Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Mencari Vino


__ADS_3

Andre sudah berada di dalam mobilnya. Sebentar lagi, dia akan meluncur pergi meninggalkan kantornya. Andre tampak masih bertelponan dengan istrinya.


"Sekarang kamu ada di mana Carisa?"


"Aku lagi di taman sama Tata."


"Apa! di taman? bisa-bisanya di saat genting seperti ini kamu masih enak-enakan main sama Tata. Kamu seneng anak aku hilang heh...!"


"Ya terus, aku harus cari ke mana Mas?"


"Ya kamu harus ikut mencari Vino lah. Kamu juga kan yang terlambat jemput dia. Makanya dia bisa hilang. Sekarang, kamu cari Vino sampai ketemu. Kalau nggak ketemu, kamu nggak usah pulang ke rumah aku."


"Lho kok gitu Mas. Tapi kan Mas..."


"Nggak ada tapi-tapian. Cari Vino sampai ketemu...!"


"Baik Mas, baiklah. Aku akan cari Vino."


Andre memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia meluncur pergi untuk mencari Vino.


****


Fatia sejak tadi masih tampak mondar-mandir. Dia terlihat sangat panik saat mengetahui kalau Vino hilang.


Fatia mencoba untuk menghubungi orang tuanya dan Nessa. Namun, mereka juga tidak ada yang tahu di mana Vino. Dan yang terakhir, dia menghubungi Remon.


"Hiks...hiks..."


"Fatia. Ada apa? kenapa kamu nangis?" suara Remon sudah terdengar dari balik telpon.


"Hiks...hiks... Mas. Anak aku Mas."


"Anak kamu kenapa?"


"Anak aku, menghilang."


"Apa! menghilang? kok bisa Fatia."


"Mas Andre nggak jemput dia ke sekolah karena dia sibuk di kantornya. Mas Andre menyuruh Carisa untuk jemput Vino di sekolah. Tapi, Vino udah nggak ada di sana. Bagaimana ini Mas."


"Ya udah. Nanti aku akan cari Vino. Sekarang, kamu nggak usah nangis ya. Aku akan bawa Vino kembali."


"Mas, kamu datang ke tempat aku ya. Aku mau ikut nyari Vino."


"Kamu mau izin kerja?"


"Iya Mas."


"Ya udah. Aku akan meluncur sekarang ya Fatia."


"Iya Mas. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Fatia memutuskan saluran telponnya.


Risma sejak tadi masih menatap Fatia. Dia yang penasaran segera mendekat ke arah Fatia.


"Fatia ada apa?" tanya Risma.


Fatia mengusap air matanya.


"Anak aku hilang," jawab Fatia.


"Apa! hilang? kok bisa?"


"Nggak tahu. Tadi, ibu sambungnya mau jemput Vino ke sekolah, tapi anak aku udah nggak ada di sekolahnya."


"Terus, anak kamu ke mana dong. Apa jangan-jangan di culik?"

__ADS_1


Fatia menatap Risma tajam.


"Di culik?"


"Mungkin saja Fatia. Kan saat ini, lagi maraknya berita penculikan anak."


"Duh Ris. Kamu jangan nakut-nakutin gitu deh."


"Ya, semoga aja anak kamu selamat dan bertemu dengan orang baik."


"Aku harus izin sama Pak Darwin. Aku mau izin dulu sebentar."


"Ya udah. Tuh Pak Darwin. Masih ada di kasur."


Fatia berjalan ke arah Pak Darwin.


"Maaf Pak Darwin," ucap Fatia.


Pak Darwin menatap Fatia. "Ada apa?"


"Saya mau izin keluar sebentar Pak."


"Keluar mau ke mana?"


"Saya mau nyari anak saya Pak."


"Anak kamu? emang kemana anak kamu?"


"Anak saya hilang Pak."


"Hilang ke mana?"


"Saya juga nggak tahu Pak. Makannya saya mau izin dulu untuk nyari anak saya."


"Ya udah, sana pergi. Semoga anak kamu tidak apa-apa."


Fatia kemudian keluar dari restoran untuk menunggu Remon di luar. Beberapa saat kemudian, mobil Remon sudah berhenti di depan Fatia berdiri.


"Ayo masuk Fatia!"


"Iya Mas."


Fatia kemudian masuk ke dalam mobil Remon. Setelah itu, mereka meluncur pergi meninggalkan restoran.


***


"Om. Masih jauh ya rumahnya?" tanya Vino menatap Daren.


"Sebentar lagi sayang," ucap Daren di sela-sela menyetirnya.


