Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Kejutan tak terduga


__ADS_3

"Mama, kapan aku boleh pulang? aku udah nggak betah Ma, tinggal di sini," ucap Vino menatap ibunya lekat.


Sudah tiga hari ini, Vino masih berada di ruang rawat rumah sakit. Vino tampak sudah tidak betah tinggal lama-lama di rumah sakit.


Fatia menatap Vino dan tersenyum. Dia kemudian mengecup kening Vino.


"Sabar ya sayang. Kita tunggu dokter dulu. Kalau dokter udah ngasih keputusan, ya nanti kita pulang," ucap Fatia.


Vino mengangguk.


"Mama, papa mana? papa nggak ke sini ya?" tanya Vino.


"Papa kamu, lagi sibuk sayang. Tapi nanti dia juga akan ke sini kok. Entah itu sore, atau nanti malam. Kalau sekarang, papa kamu belum bisa datang ke sini."


"Gitu ya Ma. Tante Nessa, kenapa nggak jengukin aku?"


"Tante Nessa juga repot, karena ada Aya. Dan anak kecil itu nggak boleh masuk rumah sakit."


"Oh."


"Vino, kamu belum makan kan. Makan dulu ya. Nanti mama suapin, setelah itu minum obat."


"Iya Ma."


*


Sore ini, Fatia masih berada di dalam ruangan Vino.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu dari luar ruangan Vino terdengar. Fatia buru-buru membuka pintu ruangan Vino. Fatia terkejut saat melihat Dinda, Bu Alya, dan Andre sudah berada di depan pintu.


"Tante Alya," ucap Fatia.


Bu Alya tersenyum.


"Fatia. Bagaimana keadaan Vino sekarang?" tanya Bu Alya.


"Vino udah membaik Tante," jawab Fatia.


"Boleh Tante masuk?"


"Boleh. Ayo masuk Tan!"


Vino masih tampak terlelap. Sementara Bu Alya, Dinda dan Andre masuk ke dalam ruangan Vino. Mereka tampak membawa sesuatu.


"Vino, sudah tidur dari tadi ya?" tanya Andre.


"Iya Mas. Udah dari tadi. Cuma, aku kasihan banguninnya," ucap Fatia sembari menatap lekat anaknya.


Andre mendekat ke arah anaknya. Setelah itu dia duduk di dekat Vino dan menatap lekat anaknya.


"Vino, ini Papa sayang. Bangun dong sayang. Ada Oma dan Tante Dinda juga di sini," ucap Andre tepat di dekat telinga Vino.


Vino yang samar-samar mendengar suara ayahnya, segera mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat Dinda sudah membawa kue ulang tahun.


"Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday to you...Vino..."


Andre, Bu Alya, dan Dinda menyanyikan lagu ulang tahun di depan Vino.


Vino sama sekali tidak menyangka, dengan kejutan yang diberikan oleh keluarga ayahnya.


"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga ... sekarang juga..."

__ADS_1


Vino menatap satu persatu Oma, Tante, Papa, dan mamanya.


"Sayang, tiup lilinnya ya! tapi sebelum itu, Vino harus berdoa dulu," pinta Andre.


Vino mengangguk. Vino menundukkan kepalanya dan berdoa. Setelah itu Vino pun meniup lilin.


Prok prok prok...


Semua orang yang ada di ruangan Vino bertepuk tangan. Mereka kemudian menyuruh Vino untuk memotong kue.


"Ayo sayang, potong kuenya. Nanti, berikan kuenya dan suapkan ke orang yang paling Vino sayangi," ucap Dinda.


"Iya Tante "


Vino kemudian memotong kue. Setelah itu dia memberikan kue itu ke Fatia. Orang yang paling di sayangnya.


"Wah, Vino. Ini buat Mama?"' Tanya Fatia yang merasa terharu dengan kejutan yang diberikan Andre untuk anaknya.


Vino mengangguk.


"Kalau begitu, suapin mama dong!" pinta Fatia.


Vino kemudian menyuapkan sepotong kue itu ke dalam mulut Fatia. Setelah itu, Vino memotong kembali kue dan mengambil kue dan dia berikan kepada ayahnya.


"Ini untuk Papa," ucap Vino.


Andre tersenyum dan mengecup ke kening Vino.


"Kamu mau, suapin Papa?" tanya Andre.


"Iya."


Vino menyuapi Andre dengan kue yang sudah dia potong tadi. Setelah itu, Vino kembali memotong kuenya dan dia berikan kepada Dinda dan Bu Alya.


"Vino. Kamu kenapa?" tanya Bu Alya.


"Sayang banget ya, Om Remon nggak datang ke sini. Padahal, aku pengin banget Om Remon juga hadir di sini," ucap Vino yang membuat Andre terkejut


'Hah, kenapa di saat-saat bahagia seperti ini, Vino masih ingat sama Remon. Apa hebatnya Remon. Dia itu kan cuma orang lain.' batin Andre yang merasa kesal, karena anaknya mengingat Remon.


