Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Menangis haru


__ADS_3

Suasana sarapan di pagi ini, tidak seceria suasana di hari-hari biasanya. Karena Andre dan Carisa tidak saling bicara sejak tadi.


Itu semua membuat Bu Alya dan Dinda tampak bingung.


"Kalian berdua kenapa sih? berantem lagi?" tanya Bu Alya.


Andre diam. Sejak tadi dia seperti tidak mau mendengarkan pembicaraan ibu, adik dan istrinya.


"Kami nggak apa-apa kok Ma," ucap Carisa.


Beberapa saat kemudian, si kecil Tata sudah di gandeng Bik Ijah turun dari lantai atas. Dia berjalan menghampiri ruang makan.


"Selamat pagi Oma, Tante, Mama, Papa..." sapa Tata yang pagi ini tampak ceria.


Bu Alya tersenyum.


"Duh, cucu oma udah cantik ya. Sebentar lagi mau pergi ke sekolah," ucap Bu Alya.


"Sini sayang, duduk sama Tante Dinda," ucap Dinda sembari melambaikan tangannya ke arah Tata.


Tata tersenyum dan mendekat ke arah Dinda. Dia kemudian duduk di sisi Dinda.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah Andre.


Bu Alya dan Dinda saling menatap.


"Siapa ya, yang pagi-pagi gini udah bertamu," ucap Dinda.


"Coba Bik Ijah, lihat ke depan siapa yang datang," ucap Bu Alya.


Bik Ijah kemudian berjalan menuju ke depan untuk melihat siapa yang datang.


"Selamat pagi," ucap Alena.


"Anda siapa ya? perasaan pernah lihat," ucap Bik Ijah.


"Tatanya ada Bik? saya mau ketemu Tata," ucap Alena.


"Anda siapa?"


"Panggil saja Tata Bik. Bilang saja ada Tante Alena ingin ketemu."


"Oh, jadi tamunya Non Tata? baik saya akan bilang ke Non Tata."

__ADS_1


Bik Ijah berjalan menuju ke dalam untuk memanggil Tata.


"Siapa Bik?" tanya Bu Alya.


"Alena. Katanya dia mau ketemu Non Tata."


Tata terkejut dan tersenyum.


"Ibu aku datang?" ucap Tata yang membuat Carisa, Andre, Dinda dan Bu Alya terkejut.


Tata kemudian buru-buru keluar untuk menemui ibu kandungnya. Sementara Carisa bangkit dari duduknya dan ingin mengejar anaknya. Namun Andre buru-buru mencekal tangan Carisa.


"Mau kemana kamu?" tanya Andre.


"Aku mau kejar Tata. Aku nggak mau Tata dekat dengan Alena. Bagaimana kalau Alena mengajak Tata pergi."


"Biarkan saja Tata bertemu ibu kandungnya. Biarkan saja mereka Carisa. Jangan halangi lagi mereka untuk bertemu," ucap Andre.


Carisa akhirnya duduk kembali di ruang makan. Membiarkan Tata bertemu dengan Alena.


Alena menatap keluar gerbang rumah Tata.


"Ibu," suara Tata tiba-tiba saja terdengar.


"Tata, kamu panggil aku ibu?" ucap Alena dengan mata berbinar-binar.


Tata mengangguk.


Alena terkejut saat tiba-tiba saja Tata memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku Tante Lena. Karena selama ini aku nggak pernah percaya dengan Tante Lena. Maafkan aku Tante. Sekarang aku percaya kalau Tante Lena itu ibu kandung aku," ucap Tata yang saat ini masih memeluk ibunya erat.


Alena melepaskan pelukan Tata. Dia kemudian menatap Tata lekat dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anaknya.


"Tante Lena senang banget Tata mau panggil Tante Lena ibu," ucap Alena sembari menangkup kedua pipi anaknya.


Alena tidak kuasa menahan tangisannya. Alena akhirnya menangis di depan Tata. Begitu juga dengan Tata yang ikut menangis saat Alena kembali memeluknya. Mereka menangis haru di depan pintu rumah Andre.


Beberapa saat kemudian, Andre, Carisa, Bu Alya dan Dinda berjalan keluar dan menemui Tata yang ada di depan.


