Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Menghilangnya Vino


__ADS_3

Carisa sejak tadi masih fokus menyetir. Dia membawa Tata juga ke sekolah Vino. Sesampai di sekolah Vino, Carisa terkejut saat melihat sekolah Vino yang sudah tampak sepi.


"Lho, kok sekolahnya sepi," ucap Carisa." Apa jangan-jangan, Vino udah pulang. Lalu, siapa dong yang jemput Vino."


"Kenapa Ma?" tanya Tata menatap lekat mamanya.


"Sekolahnya udah sepi sayang. Kamu tunggu di sini dulu ya. Mama mau masuk ke dalam. Barang kali kakak kamu ada di dalam," ucap Carisa.


"Iya Ma."


Carisa turun dari mobilnya. Dia berjalan masuk ke dalam sekolah Vino. Carisa menghampiri salah satu guru yang ada di sekolah Vino.


"Bu, anak kelas satu sudah pulang Bu?" tanya Carisa pada seorang wanita yang memakai seragam guru.


"Anak kelas satu sudah pulang dari tadi Bu," jawab guru itu.


"Oh, udah dari tadi ya. Terus, anak saya ada di dalam nggak?"


"Anak anda namanya siapa?"


"Vino."


"Vino?"


"Iya. Saya disuruh ke sini oleh ayahnya Vino untuk menjemput Vino."


Wanita itu tampak mengingat-ingat sesuatu.


"Vino nya sepertinya udah pulang deh. Di dalam sudah tidak ada siapa-siapa. Paling juga satpam."


"Duh, ibu tahu nggak siapa yang menjemput anak saya."


"Saya tidak melihat Vino pulang Bu."


"Ya udah. Makasih ya Bu."


Tata yang sejak tadi masih menunggu di dalam mobil, keluar dari mobil dan berjalan menghampiri ibunya.


"Mana Kak Vino Ma?" tanya Tata.


Carisa menatap sekeliling. Barang kali dia melihat Vino masih ada di sekitar sekolah.


"Kakak kamu, udah pulang katanya sayang."


"Udah pulang ya Ma."


"Mungkin, di jemput sama ibunya."


"Oh. Ya udah kalau gitu. Kita pulang sendiri aja."


"Ya udah yuk! Mama juga capek nih. Sebelum pulang, gimana kalau kita mampir dulu sayang."


"Mampir ke mana Ma?"


"Kita jalan-jalan dulu. Kita jalan-jalan berdua tanpa papa."

__ADS_1


"Oke Ma. Aku setuju."


Carisa kemudian mengajak Tata masuk ke dalam mobil. Setelah itu, dia meluncur pergi meninggalkan sekolah Vino.


****


Huhuhuhu...


Vino masih menangis di sisi jalan raya. Dia bingung untuk pulang ke rumahnya. Vino sepertinya lupa arah jalan pulang. Jarak rumah Vino ke rumah Fatia memang jauh. Biasanya, Vino selalu di antar jemput Fatia naik motor.


Vino masih menangis. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil melaju ke arahnya. Seorang lelaki turun dari mobilnya. Dia kemudian berjalan mendekati Vino.


"Dek, kamu kenapa nangis di sini?" tanya lelaki itu setelah sampai di depan Vino.


Vino menatap lekat lelaki itu.


"Aku, nggak bisa pulang Om, Papa aku, nggak jemput aku ke sekolah. Sekarang aku bingung untuk pulang."


"Rumah kamu di mana dek? biar nanti Om yang akan antar kamu pulang."


"Rumah aku jauh Om. Dan aku lupa jalan ke rumah aku."


Duh, anak siapa sih ini, bingung juga ya aku, kalau dia nggak tahu alamat rumahnya sendiri. Aku harus mengembalikan dia ke orang tuanya. Pasti orang tuanya sekarang sedang mencari anak ini.


Lelaki itu kemudian duduk di samping Vino.


Kasihan anak ini. Kalau dibiarkan saja di sini, bagaimana nanti kalau ada orang yang menjahatinya. Apa aku bawa anak ini pulang dulu ya ke rumah aku.


"Kamu nggak usah takut. Om bukan orang jahat kok. Om akan menolong kamu. Sekarang, kamu ikut Om dulu ya."


Vino menatap lelaki itu lekat.


"Pulang ke rumah Om," jawab lelaki itu.


Vino tampak berfikir.


"Oh iya. Kenalkan. Nama Om, Daren. Kalau nama kamu siapa?"


"Aku Vino Om."


