Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Kesiangan


__ADS_3

"Em... Pak, jangan seperti ini Pak. Aku jadi nggak enak," ucap Ersa yang sudah mulai resah saat tangan Andre sudah mulai membelai rambut dan pipinya.


"Jangan panggil aku Pak Ersa di saat kita sedang berdua seperti ini. Apakah kamu tidak bisa memanggil aku Mas?" Andre menatap Ersa lekat.


Ersa semakin tidak mengerti apa maksud ucapan bosnya itu. Andre meraih tangan Ersa dan menggenggamnya erat.


"Er, kamu wanita yang sudah bisa membuat aku melupakan Fatia. Dan rasanya, aku sudah mulai jatuh cinta padamu Er,"


Ersa terkejut saat mendengar ucapan Andre. Dia buru-buru melepaskan tangan Andre dan membuang wajahnya.


"Pak, jangan seperti ini. Aku nggak mau Pak, aku nggak mau punya perasaan lebih ke bapak. Aku nggak mau kecewa dengan perasaan aku sendiri," ucap Ersa.


"Er, kamu kenapa?" tanya Andre.


Andre melihat Ersa berubah. Ersa tampak salah tingkah saat Andre mengutarakan perasaannya. Mungkinkah kalau selama ini, Ersa juga merasakan perasaan yang sama seperti apa yang Andre rasakan.


Andre meraih wajah Ersa dan menghadapkan wajah Ersa ke wajahnya.


"Katakan Er, kalau kamu juga mencintai ku. Karena aku bisa merasakannya Er. Dan aku bisa melihat cinta itu dari mata kamu," ucap Andre yang semakin mendesak Ersa untuk mengatakan kejujuran itu.


"Pak Andre, jangan berikan aku harapan lebih Pak. Aku nggak mau jatuh cinta terlalu dalam ke bapak. Aku ingin melupakan cinta aku, ke bapak. Maafkan aku Pak, karena aku sudah diam-diam mencintai bapak. Aku nggak sanggup menahan perasaanku." Ersa menundukan kepalanya. Merasa malu dengan Andre. Namun Ersa juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Kalau dia sudah mulai jatuh cinta sama Andre.


Andre tiba-tiba saja memeluk Ersa dengan erat.


"Kalau begitu, kenapa kita tidak lanjutkan saja hubungan kita sayang," ucap Andre sembari memeluk Ersa.


Ersa mendorong sedikit tubuh Andre dan melepaskan pelukannya.


"Pak Andre. Aku udah bilang, aku nggak mau merusak hubungan rumah tangga bapak dengan istri bapak. Aku nggak mau" ucap Ersa.

__ADS_1


"Ersa, aku nggak pernah cinta dengan Carisa. Selama ini, wanita yang aku cintai itu bukan Carisa. Tapi dia itu Fatia. Mamanya Vino. Tapi kamu tahu kan, kalau Fatia sekarang sudah punya suami. Aku tidak mungkin mencintai Fatia terus terusan. Karena itu sama saja, aku akan menyakiti diri aku sendiri. Dan sekarang, hati aku sudah terpaut ke kamu Ersa. Dan aku bahagia jika kamu mau membalas cinta aku," ucap Andre.


"Kalau kamu nggak cinta sama Bu Carisa. Kenapa kamu nikah sama dia?"


"Itu semua karena almarhum Papa aku. Dia ingin melihat aku menikah dengan Carisa sebelum dia meninggal. Dan aku menikahi Carisa karena amanat dari Papa aku. Aku fikir setelah aku menikah dengan Carisa, aku bisa mencintai Carisa lagi dan melupakan mamanya Vino. Tapi nyatanya nggak bisa. Aku nggak bisa mencintai Carisa. Malah aku semakin dalam mencintai Fatia."


"Kok bisa begitu?" tanya Ersa yang masih heran dengan pengakuan Andre.


"Aku juga nggak tahu Er. Dulu, aku memang cinta sama Carisa. Dan Carisa itu cinta pertama aku. Tapi entah kenapa sampai sekarang aku nggak bisa mencintai Carisa. Walau dia sudah menjadi istri aku."


