Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Pemakaman Pak Seno


__ADS_3

Bu Alya dan Andre turun dari mobilnya, setelah mereka sampai di depan rumah Pak Seno.


Andre dan Bu Alya kemudian masuk ke dalam rumah Pak Seno. Andre menatap ke arah jenasah Pak Seno.


"Hiks...hiks...hiks... papa... papa... bangun Pa, jangan tinggalin aku..."


"Papa, jangan tinggalin mama Papa... mama nggak sanggup hidup tanpa Papa..."


Dua orang wanita tampak masih menangis di sisi jenasah Pak Seno. Mereka sepertinya adalah istri dan anak perempuannya Pak Seno.


"Kasihan banget mereka. Pasti mereka sangat terpukul atas kematian Pak Seno. Aku bisa merasakan perasaan istrinya Pak Seno. Karena aku juga pernah kehilangan seorang suami," ucap Bu Alya lirih.


Bu Alya kemudian mendekat ke istri dan anaknya Pak Seno. Dia kemudian duduk dan berbaur bersama mereka.


"Sabar ya. Kalian harus ikhlaskan Pak Seno. Dia orang yang baik. Pasti dia akan ditempatkan di tempat yang baik juga," ucap Bu Alya mencoba menenangkan tangisan istri dan anaknya Pa Seno.


Dua wanita itu menatap Bu Alya. Mereka tampak asing dengan Bu Alya.


Meta istri Pak Seno menatap Bu Alya lekat.


"Siapa anda?" tanya Bu Meta.


"Saya Alya. Istrinya almarhum Pak Daniel. Ibu pasti mengenal suami saya," ucap Bu Alya memperkenalkan diri.


Bu Meta mengusap air matanya.


"Iya. Saya sangat kenal dengan Pak Daniel. Dia juga orang yang sangat baik. Jadi, ibu ini ibunya Pak Andre?" ucap Bu Meta.


Bu Alya mengangguk. "Iya."


"Ibu ke sini sama siapa?" tanya Bu Meta.


"Sama Andre."


"Mana Andre?"

__ADS_1


"Itu.." Bu Alya menunjuk ke arah di mana Andre berdiri.


Bu Meta tersenyum. Dia terharu karena bos besar perusahaan tempat suaminya kerja, mau juga melayat di kediaman suaminya.


Bu Meta menatap Ersa anaknya. Dia kemudian mencoba untuk menenangkan Ersa.


"Ersa. Jangan seperti ini Nak. Kasihan ayah kamu. Kita harus bisa mengikhlaskan dia pergi. Biar dia bisa pergi dengan tenang," ucap Bu Meta mencoba menenangkan tangisan Ersa anak semata wayangnya.


Ya, Pak Seno dan Bu Meta hanya punya satu anak perempuan. Dan Ersa lah anak tunggal mereka.


Ersa menatap ibunya.


"Kenapa Ma, Papa harus pergi tinggalin kita. Kenapa Ma, Papa harus pergi dengan cara tragis seperti ini. Hiks...hiks..."


"Sabar Nak, ikhlaskan. Mungkin semua sudah takdir. Dan takdir, tidak akan pernah bisa dirubah," ucap Bu Meta sembari meraih kepala anaknya dan menenggelamkan kepala Ersa di di dadanya.


****


Siang ini, Andre dan Bu Alya masih berada di pemakaman Pak Seno. Semua orang sudah pergi meninggalkan makam. Di makam saat ini, masih ada Andre, Bu Alya, Bu Meta dan Ersa. Mereka masih bersimpuh di sisi makam Pak Seno.


"Pak Seno, bapak memang orang yang baik. Bapak sudah mengabdi lama di kantorku. Bapak juga orang yang terpenting yang sudah ikut andil dalam kemajuan perusahaan ayahku. Dan sekarang giliran aku membalas budi atas semua kebaikan bapak selama ini," ucap Andre sembari mengusap-usap batu nisan Pak Seno.


Ersa memang sudah lulus kuliah. Namun, saat ini dia masih menjadi pengangguran. Dan usianya juga sudah menginjak 25 tahun. Di usia yang sudah dewasa itu, Ersa belum menikah. Dia juga belum mau seriusan dengan lelaki.


