Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Tangisan Carisa.


__ADS_3

Hiks...hiks...hiks...


Tangisan Carisa semakin kencang saja. Carisa tiba-tiba saja mendorong dada bidang Andre. Karena dia merasa geram dengan suaminya.


"Kamu tega banget Mas sama aku. Kenapa Mas!" ucap Carisa dengan nada tinggi.


Andre hanya membiarkan istrinya menangis dan meraung-raung.


"Menangislah terus Carisa, jika menangis bisa membuat hati kamu tenang." Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Andre.


Tok tok tok ..


Suara ketukan dari luar kamar Andre terdengar.


"Siapa?" seru Andre.


"Ini aku Kak. Mau ngantar Tata ketemu Kak Carisa..." seru Dinda dari luar.


Andre berjalan menuju pintu kamarnya. Dia kemudian membuka pintu kamarnya. Dinda terkejut saat melihat Andre yang masih dalam keadaan bertelanjang dada.


"Kakak belum ganti baju?" tanya Dinda.


"Belum. Kakak baru mandi," jawab Andre.


"Ini. Anaknya kakak. Dia udah siap dari tadi. Dari tadi dia udah nungguin mamanya. Mana sih, Kak Carisa. Kenapa dia nggak turun-turun dari tadi?"


"Carisa ada di dalam."


Andre menatap Tata. Dia tersenyum saat melihat anaknya yang sudah tampak rapi dan cantik. Tata memang sudah mandi sejak tadi. Selain sama Carisa, biasanya dia juga lebih suka mandi sama Bik Ijah.


Tata saat ini, sudah memakai baju seragam dengan rambut yang sudah di ikat dua.


"Kamu udah mandi ? mandi sama siapa?" tanya Andre.


"Sama bibik."


"Mama kamu ada di dalam. Masuk sana!" pinta Andre.


Tata mengangguk. Dia kemudian masuk ke dalam kamar Andre.


"Aku mau ke rumah sakit sekarang Kak. Mau berangkat pagi."


"Iya."


Dinda kemudian pergi meninggalkan kamar Andre. Sementara Andre kembali masuk ke dalam kamarnya.


Tata menatap mamanya yang masih menangis. Carisa duduk tepat di sisi ranjangnya. Tata mendekati Carisa dan duduk di sisi Carisa.


"Mama nangis?" tanya Tata.


Carisa mengusap air matanya dan menatap anaknya lekat.


"Eh, sayang. Nggak kok. Mama nggak apa-apa."


"Mama kenapa nangis? apa papa udah marahin mama lagi?" tanya Tata.


Carisa menatap Andre. Andre sejak tadi masih memperhatikan Carisa dan Tata.

__ADS_1


"Sayang, kamu tunggu di sini ya. Mama mau nyiapin baju untuk Papa."


Tata mengangguk.


Carisa kemudian bangun dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah lemari dan memilihkan baju kerja untuk Andre.


"Ini mas. Baju kamu aku taruh di sini. Aku mau keluar sama Tata."


"Makasih."


Carisa kemudian mengajak Tata keluar dari kamarnya. Sementara Andre ganti baju.


****


Pagi ini Carisa masih diam. Di meja makan, Carisa sama sekali tidak mau menyentuh makanannya.


"Carisa. Kamu kenapa nggak makan?" tanya Bu Alya.


"Aku lagi nggak enak makan Ma," jawab Carisa.


"Mama, mama nggak mau ya makanannya? biar buat Tata aja ayamnya."


Carisa tersenyum.


"Ambil aja sayang."


Selesai makan, Andre bangkit dari duduknya. Dia kemudian berpamitan pada ibunya.


"Aku berangkat dulu ya Ma," ucap Andre.


Dia kemudian mencium punggung tangan Bu Alya.


"Iya. Hati-hati di jalan Mas."


Andre buru-buru keluar dari rumahnya setelah berpamitan pada keluarganya. Sesampainya di teras, Andre menelpon Ersa.


"Halo..."


"Halo Er, kamu ada di mana sekarang?"


"Aku masih ada di rumah Pak."


"Oh, kebetulan kalau begitu. Aku ini juga baru mau meluncur pergi. Aku jemput kamu ya."


"Nggak usah Pak. Aku mau berangkat sendiri saja."


"Ersa, pokoknya aku mau jemput kamu sekarang. Kamu tunggu aku ya."


