


"Tante Lena kemana ya. Kenapa dia nggak datang ke sekolah aku tadi pagi. Dan dia juga nggak datang ke sini. Apa jangan-jangan, dia pergi lagi," ucap Tata.


"Aku pengin ketemu Tante Lena. Aku kangen sama dia. Kata Papa, Tante Lena itu ibu kandung aku. Kalau benar begitu, aku pengin ikut Tante Lena," lanjut Tata.


Beberapa saat kemudian, Carisa masuk ke dalam kamar Tata dan menghampiri Tata.


"Tata," ucap Carisa.


Tata menoleh ke arah Carisa.


"Mama," ucap Tata.


Carisa tersenyum.


"Kamu dari tadi ngapain aja di kamar. Mama panggil-panggil nggak dengar ya. Dari pulang sekolah, kamu belum makan kan? sekarang Tata makan ya. Nanti mama suapi Tata."


Tata menggeleng.


"Aku nggak mau makan Ma. Aku lagi malas makan."


"Tata, jangan begitu dong. Tata harus makan. Yang mama lihat, dari kemarin Tata jadi malas makan. Kenapa sih?" tanya Carisa.


Carisa tidak tahu saja, kalau anaknya sekarang sudah tahu yang sebenarnya. Kalau dia bukan anak kandungnya.


"Mama, aku pengin ketemu sama Tante Lena," ucap Tata yang membuat Carisa terkejut.


"Tante Lena?"


"Benarkah kalau Tante Lena adalah ibu kandung aku mama?"


"Apa! siapa yang bilang begitu. Itu semua bohong sayang. Pasti Tante itu kan yang bilang ke kamu kalau dia ibu kandungnya? itu semua bohong Tata. Kamu jangan percaya."


"Tapi papa juga bilang seperti itu Ma, kemarin."


"Apa! Papa kamu bilang seperti itu?"


'Ih, Mas Andre. Kenapa sih dia harus membocorkan rahasianya sendiri. Bagaimana kalau Tata minta ikut ibu kandungnya.' geram Carisa dalam hati.


"Iya Ma. Papa udah cerita semuanya."


Carisa berjongkok di depan Tata. Dia kemudian mensejajarkan tubuhnya di depan Tata.


"Tata. Ucapan Tante Lena dan Papa kamu itu semua nggak benar. Kamu itu anak kandung Mama dan Papa. Bukan anak kandung Tante Lena. Tante Lena itu cuma ngaku-ngaku aja kalau dia itu ibu kandung kamu."


Tata menghempaskan tangan ibunya. Dia kemudian menatap tajam ke arah Carisa.


"Mama pasti bohong kan. Aku ini bukan anak kandung Mama dan Papa. Aku udah dengar sendiri kok, ucapan mama kemarin. Kalau aku ini bukan anak kandung Mama dan Papa."


Carisa tampak bingung saat mendengar ucapan anaknya.

__ADS_1


"Ucapan mama kemarin? kapan mama bilang kalau kamu bukan anak mama."


Carisa tampak mengingat-ingat, kapan dia pernah mengatakan hal itu.


__ADS_2