
Malam ini, Fatia masih menemani Vino di rumah sakit bersama Remon. Sejak tadi, Fatia melihat Vino selalu murung. Fatia tidak tahu, kenapa dengan Vino. Sejak Vino bangun, Vino jadi banyak diam. Padahal, Remon dan Fatia masih ada di sisinya sejak sore tadi.
Fatia menatap Vino.
"Sayang, gimana luka kamu? ada luka yang masih sakit?" tanya Fatia.
Vino menggeleng. "Udah nggak ada yang sakit Ma."
"Syukurlah kalau begitu. Mama jadi lega sayang dengarnya. Kalau kamu sudah sembuh, besok dokter pasti sudah membolehkan kamu pulang. Mama, khawatir banget sama kamu sayang," ucap Fatia sembari mengusap-usap puncak kepala Vino.
Vino tersenyum. Setelah itu dia diam. Tampak ada sesuatu yang sedang Vino fikirkan saat ini.
"Sayang, kenapa dari tadi kamu diam aja?" tanya Fatia.
"Vino. Kenapa kamu harus pergi dari rumah Papa kamu?" tanya Remon.
Vino masih diam. Dia sepertinya masih memikirkan bagaimana ibu tirinya memperlakukan dia waktu dia tidak sengaja memecahkan cermin rias ibu tirinya. Carisa sudah memarahi Vino habis-habisan dan mencubitnya sampai lengannya berbekas.
"Aku nggak mau, ikut tinggal di rumah Papa lagi. Aku takut Ma." Vino menatap Fatia lekat.
"Takut kenapa Vino?" tanya Fatia.
"Tadi aku nggak sengaja, mecahin cermin di kamar Papa. Dan saat mama Carisa tahu, aku langsung di marahin dan di cubit."
Fatia dan Remon saling menatap.
"Cubitannya sakit banget lagi," ucap Vino sembari membuka lengan bajunya. Menunjukkan bekas cubitan Carisa
Fatia dan Remon terkejut saat melihat bekas cubitan di lengan tangan kanan Vino. Fatia mulai emosi. Dia tidak terima anaknya dianiaya. Apalagi itu oleh Carisa.
"Ya ampun, sayang. Ibu tiri kamu itu keterlaluan banget ya. Tega banget dia menganiaya anak aku," geram Fatia
Fatia menatap Remon.
"Mas, begini nih Mas Andre. Kalau dititipin anak. Selalu saja setiap Vino di rumahnya, ada saja masalah. Pasti anak aku, yang jadi korban kelalaiannya Mas Andre," ucap Fatia.
"Sabar sayang." Remon mengusap-usap bahu Fatia.
"Bagaimana aku bisa sabar Mas. Aku benar-benar nggak terima kalau Vino di sakiti. Dia itu anak aku Mas. Ibu mana yang bisa terima kalau anaknya di cubit sampai memar begini. Apalagi yang nyubit itu ibu tirinya."
"Sayang, tapi jangan marah-marah begini dong. Kamu mau marah sama siapa? Carisa dan Andre juga kan nggak ada di sini," ucap Remon.
"Aku akan telpon Mas Andre sekarang."
__ADS_1
Fatia yang masih dipenuhi emosi, segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Dia kemudian menelpon Andre.
Beberapa saat kemudian, suara Andre terdengar dari balik telpon.
"Halo Fatia. Kebetulan banget kamu nelpon. Aku juga tadi mau nelpon kamu."
"Aku nggak terima ya Mas dengan perlakuan Carisa ke anak aku."
"Apa maksud kamu?"
"Mas, Vino sekarang ada di rumah sakit. Dan ini semua gara-gara kamu. Apa kamu tahu, apa yang sudah istri kamu itu lakukan pada Vino. Dia udah nyubit Vino sampai lengan Vino memar."
"Apa! Vino ada sama kamu sekarang?"
"Iya. Dan aku sekarang ada di rumah sakit. Karena tadi sore, Vino kecelakaan."
"Apa! Vino kecelakaan. Ya udah Fatia. Aku akan ke rumah sakit sekarang. Kamu ada di rumah sakit mana sih?"
"Kamu nggak usah ke sini Mas. Lebih baik, kamu urusin istri kamu aja. Kamu bilang sama istri kamu, untuk jangan kasar sama anak kecil. Vino itu masih tujuh tahun. Dia nggak tahu apa-apa Mas. Kalau nakal, bisa kan dibilangin aja. Nggak usah tangannya ikut nyubit."