Mereka terkejut saat melihat Alena dan Tata sedang berpelukan dan menangis haru. Sepertinya mereka memang sudah lama saling merindukan.


"Tata," ucap Carisa.


Carisa melangkah ingin mendekat ke arah anaknya. Namun, Andre langsung mencekal tangan istrinya.

__ADS_1


"Biarkan mereka," bisik Andre.


Carisa mengangguk dan menghentikan langkahnya.


Alena melepas pelukannya. Dia kemudian mengusap air matanya.


Setelah itu, Alena berdiri dari jongkoknya dan mendekat ke arah Carisa kakaknya. Alena meraih tangan Carisa dan menggenggamnya erat.


"Kakak, aku mau minta maaf atas semua kesalahan aku Kakak," ucap Alena tiba-tiba.


"Kakak, terimakasih karena kakak udah mau merawat dan membesarkan anak aku sampai sebesar sekarang. Kakak, tolong izinkan aku untuk bertemu anak aku. Izinkan aku, untuk dekat dengan Tata terus Kak. Tolong, jangan halangi aku untuk ketemu Tata. Karena aku juga tidak mau merebut Tata dari Kakak," ucap Alena.


Carisa meneteskan air matanya.


"Pasti kakak selama ini berfikir, kalau aku akan membawa anak aku pergi kan. Nggak Kak, kakak salah. Aku ingin Alena tetap bersama Kakak. Aku nggak mau membawa Alena pergi. Tapi aku mohon Kak, izinkan lah aku untuk dekat Alena. Jika aku rindu padanya aku ingin memeluk dan mencium Tata. Cuma itu Kak, kedatangan aku sebenarnya," ucap Alena.


Niat awal Alena, sebenarnya Alena ingin membawa Tata untuk ikut dengannya. Tapi setelah Alena tahu kalau Carisa itu tidak punya anak lagi selain Tata , Alena jadi berfikir dua kali untuk membawa Tata pergi.


Alena kasihan saat melihat Carisa yang tampak begitu sayang pada Tata. Alena tidak tega untuk meminta Tata kembali dan memisahkan Tata dari Carisa.


Beberapa saat kemudian, seorang lelaki turun dari mobilnya. Dia kemudian mendekat ke arah Alena.


"Alena," ucap Bram yang tak lain adalah suami dari Alena.


"Dia Bram Kak, suami aku. Aku sudah dua tahun menikah dengannya. Dan aku juga sudah punya anak lagi. Dia masih berusia satu tahun," ucap Alena memperkenalkan suaminya pada Carisa.


"Aku datang ke sini, karena aku rindu sama Tata. Anak yang sudah aku tinggalkan dulu. Sekarang aku sudah menyadari semuanya Kak. Dan aku ingin menebus semua kesalahan aku pada Tata. Izinkanlah aku Kak, untuk dekat dengan Tata. Karena jika aku rindu dengan Tata, aku ingin memeluk dan menciumnya. Dan aku datang ke sini, karena aku rindu anak aku."


"Kenapa kamu tidak bilang dari awal soal ini. Kenapa...!" ucap Carisa dengan nada tinggi.


"Kamu sudah membuat aku salah paham Alena. Aku fikir, kamu akan merebut Tata dari aku. Aku nggak sanggup jika aku harus dipisahkan dari Tata."


Carisa tiba-tiba saja menangis.


"Kak, Tata itu anak kandung aku. Dia juga anak Kakak. Aku ke sini, hanya ingin bertemu dengan Tata. Aku ingin memeluk dan mencium dia. Aku rindu banget sama Tata. Dan sekarang aku ke sini, karena aku mau berpamitan sama Tata dan Kak Carisa.


Carisa mengusap air matanya dan terkejut.


"Mau pamitan? kamu mau ke mana?"


"Aku mau ke luar kota Kak, mau ikut suami tugas di luar kota. Mungkin, satu bulan aku nggak akan menemui Tata lagi," ucap Alena.


"Oh, jadi kamu mau pergi sekarang?" tanya Carisa.


"Iya Kak. Aku ke sini, cuma mau pamitan sama Tata. Siapa tahu, nanti Tata nyariin aku," ucap Alena.

__ADS_1


__ADS_2