
Andre terkejut saat melihat istrinya masuk kamar sembari menangis.
Hiks...hiks...hiks...
Andre yang sedang memakai dasinya, segera menghampiri Carisa.
"Carisa. Ada apa? kenapa kamu menangis?" tanya Andre.
Carisa menatap Andre lekat. Dia kemudian mengusap air matanya.
"Mas, mama kamu," ucap Carisa yang masih terisak.
"Kenapa dengan mama aku?" Andre menatap Carisa sembari membenarkan letak dasinya.
"Kenapa sih, mama kamu itu jahat banget sama aku."
"Emang, apa yang sudah mama lakukan sama kamu? kenapa kamu bisa bicara begitu?"
"Tadi dia bicara macam-macam sama aku Mas."
Andre mengernyitkan alisnya bingung. Dia kemudian duduk di sisi Carisa.
"Aku ingin kita pindah rumah aja Mas. Aku nggak mau tinggal di sini. Aku ingin mengajak kamu dan Tata pergi jauh dari kota ini. Agar kamu, nggak dekat-dekat lagi dengan mama kamu, Fatia, dan Vino."
"Hei, Carisa. Kamu bicara apa barusan. Kamu mau menjauhkan aku dari mama aku dan anak aku. Ngga bisa begitu dong Carisa. Aku masih punya tanggung jawab pada mereka."
"Mas. Tapi aku sakit hati banget sama ucapan mama kamu Mas. Dia udah ngata-ngatain aku mandul lah, ini lah, itu lah, dan yang membuat aku kesal, dia bandingkan aku dengan Fatia Mas."
"Tapi, emang benar kan ucapan mama. Kalau Fatia itu lebih baik dari kamu."
Carisa semakin emosi saja, saat suaminya sama sekali tidak mau membelanya. Dia malah membandingkan Carisa dengan Fatia.
Carisa bangkit berdiri dan menatap Andre tajam.
"Mas, kamu kenapa sih. Ngga pernah sedikitpun belain aku. Aku ini istri kamu Mas. Sebenarnya, kamu itu cinta nggak sih sama aku. Gara-gara Fatia hadir di kehidupan kamu, kamu jadi berubah. Hati kamu, cinta kamu, kamu curahkan untuk mantan istri kamu dan Vino anak kamu. Sedangkan aku dan Tata, apa yang kami dapatkan."
"Cukup Carisa...! aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku nggak mau berdebat dengan kamu lagi. Mengerti...!"
Di pintu kamar Andre, Tata masih berdiri dengan berderaian air mata. Lagi-lagi, dia melihat ke dua orang tuanya bertengkar. Tidak ada hari tanpa bertengkar untuk Carisa dan Andre.
Andre berjalan ke arah pintu. Dia terkejut saat si kecil Tata sudah berada di pintu.
Andre tersenyum pada Tata.
"Tata. Ngapain kamu di sini?" tanya Andre sembari berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Tata.
"Hiks...hiks..papa udah marahin mama lagi ya?" tanya Tata.
__ADS_1
Andre menggeleng. "Nggak kok."
"Tapi, tadi aku lihat kalian bicaranya keras-keras. Pasti kalian berantem."
Andre menggotong tubuh Tata. Dia kemudian menggendong Tata keluar dari kamarnya.
"Tata udah bangun dari tadi ya? kenapa Tata nggak bilang sama papa. Tata mau mandi dan berangkat sekolah ya?" tanya Andre sembari menuruni anak tangga.
Tata hanya diam dalam gendongan Andre. Andre kemudian membawa Tata ke ruang makan dan mendudukan Tata di kursi meja makan.
"Andre, Tata udah bangun? kenapa dia diam aja?" tanya Bu Alya.
"Nggak tahu Ma."
"Mana Carisa?".
"Dia ada di kamar."
"Lagi ngapain dia di kamar. Bukannya bantu-bantu di dapur. Pasti dia lagi asyik mainan hape ya."
"Ma, sudahlah, nggak usah mama bicara apa-apa sama Carisa. Dasarnya dia udah begitu. Mau di kasih tahu bagaimana pun, dia tidak akan pernah berubah."
