
"Dari siapa Mbak?" tanya Ersa.
Dinda tersenyum.
"Dari teman," jawab Dinda.
"Oh, aku kira, dari pacar."
"Yah, bisa dibilang teman, bisa dibilang pacar."
"Apakah dia seorang dokter juga?" tanya Ersa.
"Lho, kamu kok bisa tahu kalau Mas Ardan dokter?" tanya Dinda.
"Mbak Dinda kan dokter. Mungkin saja kalau pacarnya juga seorang dokter."
"Oh... hehe ... tahu aja kamu Er."
"Oh iya Er. Boleh aku nanya nggak?"
"Nanya apa Mbak?"
"Kamu sudah berapa lama kerja sama kakak aku?"
"Setelah papa aku meninggal Mbak."
"Oh, sudah lumayan lama ya."
"Kamu sudah berapa lama punya hubungan dengan Kakak aku?"
Ersa diam. Dia bingung mau menjawab apa. Ersa dan Andre saja selama ini, tidak punya hubungan apa-apa. Hanya sebatas atasan dan bawahan. Baru kemarin Andre mengutarakan perasaannya pada Ersa. Saat ini Ersa dan Andre belum resmi jadian. Tapi yang membuat Ersa bingung kenapa tanpa sepengetahuan Ersa, tiba-tiba saja Andre mengatakan kalau dia ingin menikahi Ersa.
"Aku nggak punya hubungan apa-apa kok sama Pak Andre."
"Oh iya? kok bisa sih kakak aku tiba-tiba bilang dia mau nikahin kamu? padahal kalian kan ngga punya hubungan."
"Aku juga ngga tahu, kenapa Pak Andre bisa tiba-tiba bilang seperti itu."
"Kalau boleh aku tahu, apa sebelumnya Kakak aku pernah nembak kamu?" tanya Dinda yang masih penasaran dengan hubungan kakaknya dengan Ersa
"Em, gimana ya jelasinnya. Aku bingung Mbak."
Dinda tersenyum.
"Nggak apa-apa. Cerita aja sama aku. Anggap saja aku ini sahabat kamu. Lagian, kita kan sepantaran.Jadi nggak usah nggak enak gitu."
Ersa bingung. Dia saja baru kenal dengan Dinda. Apakah Ersa harus menceritakan semuanya pada Dinda.
"Pak Andre memang sudah pernah mengutarakan perasaannya padaku. Tapi aku belum jawab apa-apa kok."
__ADS_1
"Jadi kalian belum jadian?"
"Belum. Dan baru kemarin Pak Andre mengutarakan perasaannya. Tapi aku belum jawab apa-apa kok. Makanya aku terkejut saat Pak Andre tiba-tiba saja bilang kalau dia ingin menikahi aku."
"CK ck ck apa Kakak aku sudah gila ya, baru kali ini aku melihat keanehan dalam dirinya," ucap Dinda.
"Mbak Dinda, berhenti di depan ya," ucap Ersa sembari menunjuk ke depan.
Dinda kemudian menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di depan rumah Ersa.
Dinda menatap rumah Ersa. Rumah dua lantai yang tampak asri karena di depannya banyak tumbuh tanaman-tanaman berbunga. Sepertinya Ersa atau Bu Meta yang suka dengan berkebun.
"Rumah kamu bagus," ucap Dinda.
Ersa tersenyum. "Biasa aja Mbak. Mampir dulu yuk dan masuk ke dalam."
"Kamu tinggal sama siapa selain sama ibu kamu?"
"Setelah papa aku meninggal, aku cuma berdua aja sama ibu aku."
"Oh, kakak atau adik kamu?"
"Aku anak tunggal Mbak."
"Oh..." Dinda manggut-manggut tampak mengerti.
"Ya udah Mbak. Udah malam. Mama aku pasti lagi nungguin aku."
Ersa tersenyum. Setelah itu dia turun dari mobil Dinda. Setelah Ersa masuk ke dalam rumahnya, Dinda pun meluncur pergi untuk pulang ke rumahnya.
****
Di ruang tengah, Bu Alya tampak masih mengobrol dengan Andre anaknya.
"Ndre, kamu fikirkan lagi soal itu," ucap Bu Alya.
