
Carisa memegang setirnya kuat-kuat. Dia merasa geram dengan pertanyaan Tata.
"Tata, kamu masih mikirin wanita itu? kenapa sih, kamu harus mikirin wanita itu?" tanya Carisa menatap anaknya tajam.
"Mama, aku kangen sama Tante Lena. Aku kangen dengan ibu kandung aku," ucap Tata.
"Tata, bisa nggak sih kalau kamu jangan sebut-sebut nama Alena lagi di depan Mama. Mama nggak suka Tata," ucap Carisa dengan nada tinggi.
"Mama, tapi aku kangen sama mama kandung aku. Dia biasa datang ke sekolah aku dan menemani aku. Tapi sekarang dia nggak pernah datang lagi."
"Tata, bisa diam nggak kamu...!" bentak Carisa.
Tata diam. Dia kemudian menundukan kepalanya. Dia tampak takut dengan bentakan Carisa.
Chiiiitttttt...
Tiba-tiba saja, Carisa ngerem mendadak. Membuat Tata terkejut.
"Mau kamu mama turunkan di tengah jalan?" tanya Carisa menatap tajam anaknya.
Tata menggeleng."Nggak mau Mama," ucap Tata dengan takut.
"Ya udah. Kalau nggak mau. Kamu harus nurut apa kata Mama. Jangan bicarakan wanita itu lagi di depan mama. Mengerti!"
"Iya Mama."
"Mulai sekarang kamu diam, dan jangan bicara lagi. Kalau kamu bicara, mama akan turunkan kamu di tengah jalan. Biar kamu tidak bisa pulang sekalian."
Carisa sangat geram dengan anaknya sekarang. Dari kemarin dia selalu saja menanyakan tentang Alena. Carisa tidak tahu, dengan apa yang akan dia lakukan sekarang. Memarahi Tata juga percuma, tidak akan membuat Tata berhenti memikirkan Alena.
'Kenapa sih, Tata harus tahu semuanya. Aku benar-benar bingung sekarang,' batin Carisa.
Carisa kemudian melajukan kembali mobilnya. Sementara Tata sudah tidak berani lagi untuk bicara apalagi menanyakan tentang Alena.
Sesampainya di depan rumah, Carisa menghentikan laju mobilnya.
"Turun," ucap Carisa.
Tata mengangguk. Tanpa butuh waktu lama, dia kemudian turun dari mobil.
Tata langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Tata, kamu kenapa?" tanya Bu Alya yang melihat cucunya berlari dan menangis.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Carisa muncul dari depan.
"Carisa. Kenapa Tata nangis? kamu apakan dia?" tanya Bu Alya.
"Ma, sudahlah Ma. Mama nggak usah ikut campur. Ini urusan aku dan Tata. Mama nggak usah ikut-ikutan," ucap Carisa sembari pergi meninggalkan mertuanya.
Bu Alya hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat sikap menantunya, yang semakin hari semakin kurang ajar saja.
"Carisa kenapa sih, nggak berubah-berubah, dari dulu judes terus seperti itu. Dia beda dari mantan menantuku Fatia. Dulu Fatia sangat hormat sekali pada ku. Tapi sayangnya, dia bukan jodohnya anakku Andre. Pengin aku punya menantu seperti Fatia lagi," gumam Bu Alya.
*****
Pagi ini, Andre masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia sudah mengenakan baju kantornya. Dia tampak sedang mencari sesuatu.
"Aku taruh di mana ya berkas-berkas yang semalam. Padahal aku mau bawa ke kantor berkas-berkas itu hari ini," ucap Andre.
Andre membuka-buka setiap laci yang ada di kamarnya. Andre terkejut saat melihat sesuatu yang ada di salah satu laci lemarinya.
"Apa ini. Surat dari rumah sakit? siapa yang sakit?" ucap Andre.
Andre kemudian membuka surat itu. Betapa terkejutnya Andre saat membaca surat itu. Di dalam surat itu dituliskan kalau istrinya tidak akan bisa hamil.
"Apa! jadi Carisa mandul? dia tidak bisa memberikan aku seorang anak. Dan kemungkinan Carisa untuk hamil sangat kecil. Karena ada penyakit di rahimnya. Tapi penyakit apa? Kenapa Carisa tidak bilang ini sama aku. Jadi selama ini dia udah bohongin aku," ucap Andre.