"Kalau bapak tidak mencintai Bu Carisa. Kenapa bapak bisa bertahan lama dengan pernikahan bapak."


"Makanya itu Er. Aku nggak pernah bahagia dengan pernikahan aku. Apalagi Carisa itu mandul. Dia tidak bisa memberikan aku anak. Dan Tata, anak kecil perempuan yang aku rawat itu, dia bukan anak kandung aku dan Carisa. Tapi dia adalah anak dari Alena adik kandungnya Carisa."


"Oh..." Ersa hanya manggut-manggut mendengar semua cerita Andre.


Sekarang Ersa tahu kalau Andre mencintainya seperti dia yang diam-diam mencintai Andre.


***


Pagi ini, matahari sudah bersinar cerah. Di sofa ruang tamu, Ersa dan Andre masih terlelap. Bu Meta terkejut saat melihat anaknya dan Andre tidur bersama di sofa ruang tamu.


Bu Meta buru-buru membangunkan Ersa.


"Ersa. Kenapa kamu tidur di sini. Udah siang Ersa, bangun...!" ucap Bu Meta.


Ersa mengerjapkan matanya dan menatap ibunya.


"Mama, jam berapa ini Ma?" tanya Ersa yang terkejut saat melihat ke jendela. Mentari sudah bersinar cerah.

__ADS_1


"Udah jam setengah tujuh," jawab Bu Meta.


"Apa! kok mama baru bangunin aku sih. Aku kan mau kerja Ma."


"Mama nggak tahu kalau kamu masih tidur. Mama juga baru ke ruang tamu. Mama fikir, kamu ada di dalam kamar. Lagian, untuk apa kamu temani bos kamu tidur di sini. Awas ya Ersa, jangan macam-macam kamu. Dia suami orang," ucap Bu Meta.


Bu Meta sudah sejak lama mewanti-wanti anaknya agar dia tidak berhubungan dengan suami orang. Namun Entahlah, dengan Ersa. Dia mau menuruti ibunya atau tidak setelah dia tahu kalau Andre juga mencintainya.


"Maaf Ma. Aku ketiduran. Aku udah tahu, kalau dia suami orang. Lagian, siapa sih yang mau merebut suami orang. Aku juga nggak mau Ma," ucap Ersa. Dia buru-buru berjalan pergi meninggalkan ruang tamu.


Sepertinya Ersa akan ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Sementara Bu Meta mencoba untuk membangunkan Andre yang sudah sejak semalam tidur di rumahnya.


"Pak Andre, bangun Pak. Udah siang. Bapak nggak mau ke kantor?" ucap Bu Meta


Andre mengerjapkan matanya. Nampaknya dia masih mengantuk karena semalaman dia begadang ngobrol dengan Ersa.


"Eh, Bu. Udah jam berapa. Maaf Bu, saya kesiangan," ucap Andre.


"Bapak nggak pulang ke rumah? kasihan istri bapak pasti nungguin . Apa bapak udah ngasih kabar?" tanya Bu Meta.


Andre bangkit dari duduknya.


"Aku mau langsung pulang aja Bu. Mungkin benar apa kata ibu. Kalau istri saya sudah menunggu saya di rumah. Makasih ya Bu, udah diperbolehkan nginep di sini," ucap Andre.


Bu Meta mengangguk." Iya sama-sama Pak Andre. Kalau sekali dua kali sih tidak apa-apa nginep di sini. Yang penting jangan keseringan. Takutnya bisa timbul fitnah tetangga,"


"Iya Bu. Saya mengerti. Saya juga bisa jaga batasan. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya Bu."


"Iya. Hati-hati di jalan Pak Andre."

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Bu Meta, Andre kemudian berjalan pergi keluar dari rumah Ersa. Dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur untuk pulang ke rumahnya.


"Ersa, Ersa, kamu itu lucu banget tahu. Gemes banget aku sama kamu. Kamu itu mirip Fatia polosnya. Makanya aku bisa langsung jatuh cinta sama kamu. Aku yakin, kalau kamu jadi mamanya Vino, pasti Vino akan betah tinggal sama aku. Karena kamu itu orangnya lembut banget dan sayang sama anak kecil," gumam Andre di sela-sela menyetirnya.


__ADS_2