
Andre masih menyantap mie instan buatan Bi Ijah di ruang makan. Beberapa saat kemudian, Bu Alya datang menghampirinya.
"Andre, tumben banget pagi-pagi udah makan," ucap Bu Alya sembari duduk di dekat Andre.
"Mama udah bangun?" Andre menatap sekilas ibunya. Sebelum dia menyantap mie instannya kembali.
"Mama mau bantuin Bik Ijah sebenarnya. Tapi, kepala mama pusing Andre. Sejak semalam mama udah merasa pusing," ucap Bu Alya.
"Ya istirahat aja kalau gitu Ma."
"Ya mana bisa Andre. Kalau mama tiduran terus, bisa bikin tambah pusing. Malah mama semakin sakit," ucap Bu Alya sembari memegangi keningnya.
"Ma, ada kabar buruk Ma," ucap Andre yang membuat Bu Alya terkejut.
"Kabar buruk apa?" tanya Bu Alya.
"Vino masuk rumah sakit," jawab Andre.
"Apa! Vino masuk rumah sakit. Kenapa dengan anak kamu Andre?" tanya Bu Alya penasaran.
"Vino, katanya keracunan makanan Ma."
"Ya ampun, kasihan banget dia." Bu Alya tampak sangat mengkhawatirkan kondisi Vino cuvunya.
Carisa sejak tadi, masih menatap ke arah Andre dan Bu Alya ngobrol.
Oh, jadi Vino keracunan makanan. Kenapa nggak mati aja sih anak itu. Nyusahin melulu. Kemarin dia hilang. Sekarang dia keracunan. Aku heran deh, kenapa sih anak itu suka banget cari perhatian Mas Andre dan mama. Aku benar-benar nggak suka sama dia dan Fatia ibunya.
Carisa berjalan menghampiri Andre dan Bu Alya. Dia kemudian ikut duduk di sisi Andre.
"Mas, apa benar kalau Vino di rumah sakit?" tanya Carisa.
"Iya" jawab Andre singkat.
"Kenapa dengan Vino. Duh, kasihan banget ya Vino. Aku jadi nggak tega melihatnya. Padahal sebentar lagi kan, dia ulang tahun," ucap Carisa yang pura-pura perhatian dengan Vino.
"Sudahlah Carisa. Nggak usah sok perhatian sama anak aku. Kamu seneng kan kalau Vino kenapa-kenapa," ucap Andre dengan ketus.
__ADS_1
"Mas, kamu kok bicara seperti itu sih. Aku benar-benar perduli lho, sama anak kamu. Selama ini, aku juga nggak pernah kan melarang kamu untuk berhubungan dengan Vino dam ibunya. Coba kalau wanita selain aku, pasti nggak akan ada yang membolehkan suaminya berhubungan lagi dengan mantan istri dan anaknya," ucap Carisa panjang lebar. Dia sejak tadi masih mencoba untuk membela diri.
"Sudahlah Carisa. Aku mau buru-buru ke rumah sakit. Aku mau mandi." Andre bangkit dari duduknya. Dia kemudian pergi meninggalkan meja makan dan naik ke lantai atas.
Carisa bangkit berdiri. Sepertinya dia akan menyusul suaminya ke kamar.
"Carisa. Mau ke mana kamu?" tanya Bu Alya.
"Aku mau ke kamar Ma," jawab Carisa.
"Mau ngapain?"
"Ya, mau nyiapin bajunya Mas Andre lah Ma."
"Carisa. Andre udah gede. Udah bisa nyiapin bajunya sendiri. Duduk! Mama ingin bicara sama kamu."
Carisa mengangguk. Dia kemudian duduk kembali, setelah ibu mertuanya menyuruhnya duduk.
"Mama mau bicara apa?" tanya Carisa menatap Bu Alya yang saat ini, sudah menampakkan wajah seriusnya.
'Hah, kenapa sih. Lagi-lagi perempuan tua bangka ini, menanyakan soal anak padaku.' batin Carisa.
"Maaf Ma, aku belum bisa ngasih mama cucu. Dan Tuhan juga belum mau menganugerahi aku seorang anak."
"Tahu kayak gini, mama nggak akan pernah merestui hubungan kamu dengan Andre Carisa."
Carisa hanya bisa menundukan kepalanya.
"Maafkan aku ya Ma. Tapi, aku juga lagi berusaha Ma. Aku sudah sering banget melakukan program hamil. Tapi, entah kenapa dari semua yang aku ikuti, belum membawakan hasil."