Beberapa saat kemudian, mobil Daren melaju ke dalam sebuah rumah mewah yang letaknya tidak jauh dari jalan raya. Daren memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya setelah itu, dia mengajak Vino turun dari mobilnya.


"Wah, ini rumah Om Daren? besar banget ya, mirip kayak rumah Papa aku," ucap Vino yang sejak tadi masih mengamati rumah besar Daren.


Daren mengajak Vino masuk ke dalam rumahnya.


"Untuk sementara, Vino bisa tinggal di sini dulu sama Om. Nanti Om yang akan cari alamat rumah orang tua Vino."


"Iya Om."


"Ayo Vino. Kita duduk dulu di sini," ucap Daren mengajak Vino duduk.


"Iya Om." Vino pun kemudian duduk di dekat Daren.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya mendekat ke arah Daren.


"Siapa anak kecil yang kamu bawa itu?" tanya Bu Elma yang tak lain adalah ibu kandung Daren.


"Ini anak yang aku temuin tadi di jalan. Dia tersesat nggak tahu jalan pulang Ma," ucap Daren menjelaskan.

__ADS_1


"Oh. Siapa nama kamu anak ganteng?" Bu Elma mendekatkan dirinya pada Vino.


Vino tersenyum. "Namaku Vino Oma."


"Oh. Vino."


Bu Elma menatap Daren.


"Daren. Ikut mama sebentar."


"Ada apa Ma?"


"Sudah ikut aja."


Daren menatap Vino. "Om ke sana dulu ya sayang."


Vino mengangguk.


Daren kemudian mengikuti langkah ibunya.


"Ada apa sih Ma?"


"Anak siapa itu yang kamu bawa?" tanya Bu Elma.


"Nggak tahu Ma."


"Kenapa kamu harus bawa dia ke rumah ini."


"Aku kan kasihan sama dia Ma. Dia nangis di tengah jalan. Dia nggak tahu jalan pulang."


"Ya kenapa kamu nggak pulangkan saja ke rumah orang tunya."


"Ya aku juga nggak tahu siapa orang tua anak itu. Dia aja nggak tahu di mana alamat rumahnya. Kalau dia tahu, mungkin aku sudah mengembalikan dia dari tadi."


"Tapi Daren. Bagaimana nanti kalau orang tuanya menemukan dia. Pasti mereka akan berfikir kalau kamu yang culik dia. Mama nggak mau, punya masalah dengan orang tua anak itu."


Daren tersenyum.


"Ma, sudahlah, mama tidak perlu khawatirkan soal itu. Aku akan secepatnya mengembalikan anak itu ke orang tuanya. Tapi aku harus cari tahu dulu siapa orang tua anak itu."


"Ya sudah. Mama ngga mau tahu ya. Dan mama ngga mau kamu punya masalah sama orang Daren."


"Iya Ma, iya. Mama tenang aja."


***


"Vino kamu kemana Vino," ucap Andre di sela-sela menyetirnya.


Sudah seharian penuh Andre mencari Vino. Namun, Vino belum kunjung ditemukan. Andre tidak tahu lagi, kemana dia harus mencari Vino. Dia sudah mencari Vino ke mana-mana. Tapi, Vino tidak ada.


"Ini semua gara-gara Carisa. Kalau sampai anak aku kenapa-kenapa, aku nggak akan pernah memaafkan Carisa," geram Andre sembari mencengkeram setirnya kuat-kuat.


Andre saat ini, sangat kesal dengan Carisa. Karena dia yang menjadi penyebab menghilangnya Vino.


Setelah Andre merasa lelah, Andre kemudian meluncur ke arah rumahnya. Sesampainya dia di depan rumah, Andre turun dari mobilnya dan dia berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Di ruang tengah, sudah berkumpul Dinda, Carisa dan Bu Alya. Mereka sejak tadi sepertinya sedang menunggu kedatangan Andre.


"Bagaimana Kak? apakah Vino sudah ditemukan?" tanya Carisa.


Andre menggeleng.


"Terus, bagaimana dong Kak. Aku takut Vino kenapa-kenapa," ucap Dinda yang tampak sangat mengkhawatirkan Vino. Sementara Carisa sama sekali tidak perduli dengan menghilangnya Vino.


'Hah, hilang aja terus si Vino. Syukur-syukur sih, dia nggak kembali lagi di kehidupannya Mas Andre. Biar kasih sayang Mas Andre nggak terbagi pada Vino anak wanita sialan itu' batin Carisa.


"Andre. Kalau sampai dua puluh empat jam Vino nggak ketemu juga, kita lapor polisi aja. Atau kita buat laporan orang hilang. Biar Vino cepat ditemukan," ucap Bu Alya.


"Iya Ma."

__ADS_1


__ADS_2