Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Kabar orang hilang


__ADS_3

Malam ini, Fatia masih berada di jalan raya bersama Remon. Waktu saat ini sudah menunjukkan jam sembilan malam. Sudah seharian Fatia dan Remon mencari Vino. Namun, sampai malam Vino belum juga ditemukan.


Fatia masih di dalam mobil bersama Remon.


"Mas, anak aku. Hiks ..hiks..." Sejak tadi, Fatia masih menangis.


Remon menatap Fatia iba. Remon masih mencoba menenangkan Fatia. Namun, tangis Fatia belum juga mereda.


"Sayang sudahlah, jangan menangis," ucap Remon sembari mengusap air mata Fatia.


"Mas, anak aku Mas. Anak aku hilang. Ini semua gara-gara Mas Andre," geram Fatia.


"Iya aku tahu perasaan kamu sayang." Remon merengkuh tubuh Fatia dan menenggelamkan kepala Fatia di dada bidangnya.


"Kita akan cari anak kamu sama-sama sayang. Aku ngerti perasaan kamu. Kamu pasti sedih banget kehilangan Vino kan?"


"Sudah malam Fatia, sekarang kita pulang ya. Kita cari Vinonya besok aja ya."


"Iya Mas."


****


Setelah seharian Fatia mencari Vino, akhirnya Fatia dan Remon memutuskan untuk pulang. Mereka sudah melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Mereka meluncur menuju ke rumah Fatia.


Beberapa saat kemudian, Remon dan Fatia sampai di depan rumahnya. Mereka kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah teras depan rumah.


Remon mengetuk pintu.


Tok tok tok...


Beberapa saat kemudian, Pak Fendi membuka pintu.


"Remon, Fatia," ucap Pak Fendi menatap Remon dan Fatia bergantian.


"Kalian sudah pulang? mana Vino? apakah kalian sudah menemukan Vino?"


"Vino belum ketemu Ma. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, namun Vino belum juga ketemu."


"Ya udah. Kalian ayo masuk! udah malam. Nanti kita bisa cari Vino besok. Kalau sampai besok Vino belum juga ketemu, kita bisa lapor polisi."


"Iya Om."


Remon dan Fatia kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian duduk di sofa ruang tamu.


Bu Dewi melangkah menghampiri Fatia dan Remon.


"Bagaimana. Apakah Vino sudah ketemu?" tanya Bu Dewi.


"Belum Tante. Kami belum menemukannya."


Ring ring ring...


Suara deringan ponsel Fatia terdengar dari dalam tas Fatia. Fatia mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Fatia kemudian mengangkat panggilan dari Andre.


"Halo Mas."


"Fatia. Apakah kamu sudah menemukan anak kita?"


"Belum Mas."


"Duh, ke mana ya Vino. Maafkan aku ya Fatia. Karena gara-gara aku Vino hilang."


"Segampang itu kamu minta maaf Mas. Gara-gara kamu, Vino hilang. Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa. Aku nggak akan pernah memaafkan kamu Mas. Dan mulai detik ini, aku nggak akan pernah membiarkan kamu bertemu Vino dan membawa Vino."


"Tapi Fatia..."


Tut Tut Tut...


Fatia memutuskan saluran telponnya dengan sepihak.


"Tadi Andre yang nelpon?" tanya Bu Dewi.


"Iya Ma. Dia sama sekali nggak ada tanggung jawabnya sedikit pun. Dia sudah membuat Vino hilang dan sekarang, dia dengan mudahnya dia minta maaf. Aku nggak akan pernah memaafkan dia, kalau sampai anak aku kenapa-kenapa."

__ADS_1


Remon menatap Fatia , Bu Dewi dan Pak Fendi.


"Fatia, Om, Tante, udah malam. Aku pulang dulu ya."


"Oh. Iya Nak Remon."


Fatia menatap Remon.


"Kamu mau pulang sekarang?"


"Iya Fatia."


"Makasih ya udah mau nganter aku nyari Vino."


"Iya. Sama-sama. Aku juga udah menganggap Vino anak aku sendiri. Jadi, kalau Vino hilang, aku juga akan berusaha untuk mencarinya."


Fatia tersenyum.


'Mas Remon, perhatian banget sama anak aku. Dia sudah menganggap Vino anaknya sendiri. Bagaimana mungkin aku akan mengecewakannya dengan membuat dia menunggu lama. Seandainya Mas Remon ngajakin aku nikah, aku sudah siap menikah sekarang.' batin Fatia.


Setelah berpamitan untuk pulang, Remon kemudian berjalan keluar. Fatia sejak tadi, masih mengekor dibelakang Remon..


"Aku pulang dulu ya Fatia," ucap Remon.


Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Remon mengecup kening Fatia sangat lama.


Setelah itu, Fatia mencium punggung tangan Remon.


"Hati-hati di jalan ya Mas."


"Iya sayang. Jangan terlalu banyak fikiran. Vino pasti akan segera kita temukan."


****


Pagi ini, Daren masih berada di kamarnya. Dia sudah tampak rapi dengan baju kantornya. Dia sudah siap untuk pergi ke kantor.


"Daren...! Daren ...!" seru Bu Elma dari luar kamar Daren.