"Fatia. Aku akan bilang sama Carisa. Tapi aku mohon, kamu jangan halangi aku untuk ketemu anak aku. Aku juga ingin tahu, bagaimana kondisi dia sekarang. Karena Vino pergi dari rumah sejak tadi pagi. Aku dan Carisa juga sedang mencarinya. Tapi untunglah dia ada sama kamu."
"Mas, setelah kejadian ini, aku tidak akan pernah membiarkan kamu membawa Vino lagi titik."
Tut...Tut ...Tut...
****
Andre mengepalkan tangannya geram saat mendengar penuturan dari Fatia. Andre kemudian ke luar dari rumahnya untuk menunggu istrinya.
Beberapa saat kemudian, mobil Carisa masuk ke dalam halaman depan rumah Andre.
Carisa turun dari mobilnya dan buru-buru masuk ke dalam rumahnya.
Andre menatap Carisa tajam.
"Dari mana aja kamu Carisa...!" geram Andre.
Carisa tersenyum dan mendekat ke arah suaminya
Tiba-tiba saja.
Plak...
__ADS_1
Andre menampar istrinya dengan sangat keras.
"Mas, kenapa kamu nampar aku?" Carisa menatap tajam ke arah Andre.
"Itu balasan karena kamu sudah menyakiti anak aku."
Carisa yang merasakan sakit di pipinya, menatap Andre tajam.
"Kenapa kamu nampar aku Mas? apa salah aku?" tanya Carisa
"Itu semua balasan untuk kamu karena kamu telah membuat anak aku pergi dari rumah sakit dan masuk rumah sakit."
"Apa! siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Carisa bingung
"Gara-gara kamu, anak aku sekarang ada di rumah sakit. Karena kamu membiarkannya pergi, dia sampai kecelakaan dan sekarang dia ada di rumah sakit."
"Mas, kok kamu nyalahin aku. Apa yang sudah aku lakukan sama anak kamu. Vino sendiri kok yang pergi dari rumah."
"Tapi gara-gara kamu kan Vino sampai pergi dari rumah."
Carisa menghela nafas dalam.
" Mas, kenapa sih Mas. Kamu selalu nyalahin aku. Kenapa sih Mas, kamu jahat banget sama aku. Kamu itu pilih kasih tahu nggak. Kamu lebih sayang sama anak kamu yang nakal itu, dari pada sama aku dan anak aku."
Carisa yang sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi, berlari masuk ke dalam. Dia naik ke lantai atas menuju ke kamarnya.
Carisa menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia kemudian duduk di sana. Carisa menangis. Merasa kecewa karena sikap suaminya, yang menurutnya sudah pilih kasih.
"Kenapa sih, Mas Andre jahat banget sama aku. Ini semua gara-gara Vino. Dari dulu, anak kecil itu, selalu saja membuat gara-gara. Padahal, aku sudah berusaha bersikap baik sama dia. Coba saja, kalau ibu tiri yang lain, mana mungkin bisa seperti aku. Hiks...hiks...hiks," ucap Carisa di sela-sela tangisannya.
Carisa sejak tadi menangis sembari mengusap-usap air matanya.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu Kanada Carisa terdengar.
Tok tok tok...
"Carisa. Buka pintunya Carisa...! Carisa...!" seru Andre dari luar kamarnya.
"Kamu jahat Mas. Kurang baik apa selama ini aku sama Vino. Aku sudah menganggap dia anak aku sendiri. Aku sudah sayang sama dia Mas. Tapi kamu, tega banget kamu nyalahin aku seperti ini."
Tok tok tok...
"Carisa...! buka pintunya. Aku hitung sampai tiga Carisa. Kalau kamu nggak mau buka pintu, aku bisa dobrak pintunya," ucap Andre dengan nada tinggi.
__ADS_1
Carisa tahu siapa Andre. Dia bisa saja mendobrak pintu jika dia sedang marah. Carisa tidak mau membuat Andre semakin marah.
"Aku buka nggak ya. Mas Andre sepertinya lagi emosi banget. Kalau aku buka, apa yang akan dia lakukan padaku. Tapi, kalau aku diamin aja, dia pasti akan nekat dobrak pintu aku."