Andre menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia kemudian duduk di sisi ranjangnya.
Sejak tadi, Andre hanya bisa mengurut keningnya. Merasa frustasi dengan masalahnya yang sekarang.
"Untuk apa aku bertahan dengan wanita yang jelas-jelas tidak bisa memberikan aku seorang anak. Sementara aku juga masih butuh keturunan," ucap Andre.
Beberapa saat kemudian, Carisa menghampiri Andre di kamarnya.
"Mas, kamu udah siap kan? kenapa kamu nggak turun ke bawah. Mama dan Dinda sudah nungguin kamu lho."
Andre menatap tajam ke arah Carisa.
"Apa yang sudah kamu sembunyikan dari aku Carisa. Surat apa ini? apa benar, kalau kamu itu mandul? apa benar, kamu tidak bisa memberikan aku seorang anak?"
Carisa membelalakkan matanya saat melihat surat yang ada di tangan Andre.
"Mas, kamu dapatkan itu dari mana?" tanya Carisa.
"Carisa, kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari aku Carisa. Kenapa...!" ucap Andre dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Maafkan aku Mas. Tapi aku nggak mau kehilangan kamu. Kalau kamu tahu aku nggak bisa memberikan kamu anak, pasti kamu akan ninggalin aku. Bisa saja kamu izin untuk nikah lagi. Karena kamu dan mama kamu sering bilang begitu ke aku,"
"Carisa. Kamu tahu kan, kalau aku tidak suka dibohongi. Aku benci dengan seorang pembohong. Dan kamu sudah membohongi aku Carisa?"
"Mas, maafkan aku. Aku nggak bermaksud membohongi kamu Mas. Cuma aku belum siap aja untuk mengatakan semua ini sama kamu."
Andre bangkit dari duduknya. Dia malas harus berdebat dengan istrinya. Hari ini dia akan ada meeting penting dengan klien. Dia masih harus mencari berkas-berkasnya.
"Mas, kamu mau ke mana? maafkan aku Mas...!" ucap Carisa saat melihat suaminya pergi meninggalkannya begitu saja.
Carisa mengikuti suaminya turun ke bawah. Andre berjalan ke ruang makan dan duduk di sana.
"Andre, kamu kenapa? pagi-pagi wajahnya sudah ditekuk gitu?" tanya Bu Alya.
"Kak Andre nyari sesuatu?" tanya Dinda.
Andre mengangguk.
"Kemarin aku menemukan berkas-berkas Kakak di mobil aku. Kemarin kakak pakai mobil aku kan?"
"Iya. Terus kamu simpan di mana berkas-berkasnya Din?"
"Aku simpan di kamar aku Kak. Nanti deh, setelah makan ya Kak aku ambil di kamar aku berkas-berkas kakak. Aku makan dulu ya Kak."
"Iya."
Carisa masih berdiri di sisi Andre tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dinda dan Bu Alya menatap Carisa lekat.
"Kamu lagi ngapain Carisa. Kenapa berdiri aja di situ? kalau mau makan, duduklah!" pinta Bu Alya.
Carisa menatap suaminya.
"Mas, maafkan aku Mas. Aku udah salah. Karena aku udah bohongin kamu," ucap Carisa.
Andre diam. Dia sama sekali tidak menanggapi apa yang Carisa ucapkan. Justru Andre cuek sekali denganya.
Andre mengambil piring dan mencedokan nasi ke piringnya sendiri. Dia juga mengambil lauk pauknya sendiri. Biasanya, Carisa yang melakukan itu. Namun tampaknya, Andre masih marah dengan istrinya. Sehingga dia memilih untuk melakukannya sendiri.
"Kak, kenapa berdiri aja. Duduk dong! nggak capek berdiri aja di situ?" tanya Dinda yang melihat Carisa masih berdiri.
Andre menatap tajam Carisa.
"Nggak usah seperti anak kecil kamu Carisa. Kalau mau duduk, duduk saja!" ucap Andre dengan ketus.
__ADS_1
Carisa akhirnya mau duduk, setelah Andre menyuruhnya duduk.