Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Menemani Ersa


__ADS_3

"Ersa, sekarang kita pulang yuk! pasti mama kamu sudah nungguin kamu di rumah," ajak Andre.


Ersa mengangguk. Ersa kemudian bangkit berdiri. Begitu juga dengan Andre yang sejak tadi masih menemani Ersa. Mereka kemudian pergi meninggalkan makam Pak Seno.


Andre dan Ersa kemudian meluncur pergi dengan taksi. Karena mobil Andre, dibawa Bu Alya yang mengantar pulang Bu Meta.


Ersa dan Andre masih saling diam. Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan.


Ring ring ring ...


Suara ponsel Andre berdering. Andre tersenyum saat melihat panggilan dari Fatia.


'Benarkan, kalau Fatia itu pasti akan nelpon aku lagi. Dia itu tidak akan mungkin marah lama sama aku. Kebetulan banget dia nelpon. Aku dan mama juga mau jenguk Vino.'


Andre kemudian buru-buru mengangkat panggilan dari Fatia.


"Halo..."


"Halo Papa. Ini aku Vino Papa." suara Vino sudah muncul dari balik telpon.


Andre melebarkan senyumnya saat mendengar suara anaknya.


"Halo Vino sayang. Kamu udah bisa nelepon Papa? apa kamu sudah sembuh?"


"Aku udah ada di rumah Papa."


"Oh. Kamu di rumah siapa sayang?"


"Aku ada di rumah Oma Dewi sama ayah Remon dan Mama."


"Oh. Kamu pulang kapan?"


"Barusan Papa. Aku udah sampai sekarang. Terus aku langsung telpon papa, pinjam hapenya Mama."


"Vino. Sebentar lagi, Oma Alya dan Papa akan ke rumah Oma Dewi. Kami berdua mau jengukin kamu."


"Oh iya? wah, aku seneng banget deh pa, dengarnya. Oma Alya kan jarang main ke rumah aku."


"Iya sayang."


"Kapan papa akan ke sini?"


"Sebentar lagi. Paling lambat, ya sore sayang. Karena Papa ini masih ada acara."


"Iya Papa. Aku tunggu ya Papa."


Setelah bertelponan dengan Vino, Andre kemudian memutuskan saluran telponnya.


"Siapa Pak? anaknya?"


"Iya. Tadi anak saya."

__ADS_1


"Oh. Anaknya ditinggal di rumah ya? nggak ikut?"


"Anak saya yang nelpon tadi, nggak tinggal sama saya. Tapi dia tinggal sama ibunya."


"Emang, bapak sama istri pisah rumah? atau kalian sudah bercerai?"


"Kamu sudah bercerai lama. Tapi, kami masih menjalin komunikasi yang baik. Dan kami masih berhubungan seperti teman biasa."


Ersa tersenyum.


"Jadi, bapak ini duda?" terka Ersa.


Andre tersenyum. Dia sejak tadi menyetir sembari sesekali menatap ke arah Ersa.


Ersa memang cantik. Penampilannya juga modis. Dibandingkan Fatia, Fatia kalah jauh. Mungkin, dia hampir mirip dengan Carisa. Wanita yang selalu menjaga penampilannya.


Cuma, usia Carisa sudah di atas kepala tiga. Sementara Ersa, masih dua puluh lima tahun. Jadi, Ersa jauh lebih muda dibandingkan Carisa. Dan dia jauh lebih menggoda.


"Oh, aku bukan duda. Aku sudah punya istri."


"Aku fikir, bapak duda." Ersa tersipu malu. Ternyata tebakannya salah.


"Nggak apa-apa kok, kalau kamu mau menganggap aku seorang duda."


Ersa terkekeh.


"Hehe... kalau aku menganggap anda duda, apa untungnya buat aku Pak?"


"Yah, barang kali kamu pengin punya teman curhat. Nggak usah sungkan-sungkan untuk curhat sama aku. Dan nggak usah takut, dengan istri aku. Anggap saja, aku ini sahabat kamu sendiri Ersa. Kalau kamu ada masalah, cerita saja sama aku. Pasti aku akan bantu kamu."


