Gadis Yang Ternoda

Gadis Yang Ternoda
Hanya Tata kebahagiaan Carisa


__ADS_3

Ersa dan Andre sudah berada di ruang tamu.


"Ada apa Pak Andre ke sini? apa belum puas Pak Andre mempermalukan aku di depan umum?" Ersa menatap Andre tajam.


"Aku udah ceraikan Carisa," ucap Andre.


"Terus?"


"Sekarang aku sudah bisa kan melamar kamu dan menikahi kamu?"


"Apa! semudah itu kah Pak, bapak menceraikan istri bapak? kenapa bapak lakukan itu?"


"Karena aku cinta sama kamu dan ingin menikah dengan kamu."


"Tapi aku nggak bisa Pak. Aku nggak bisa menerima bapak menjadi suamiku."


"Kenapa kamu bicara seperti itu? bukankah kamu mencintai aku?"


"Aku nggak bisa bahagia di atas penderitaan orang lain. Aku nggak bisa cepat-cepat menikah Pak. Aku ingin fikirkan lagi untuk menerima bapak. Aku memang pernah menganggumi bapak. Tapi bukan berarti aku mencintai bapak kan?"


"Maksud kamu apa?"


"Jika bapak ingin menikahi aku, aku masih butuh waktu untuk mengenal bapak lebih jauh lagi. Aku masih butuh waktu, untuk mengenal semua keluarga bapak. Kita kan baru kenal kemarin. Kalau tiba-tiba bapak menikahi aku, apa yang akan orang-orang katakan tentang kita. Lagian saat ini, bapak juga masih punya istri dan belum resmi bercerai."


"Jadi, aku harus menunggu kamu sampai kapan? setelah aku resmi bercerai?"


Ersa menggeleng.


"Entahlah Pak. Aku nggak tahu. Yang penting, aku nggak mau buru-buru menikah. Apalagi bapak belum resmi cerai. Seandainya bapak mau menunggu aku, mungkin satu atau dua tahun lagi aku baru siap menikah," ucap Ersa.


"Lama sekali Er."


"Itu sih kalau bapak sanggup menunggu aku sampai satu tahun, kalau nggak silahkan bapak cari yang lain. Karena aku masih ingin menikmati kebersamaan aku dulu bersama mama aku. Karena papa aku juga baru meninggal kemarin,"lanjut Ersa.


Andre tampak sedikit kecewa dengan jawaban Ersa. Namun seperti itu lah jawaban Ersa. Ersa memang belum siap menikah karena dia masih ingin menemani ibunya yang baru ditinggal mati suaminya.


Mungkin sampai beberapa bulan ke depan, Ersa tidak mau memikirkan lelaki. Ersa ingin fokus merawat dan menemani ibunya. Dia ingin kerja untuk menghidupi ibunya. Karena sekarang Ersa yang menjadi tulang punggung Bu Meta. Jadi Ersa putuskan untuk tidak langsung menerima Andre.


****


Carisa masih menatap ke luar jendela. Rasanya semua ini seperti mimpi. Carisa harus kembali ke rumah kontrakan sederhana yang dulu pernah dia tinggali bersama Tata. Sekarang mereka kembali menjadi orang sederhana. Jauh dari kehidupan mewah seperti saat masih bersama Andre.


"Mama, kenapa mama diam aja? mama nggak usah mikirin papa lagi, papa nggak sayang sama kita. Dia sudah mengusir kita dari rumahnya. Untuk apa mama mikirin Papa. Belum tentu juga papa mikirin kita."


Carisa menatap Tata. Dia kemudian tersenyum. Setetes air mata Carisa membasahi pipi mulusnya.


"Maafin mama ya Nak. Karena mama sudah membawa kamu ke rumah ini lagi. Ini semua mungkin karena keegoisan dan sikap mama sendiri," ucap Carisa sembari mengusap pipi Tata.


"Mama, bagi aku mama Carisa adalah mama yang terbaik. Walau tanpa papa, aku tetap bahagia kalau aku bersama mama. Apalagi nanti kalau Ibu dan ayah aku sudah pulang dari luar kota. Pasti kita akan kumpul lagi."


