Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Keracunan makanan.


__ADS_3

Setelah Fatia dan Remon menunggu lama di ruang tunggu, beberapa saat kemudian, dokter ke luar dari ruang UGD. Fatia dan Remon buru-buru menghampiri dokter.


"Dokter. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Fatia.


"Anak anda tidak apa-apa. Kami sudah menanganinya. Dia sudah melewati masa kritisnya. Tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada ibu," ucap Dokter.


"Sesuatu apa Dok?" tanya Fatia lagi.


"Anak ibu, habis makan apa? dia sepertinya keracunan makanan," ucap Dokter.


Fatia dan Remon saling menatap.


"Dokter, benarkah kalau anak saya keracunan makanan? tapi makanan apa ya. Perasaan, saya sudah memberikan dia makanan bergizi."


"Mungkin, waktu di sekolah, dia jajan sembarangan Bu. Bisa jadi, jajanan di sekolah yang kurang higienis bisa mengakibatkan keracunan."


"Benarkah. Apakah Vino udah jajan sembarangan."


"Ya udah. Kalau begitu, saya permisi dulu. Sebentar lagi, anak ibu sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat."


"Iya Dok. Makasih."


Dokter kemudian pergi meninggalkan Fatia dan Remon.


"Duh, Vino. Kasihan banget kamu Nak, sebentar lagi kamu ulang tahun. Tapi, kamu malah masuk rumah sakit," ucap Fatia


***


Waktu sudah menunjukkan jam 01.00. Vino saat ini sudah dipindahkan di ruang rawat rumah sakit. Vino masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Sementara Fatia dan Remon, masih berada di sisi Vino.


"Mama...mama..." Vino mengiggau memanggil-manggil mamanya. Sesekali dia juga menyebut-nyebut ayahnya.


"Papa...Papa..."


Fatia menatap Remon.


"Mas, kenapa Vino jadi seperti ini sih Mas. Masak dari tadi, dia nggak bangun-bangun. Dia malah mengiggau terus."


Remon tampak berfikir.


"Coba kamu telpon Andre. Siapa tahu, Vino lagi butuh ayahnya."


"Nggak mau. Aku nggak mau Mas Andre dekat-dekat Vino lagi. Dia itu bukan ayah yang bertanggung jawab. Dia sudah membuat Vino hilang."


"Fatia. Ya coba saja kamu hubungin Andre. Biar Andre tahu kalau Vino saat ini ada di rumah sakit. Kalau sampai ada apa-apa dengan Vino, Andre pasti akan menyalahkan kamu."


"Kenapa sih Mas. Kamu ngotot banget meminta aku untuk telpon Mas Andre. Kamu aja, kalau ada Mas Andre pasti bawaannya emosi terus kan. Kenapa kamu malah menyuruh aku untuk mengabari Mas Andre."


"Bukan itu masalahnya sayang. Masalahnya Vino itu kan anaknya Andre juga. Kalau ada apa-apa sama Vino, pasti kamu yang akan disalahin oleh Andre."


Fatia diam. Dia tampak berfikir.


"Benar juga sih Mas, apa kata kamu. Kalau sakit Vino semakin parah, pasti aku yang akan disalahin. Aku tahu siapa Mas Andre. Dia itu kan lelaki egois. Pasti dia akan bilang kalau aku nggak becus ngurus anak."


"Tapi, udah malam sayang. Pasti Andre juga udah tidur. Besok aja nelponnya sayang. "


"Iya Mas."

__ADS_1


**


Ring ring ring ...


Suara deringan ponsel Andre membangunkan Andre dari tidurnya. Andre mengerjapkan matanya. Dia kemudian mencari ponselnya dengan meraba ke sampingnya tidur.


"Ke mana sih ponsel aku," ucap Andre.


Andre kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


"Halo..."


"Halo Mas. Kamu udah bangun?"


"Fatia. Ada apa ? kenapa jam segini nelpon."


"Maaf kalau aku udah ganggu waktu kamu. Aku cuma mau ngasih tahu, kalau saat ini anak kita lagi ada di rumah sakit."


Andre membelalakkan matanya karena terkejut.


"Apa! sakit? sakit apa Fatia?"


"Kata dokter, Vino keracunan makanan."


"Keracunan makanan. Kok bisa sih Fatia. Ini semua gara-gara kamu Fatia."


