Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Waktu sepuluh menit


__ADS_3

"Carisa buka...! satu...dua... " Seruan Andre membuat Carisa bergidik ngeri.


Carisa akhirnya memberanikan diri membuka pintu untuk suaminya. Walau dalam hatinya ada rasa takut yang berlebihan. Dia takut suaminya akan berbuat kasar padanya.


Carisa menundukkan kepalanya.


"Maaf kan aku Mas. Aku menyesal, karena aku sudah membuat Vino pergi dari rumah ini. Aku mohon, maafkan aku."


"Semudah itu, kamu minta maaf. Setelah kamu mencelakai anak kesayanganku?"


"Mas, aku mohon. Jangan marah sama aku Mas. Aku janji, aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku akan menebus semua kesalahan aku."


"Carisa. Aku itu muak banget melihat air mata buaya kamu itu. Kamu itu memang tidak pernah mau menerima anak aku. Kalau kamu seperti ini terus, jangan salahkan aku, untuk cari ibu baru untuk Vino. Wanita yang mau menerima anak aku."


Carisa terkejut saat mendengar ucapan Andre. Dia kemudian menatap Andre tajam.


"A-apa? kamu nggak serius kan Mas dengan ucapan kamu."


"Kapan aku pernah bercanda Carisa? untuk apa aku pertahankan wanita yang nggak sayang sama Vino. Dan kamu juga nggak bisa memberikan aku seorang anak."


Setetes air mata Carisa membasahi pipi mulusnya. Dia tidak menyangka kalau Andre akan bicara seperti itu. Carisa fikir, setelah Fatia menikah dengan Remon, Andre akan berubah lebih sayang ke dia.


Tapi, ternyata Carisa salah. Andre justru ingin mencari istri lagi. Carisa nggak sanggup seandainya Carisa harus bercerai apalagi harus di poligami.


Carisa berlutut di depan Andre.


"Mas, aku mohon jangan bicara seperti itu. Aku nggak sanggup Mas, seandainya kamu menceraikan aku. Aku nggak sanggup Mas, seandainya kamu punya istri lagi dan aku nggak mau ada poligami di rumah tangga kita."


Andre diam. Dia sama sekali tidak mau menatap istrinya. Andre kemudian melepas paksa tangan Carisa dari kakinya.


"Aku akan temui anak aku di rumah sakit," ucap Andre. "Aku nggak mau buang-buang waktu di sini, bersama mu."


Andre berjalan ke arah lemari bajunya. Dia kemudian mengambil jaket dan memakainya. Andre menatap Carisa tajam..


"Kalau ada apa-apa sama anak aku, aku nggak akan pernah memaafkan kamu Carisa...!" geram Andre sebelum pergi.


Andre kemudian pergi keluar dari kamarnya. Karena khawatir dengan kondisi anaknya, Andre memilih untuk pergi ke rumah sakit dari pada berantem bersama Carisa.


Andre berjalan ke garasi mobilnya. Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


"Maaf kan Papa Vino. Lagi-lagi, Papa lalai," ucap Andre di sela-sela menyetirnya.


Andre menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh untuk sampai ke rumah sakit. Dia sangat mengkhawatirkan anaknya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Andre pun memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya.


Andre kemudian berjalan memasuki rumah sakit.


"Benar nggak sih, kalau Vino di rawat di rumah sakit ini. Di mana ya, ruangan Vino. Apa aku telpon Fatia aja," ucap Andre.


Andre tampak berfikir. Seandainya dia menelpon Fatia, pasti Fatia tidak akan pernah mau memberi tahu ruangan Vino ada di mana.


"Tapi nggak deh, aku cari sendiri aja di dalam, seandainya aku nelpon Fatia pun, dia nggak akan pernah memberi tahu aku." ucap Andre.


Andre kemudian berjalan mencari ruangan anaknya.


Sesampainya di depan sebuah ruangan, Andre menghentikan langkahnya. Samar-samar, dia mendengar suara orang bercakap-cakap.


"Itu seperti suara Fatia dan Remon," ucap Andre.


Andre kemudian, mengintip dari balik jendela kamar. Memang benar kalau di ruangan itu, ada Fatia dan Remon. Juga ada Vino yang saat ini, masih terbaring lemah di ranjang kecil rumah sakit.


"Vino, kasihan banget kamu Nak," ucap Andre.


Andre kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Yang membuat Fatia dan Remon terkejut.