Tok tok tok ...


Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar. Carisa mengusap air matanya. Carisa bangkit berdiri dan berjalan ke depan untuk membuka pintu. Carisa terkejut saat melihat Alena.


"Kakak," ucap Alena.


Carisa tersenyum dan langsung memeluk Alena. Alena tahu bagaimana perasaan kakaknya saat ini. Dia pasti sangat hancur saat suaminya menghempaskan dia begitu saja. Hanya karena sebuah kekurangan yang dimiliki Carisa dan obsesi Andre pada sekretarisnya, Andre tega mentalak istrinya.


"Kakak apa kabar?" tanya Alena.

__ADS_1


"Kakak baik. Ayo masuk Len."


"Iya Kak."


Alena dan Carisa duduk bersama di ruang tamu.


"Kamu sendiri aja?" tanya Carisa.


"Iya. Aku mau bawa Kakak ke rumah aku sama Tata. Aku ingin kalian tinggal di rumah aku."


"Ke rumah kamu?"


"Iya Kak. Rumah yang lebih layak untuk kalian tempati."


"Tapi aku nggak mau. Aku nggak enak sama suami kamu. Aku lebih nyaman tinggal di sini. Kalau kamu mau bawa Tata, silahkan. Nggak apa-apa aku hidup di sini sendiri."


"Nggak Kak. Tata itu anak kamu sekarang. Aku sudah meninggalkan dia sejak bayi. Kakak yang mengurus dan merawat Tata, jadi Kakak yang berhak untuk bersama Tata. Lagian, kakak juga nggak bisa punya anak. Dan aku sudah ikhlaskan Tata untuk Kak Carisa."


"Tapi aku tetap ingin di sini. Aku ingin menjadi orang yang sederhana. Aku ingin belajar menjadi orang yang baik Alena."


"Ya udah kalau gitu. Aku nggak akan maksa kakak. Kita rawat dan besarkan saja Tata sama-sama."


"Iya. Makasih ya Alena. Sekarang aku sadar. Lebih baik kita hidup sederhana seperti ini dan dicintai seorang suami. Dari pada hidup bergelimang harta, tapi cinta suami sangat tipis untuk kita."


"Maksud kakak apa?"


"Aku ingin punya suami yang mau mencintai aku dan menerima semua kekurangan aku. Walau suamiku itu dari kalangan orang biasa. Bukan dari seorang pengusaha seperti Mas Andre."


"Semoga kakak bisa cepat-cepat dapat jodoh yang baik ya. Yang mau menerima kakak dan Tata, yang mau mencintai kakak dengan tulus tanpa memandang kekurangan kakak."


"Iya. Dan aku masih berharap, Tuhan mau memberikan aku seorang anak."


"Iya Alena. Lagian aku nggak mau menangisi seorang lelaki seperti Mas Andre. Aku masih ingin menjadi singel parent. Ingin mengurus Tata dan merawatnya sampai dia besar. Karena cuma Tata kebahagiaan aku saat ini. Bukan seorang lelaki."


Tata mendekat ke arah Alena dan Carisa. Tata tersenyum saat melihat Alena.


"Ibu..." ucap Tata sembari memeluk ibunya.


"Tata apa kabar?" tanya Alena sembari melepas pelukannya.


"Baik Bu."


"Sini Nak, duduk di dekat ibu. Ibu kangen banget sama kamu."


Tata mengangguk. Dia kemudian duduk di dekat Alena.


****


Fatia dan Remon, sore ini masih bercengkrama di teras samping rumahnya. Mereka tampak masih berbincang-bincang seputar kehamilan Fatia yang saat ini sudah memasuki lima bulan.


"Kamu harus jaga kandungan kamu baik-baik. Aku nggak akan pergi jauh-jauh sebelum kamu melahirkan."


"Iya Mas."


"Walaupun kadang aku pengin ke Bali untuk melihat cabang baru perusahaan aku yang ada di sana. Tapi aku nggak tega meninggalkan kamu sendiri di rumah."


