
Malam ini di ruang tengah, tampak Fatia dan Remon masih bersantai-santai menonton tivi.
"Remon, Fatia, kalian masih ada di sini?" tanya Bu Rima menghampiri Fatia dan Remon.
"Iya Ma. Aku lagi nemenin Mas Remon. Katanya Mas Remon belum ngantuk," ucap Fatia.
"Vino mana? dia udah tidur?" Bu Rima menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Remon.
"Tadi sih, Vino lagi belajar di kamarnya Ma. Nggak tahu dia udah tidur apa belum. Mama juga kenapa belum tidur?" tanya Fatia.
"Mama udah tidur kok Fatia. Cuma mama terbangun gara-gara nyamuk tadi."
"Oh. Hehe ..banyak nyamuk emang di kamar mama?" tanya Fatia.
"Iya. Tadi ada Fatia , gigit tangan mama lagi."
"Makanya Ma, oles pakai obat. Atau semprot tuh cairan anti nyamuk."
"Iya. Mama lupa."
Beberapa saat kemudian, suara Vino terdengar. Vino buru-buru berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri Fatia yang ada di ruang tengah.
"Mama, Ayah," ucap Vino sembari duduk di tengah-tengah Remon dan Fatia.
"Vino. Ngapain kamu ke sini? dari tadi, ayah nggak dengar suara kamu. Ayah fikir, kamu udah tidur," ucap Remon.
"Aku belum tidur kok Yah. Aku pengin tidur sama ayah dan mama lagi. Boleh nggak?" tanya Vino sembari menatap Fatia dan Remon bergantian.
Bu Rima tersenyum.
"Vino, dari pada kamu tidur sama Mama dan ayah, mending tidur sama Oma aja yuk. Di kamar, Oma juga sendirian lho."
"Aku nggak mau. Pokoknya aku nggak mau tidur dengan Oma. Aku maunya tidur sama ayah dan mama."
Fatia tersenyum dan mengusap rambut Vino.
"Iya. Vino boleh kok tidur sama Mama."
Hoek...hoek...hoek...
Tiba-tiba saja, Fatia mual. Dia bangkit dari duduknya dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Mama, kenapa?" tanya Vino.
Bu Rima tersenyum.
"Remon, jangan-jangan Fatia hamil," ucap Bu Rima.
Remon terkejut saat mendengar ucapan ibunya.
"Hamil Ma?"
"Iya. Biasanya, kalau mual dan muntah-muntah itu, tandanya orang hamil muda."
"Masa sih Ma?"
__ADS_1
"Coba kamu tanyakan ke istri kamu. Kapan terakhir dia haid? bisa jadi dia udah telat bulan. Kalau nggak, belikan saja dia testpack."
Remon bangkit dari duduknya. Dia merasa kasihan pada istrinya. Sejak tadi, Fatia tidak berhenti muntah-muntah.
Remon mendekat ke arah Fatia. Dia kemudian memegang leher belakang Fatia.
"Keluarkan semua sayang..." ucap Remon.
Remon kemudian memijat-mijat ke dua bahu istrinya .
"Kamu masuk angin ya?" tanya Remon.
Fatia membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu dia mengusapnya dengan handuk kecil. Fatia kemudian memutar tubuhnya dan menghadap ke arah suaminya.
"Mas, aku kenapa ya. Akhir-akhir ini aku jadi mual-mual terus."
Remon tersenyum.
"Kalau kata Mama sih, bisa saja itu tanda kehamilan sayang. Coba deh kamu ingat-ingat lagi. Kapan terakhir kamu haid? apa kamu sudah telat bulan?"
"Aku nggak ingat Mas."
"Ya, kamu ingat-ingat lagi. Bagaimana waktu kamu hamil Vino dulu. Apa seperti ini juga?"
"Iya Mas. Aku juga mual-mual begini. Dan malah aku sempat sakit parah."
"Ya nanti sepulang kantor, aku belikan kamu testpack. Nanti kamu pakai ya."
Fatia tersenyum. Setelah itu Remon mencium kening Fatia.
"Mudah-mudahan ya Mas. Vino juga udah pengin banget punya adik."
"Ya udah, kita ke sana yuk! anak kamu dari tadi udah nungguin."