"Mas, kamu mau ngapain ke sini?" tanya Fatia menatap Andre tajam.


"Mau ngapain kamu ke sini Mas! " sentak Fatia.


"Apa kamu tuli Mas, apa kamu nggak dengar aku bilang apa. Mas, aku kan sudah bilang. Jangan pernah kamu temui Vino lagi. Karena mulai sekarang, aku nggak akan pernah membolehkan kamu untuk ketemu anak kita."


"Fatia. Jangan begitu Fatia. Aku mohon, izinkan aku untuk ketemu Vino. Aku sangat mengkhawatirkan Vino."


"Mas, kalau Vino ada di dekat kamu, Vino itu sial terus. Sekarang aja dia pergi dari rumah dan keserempet motor. Untung saja dia cuma luka-luka ringan. Bagaimana kalau dia cedera parah. Dia itu kan lagi sekolah Mas."


"Fatia. Aku mau minta maaf Fatia atas semua kesalahan aku. Aku mohon, izinkan aku untuk ketemu Vino. Sebentar saja."


"Nggak. Aku nggak akan pernah ngizinin kamu untuk ketemu Vino."


Beberapa saat kemudian, Remon keluar dari ruangan Vino. Dia menatap ke arah Andre dan Fatia yang masih berdebat.


Remon menghampiri Fatia.


"Sayang, sudahlah. Biarkan saja Andre masuk. Dia ingin melihat keadaan Vino. Walau bagaimanapun juga, dia tetap ayahnya Vino. Dan Vino masih membutuhkannya."


Remon memegang ke dua bahu Fatia. Membujuk Fatia agar Fatia mau mengizinkan Andre untuk ketemu Vino.

__ADS_1


Dari dulu, Remon memang tidak pernah membenci Andre. Dia selalu sabar walau Andre sudah sering sekali menyakitinya.


Fatia tampak berfikir.


"Fatia. Aku cuma mau sebentar aja kok. Nggak akan lama," ucap Andre.


"Baiklah. Silahkan kamu masuk Mas. Aku beri waktu kamu sepuluh menit untuk bertemu anak kamu," ucap Fatia.


Andre tersenyum. Dia kemudian buru-buru masuk ke dalam ruangan Vino.


Andre duduk di sisi Vino berbaring. Dia kemudian mengecup puncak kepala Vino.


"Sayang, maafkan Papa ya. Lagi-lagi Papa lalai menjaga kamu Nak," ucap Andre sembari meraih tangan Vino.


Andre mengecupi tangan Vino dan mendekap tangan kecil itu di pipinya.


"Maafkan Mama Carisa juga ya Nak, yang sudah memarahi kamu waktu kamu pecahkan kaca di rumah papa."


Vino yang di ajak bicara, sepertinya tidak merasakan kehadiran ayahnya. Karena dia tidurnya sangat nyenyak sekali.


"Sayang, kita masuk yuk!" Remon mengajak Fatia masuk ke dalam ruangan Vino setelah kemarahan Fatia mulai mereda.


"Iya Mas."


Dengan merangkul bahu Fatia, Remon pun masuk bersama istrinya.


Remon dan Fatia menatap Andre. Andre yang tampak menangis saat mengajak Vino bicara.


"Mas, sudah malam. Pulanglah Mas. Pasti istri kamu sudah menunggu mu di rumah."


Andre mengusap air matanya dan langsung menatap tajam Fatia.


"Maaf Fatia. Aku masih ingin bicara dengan Vino."


"Andre. Benar apa kata Fatia. Kamu pulang dulu saja. Ini udah malam banget. Biar kami yang menjaga Vino di sini. Karena Vino juga masih tanggung jawab aku dan Fatia," ucap Remon


"Lagian, Vino juga nggak dengar kan kamu bicara. Dia kan masih tidur. Dan lihatlah, dia tidurnya nyenyak banget. Kalau kamu mau ke sini besok saja, kalau Vino sudah bangun. Kamu nggak mau kan, mengganggu tidur anak kamu," lanjut Remon.


"Dan ini juga sudah sepuluh menit Mas, aku cuma ngasih waktu kamu sepuluh menit untuk bertemu Vino," ucap Fatia.


Andre bangkit berdiri.


"Baiklah. Makasih ya Fatia. Sudah mengizinkan aku untuk ketemu dengan anak aku," ucap Andre.

__ADS_1


Fatia mengangguk.


__ADS_2