"Kalau nggak ketahuan, siapa yang akan cemburu Ersa."


"Hehe...bapak ini ada-ada saja. Ya aku nggak mau lah, dekat-dekat sama suami orang. Nanti, aku di kira orang ketiga lagi, dalam rumah tangga bapak."


Sejenak, Andre dan Ersa saling diam.


"Oh iya Pak. Kalau boleh saya tahu, bapak ini udah pernah menikah dua kali ya?" Ersa bertanya sembari menatap Andre.


"Ya, aku udah menikah dua kali," jawab Andre.


"Jadi, anak bapak udah berapa sekarang?"


"Anak aku cuma ada satu. Anak yang dari istri pertama. Tapi, istri ke dua aku, dia belum punya anak."


"Oh, udah berapa tahun menikah?"


"Hampir lima tahun. Tapi entah kenapa, dengan rahim istri saya. Sampai sekarang, dia nggak bisa hamil. Padahal kami sering banget melakukan yang namanya program hamil. Tapi, sama sekali nggak membawakan hasil."


Ersa manggut-manggut mendengar cerita Andre.


Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi Ersa dan Andre sampai di depan rumah Ersa.

__ADS_1


"Pak, berhenti di sini aja Pak," ucap Ersa.


"Biar aku yang bayar Er." Andre merogoh kantong kemejanya untuk mengambil dompet. Dia kemudian membayar ongkos taksi itu.


Setelah itu, dia turun dari mobilnya. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah Ersa.


"Assalamualaikum," ucap Andre dan Ersa bersamaan.


"Wa'alakiumsalam," jawab Bu Meta dan Bu Alya.


"Kalian udah pulang?" tanya Bu Meta.


"Iya Ma," jawab Ersa.


Ersa dan Andre berjalan menghampiri Bu Meta dan Bu Alya yang sudah duduk di ruang tamu. Mereka kemudian duduk berbaur bersama Bu Meta dan Bu Alya.


Bu Alya menatap Andre.


"Andre. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Mama pengin tahu kondisi Vino," ucap Bu Alya. Dia tampaknya masih mengkhawatirkan kondisi cucunya.


"Ma, Vino sekarang sudah ada di rumah Tante Dewi. Dia baik-baik aja kok Ma," jelas Andre.


"Kamu yakin?"


"Iya. Tadi Vino udah telpon aku. Dan dia katanya udah pulang dari rumah sakit."


"Ya udah. Sekarang kita ke sana. Tunggu apa lagi," ucap Bu Alya.


"Ma, nanti saja lah, aku juga baru sampai. Aku masih capek."


"Bu Alya, benar apa kata Pak Andre. Pak Andre juga pasti masih capek. Biar saya buatkan minum ya Pak!" ucap Bu Meta.


"Oh, iya Bu. Makasih banyak," ucap Andre.


Bu Meta kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk Andre.


"Pak Andre, Bu Alya. Saya mau ngucapin banyak terimakasih ya, karena kalian sudah mau datang ke makam Papa saya."


Bu Alya tersenyum. "Iya Ersa. Kamu jangan nangis terus ya. Biar Papa kamu tenang di alam barzah. Kamu sebagai anak, harus selalu mendoakan Papa kamu. Karena doa anak yang soleh itu, akan selalu di harapkan ke dua orang tuanya sampai mereka berada di alam kubur."


"Iya Bu Alya. Makasih untuk semua nasihatnya."


Beberapa saat kemudian, Bu Meta membawa dua gelas sirup dingin untuk Andre dan Ersa.


"Pak Andre, ini saya sudah buatkan minuman dingin untuk bapak. Siapa tahu, bapak lagi haus. Udah menemani Ersa dan mengantarkan dia sampai rumah," ucap Bu Meta.


Dia kemudian meletakan dua gelas minuman dingin itu di atas meja ruang tamu.


Andre yang sejak tadi sudah merasa haus, segera mengambil minuman dingin itu.


"Saya minum ya Bu," ucap Andre.

__ADS_1


"Oh iya. Silahkan Pak Andre."


Andre kemudian menegak segelas minuman dingin itu.


__ADS_2