"Iya Mas. Aku tahu itu. Kenapa kamu tidak pergi aja. Aku nggak apa-apa ditinggal sama Vino di sini. Lagian aku nggak sendiri. Ada mama dan Bik Ning juga."


"Di rumah tidak ada siapa-siapa sayang. Cuma ada Bik Ning, Mama dan Vino. Nggak ada lelaki kecuali aku. Apa aku cari satpam aja ya, atau cari sopir yang mau nginap di sini. Biar kalau aku pulang malam, aku nggak terlalu khawatir sama kamu."

__ADS_1


"Itu sih terserah kamu. Kalau kamu sanggup untuk membayarnya, juga nggak masalah. Karena satpam, tukang kebun, dan sopir juga harus di bayar kan."


"Iya deh. Nanti aku fikirkan itu lagi ya sayang."


Remon mengambil cangkirnya. Dia kemudian menyeruput teh hangat buatan istrinya.


"Aku lagi nggak suka minum kopi. Kadang perut aku suka sakit kalau minum kopi. Padahal, biasanya juga nggak," ucap Remon sembari meletakan gelas itu kembali di atas meja.


Fatia dan Remon beberapa saat terdiam. Fatia kemudian menatap Remon.


"Mas, aku baru dengar cerita dari Erin. Kalau Mas Andre, ternyata sudah bercerai dari Carisa," ucap Fatia.


"Oh iya?" Remon terkejut saat mendengar ucapan istrinya.


"Iya. Ternyata lama banget ya Mas, kita nggak pertemukan Vino dengan Papanya."


"Vino juga betahnya di sini. Dia juga nggak mau kan ke rumah Papanya. Makanya aku nggak antar dia ke sana. Karena Vino juga nggak minta ketemu sama Andre, dan Andre juga sama sekali nggak nanya kabarnya Vino. Terus, bagaimana nasibnya Carisa dan Tata?" tanya Remon .


"Katanya mereka sudah pergi dari rumah Mas Andre."


"Terus penyebab mereka bercerai apa?"


"Aku sih dengar cerita dari Erin dan Adi. Katanya setelah pertengkaran besar di kantor, Mas Andre langsung menceraikan Carisa."


"Pertengkaran apa?"


"Itu, Carisa tiba-tiba datang dan nyerang Ersa. Dia sudah memaki-maki Ersa di kantor."


"Duh, pelik juga ya masalah mereka. Nekat juga itu si Carisa."


"Kalau aku jadi Carisa, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Carisa lakukan. Makanya ya Mas, kamu jangan macam-macam kayak Mas Andre," ucap Fatia menatap tajam ke arah Remon.


Remon terkekeh saat mendengar ucapan istrinya. Dia merasa lucu dengan istrinya.


"Hehe...Kenapa sih Fatia. Kamu suka banget banding-bandingkan aku dengan Andre. Aku itu pasti akan jauh lebih baik dari mantan suami kamu itu."


"Untunglah, dulu aku nggak mau nerima mas Andre jadi suami aku lagi. Mas Andre itu menurut aku lelaki yang egois dan kasar. Sejak pertama aku mengenalnya dia juga sudah punya sikap tempramen. Beda dari kamu Mas."


"Makanya jangan samain aku sama lelaki manapun. Karena jelas beda sayang."


"Iya. Aku percaya kok sama kamu Mas."


****


Tamat.


Fatianya sudah bahagia bersama cinta sejatinya, tokoh Carisa juga sudah mendapatkan karma atas apa yang sudah pernah dia perbuat dan sudah menyadari kesalahannya. Author akan up satu bab lagi ekstra part nya.


Maaf ya, ceritanya kepanjangan. Tapi memang alurnya seperti ini.


Untuk teman-teman pembaca, author juga mau ngucapin banyak terimakasih, untuk yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Terimakasih untuk pembaca yang sudah mau ngasih dukungan dan hadiah. Tanpa pembaca author bukanlah apa-apa.


Untuk Karya Baru, barang kali ada yang masih suka cerita ringan tentang CEO. Bisa baca novel ku yang berjudul


*GADIS CUPU MILIK CEO*


Masih On Going


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2