Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Wanita berkerudung hitam


__ADS_3

"Hah, apa aku ke sini, harus melihat kemesraan mereka. Benar-benar memuakan!" gerutu Andre.


Andre memutar tubuhnya. Dia akan pergi meninggalkan ruangan Vino. Namun, buru-buru Vino memanggilnya.


"Papa..." seru Vino.


Andre menoleh ke belakang. Diikuti Fatia dan Remon yang sama-sama mengerjapkan matanya. Fatia dan Remon terkejut saat melihat Andre.


"Mas Andre, kamu udah ada di sini sejak tadi?" tanya Fatia. Dia bangkit berdiri dan menghampiri Andre.


"Iya," ucap Andre singkat.


"Dari semalam, Vino nyariin kamu terus Mas. Dia panggil-panggil nama kamu terus."


"Itu itu artinya, kamu nggak becus jadi seorang ibu," ucap Andre ketus.


Fatia benar-benar tidak enak mendengar ucapan Andre.


"Bisa jaga nggak tuh mulut!" Remon menatap tajam Andre sembari menunjuk Andre dengan telunjuknya.


"Andre. Kamu jangan sekali-kali ngata-ngatain calon istriku seperti itu!" ancam Remon.


Fatia meraih tangan Remon,


"Mas, sudahlah, Vino lagi sakit. Lebih baik, kita tinggalkan Vino saja dengan Mas Andre. Barang kali, mereka mau ngobrol."


"Iya Fatia."


Remon mendekat ke arah Vino untuk berpamitan.


"Vino, Om keluar dulu ya sama Mama."


"Mau ke mana Om?" tanya Vino.


"Om mau nyari makanan dulu di luar. Mama kamu belum makan sejak semalam."


"Iya Om. Jangan lama-lama ya."


"Iya sayang."


Remon dan Fatia kemudian pergi meninggalkan ruangan Vino.


****


Sore ini, Tata masih bermain-main boneka di halaman depan rumahnya. Dari kejauhan, seorang wanita tampak memperhatikannya.


"Benarkah, Kak Carisa tinggal di rumah Kak Andre sekarang. Benarkah, kalau mereka sudah menikah. Lalu, anak kecil itu siapa?" sejak tadi, Alena masih bertanya-tanya dalam hati. Siapa anak kecil yang sedang bermain boneka di halaman depan rumah Andre.


Tata, menatap heran seorang wanita yang ada di depan gerbang rumahnya. Tata kemudian membawa bonekanya dan melangkah mendekat ke arah wanita itu.


"Tante, cari siapa?" tanya Tata pada Alena yang saat ini, masih mengenakan baju serba hitam, kaca mata hitam, dan kerudung hitam.


"Hai, sayang. Kamu kenapa mainan sendiri aja?" tanya Alena sembari mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Tata.


"Iya. Mama aku lagi sakit. Dia ada di kamar," jawab Tata.


"Oh. Kalau papa kamu?"


"Dia kerja Tante."

__ADS_1


"Oh, kerja ya. Jadi, kamu sendirian aja."


"Iya Tante."


"Nama kamu siapa?" tanya Alena.


"Tata Tante," jawab Tata.


Alena terkejut saat mendengar jawaban Tata.


'Benarkah, kalau dia anak yang selama ini aku cari. Tata, cantik sekali dia. Dia udah besar,' batin Alena sembari masih menatap lekat anaknya.


Alena tidak bisa menahan tangisannya. Setetes bening membasahi pipi mulus Alena.


"Tata. Anak mama..." Tiba-tiba saja Alena memeluk erat Tata. Membuat Tata terkejut dan takut.


Tata segera mendorong tubuh Alena hingga Alena terjatuh.


"Auh..." pekik Alena. "Kenapa kamu dorong mama Nak?"


"Tante bukan mama aku. Mama aku itu cuma mama Carisa. Dan papa aku itu cuma papa Andre. Nggak ada yang lain."


"Sayang, ini mama sayang. Ibu kandung kamu."Alena masih tampak meyakinkan Tata kalau dia ibu kandungnya. Tapi nampaknya Tata tidak percaya.


"Nggak mungkin. Tante pasti bohong. Aku mau laporin ini sama mama."


Tata segera berlari masuk ke dalam rumahnya sembari membawa bonekanya. Sementara Alena hanya bisa menangis menatap kepergian Tata.


Hiks...hiks..hiks...


"Anak mama, maafkan Mama sayang atas semua kesalahan yang pernah mama lakukan. Mama ingin menjemput Tata. Mama ingin bisa berkumpul lagi dengan Tata. Kita mulai hidup bersama sayang. Maafkan Mama karena mama sudah meninggalkan Tata waktu masih bayi. Mama menyesal Tata."