"Andre, andai kamu dulu mau menunggu Fatia..."
"Ma, bagaimana mungkin aku menunggu Fatia. Mama lihat sendiri kan, kalau Fatia itu sampai sekarang aja belum nikah. Sementara aku juga sudah sangat membutuhkan seorang istri."
"Ya, terserah kamu. Kamu dan Fatia, memang nggak berjodoh."
"Den, kenapa nggak bilang Den, mau buat susu hangat. Kalau bilang kan, nanti bisa bibi buatkan," ucap Bik Ijah. Dia tidak enak kalau harus melihat Andre menyeduh minumannya sendiri.
"Nggak apa-apa Bik. Aku juga lagi buru-buru mau ke rumah sakit."
"Emang siapa yang sakit?"
"Vino sakit."
"Oh, Mas Vino sakit ya? sakit apa Den?"
"Nggak tahu. Kata Fatia dia keracunan makanan."
"Keracunan makanan? kok bisa Den?"
"Nggak tahu tuh Fatia. Di kasih makan apa anaknya sampai keracunan."
Andre kemudian kembali ke ruang makan sembari membawa segelas susu.
"Papa, mau ke kantor ya?" tanya Tata.
__ADS_1
"Iya sayang."
"Papa, aku pengin jalan-jalan. Kapan papa ada waktu untuk ngajak aku dan mama jalan-jalan?"
"Nanti ya sayang. Kakak kamu lagi sakit sekarang. Dia masih butuh papa. Kalau kakak kamu sudah sembuh, nanti kita jalan-jalan."
Tata cemberut.
'Kenapa sih, cuma Kak Vino terus yang di perhatikan Papa. Kenapa aku nggak pernah di perhatikan Papa. Benar apa kata Mama, kalau papa itu udah pilih kasih. Dia lebih sayang sama Kak Vino dari pada sama aku'
Setelah menghabiskan segelas susu hangat, Andre kemudian berpamitan pada ibunya. Dia mencium punggung tangan Bu Alya sebelum pergi.
Andre kemudian menyodorkan tangannya ke arah Tata. Namun, Tata diam saja. Dia sama sekali tidak mau mencium tangan Andre.
"Tata kenapa?"
"Papa pilih kasih. Papa lebih sayang sama Kak Vino dari pada sama aku. Aku benci papa... aku benci...!"
Tata tiba-tiba saja berlari pergi meninggalkan ruang makan. Tata menuju ke kamarnya.
Andre dan Bu Alya saling menatap.
"Ma, tolong kasih tahu Tata ya. Bujuk dia, agar dia mau sekolah dan nggak nangis. Andre mau ke rumah sakit dulu. Andre takut terjadi apa-apa sama Vino."
"Iya Andre. Hati-hati di jalan "
"Iya Ma."
Andre kemudian berjalan ke luar dari rumahnya. Andre mengambil mobil yang ada di garasi rumahnya. Setelah itu, Andre masuk ke dalan mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya..
Andre mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah sampai ke rumah sakit, Akhirnya Andre sampai juga di depan rumah sakit.
Andre memarkirkan mobilnya. Setelah itu, dia berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Sus, ada pasien yang bernama Vino nggak di sini. Katanya dia pasien yang keracunan makanan. Dan baru tadi malam dia di bawa ke sini."
"Oh, tunggu sebentar ya. Saya cek dulu."
Beberapa saat kemudian, Andre menunggu.
"Oh, pasien atas nama Vino, ada di ruang Seruni Pak. Anda bisa masuk saja ke dalam."
"Oh. Baik. Terima kasih banyak ya Sus."
"Iya Pak. Sama-sama."
Andre kemudian masuk untuk mencari ruang Seruni yang dibilang suster tadi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Andre tersenyum saat melihat ruang Seruni nomer 7. Ya, Vino sekarang memang sedang di rawat di ruangan itu.
Andre buru-buru masuk ke dalam ruangan Vino. Andre terkejut saat melihat Fatia dan Remon tidur bersama di sebuah sofa yang ada di ruangan Vino. Mereka saling bersandar satu sama lain.