"Lho kok kamu nyalahin aku."


"Ya iyalah. Kamu nggak becus ngurus anak. Coba kalau Vino ikut aku. Pasti hidupnya akan terjamin karena dia selalu makan enak dan bergizi. Nggak makan asal-asalan kayak gitu."


"Emang kamu fikir, aku nggak bisa memberikan Vino makanan enak. Aku juga bisa kok Mas. Kamu itu kenapa sih, egois banget. Selalu aja nyalahin orang."'


"Iya. Nanti aku kabari lewat chat."


"Iya. Aku tunggu."


Andre mematikan saluran telponnya. Setelah itu dia menghela nafas dalam.


"Ya ampun, kenapa dengan Vino. Padahal, sebentar lagi dia ulang tahun. Tapi, dia malah sakit," gumam Andre sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Beberapa saat kemudian, Carisa terbangun.


"Mas, ada apa sih?" tanya Carisa.


"Ada telpon dari Fatia."


"Mau ngapain dia nelpon kamu jam segini. Mau minta uang ya buat Vino. Nggak tahu malu banget ya tuh orang. Udah tahu kamu itu suami aku. Tapi dia masih aja mau gangguin aku."


Andre menatap tajam istrinya.


"Bicara apa kamu barusan heh...!""


"Em, aku. Aku nggak bicara apa-apa kok," ucap Carisa yang ketakutan saat menatap Andre. Karena Andre saat ini, terlihat seperti orang marah.


Andre menyibak selimutnya. Setelah itu dia turun dari tempat tidurnya. Andre keluar dari kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Carisa. Andre berjalan menuju ke kamar Dinda.


Tok tok tok...

__ADS_1


Andre mengetuk pintu kamar Dinda. Beberapa saat kemudian, Dinda membuka pintu.


Hoaaammm...


"Kak, ada apa?" tanya Dinda.


"Dinda, ponakan kamu masuk rumah sakit."


"Siapa? Vino?"


"Ya siapa lagi. Ponakan kamu kan cuma Vino."


"Kenapa dia kak?" tanya Dinda.


"Barusan Fatia nelepon. Katanya Vino di bawa ke rumah sakit karena keracunan makanan. Kamu ada jadwal ke rumah sakit nggak pagi ini."


"Ada Kak. Emang rumah sakit mana Vino di rawatnya."


"Ya rumah sakit tempat kamu kerja."


"Oh. Ya udah, besok aku akan temui Vino. Kak Andre mau ke kantor ya?"


"Iya. Tapi, aku mau ke rumah sakit dulu. Aku kasihan sama Vino. Sudah beberapa hari ini aku nggak ketemu dia. Karena Fatia nggak ngizinin aku ketemu dia. Tapi tadi, dia malah telpon."


"Ya udah. Tenang ya Kak. Yang penting sekarang Vino udah di tangani dokter kan?"


"Iya."


"Ya udah. Masih pagi banget Kak. Aku juga masih ngantuk. Aku ke rumah sakit, paling agak siangan."


"Ya udah kalau gitu."


Andre kemudian pergi meninggalkan kamar adiknya. Dia kemudian melangkah turun ke bawah.


Di bawah, tampak sepi. Hanya ada Bik Ijah yang masih berkutat di dapur. Andre menghampiri Bik Ijah yang sejak tadi masih membersihkan dapur dan perabotan rumah lainnya.


"Bik Ijah," ucap Andre.


Bik Ijah menoleh ke arah Andre.


"Eh, Den Andre. Ada apa Den?"


"Ada makanan nggak Bik? aku lapar."


"Duh, bibi juga baru mau masak Den."


"Ya udah. Tolong buatin aku mie instan dong. Sama teh manis ya."


"Oh. Iya Den. Non Carisa belum bangun ya. Biasanya, Non Carisa yang nyiapin makanan untuk Den Andre."


"Sudahlah, aku lagi malas sama Carisa. Aku mau bik Ijah aja yang buatin aku teh hangat sama mie instan."


"Baik Den. Aden bisa tunggu bibi di ruan makan. Nanti, bibi antar ke meja makan ya Den."


"Iya."


Andre kemudian berjalan ke ruang makan dan duduk di sana. Walau dia masih mengantuk, tapi kantuknya hilang setelah dia mendengar kabar buruk dari Fatia.

__ADS_1


****


__ADS_2