"Oh. Vino. Ya udah. Gimana kalau kamu ikut Om pulang ke rumah Om. Nanti, Om akan cari alamat rumah kamu dan bawa kamu ke rumah orang tua kamu."


Vino tersenyum. "Makasih ya Om."


Daren kemudian menggandeng Vino dan membukakan pintu mobilnya untuk Vino.


"Ayo masuk."


Tanpa ragu-ragu, Vino pun kemudian masuk ke dalam mobil lelaki yang bernama Daren itu.


***


Selesai meeting, Andre ke luar dari ruang meeting. Andre buru-buru berjalan ke ruangannya.


Andre masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya. Andre mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya untuk menelpon Carisa.

__ADS_1


"Halo..." suara Carisa terdengar dari balik telpon.


"Halo Carisa. Mana Vino? aku ingin bicara dengan dia."


"Maaf Mas. Aku telat jemput Vino."


"Apa! telat? terus Vino pulang sama siapa?"


"Nggak tahu Mas. Aku sampai di sekolah Vino, dia sudah nggak ada. Mungkin aja Vino udah di jemput Remon atau Fatia."


"Ya udah deh. Aku akan telpon Fatia sekarang."


Andre kemudian menutup saluran telponnya. Dia kemudian menelpon Fatia.


"Halo Mas."


"Halo Fatia. Vino sudah ada sama kamu?"


"Lho. Kamu kok nanya Vino ke aku. Bukannya Vino ada sama kamu?"


"Duh, aku serius Fatia. Vino sekarang ada di mana?"


"Mas, aku lagi kerja Mas. Aku nggak jemput Vino. Mana mungkin Vino ada di sini."


"Duh, terus yang udah jemput Vino ke sekolah siapa dong."


"Mas. Kamu gimana sih. Vino ke mana?"


"Fatia. Tadi aku udah suruh Carisa untuk jemput Vino ke sekolah. Tapi, sampai di sana, Vino udah nggak ada. Aku fikir, kamu atau Remon yang jemput dia."


"Mas, aku nggak jemput Vino kok. Dan Vino juga nggak ada sama Mas Remon sekarang. Orang aku baru telponan sama dia kok tadi. Dan Vino nggak ada sama Mas Remon Mas."


"Duh, terus Vino pergi ke mana. Dan sekarang Vino sama siapa."


"Coba Fatia. Kamu tanya-tanya sama saudara kamu. Barang kali dia lihat Vino."


"Mas. Kamu nggak jemput Vino tadi di sekolah."


"Ya aku nggak jemput dia. Tapi aku udah nyuruh Carisa untuk jemput dia. Tapi, pas Carisa datang ke sekolah Vino, Vino udah pulang duluan. Dan Carisa nggak tahu siapa yang sudah membawa Vino pergi."


"Ya ampun Mas, kamu ini gimana sih. Kenapa bukan kamu yang jemput Vino. Kenapa kamu harus suruh Carisa sih!"


"Fatia. Maafkan aku. Aku sibuk banget. Tadi, aku mau ada meeting. Makanya aku suruh Carisa."


"Terus, sekarang Vino di mana Mas."


"Sabar Fatia. Nanti aku akan cari Vino. Sekarang aku mau cari Vino. Kamu nggak usah panik begitu."


"Pokoknya aku nggak mau tahu ya Mas. Kamu harus tanggung jawab atas menghilangnya anak kita. Kamu harus cari Vino sampai ketemu. Kalau nggak, aku nggak akan pernah memaafkan kamu Mas."


"Baiklah Fatia. Aku janji, aku akan bawa Vino kembali ke rumah kamu. Tapi tolong, kamu jangan panik seperti ini. Kamu harus sabar dan tenang."


"Mas, bagaimana mungkin aku bisa tenang. Kalau aku saja nggak tahu, di mana keberadaan Vino sekarang. Sekarang cepat kamu cari dia sampai ketemu!"


"Iya Fatia iya. Aku akan cari Vino sampai dapat."

__ADS_1


Andre kemudian memutuskan saluran telponnya dengan sepihak. Dia kemudian pergi ke luar dari ruangannya. Andre akan mencari Vino siang ini. Andre tidak mau di salahkan oleh Fatia. Dia juga khawatir dengan keadaan Vino.


"Vino, di mana kamu sayang. Maafkan papa, karena papa nggak bisa jemput kamu. Papa udah lengah Nak," ucap Andre sembari berjalan ke luar dari kantornya.


__ADS_2