Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Panik


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.


Prang...


Suara pecahan gelas menggema ke seluruh sudut restoran.


Seorang lelaki tambun menghampiri Fatia yang saat ini, sedang memunguti pecahan gelas itu.


"Fatia. Apa lagi yang sudah kamu lakukan heh! ceroboh sekali kamu ini. Sudah tiga kalinya kamu berbuat ceroboh seperti ini."


Fatia berdiri dan menatap ke arah Pak Darwin.


"Pak Darwin, maafkan saya. Saya sudah memecahkan gelas lagi. Saya janji, saya akan mengganti gelas-gelas yang sudah saya pecahkan."


Pak Darwin masih berkacak pinggang menatap Fatia tajam.


"Gelas-gelas itu sangat mahal Fatia. Kamu mau ganti pakai apa! kalau sehari kamu memecahkan satu gelas, lalu bagaimana kalau sebulan. Kamu bisa memecahkan gelas ku tiga puluh gelas."


"Bapak bisa ganti dengan uang gaji ku. Bapak bisa potong gaji ku setiap bulan."


Seorang lelaki, masih menatap Fatia. Dia kemudian berjalan menuju ke arah Fatia.


"Maaf Pak, berapa gelas yang sudah wanita ini pecahkan? saya yang akan menggantinya," ucap lelaki itu.


Pak Darwin menatap lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih, yang tak lain adalah pelanggan tetap di restorannya. Pak Darwin sepertinya sangat mengenal betul siapa lelaki itu.


"Pak Daren tidak perlu mengganti rugi gelas saya yang pecah. Karena bukan bapak yang memecahkannya."


Daren mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan.


'Wah, lelaki ini sepertinya orang kaya. Duitnya banyak banget.' Fatia masih menatap Daren tanpa berkedip.


"Saya akan ganti gelas yang wanita ini pecahkan. Apakah cukup uang segini?" Daren menyodorkan lima lembar uang ratusan pada Pak Darwin.


"Ya sudahlah, Fatia. Kamu bisa kembali bekerja. Tidak perlu ganti rugi." Pak Darwin menepuk-nepuk bahu Fatia dan menyuruhnya untuk kembali bekerja.


Pak Darwin kemudian menatap Daren.


"Pak Daren. Maafkan atas semua kekacauan yang sudah terjadi di sini. Bapak bisa lanjutkan makan lagi dan nikmatilah makanan yang ada di sini. Kalau begitu, saya permisi dulu Pak Daren. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."


Daren bingung dengan sikap Pak Darwin.


"Dasar aneh. Mau di ganti rugi malah nggak mau."


***


Ring ring ring ...


Deringan ponsel Fatia mengejutkan Fatia dari lamunannya. Fatia mengambil ponselnya yang ada di depannya berdiri.


"Halo Mas."


"Fatia. Kamu udah mau pulang?"


"Iya Mas. Sebentar lagi."

__ADS_1


"Aku sudah menunggu kamu di depan Fatia."


"Iya Mas. Sebentar lagi aku ke luar."


Fatia menatap Risma rekan kerjanya.


"Risma. Aku pulang dulu ya. Teman aku, sudah jemput aku," ucap Fatia.


Risma tersenyum


"Iya Fatia. Hati-hati di jalan ya."


Fatia kemudian ke luar meninggalkan restoran tempatnya bekerja.


Dia menghampiri Remon yang sudah ada di depan tempat kerjanya.


Remon turun dari mobilnya. Setelah itu, dia membuka pintu mobil untuk Fatia.


"Makasih ya Mas."


Remon tersenyum.


Setelah itu, Remon dan Fatia pergi meninggalkan tempat itu.


"Fatia, kamu kenapa? dari tadi diam aja?"


"Aku baru saja di marahin oleh Pak Darwin Mas."


"Kenapa di marahin? apa salah kamu?"


"Aku udah mecahin gelas lagi Mas."


Fatia menatap Remon lekat.


"Iya Mas. Aku malu, sama tetangga. Vino itu sekarang jadi sangat nakal. Dia juga udah nggak bisa di atur lagi. Padahal dia sudah masuk SD. Ini semua gara-gara Mas Andre yang sudah selalu memanjakan dia."