"Lihat Daren. Bukankah ini anak kecil yang kamu tolong kemarin. Lihatlah..." Bu Elma menyodorkan surat kabar yang baru saja dibacanya pada anaknya.


"Coba sini Ma, aku lihat."


Daren mengambil surat kabar yang ada di tangan ibunya. Dia kemudian membacanya.


"Duh, benar. Ini Vino. Aku harus membawa Vino ke orang tuanya."


"Kamu kembalikan anak kecil itu ke orang tuanya. Mereka sekarang pasti lagi nyariin anak itu."


"Iya Ma. Tapi aku mau ke kantor dulu Ma."


"Ya udah. Kamu ke kantor dulu. Tapi, anak itu di mana sekarang?"


"Ada di kamar aku.


"Dia udah bangun?"


"Udah Ma."


"Ya udah. Suruh dia sarapan bareng kita."


"Iya Ma. Aku panggil Vino dulu ya."


Daren kemudian berjalan menuju ke kamarnya untuk memanggil Vino.


"Vino. Keluar yuk sayang."


Vino menatap Daren lekat.


"Vino kamu belum sarapan kan?"


Vino menggeleng. "Belum Om."


"Ya udah. Ikut sarapan sama Om yuk!"

__ADS_1


"Iya Om."


Daren kemudian menggandeng Vino ke luar. Dia mengajak Vino ke ruang makan untuk sarapan bersama.


Di rumah mewahnya, Daren hanya tinggal bersama ibunya. Karena ayahnya sudah meninggal sejak dia masih kuliah. Daren adalah seorang pengusaha muda ternama. Sama halnya seperti Andre. Namun, dia belum menikah karena dalam hidupnya dia hanya memikirkan bisnisnya. Sementara, hubungan percintaannya hanya dia kesampingkan.


Daren , Bu Elma dan Vino sudah tampak duduk bersama. Mereka sejak tadi, masih menikmati sarapannya.


"Vino. Udah satu empat hari kamu di sini. Apakah kamu sudah kangen dengan orang tua kamu?" tanya Bu Elma si sela-sela kunyahannya.


"Iya. Aku kangen sama mama."


"Siapa nama mama kamu?" tanya Daren.


"Fatia," jawab Vino.


"Fatia?" Daren tampak berfikir. Sepertinya dia tidak asing dengan nama itu.


'Aku seperti pernah dengar nama itu. Tapi di mana ya.'


"Terus, nama ayah kamu siapa?" tanya Bu Elma.


"Andre," jawab Vino.


"Oh. Andre?" Bu Elma manggut-manggut.


"Iya. Mama aku namanya Fatia. Kalau Papa aku namanya Andre."


"Ya udah. Kamu makan dulu. Nanti sore, kalau Om sudah punah dari kantor, Om akan ajak kamu ke rumah mama dan papa kamu."


"Aku mau pulang ke rumah mama aku aja Om. Aku nggak mau pulang ke rumah Papa aku."


Daren mengernyitkan alis bingung.


"Lho. Maksud kamu? Mama dan papa kamu itu tinggal terpisah?"


"Iya Om. Sudah sejak aku kecil, mama dan papa aku itu rumahnya terpisah. Kadang aku tinggal di rumah Papa, kadang aku juga tinggal di rumah mama. Tapi, aku lebih sering tinggal di rumah mama. Karena dia sana aku lebih nyaman. Kalau tinggal di rumah Papa aku takut di marahin sama Mama Carisa."


"Mama Carisa? siapa itu mama Carisa?" Daren sepertinya penasaran dengan keluarga anak yang sudah ditemukannya itu.


"Mama Carisa juga ibu aku Om. Dia istrinya Papa Andre."


"Oh. Ya udah. Nanti sore kita pulang ya. Om akan antar kamu ke rumah mama kamu."


"Om emang tahu rumah mama?"


"Tahu dong."


Vino tersenyum. Dari kemarin Vino memang sudah kangen dengan Fatia. Namun, sejak kemarin, Daren belum mau mengajak Vino untuk mencari rumah orang tuanya karena Daren yang selalu sibuk.


Selesai makan, Daren kemudian berpamitan pada ibunya untuk pergi ke kantor.


"Aku pergi dulu ya Ma. Tolong jaga Vino."


"Iya."


"Vino. Kamu lanjutkan makannya ya. Om mau ke kantor dulu. Kamu sama Oma Elma dulu ya."


"Iya Om."


Daren mencium punggung tangan Bu Elma. Setelah itu, dia pergi keluar dari rumahnya meninggalkan Vino dan Bu Elma.


"Ayo Vino. Habiskan makanannya."


"Iya Oma."


Vino kemudian mulai menghabiskan makanannya. Sementara sejak tadi, Bu Elma masih menatap Vino.


' Andai Daren sudah menikah dari dulu, pasti dia sudah punya anak sebesar Vino,' batin Bu Elma.


Bu Elma juga sudah sangat mengharapkan Daren menikah dan punya seorang cucu. Karena Daren anak satu-satunya yang dia punya.


"Entah, mau sampai kapan anak itu membujang," gumam Bu Elma.

__ADS_1


__ADS_2