"Sayang, Papa nggak bawa kado Nak. Karena Papa sudah bawa kado kamu, ke rumah kamu, " ucap Andre.


"Tante Dinda juga nggak bawa kado. Karena semua kado-kado Vino dari kami, ada di rumahnya Oma Dewi," ucap Dinda menjelaskan.


Vino tersenyum dan menatap Oma, Dinda, dan Andre.


"Makasih ya Papa, Tante, Oma, kalian udah baik banget sama aku."


"Iya sayang."


***


Carisa sejak tadi masih menatap anaknya yang sedang mencorat-coret di buku tulis. Carisa ingin menanyakan soal seorang wanita yang pernah ditemui anaknya di depan gerbang kemarin.


"Sayang, lagi ngapain sih? serius amat?" tanya Carisa sembari memperhatikan Tata yang sejak tadi masih belajar di ruang tengah.


Tata menatap ibunya dan tersenyum.


"Aku lagi belajar gambar Ma."


"Iya sayang. Oh iya. Tata, ada sesuatu yang ingin Mama tanyakan sama Tata."


"Apa Ma?"

__ADS_1


"Kata Oma Alya, kemarin Tata pernah ketemu orang asing di depan gerbang ya?" tanya Carisa penasaran. Karena dari kemarin, dia lupa bertanya pada Tata.


"Iya Ma."


"Ciri-cirinya seperti apa?"


"Aku nggak jelas sama mukanya. Tapi dia pakai baju serba hitam Ma. Dan tingginya seperti mama."


Carisa tampak berfikir..


'Mungkinkah, adik aku sudah kembali. Lalu, kenapa dia harus menemui Tata. Apa dia sekarang sudah sadar, dan mau mengambil Tata dari aku.'


'Nggak. Aku nggak akan pernah membiarkan Tata diambil oleh Alena. Tata itu anak aku. Aku yang sudah merawatnya dari bayi sampai dia segede ini."


Carisa sejak tadi masih melamun. Sementara Tata bingung dengan ibunya.


"Mama kenapa? kenapa mama dari tadi diam aja?" tanya Tata yang sejak tadi masih menatap Carisa.


"Nggak apa-apa sayang. Lanjutkan aja belajarnya. Mama mau ambil minum dulu ya di dapur."


"Iya Ma."


Carisa kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Carisa kemudian menuang segelas air putih ke dalam gelas.


"Alena, di saat aku sudah hidup bahagia dengan Tata, kenapa dia harus datang di kehidupan aku. Aku yakin, kalau dia akan mengambil Tata dari aku," gumam Carisa.


Bik Ijah sejak tadi masih memperhatikan Carisa dari kejauhan.


"Non Carisa, gelasnya sudah penuh Non," ucap Bik Ijah sembari mendekat ke arah Carisa.


Carisa terkejut saat mendengar ucapan Bik Ijah. Dia kemudian buru-buru menghentikan aktifitasnya menuang air. Carisa kemudian menatap Bik Ijah.


"Non Carisa kenapa? Non lagi mikirin apa?" tanya Bik Ijah.


"Oh, aku nggak apa-apa kok Bik. Duh, maaf banget ya Bik. Aku udah numpahin air di sini."


"Nggak apa-apa Non, biar saya yang nanti bersihin."


"Makasih ya Bik." Carisa kemudian pergi sembari membawa gelas minumannya. Dia berjalan ke ruang tengah untuk menghampiri Tata kembali.


Sesampainya di dekat Tata, Carisa kemudian duduk dan meletakan gelasnya di atas meja.


"Tata," ucap Carisa.


Tata menatap Carisa lekat.


"Iya Ma."


"Sayang, lain kali kalau ada orang asing, yang ngaku-ngaku jadi ibu kandung Tata, atau saudara Tata, jangan percaya ya. Mama takutnya orang itu penculik. Apalagi, dia pakai bajunya serba hitam."


"Iya Ma."


"Tata janji ya sama Mama, kalau main di luar jangan jauh-jauh. Mendingan, kalau main nanti ditemenin mama, Om, Bik Ijah, papa atau Tante Dinda."


Tata hanya mengangguk. Mengerti dengan apa yang ibunya ucapkan.


"Ma, papa dan Oma pada ke mana sih? kok sejak tadi sore, Tata nggak lihat mereka?" tanya Tata.


"Papa dan Oma kamu, lagi ke rumah sakit. Jengukin Kak Vino."


"Emang Kak Vino masih sakit ya?"


"Iya sayang. Sudah, jangan fikirin Papa dan Oma. Kamu kan ada mama sekarang. Mama yang akan temani kamu tidur. Kalau udah belajar, nanti kita pindah ke kamar ya."

__ADS_1


"Iya Mama."


__ADS_2