"Iya Mas."
Remon kemudian merangkul bahu istrinya dan mengajak Fatia kembali ke ruang tengah .
Fatia dan Remon kemudian duduk di sisi Vino.
"Mama, apa benar mama hamil? apa benar kalau aku mau punya dedek bayi?" tanya Vino tiba-tiba.
Fatia tersenyum. "Kata siapa sayang?"
"Kata Oma Rima." Vino melirik ke arah Bu Rima.
"Belum tentu sayang. Mama kan belum tes dan belum periksa," ucap Fatia.
"Ma, aku ingin punya adik cowok. Biar untuk teman aku di sini. Kalau adik cewek, aku kan udah punya Tata."
Fatia dan Remon hanya tersenyum dan menatap Vino.
"Iya. Insya Allah ya."
Bu Rima bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Vino, kalau udah ngantuk, tidur ya. Lihat tuh, udah jam berapa. Udah jam setengah sebelas sayang. Nanti kamu besok kesiangan."
"Iya Oma."
"Oma ke kamar dulu ya."
Vino mengangguk. Bu Rima kemudian berjalan untuk ke kamarnya. Sementara Vino, Fatia dan Remon masih berada di ruang tengah.
"Mama, aku kangen sama papa. Aku pengin ketemu sama papa," ucap Vino yang membuat Fatia dan Remon terkejut.
"Nanti kalau ayah libur ya sayang. Nanti ayah antar kamu ke rumah Papa Andre."
"Ngga mau. Aku penginnya besok sepulang sekolah."
"Ya udah. Biar mama nanti yang antar kamu langsung ke kantor Papa kamu. Karena mama malas kalau harus antar kamu ke rumah Papa kamu. Malas ketemu sama mama tiri kamu itu. Nanti pasti ada masalah lagi," ucap Fatia.
"Iya Ma."
"Ya udah, sekarang kita ke kamar yuk. Udah malam, Vino harus tidur."
"Ya Ma."
Fatia merangkul bahu Vino dan mengajak Vino naik ke lantai atas, di mana kamarnya berada. Sementara Remon mengikuti Fatia dibelakangnya.
Sesampainya di kamar, Vino langsung naik ke atas tempat tidur. Di ikuti Remon dan Fatia yang ikut naik ke atas tempat tidur.
Vino sudah berada di tengah-tengah Fatia dan Remon berbaring. Tiba-tiba, Vino memegang perut Fatia.
"Mama, aku pengin mama cepat-cepat hamil. Aku ingin punya adik cowok," ucap Vino.
Remon hanya tersenyum melihat tingkah manja Vino. Vino memang manja dan penakut. Makanya dia sering sekali tidur di kamar Remon dan Fatia. Padahal Vino sudah di siapkan kamar sendiri oleh Remon dan Fatia.
"Fatia. Besok aku mau belikan kamu testpack. Kalau hasilnya positif, kamu nanti harus langsung periksa ke dokter ya?"
"Iya Mas. Oh iya. Besok aku mau antar Vino ke kantornya Mas Andre. Nggak apa-apa kan?"
"Iya. Nggak apa-apa. Asal kamu jangan kebanyakan caper ya sama papanya Vino."
Fatia langsung mencubit perut Remon yang membuat Remon mengaduh.
"Aduh sayang, sakit...! kenapa kamu pakai nyubit sih. Aku kan cuma bercanda..." ucap Remon sembari mengusap-usap perutnya yang sakit.
"Makanya, jangan sembarangan ngomong. Kamu nggak percaya sama aku ya?" tanya Fatia.
"Percaya kok sayang, percaya banget."
Fatia cemberut. Sementara Vino hanya bisa memperhatikan ibu dan ayah sambungnya.
"Kalian kenapa?" tanya Vino menatap Fatia dan Remon bergantian.
"Nggak apa-apa sayang. Kalau kamu sudah punya adik, Vino janji ya tidurnya jangan sama mama lagi. Karena nanti, adiknya sempit sayang."
"Iya Mama tenang aja. Kalau aku punya adik cowok, adiknya tidur sama aku aja "
"Iya. Nanti ya kalau adiknya udah gede," ucap Fatia
__ADS_1