***


"Mama...mama...mama...!" seru Tata.


Bu Alya menghampiri cucunya.


"Ada apa sayang? kamu kenapa teriak-teriak seperti itu?"


"Oma, tadi ada orang di luar. Katanya dia ibu kandung aku. Apa benar, kalau aku bukan anaknya mama Carisa. Apa benar dia ibu kandung aku?" tanya Tata menatap lekat Bu Alya.


Bu Alya terkejut bukan main saat mendengar penuturan Tata.


"Wanita siapa sayang?"


"Itu...ada di depan. Tadi dia ngobrol sama aku. Dia nangis sambil meluk aku. Katanya aku itu anaknya"


Bu Alya yang tampak penasaran, segera melangkah untuk melihat ke depan. Namun, di depan tampak tidak ada orang.


"Nggak ada siapa-siapa di depan."


'Apa mungkin, yang Tata lihat itu Alena. Ibu kandungnya. Kok, Alena bisa tahu Tata tinggal di sini. Alena kan nggak tahu, kalau Andre sudah menikah dengan Carisa. Kenapa dia bisa tahu Carisa dan Tata tinggal di sini.' batin Bu Alya.


Bu Alya kemudian masuk kembali dan menemui Tata.


"Nggak ada siapa-siapa sayang. Nggak ada orang di depan."


"Mungkin, orangnya tadi udah pergi Oma."

__ADS_1


"Ya udahlah, lain kali kalau ada orang ngaku-ngaku seperti tadi, Tata jangan percaya ya. Oma takutnya itu orang jahat yang mau jahatin Tata. Tata itu anak kandung Mama Carisa dan Papa Andre kok." Bu Alya mencoba meyakinkan Tata agar dia tidak terpengaruh dengan orang asing di luar.


Tata mengangguk mengerti.


"Iya Oma."


"Ya udah. Sekarang Oma antar ke kamar mama yuk! Mama lagi istirahat kan?"


"Iya Oma. Mama sakit katanya."


"Ya udah. Jangan main sendiri. Nanti di culik. Nanti Tata bisa hilang kayak Kak Vino. Tata kalau main di dalam aja ya."


"Iya Oma."


Bu Alya kemudian merangkul bahu Tata dan mengajak Tata untuk naik ke atas menemui mamanya.


Sesampainya di depan kamar Carisa, Bu Alya mengetuk pintu kamar Carisa.


Tok tok tok...


Beberapa saat kemudian, Carisa membuka pintu.


"Tata, Mama, ada apa?" tanya Carisa.


"Carisa. Mama mau bicara sama kamu."


"Mau bicara apa lagi sih Ma?"


"Carisa. Bisa ikut mama sebentar. Ini masalah penting Carisa. Ini ada hubungannya sama Tata."


Carisa menatap Tata lekat.


"Tata masuk ke dalam dulu ya. Tata main di dalam. Nanti, mama ke sini lagi. Mama mau bicara dulu sama Oma."


"Iya Oma."


Tata masuk ke dalam kamar Carisa. Sementara Bu Alya mengajak Carisa untuk bicara di balkon lantai atas.


"Ada apa lagi sih Ma? Mama mau bicara apa? "


"Tadi di depan sepertinya ada adik kamu," ucap Bu Alya yang membuat Carisa terkejut.


"Apa! ada adik aku? Mama serius? Mama lihat dengan mata kepala mama sendiri kalau itu Alena."


"Mama nggak lihat, mama cuma dengar dari Tata."


"Tata bilang apa ke mama?"


"Katanya tadi ada wanita yang berbaju serba hitam, dia menangis, dan memeluk Tata. Dia bilang ke Tata kalau dia adalah ibu kandungnya."


"Apa!"


"Coba kamu tanya langsung sama Tata. Dia pasti bakalan cerita."


"Apa jangan-jangan, Alena sengaja datang ke sini, untuk merebut Tata dari aku. Aku nggak akan pernah membiarkan Alena merebut Tata dari aku. Aku yang sudah merawat Tata dari Tata masih bayi."


"Mama juga, nggak akan membiarkan seandainya adik kamu, membawa Tata. Nanti kalau nggak ada Tata, rumah ini sepi Carisa. Vino, belum tentu boleh dibawa ke sini. Karena Fatia itu susah orangnya."


"Mama tenang aja. Aku nggak akan pernah membiarkan Alena mengambil Tata. Tata itu harta yang paling berharga dalam hidup aku. Aku akan bicara sama Tata, agar Tata nggak dekat-dekat lagi dengan orang yang baru dikenalnya. Aku nggak mau kehilangan Tata."

__ADS_1


__ADS_2