Dia pernah kerja, di sebuah kantor perbankan, namun itu tidak berlangsung lama. Ersa mengundurkan diri. Mungkin karena Ersa ingin mencoba kerja di tempat lain.


Bu Meta bangkit dari duduknya.


"Ersa, kita pulang yuk sayang," ucap Bu Meta merangkul bahu Ersa.


Ersa yang sejak tadi masih berlinangan air mata menatap ibunya.


"Ma, aku pengin tetap di sini Ma. Aku masih kangen sama papa."


"Bu Meta, kalau Bu Meta mau pulang, pulang aja sama mama aku. Biar Ersa pulang sama aku."

__ADS_1


"Andre, kamu mau pulang sama Ersa? katanya kita mau jengukin Vino," ucap Bu Alya.


"Iya nanti Ma. Nanti aku telpon Fatia. Aku mau tanya, Vino udah pulang atau belum dari rumah sakit. Mama pakai mobil aku aja, dan antarkan Bu Meta ke rumahnya. Aku biar naik taksi aja sama Ersa."


"Ya udahlah Andre. Biar Mama temani Bu Meta dulu," ucap Bu Alya.


Bu Alya kemudian merangkul Bu Meta dan mengajaknya pergi meninggalkan makam Pak Seno.


Andre sejak tadi masih menatap Ersa. Dia kasihan melihat gadis itu yang tampak rapuh. Andre berjalan dan mendekati Ersa. Dia kemudian duduk di sisi Ersa.


"Sudahlah, ikhlaskan saja. Jangan tangisin ayah kamu terus. Biar dia bisa tenang di sisi Nya."


Ersa tampak masih diam. Dia masih menatap makam ayahnya sembari sesekali menabur bunga di atas makamnya.


Andre mengeluarkan sapu tangannya. Dia kemudian menyodorkan sapu tangan itu pada Ersa.


"Ini, sapu tangan buat kamu. Hapus lah air mata kamu Ersa."


Ersa menatap Andre. Gadis cantik itu lantas tersenyum.


"Makasih ya Pak Andre. Pak Andre sudah mau menyempatkan diri datang ke makam ayah saya," ucap Ersa dengan suara serak. Mungkin dia kebanyakan menangis, yang membuat suaranya menjadi serak.


Ersa mengambil sapu tangan dari tangan Andre. Kemudian dia mengusap air matanya dengan sapu tangan itu.


"Kamu nggak sendiri Ersa. Aku janji, aku akan selalu menjaga kamu dan ibu kamu. Aku akan membantu semua kesulitan kalian. Jadi ,kamu jangan sedih ya Ersa. Bila perlu, aku akan pekerjakan kamu di kantor aku. Menjadi sekretaris aku, menggantikan almarhum ayah kamu."


Ersa terkejut saat mendengar tawaran dari Andre. Kapan lagi, ada pengusaha besar, yang mau begitu saja mempekerjakan seseorang yang belum berpengalaman seperti Ersa menjadi sekretaris pribadinya.


Namun, Andre memang sengaja ingin memperkerjakan Ersa demi membantu keluarga yang Pak Seno tinggalkan.


"Bagaimana Ersa. Kamu mau kan, menjadi sekretaris aku untuk menggantikan ayah kamu?"


"Tapi Pak Andre. Aku kan, belum pengalaman Pak."


"Hehe...Ersa, aku tahu kamu punya kemampuan yang tidak dimiliki orang lain. Dan aku yakin, potensi ayah kamu itu akan menurun ke kamu. Karena kamu adalah anaknya. Aku yakin, kamu pasti bisa seperti ayah kamu. Kalau kamu belum punya pengalaman, nanti aku bisa ajari kamu."

__ADS_1


Ersa tersenyum. Dia menatap Andre lekat.


'Ternyata, Pak Andre lelaki yang baik. Ternyata penilaian orang ke Pak Andre itu salah. Orang menilai Pak Andre itu, CEO Arogan dan galak. Dia bisa bertindak semena-mena saja pada karyawannya. Tapi ternyata, dia orang yang baik.' batin Ersa


__ADS_2