"Sabar aja lah Fatia. Vino seperti itu, mungkin dia mirip Andre waktu masih kecil. Kamu sabar aja, kalau menghadapi anak kecil seperti Vino. Jangan kebawa emosi. Aku yakin , Vino bisa berubah kalau dia udah besar."


"Kemarin, Vino udah mecahin kaca rumahnya Bu Marni. Dan sekarang, Bu Marni nagih ke aku, untuk gantiin kacanya yang rusak. Tapi, aku belum punya uang untuk menggantinya. Karena aku belum gajian Mas."


Remon menggenggam tangan Fatia.


"Sabar ya. Biar aku saja nanti yang akan ganti jendela kacanya Bu Marni."


Fatia tersenyum.


"Makasih ya Mas. Kamu udah mau bantuin aku selama ini."


"Iya Fatia. Kita mau ke mana sekarang? mau langsung pulang, atau mau mampir dulu?"


"Mampir ke mana Mas? aku udah capek."


"Ya udah. Sekarang kita pulang ya."


"Iya Mas."

__ADS_1


Fatia dan Remon sudah sampai di depan rumah Fatia. Mereka kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke depan teras.


"Assalamualaikum," ucap Fatia sembari membuka pintu rumahnya.


"Wa'alakiumsalam," suara Bu Dewi sudah terdengar dari dalam rumah.


"Fatia. Kamu sudah pulang?"


"Mama, Vino ke mana?" tanya Fatia.


"Vino udah tidur. Tadi dia baru dimarahi Nessa."


Fatia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Begitu juga dengan Remon yang ikut duduk di samping Fatia.


"Kenapa Nessa memarahi Vino?" tanya Fatia.


"Tadi Vino cubit anaknya Nessa sampai nangis."


"Oh. Ya ampun. Vino. Nakal banget sih anak itu," geram Fatia.


Sebenarnya, Fatia sudah sangat geram dengan kelakukan Vino. Vino semakin besar, semakin nakal saja dan susah diatur.


Saat ini, usia Vino sudah memasuki angka enam. Dan sebentar lagi, akan memasuki usia tujuh tahun. Dan selama itu, Fatia belum punya keinginan untuk berumah tangga. Entah kenapa. Padahal, Remon sudah cukup lama menunggu Fatia. Sementara Andre, sekarang sudah menikah karena lelah menunggu Fatia.


Sebelum menikah, Andre sering sekali memanjakan Vino. Dia selalu membelikan apa yang Vino mau. Tapi akhir-akhir ini, Andre sudah jarang memberikan Vino perhatian. Mungkin, karena sekarang dia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


Semenjak Pak Daniel meninggal, Andre yang mengurus semua perusahaan milik Pak Daniel sendiri. Dia juga yang saat ini, menjadi tulang punggung keluarga menggantikan ayahnya.


Ring ring ring ...


Suara deringan ponsel Remon berdering.


"Ada telpon. Tunggu sebentar ya Fatia, Tante Dewi." Remon berjalan menjauh dari Bu Dewi dan Fatia untuk angkat telpon.


"Halo Remon. Cepat pulang Nak. Kamu harus tolong Papa kamu Remon. Hiks...hiks..." suara tangisan Bu Rima sudah terdengar dari balik telpon


"Emang kenapa dengan papa Ma? apa yang terjadi?"


"Papa terpeleset dari kamar mandi Remon. Dan sekarang, dia pingsan."


"Apa!"


"Remon. Cepat pulang Nak."


"Baiklah. Aku akan pulang sekarang Ma."


Tut Tut Tut.


Remon mendekat ke arah Fatia dan Bu Dewi. Dia kemudian berpamitan untuk pulang.


"Remon. Ada apa? apa yang terjadi?" tanya Bu Dewi penasaran.


"Papa aku katanya jatuh di kamar mandi. Dan sekarang dia pingsan," jawab Remon dengan wajah sendu.


"Ya udah. Sekarang, kamu cepat pulang Mas. Kasihan Om Wibowo. Kamu harus bawa Om Wibowo ke rumah sakit."

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Fatia dan Bu Dewi, Remon kemudian buru-buru ke luar dari rumah Fatia dan masuk ke dalam mobilnya.


Remon kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Fatia.


__ADS_2