"Kamu udah periksa kan kesuburan kamu ke dokter? barang kali, kamu mandul. Karena Andre nggak mungkin mandul. Dia itu sudah punya anak. Dan menurut aku, Fatia itu wanita yang subur. Buktinya, dia bisa langsung hamil dengan melakukan hubungan sekali dengan Andre."
Deg.
Lagi-lagi Bu Alya sudah membuat Carisa emosi. Siapa wanita yang tidak akan emosi, saat dirinya di banding-bandingkan dengan mantan istri suaminya. Sebenarnya, Carisa ingin sekali meluapkan emosinya pada Bu Alya. Namun, selalu Carisa tahan. Karena dia tidak mungkin marah-marah pada ibu mertuanya.
Air mata Carisa sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia ingin menangis. Namun dia tahan untuk tidak menangis di depan ibu mertuanya. Carisa tidak mau, terlihat lemah di depan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ma, lagian, aku juga belum siap hamil. Tata masih kecil. Kalau aku hamil, melahirkan dan punya bayi, kasihan dia, dia pasti akan kurang perhatian dan kasih sayang dari aku dan Mas Andre," ucap Carisa.
"Ya, balikin aja dia sama ibunya. Gampang kan."
"Kenapa mama bisa bicara begitu. Katanya mama udah sayang sama Tata dan sudah menganggap dia cucu kandung mama sendiri. Lalu, kenapa mama bicara seperti itu."
"Aku memang sayang sama Tata. Tapi, walau bagaimanapun juga, Tata itu bukan anak kandung Andre. Jadi dia berbeda dengan Vino. Walau bagaimanapun juga, Vino yang berhak atas harta gono-gininya Andre. Karena dia anak kandungnya Andre. Dan dia anak lelaki."
"Terus, Tata mau dibalikin ke mana Ma, aku juga nggak tahu, di mana keberadaan adik aku sekarang. Aku dan Mas Andre juga sudah menganggap dia anak kandung kamu sendiri."
Carisa bangkit dari duduknya. Sepertinya dia lelah, harus menghadapi ibu mertuanya yang sekarang sudah mengungkit-ungkit soal anak.
"Carisa. Kalau kamu seperti ini terus, jangan salahkan saya, untuk menikah kan Andre dengan wanita lain."
Wajah Carisa tiba-tiba menjadi pucat. Dia kemudian kembali duduk dan menatap tajam ke arah ibu mertuanya.
"Apa maksud mama?" tanya Carisa.
"Ya biar Andre bisa punya anak. Karena kamu tidak bisa memberikan dia anak. Biar wanita lain aja yang memberikan anak untuk Andre."
"Ma, tega banget mama ngomong gitu. Aku ini menantu Mama. Dan aku juga lagi berusaha untuk hamil. Tapi Tuhan aja yang belum ngasih. Dan asal mama tahu ya. Aku ini nggak mandul Ma."
"Ya udah. Terus kamu mau ke mana tadi?" tanya Bu Alya.
"Aku mau ke kamar. Mau lihat Tata."
"Tata pasti masih tidur. Dari pada kamu di kamar terus, mainan hape, dan ngelamun, lebih baik kamu bantuin Bik Ijah di dapur."
"Ma, kok aku sih Ma. Biasanya juga mama kan yang bantuin Bik Ijah. Kenapa nyuruh aku. Aku kan lagi repot sendiri. Aku harus ngurus Mas Andre, bangunin Tata, ngantar Tata sekolah. Mama gimana sih. Kayak nggak tahu rutinitas aku setiap hari aja."
"Kamu itu beda banget sama Fatia tahu nggak. Dulu, waktu Fatia jadi menantu aku, dia nggak seperti ini. Dia nurut sekali dengan aku. Dia mau bantu-bantu Bik Darmi dan Bik Ijah di dapur. Tapi, yang mama lihat, sejak kamu menikah dengan Andre, kamu nggak pernah turun ke dapur. "
"Lagi-lagi Fatia. Lagi-lagi Fatia. kenapa sih mama selalu bandingkan aku dengan Fatia. Apa hebatnya wanita itu sih Ma. Nggak mama, nggak mas Andre. Sama aja pilih kasih. Padahal Fatia itu kan bukan siapa-siapanya Mas Andre. Dia kan cuma mantan istri."
"Iya. Fatia bukan siapa-siapa. Tapi Vino itu cucu kandungku. Jadi Fatia ibu dari cucu kandungku."
Carisa sudah tidak sanggup berdebat dengan ibu mertuanya. Tanpa banyak basa-basi lagi, Carisa pergi meninggalkan ibu mertuanya dan melangkah menuju ke kamarnya.
__ADS_1