Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Bertemu Vino


__ADS_3

Setelah lama berada di rumah Ersa, Andre dan Bu Alya memutuskan untuk pulang.


"Ersa, Bu Meta, kalau begitu saya permisi pulang dulu ya," ucap Bu Alya menatap Bu Meta dan Ersa bergantian.


"Duh, Bu Alya mau pulang sekarang?"


"Iya Bu Meta. Sekalian saya mau mampir dulu ke rumah cucu saya."


"Oh, ya udah kalau begitu."


Sebelum berdiri, Andre menatap Ersa.


"Ersa, aku sudah ngasih kartu nama aku. Di dalam kartu itu, ada alamat kantor aku dan nomer handphon aku. Kalau kamu sudah siap kerja, kamu bisa menghubungi aku. Aku akan langsung tempatkan kamu menggantikan posisi ayah kamu."


Ersa tersenyum.


"Makasih banyak ya Pak Andre. Pak Andre baik banget sama keluarga saya. Sampai-sampai, Pak Andre mau menerima saya kerja di kantor bapak tanpa syarat."


Setelah berpamitan dengan Bu Meta dan Ersa, Andre dan Bu Alya kemudian berjalan ke luar dari rumah Bu Meta. Sementara Bu Meta dan Ersa masih mengikuti mereka dibelakangnya.


Andre dan Bu Alya masuk ke dalam mobilnya. Sebelum pergi, mereka tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Ersa dan Bu Meta. Setelah itu, mereka meluncur pergi meninggalkan rumah Bu Meta.


****


Di dalam mobilnya, Bu Alya dan Andre masih saling diam. Mereka masih memikirkan Ersa yang baru saja ditinggal ayahnya. Andre juga pernah merasakan kehilangan seorang ayah. Namun, dia tidak serapuh Ersa, karena Andre punya Vino penyemangat hidupnya.


"Kasihan anak dan istrinya Pak Seno ya Ndre. Mereka pasti sangat kehilangan Pak Seno. Apalagi, dia meninggal dengan tragis seperti itu."


"Iya Ma. Kita doakan saja yang terbaik untuk Pak Seno. Dan kita doakan semoga keluarga yang ditinggalkan bisa tetap tabah menghadapi semua cobaan ini. Karena kita tidak tahu, hidup dan mati seseorang itu."


"Iya Andre. Cuma Pak Seno satu-satunya tulang punggung keluarganya. Kita harus bantu Ersa dan Bu Meta Ndre."


"Iya. Makanya, tadi aku bilang ke Ersa. Aku menyuruh Ersa untuk datang ke kantorku. Aku akan memberikan dia pekerjaan yang bagus dan yang gajinya besar."


"Iya Ndre."


Setelah bercakap-cakap cukup lama, tidak terasa mobil Andre sudah sampai di depan rumah Fatia.


Andre menghentikan mobilnya dan turun bersama ibunya. Mereka berjalan ke arah teras dan mengetuk pintu rumah Fatia.


Beberapa saat kemudian, Nessa muncul dari balik pintu.


"Eh, ada Tante Alya,Kak Andre." Nessa tersenyum ke arah Bu Alya dan Andre.


"Vino ada di sini Ness? atau dia ikut ke rumah Remon?" tanya Andre.


"Oh, Vino ada di sini kok. Dan Kak Remon juga ada di sini. Kalian mau ketemu Vino ya. Masuk aja yuk!" Nessa mempersilahkan Bu Alya dan Andre masuk ke dalam.


Bu Alya dan Andre tersenyum. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah Fatia.

__ADS_1


"Duduk dulu Kak Andre, Tante Alya. Saya akan panggilkan Vino."


Setelah menyuruh Andre dan Bu Alya duduk, Nessa kemudian berjalan menuju ke kamar kakaknya untuk memanggil Vino dan Fatia yang masih berada di kamarnya.


Tok tok tok ..


Nessa mengetuk pintu kamar Fatia.


"Kak...Kak Fatia...! Kak Remon...!"


Beberapa saat kemudian, Fatia membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Ness?" tanya Fatia.


"Ada Kak Andre sama Omanya Vino di depan."


"Oh, mereka ke sini?"


"Iya Kak."


"Ya udah. Nanti aku ke sana ya. Sudah kamu suruh mereka masuk?"


"Udah Kak. Mereka udah duduk di ruang tamu."


"Ya udah. Kakak mau bilang dulu sama Vino."