Sejak tadi Bu Alya mencoba untuk menasihati anaknya. Agar dia tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
"Aku sudah fikirkan ini sejak lama Ma. Aku memang ingin menikah lagi, kalau Carisa nggak hamil-hamil juga. Aku ingin punya istri lagi yang bisa memberikan aku keturunan. Mama juga pengin punya cucu lagi kan?"
"Iya sih. Mama juga udah pengin punya cucu lagi. Tapi mama nggak harus memaksa Carisa untuk hamil dan punya anak. Karena mama juga masih punya dua cucu. Vino dan Tata. Mereka sudah cukup menjadi penghibur mama. Kalau Carisa nggak hamil-hamil juga, mama lagi nungguin Dinda. Kalau dia nikah kan, dia juga pasti akan punya anak dan mama akan mendapatkan cucu darinya."
"Itu sih menurut Mama. Tapi aku nggak bisa seperti ini terus Ma. Aku lihat teman-temanku hidup bahagia. Mereka punya tiga anak, bahkan ada yang sudah punya lima anak."
"Ya tunggu saja lah Andre sampai Carisa hamil. Carisa pasti hamil kok, dan kita tidak tahu kapan waktunya."
"Ma, Carisa nggak akan pernah bisa hamil Ma. Karena Carisa itu bukan wanita yang subur seperti Fatia. Coba lihat Fatia, baru satu bulan dia menikah, dia sudah hamil."
"Kenapa kamu bicara seperti itu Andre. Kamu nggak boleh membandingkan istri kamu dengan wanita lain. Kalau Carisa dengar, dia bisa marah sama kamu."
__ADS_1
"Biarin saja Carisa marah. Emang kenyataannya seperti itu kok. Carisa itu memang wanita yang mandul. Dia tidak akan bisa punya anak. Karena rahimnya bermasalah."
Bu Alya terkejut saat mendengar ucapan Andre.
"Kamu yakin Andre?"
"Iya Ma. Carisa itu sudah cek kesuburan ke dokter. Dan kenyataannya memang Carisa nggak akan bisa hamil. Kecuali kalau Carisa mendapatkan keajaiban dari Tuhan."
Bu Alya diam. Dia masih tidak percaya dengan semua perkataan Andre.
Di sela-sela Bu Alya dan Andre ngobrol, deru mobil dari luar terdengar.
"Itu sepertinya Dinda pulang," ucap Bu Alya.
Beberapa saat kemudian, suara salam terdengar dari ruang tamu
"Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Dinda berjalan mendekati ruang tengah. Setelah sampai di ruang tengah, dia duduk berbaur bersama ibu dan kakaknya.
"Gimana? kamu sudah mengantarkan Ersa selamat sampai tujuan kan?" tanya Andre pada Dinda.
"Iya. Kakak tenang aja. Ersa mungkin sekarang udah tidur Kak."
Andre tersenyum.
"Ya udah. Kalau begitu, aku juga mau tidur."
Andre bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan pergi menuju ke kamarnya. Di ruang tengah, masih tinggal Bu Alya dan Dinda.
"Kak Andre kenapa sih Ma. Dia jadi aneh begitu," ucap Dinda.
"Mama juga nggak tahu."
"Setelah Kak Fatia nikah, Kak Andre ingin ikut-ikutan nikah juga. Mungkin, dia masih penasaran dengan wanita lain. Mungkin dia udah bosan kali sama Kak Carisa."
"Hush, pelan-pelan ngomongnya. Carisa belum tidur lho. Nanti kedengaran dia gimana?"
"Ups aku keceplosan Ma," ucap Dinda sembari menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.
"Ya udah Ma. Aku ke kamar dulu ya. Aku juga udah ngantuk nih."
"Iya. Kamu tidur ya. Jangan begadang. Jangan malam-malam ya tidurnya."
"Iya Ma."
Dinda kemudian pergi meninggalkan ruang tengah. Setelah itu, Bu Alya juga memutuskan untuk ke kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Andre masuk ke dalam kamarnya. Dia menatap istrinya tajam. Carisa tampak sedang menangis sembari berbaring di atas ranjangnya.
"Kamu nangis?" tanya Andre.