Andre buru-buru mematikan saluran telponnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


Beberapa saat kemudian, mobil Andre sudah sampai di depan rumah Ersa. Andre turun dari mobilnya dan berjalan mendekati Ersa yang saat ini sudah berdiri di teras.


"Ersa, kamu udah siap?" tanya Andre.


Ersa mengangguk.


"Ayo kita berangkat sekarang."

__ADS_1


"Iya Pak."


Andre membukakan pintu mobil untuk Ersa.


"Masuk Er."


"Makasih."


Setelah masuk ke dalam mobilnya, Andre dan Ersa kemudian meluncur pergi menuju kantornya.


Di dalam perjalanan menuju kantor, Andre dan Ersa masih saling diam. Sejak tadi mereka belum ada yang bicara.


"Kenapa diam aja Er?" tanya Andre di sela-sela menyetirnya.


"Terus aku harus ngomong apa Pak?" ucap Ersa sembari menatap ke sampingnya duduk.


"Ya ngomong apa aja. A B C atau D."


"Ya itu sih anak TK Pak."


Andre tersenyum. Dia tidak tahu saja kalau saat ini Ersa sangat gugup. Sejak semalam, Ersa memang masih gugup saja saat dia sedang berada di dekat Andre.


"Soal semalam, bapak nggak serius kan?" tanya Ersa.


"Kata siapa nggak serius. Aku serius Er. Dua rius malah."


"Tapi kalau aku tolak bapak, bapak nggak apa-apa kan? bapak nggak akan pecat aku kan jadi sekretaris bapak? "


Andre tersenyum.


"Hehe...aku yakin kamu nggak akan nolak aku Er. Malah aku yakin, kalau kamu pasti akan dengan senang hati memeluk aku."


"Ih, bapak kok jadi kepedean banget sih. Siapa yang mau peluk bapak."


"Er, jujur aja deh. Kamu juga cinta kan sama aku ? kalau kita sama-sama cinta, kenapa kita nggak nikah aja."


Ersa diam. Dia bingung mau bicara apa sama Andre. Karena Andre juga sangat jago merayu. Wanita mana sih, yang tidak akan luluh dengan seorang Andre. Andre lelaki yang ketampanannya di atas rata-rata, yang mempunyai banyak cabang perusahaan di mana-mana. Semua wanita juga pasti tidak akan menolak jika dinikahinya.


"Aku nggak suka pacaran Er. Aku bukan anak muda yang hanya ingin bermain-main saja dengan suatu hubungan. Andai aku mencintai seorang wanita. Pasti aku akan pertahankan dia dan akan aku ajak seriusan. Kecuali kalau dia memang benar-benar sudah menolak aku."


"Jadi ucapan bapak semalam memang serius?"


"Iya. Aku mengajak kamu ke rumahku aku memang sengaja mau mengenalkan kamu sama mama dan adik aku. Karena aku mau serius sama kamu. Dan aku akan mengajak mama aku untuk ketemu Mama kamu. Aku ingin melamar kamu Er."


"Ta-tapi... bagaimana dengan Bu Carisa? apa dia sudah memberikan izin bapak untuk menikah lagi?"


"Carisa pasti akan mengizinkan aku nikah lagi. Kalau dia nggak ngizinin aku nikah lagi, mungkin aku akan menceraikan dia."


Ersa terkejut saat tiba-tiba saja Andre menggenggam tangannya erat


"Aku cinta sama kamu Er. Kamu itu wanita yang sangat baik. Aku yakin, kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak aku nanti. Aku ingin punya anak dari kamu Er. Bila perlu punya anak yang banyak."


Jantung Ersa berdebar kencang saat Andre menggenggam tangannya dengan erat. Baru kali ini Ersa merasa sangat gugup saat berada di dekat lelaki. Biasanya setiap Ersa punya pacar dan sedang dekat dengan pacarnya, Ersa tak pernah merasa segugup ini. Entah kenapa dengan Andre berbeda.


Ersa sejak tadi tampak masih berfikir.


'Haruskah, aku jadi istri ke dua pengusaha besar seperti Pak Andre. Tapi apa yang akan orang-orang fikir tentang aku. Apakah mama ngizinin aku nikah dengan Pak Andre,'

__ADS_1


Ersa melepas tangan Andre.


__ADS_2