Fatia kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk memanggil Vino yang sejak tadi masih bergurau dengan Remon.


"Papa dan Omanya Vino datang."


Vino melebarkan matanya.


"Oma ke sini ya Ma?"


Fatia mengangguk.


Vino buru-buru turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Dia langsung ke ruang tamu untuk menemui ayah dan ibunya.


"Papa, Oma.." ucap Vino saat melihat Oma dan Papanya sudah berada di ruang tamu.


Andre tersenyum saat melihat Vino. Dia kemudian merentangkan tangannya.


"Vino, sini Nak.." ucap Andre.


Vino segera mendekat ke arah Andre dan memeluknya. Setelah memeluk Papanya, Vino kemudian memeluk Omanya.


Bu Alya menangkup wajah Vino.


"Vino. Kamu nggak apa-apa Nak? bagaimana kondisi kamu sekarang Nak? apakah benar, kalau kemarin kamu kecelakaan?" Bu Alya tampak sangat mengkhawatirkan Vino.

__ADS_1


Vino menggeleng.


"Aku tidak apa-apa Oma. "


"Duduklah di dekat Papa sayang," ucap Andre sembari menepuk sofa.


Vino kemudian duduk di tengah-tengah Andre dan Bu Alya.


Beberapa saat kemudian, Remon dan Fatia menghampiri Bu Alya dan Andre. Mereka mengajak Oma dan Papanya Vino bersalaman. Setelah itu, mereka berbaur duduk di dekat Bu Alya dan Andre.


Fatia menatap lekat Andre dan Bu Alya, yang saat ini masih mengenakan baju serba hitam.


"Kalian kok, pakai baju serba hitam? apa kalian habis melayat?" terka Fatia.


Andre dan Bu Alya saling menatap.


"Fatia. Kami memang baru pulang dari pemakaman Pak Seno," ucap Bu Alya.


Fatia terkejut saat mendengar nama Pak Seno disebut. "Apa! Pak Seno? Pak Seno meninggal?"


Andre mengangguk. "Iya Fatia. Dia orang terbaik di kantorku, sudah tiada."


"Perasaan, kemarin aja aku pernah lihat dia di jalan. Dia sehat kok Mas. Dia meninggal kenapa? sakit kah?" tanya Fatia yang masih tidak percaya kalau Pak Seno sudah meninggal.


"Nggak Fatia. Pak Seno meninggal karena kecelakaan semalam," jelas Andre.


"Innalilahi. Kita nggak tahu ya, umur seseorang. Padahal kemarin-kemarin aku ketemu sama Pak Seno di jalan. Sekarang udah nggak ada," ucap Fatia.


Fatia memang pernah kenal dengan Pak Seno. Karena dia pernah kerja di kantor Andre. Dan Fatia tahu, kalau Pak Seno itu lelaki yang baik dan dia adalah orang kepercayaan almarhum Pak Daniel.


"Fatia. Kamu buatkan minum gih, untuk Tante Alya dan Andre, barang kali mereka haus." pinta Remon.


Fatia menatap Remon.


"Oh iya. Sampai lupa."


"Jangan repot-repot Fatia. Aku mau sebentar aja kok. Dari tadi pagi, aku juga belum pulang ke rumah. Aku ke sini cuma mau ketemu Vino saja. Ingin memastikan kalau kondisi Vino baik-baik saja," ucap Andre.


"Iya Fatia. Tante juga mau langsung pulang," ucap Bu Alya.


"Tante kan baru datang. Kenapa mau pulang, lagian ini juga masih siang. Baru asar tadi. Aku ambilin minum aja ya." Fatia masih menawarkan untuk mengambil kan minuman untuk Fatia.


Fatia bangkit dari duduknya. Tanpa persetujuan Andre dan Bu Alya, Fatia pergi ke dapur untuk membuatkan Andre dan Bu Alya minum.


Bu Alya menatap Vino. Dia melihat-lihat luka-luka Vino yang ada di tangan dan kepala nya.


"Kamu nggak terluka parah kan Nak?" tanya Bu Alya.


Vino menggeleng.

__ADS_1


"Vino. Lain kali, kamu jangan kabur-kaburan dari rumah lagi ya. Kalau kamu pengin pulang ke rumah mama, kamu bilang sama papa. Papa pasti akan antar kamu, untuk ketemu Mama kamu," ucap Andre.


__ADS_2